Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Setelah Ciuman Itu

Sekar

Langkah itu semakin dekat. Aku menunduk, yakin siapa pun yang muncul akan melihat kesalahan tertulis di wajahku.

Ternyata hanya seorang petugas hotel mendorong troli handuk. Dia mengucapkan permisi, lewat di antara kami tanpa menoleh lagi, lalu menghilang di tikungan.

Aku baru bernapas setelah suara rodanya lenyap.

Petugas medis datang tak lama kemudian bersama Bu Retno. Suhu Den Nara hampir tiga puluh sembilan derajat. Beliau memarahinya sepanjang jalan menuju mobil, sementara aku duduk di depan dan pura-pura sibuk memandang jalan.

Sebelum masuk mobil, petugas memberi obat penurun panas dan memastikan Den Nara tidak meminum dosis tambahan terlalu cepat. Bu Retno menyimpan semua kemasan obat di tasnya agar putranya tidak sok mengatur sendiri. Aku diminta mencatat jam minum berikutnya.

"Sekar yang pegang," kata Bu Retno. "Dia lebih bisa dipercaya daripada kau saat sakit."

Den Nara menatapku dari balik bahu ibunya. "Saya setuju."

Satu kalimat biasa itu membuatku mengingat caranya meminta persetujuan di lorong. Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Di mobil, Bu Retno duduk di samping Den Nara. Itu seharusnya membuatku tenang. Namun setiap kali kendaraan melewati lampu jalan, bayangan wajahnya muncul di kaca depan. Matanya tertutup, tetapi jari yang tadi menyentuh pipiku bergerak kecil di atas paha.

Sesampainya di rumah, Bu Nah membantu menyiapkan air hangat. Aku menyerahkan jadwal obat lalu pergi ke kamar sebelum ada yang meminta lebih. Di balik pintu, aku menempelkan punggung ke kayu dan menyentuh bibir sendiri.

Aku sudah mengatakan ya. Dua kali. Kesadaran itu lebih menakutkan daripada ciumannya.

Kami tidak membicarakan ciuman itu.

Namun bibirku masih terasa panas ketika sampai rumah.

Keesokan pagi, aku berharap Den Nara tidur sampai siang. Dia justru muncul di ruang makan dengan wajah pucat, rambut sedikit berantakan, dan langkah lebih stabil. Bu Retno menyuruhnya duduk lalu memberinya bubur.

Pak Suryo sudah berangkat lebih dulu. Ratih dan Mas Bagas sarapan di sisi lain meja. Ratih mengamati Den Nara dengan rasa ingin tahu.

"Katanya semalam kau sampai harus dipapah," katanya.

"Demam," jawab Den Nara.

"Oleh siapa?"

Bu Retno menyela, "Oleh Sekar dan petugas hotel. Jangan cari bahan gosip baru."

Ratih melirikku. Aku memastikan kerudung terpasang rapi dan tidak ada bekas apa pun. Tetap saja, tatapannya membuat kulitku dingin.

Mas Bagas bertanya apakah dokter diperlukan. Den Nara menjawab sudah konsultasi dan akan beristirahat. Percakapan keluarga itu biasa, sementara di bawahnya mengalir rahasia yang membuat setiap gerakan terasa mencurigakan.

Saat aku meletakkan bubur, jari kami hampir bersentuhan. Kami sama-sama menarik tangan terlalu cepat. Sendok jatuh ke meja.

Ratih mengangkat alis.

"Kenapa gugup?"

"Mangkuknya panas," jawabku.

Den Nara mengambil sendok baru. "Dan kau terlalu banyak bertanya."

Mas Bagas menahan senyum. Aku tidak tahu apakah dia melihat sesuatu atau hanya menikmati adiknya kembali cukup sehat untuk bersikap tajam.

Aku berdiri dekat meja membawa teko air. Begitu mata kami bertemu, tanganku miring. Air menetes di luar gelas.

"Sekar?" panggil Bu Retno.

"Maaf, Bu."

Aku mengelap meja. Den Nara menunduk pada bubur, tetapi sudut bibirnya bergerak. Dia ingat.

"Demammu turun?" tanya Bu Retno.

"Sudah."

"Semalam kau seperti orang tidak sadar."

Sendok di tangannya berhenti. Aku hampir menjatuhkan kain lap.

"Saya sadar," jawabnya, lalu melirikku. "Hanya sedikit kehilangan kendali."

Panas menjalar ke wajahku.

Bu Retno tidak menangkap makna lain. "Makanya jangan minum obat saat perut kosong. Hari ini tidak ke kantor."

"Ada rapat daring."

"Dari rumah."

Den Nara menurut. Itu membuktikan dia masih sakit.

Setelah sarapan, aku membawa piring ke dapur. Langkahnya terdengar mengikuti sampai koridor, lalu berhenti di tikungan yang masih terlihat dari ruang keluarga.

"Sekar."

Aku mempercepat jalan.

"Kar."

Panggilan itu membuatku berhenti.

"Apa, Den?"

"Kau masih ingat semalam?"

Aku memeluk piring ke dada. "Semalam Den demam."

"Itu bukan jawaban."

"Petugas medis bilang hampir tiga puluh sembilan."

"Saya ingat suhunya. Saya juga ingat yang lain."

"Saya tidak ingat apa-apa."

Dia menatapku lama. "Sama sekali?"

"Tidak."

"Termasuk kau memanggil nama saya tanpa gelar?"

Wajahku seketika terbakar. "Den salah dengar."

"Dua kali?"

"Demam bisa membuat telinga bermasalah."

"Dan sapu tangan?"

"Apa hubungannya?"

"Berarti kau ingat percakapan itu."

Aku sadar terlambat. Den Nara bersandar ke dinding, senyum tipis muncul meski wajahnya masih lelah.

"Den menjebak saya."

"Saya hanya memastikan."

"Memastikan apa?"

Senyumnya hilang. "Bahwa kau tidak menyesal."

Pertanyaan itu terlalu jujur untuk terus kujawab dengan lelucon. Aku menatap piring.

"Saya malu," kataku. "Takut juga. Tapi bukan menyesal."

"Takut pada saya?"

"Pada akibatnya. Kalau petugas itu datang satu menit lebih cepat, kalau ada kamera hotel, kalau Bu Retno melihat... orang tidak akan menyalahkan Den sebesar menyalahkan saya."

Wajahnya mengeras. "Saya tahu."

"Mengetahui setelah terjadi tidak menghapus risikonya."

"Tidak. Karena itu saya minta maaf. Bukan atas perasaannya, tapi karena membiarkan risikonya jatuh kepadamu."

Jawaban itu mengurangi sebagian simpul di dada. Dia tidak mengatakan kami sama-sama salah lalu menganggap beban sosial juga sama. Dia melihat ketidakadilannya.

"Apakah ada kamera?" tanyaku.

"Bayu sudah meminta hotel menjaga rekaman koridor sebagai data privat dan mengecek sudutnya. Area tempat kita berdiri tidak tertangkap langsung. Tidak ada laporan insiden."

"Den sudah mengurus itu pagi-pagi?"

"Saya bangun pukul lima karena demam turun."

"Lalu yang dipikirkan pertama kamera?"

"Namamu."

Aku tidak sanggup menatapnya.

Napasnya keluar perlahan. "Saya juga."

"Den bilang kita tidak boleh mengulang sebelum bicara benar."

"Betul."

"Ini bicara benar?"

"Belum semuanya. Saya masih sakit, dan kau sedang bekerja."

"Selalu ada alasan."

"Karena saya tidak mau menjadikanmu jawaban cepat untuk masalah keluarga atau rasa bersalah saya."

Aku memahami niatnya, tetapi bagian kecil dalam diriku tetap terluka. Dia berani mencium, namun belum berani memberi nama.

"Kalau begitu anggap saja tidak terjadi," kataku.

Aku hendak pergi. Dia tidak menyentuh, hanya berkata, "Saya tidak bisa."

Langkahku berhenti lagi.

"Saya bisa menunggu waktu yang benar," lanjutnya. "Tapi saya tidak akan berpura-pura lupa."

"Kalau saya bilang lupa?"

"Kalau kau bilang begitu, ya sudah."

Nada patuhnya bertentangan dengan tatapan yang jelas membaca semua kebohonganku. Aku berjalan pergi sebelum senyumku terlihat.

Di ujung koridor, Bu Nah muncul membawa cucian. Dia memandang wajahku, lalu Den Nara.

"Kenapa dua-duanya merah? Demamnya menular?"

"Iya, Bu," jawabku cepat. "Saya mau ke dapur."

Bu Nah menyentuh dahiku. "Tidak panas."

Den Nara batuk untuk menyembunyikan tawa. Aku menatapnya tajam dan masuk dapur.

Sepanjang pagi, kami saling menghindar dengan cara yang justru membuat keberadaan satu sama lain semakin terasa. Saat aku lewat ruang kerja, dia berhenti mengetik. Saat dia mengambil air, aku salah memasukkan gula ke tempat garam.

Bu Nah menemukan kesalahan itu saat hendak memasak.

"Kalau sayur nanti manis dan teh asin, saya suruh kalian berdua yang habiskan," katanya.

"Kenapa saya?" tanya Den Nara dari ambang ruang makan.

"Karena sejak Den pulang sakit, Sekar jalan seperti kepalanya tertinggal di hotel."

Aku menumpahkan sedikit gula. Den Nara berbalik, bahunya bergerak menahan tawa.

Bu Nah menatap kami semakin curiga. "Ada apa di hotel?"

"Den Nara demam," jawabku.

"Itu saya tahu. Yang saya tanya kenapa kau ikut tidak waras."

Aku membawa wadah garam ke dapur tanpa menjawab. Bu Nah tidak mengejar, tetapi senyum kecilnya menunjukkan dia menyimpan pertanyaan.

Sore hari, sebuah pesan masuk dari nomor Den Nara.

`Saya ingat semuanya.`

Aku menatap layar lama, lalu membalas.

`Saya tidak.`

Tiga titik muncul.

`Kalau kau bilang begitu, ya sudah.`

Aku menutup ponsel dengan wajah panas. Dia tidak memaksaku mengakui, tetapi juga tidak memberi tempat untuk bersembunyi sepenuhnya.

Malamnya, ketika keluar kamar untuk mengambil air, aku menemukan Den Nara berdiri di ujung lorong. Pintu-pintu lain terbuka, suara televisi terdengar dari ruang keluarga. Aman, terbuka, dan tetap membuat jantungku kacau.

"Sudah sehat?" tanyaku.

"Hampir."

"Jangan minum obat sembarangan lagi."

"Kalau tidak, saya mungkin kehilangan kendali."

"Den tidak lucu."

"Saya serius. Saya tidak ingin kejadian yang sama terjadi karena saya tidak menjaga kondisi."

Aku mengangguk. Dia belajar, bukan meromantisasi sakit sebagai alasan.

"Selamat malam, Kar."

"Selamat malam, Den Nara."

Kami berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tidak ada sentuhan. Jarak satu lengan tetap terjaga, dan suara keluarga dari ruang depan menjadi pengingat bahwa kami belum berhak mencari ruang rahasia lagi.

"Besok saya kembalikan sapu tangan," katanya.

"Semua?"

"Mungkin dua."

"Den Nara."

"Baik, kita negosiasi saat saya benar-benar sehat."

Aku menggeleng, tetapi senyum lolos juga. Percakapan remeh itu terasa lebih intim daripada kata manis. Ia membuktikan malam kemarin tidak menjadi kecelakaan yang akan dikubur, juga tidak dijadikan alasan untuk mengulang kesalahan.

Aku memilih berjalan lebih dulu. Kali ini bukan untuk melarikan diri, hanya untuk menjaga janji kami sampai keberanian mempunyai bentuk yang pantas.

Gelas air di tanganku bergetar kecil, tetapi kali ini aku tidak merasa perlu berlari, menghindar, atau menyembunyikan perasaanku sendiri darinya lagi.

Aku melewatinya. Di belakangku, langkahnya terdengar lebih ringan daripada pagi tadi. Dia telah membaca jawaban dari semua penyangkalanku, dan kali ini aku tidak benar-benar ingin menyembunyikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!