Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana pelabuhan yang tadi berisik kini mendadak hening seperti kuburan.
Semua pasang mata tertuju pada Galang yang sedang memanaskan wajan besinya.
Cetek. Wusss.
Api kompor menyala dengan sangat besar hingga menjilat pinggiran wajan.
Galang menuangkan minyak goreng dan memasukkan bawang putih tunggal cincang.
Sreng.
Aroma harum yang sangat pekat langsung menampar wajah Bos Toni dan anak buahnya.
Preman berkepala botak itu tanpa sadar menelan ludahnya sendiri karena wangi bumbu tersebut.
"Baunya lumayan juga untuk ukuran pedagang gerobakan," gumam Bos Toni pelan.
Trak trak trak.
Galang mengayunkan wajannya dengan sangat cepat dan memasukkan dua genggam penuh daging bekicot sawah.
Ia sengaja memberikan porsi daging dua kali lipat lebih banyak untuk pesanan spesial ini.
Kecap hitam premium dituangkan di pinggir wajan hingga menimbulkan efek karamelisasi yang mengeluarkan asap wangi.
Hanya butuh waktu lima menit, sepiring nasi goreng bekicot porsi jumbo sudah tersaji mengepul di atas meja kayu.
"Silakan dinikmati Bos Toni, ini porsi paling besar khusus untuk penguasa pelabuhan," ucap Galang dengan nada menantang namun tetap sopan.
Bos Toni mendengus kasar lalu duduk di kursi plastik yang langsung berderit menahan beban tubuh besarnya.
Ia meraih sendok dan garpu dengan gerakan lambat seolah sedang mengintimidasi Galang.
"Kalau daging keong sawah ini rasanya amis sedikit saja, kau benar-benar akan kuceburkan ke laut," ancam Bos Toni sebelum membuka mulutnya.
Semua kuli dan mandor menahan napas melihat sendok pertama itu masuk ke dalam mulut bos mereka.
Kunyah. Kunyah.
Wajah Bos Toni yang tadi terlihat sangat menyeramkan dan penuh amarah perlahan berubah kaku.
Matanya berkedip beberapa kali seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dirasakan lidahnya.
"Bos? Gimana rasanya Bos? Kalau tidak enak biar kami hancurkan gerobaknya sekarang!" teriak salah satu anak buah Bos Toni yang memegang tongkat bisbol.
Bos Toni mengangkat tangan kirinya memberi isyarat agar anak buahnya diam.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan kanannya kembali menyendok nasi goreng itu dengan gerakan yang jauh lebih cepat.
Trang trang trang.
Bos Toni mulai makan dengan sangat beringas seperti orang yang sudah berpuasa tiga hari tiga malam.
Ia bahkan tidak mempedulikan nasi panas yang membuat mulutnya sedikit kepanasan.
"Daging bekicot ini gila, kenyal dan empuk sekali, bumbunya juga meresap sampai ke dalam serat dagingnya," batin Bos Toni kegirangan.
Piring jumbo itu bersih tanpa sisa dalam waktu yang sangat singkat.
Bos Toni meletakkan sendoknya dengan kasar lalu bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
Haaah.
Efek pemulihan dari nasi goreng sistem mulai merayap naik dari perutnya menuju ke seluruh jaringan ototnya.
Luka bekas bacokan di punggungnya yang sering nyeri saat udara malam dingin mendadak terasa sangat hangat dan nyaman.
Rasa pegal di bahunya akibat beban memimpin ratusan kuli pelabuhan seolah menguap begitu saja.
Bos Toni membuka matanya dan menatap Galang dengan pandangan yang sama sekali berbeda.
Ia merogoh saku celana kargonya dan mengeluarkan segepok uang seratus ribuan yang cukup tebal.
Brak.
Bos Toni meletakkan lima lembar uang seratus ribu di atas etalase kaca Galang.
"Lima ratus ribu untuk satu piring nasi goreng paling gila yang pernah kumakan seumur hidupku," ucap Bos Toni dengan suara baritonnya yang mantap.
"Ambil saja semua kembaliannya anak muda, kau memang pantas sombong dengan masakan seenak ini."
Galang tersenyum lebar dan mengambil uang itu dengan kedua tangannya.
"Terima kasih banyak Bos Toni, saya hargai penilaian jujurnya," jawab Galang lega.
Bos Toni berdiri dan menepuk bahu Mandor Tejo yang sejak tadi berdiri kaku di sebelahnya.
"Tejo, pastikan tidak ada satu pun preman atau petugas pelabuhan yang mengganggu anak ini jualan di sini," perintah Bos Toni dengan tegas.
"Siap laksanakan Bos Toni, aman terkendali!" jawab Mandor Tejo sambil memberi hormat.
Bos Toni dan anak buahnya pun pergi meninggalkan area dermaga dengan wajah yang sangat puas.
Setelah kepergian bos preman itu, suasana pelabuhan kembali mencair dan menjadi sangat ramai.
Kabar tentang nasi goreng ajaib penyembuh lelah menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut ke seluruh sudut pelabuhan kargo.
Ratusan kuli yang baru saja selesai bongkar muat dari kapal lain datang berbondong-bondong menyerbu gerobak Galang.
Galang memasak tanpa henti seperti sebuah mesin pabrik yang tidak kenal lelah.
Suara lonceng mekanis dari sistem terus berbunyi di dalam kepalanya seiring dengan piring-piring yang berpindah tangan.
DING.
[Progres Penjualan: 80/150 porsi.]
DING.
[Progres Penjualan: 120/150 porsi.]
Jam di ponsel Galang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Angin laut berhembus semakin dingin menusuk tulang, namun Galang masih bermandi peluh karena panas kompor.
Ia meraup sisa nasi putih terakhir dari dalam termos besarnya dan menuangkannya ke dalam wajan.
Sreng.
Porsi terakhir itu ia berikan kepada seorang kuli tua yang sudah mengantre sejak tadi.
"Ini porsi yang terakhir ya Pak, terima kasih sudah menunggu," ucap Galang sambil menyodorkan piring kertas.
Galang menghela napas panjang dan melihat ke arah layar biru transparan di udara.
[Progres Penjualan: 145/150 porsi.]
[Waktu tersisa: 25 menit.]
Mata Galang langsung terbelalak lebar melihat angka yang tertera di sana.
"Sialan, aku masih kurang lima porsi lagi untuk menyelesaikan misi ini," umpat Galang dalam hati dengan panik.
Ia membuka termos nasinya lebar-lebar namun isinya benar-benar sudah kosong melompong.