Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari pertama Arif sebagai mahasiswa baru Universitas Mahkota berjalan sangat membosankan baginya.
Duduk di kelas mendengarkan dosen berbicara tentang dasar-dasar manajemen bisnis membuatnya mengantuk.
Baginya, ilmu-ilmu teori ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kerasnya bertahan hidup di alam bebas yang diajarkan gurunya.
Kring!
Bel tanda berakhirnya kelas akhirnya berbunyi panjang menyelamatkannya dari rasa bosan.
Arif segera membereskan tas punggungnya dan berjalan keluar ruang kelas dengan malas.
Di luar ruangan, Shinta sudah berdiri menunggunya dengan wajah yang ditekuk rapat.
Gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding sambil bersedekap dada.
"Lama sekali keluarnya! Kau tidur ya di kelas?!" omel Shinta saat Arif baru saja melangkah keluar.
"Suara dosennya lebih ampuh dari obat tidur dosis tinggi, Nona cerewet," jawab Arif menguap kecil.
"Sekarang jadwalmu apa lagi? Atau kita bisa pulang dan makan siang?" tanya Arif santai.
"Aku masih ada satu kelas lagi nanti siang, sekarang kita ke kantin saja dulu," putus Shinta berjalan mendahului Arif.
Arif mengikutinya dari belakang menuju kantin utama kampus yang sudah sangat ramai.
Kantin Universitas Mahkota lebih terlihat seperti restoran bintang lima daripada sekadar tempat makan mahasiswa.
Ada berbagai macam gerai makanan mewah dari luar negeri hingga makanan lokal kelas atas.
Shinta memilih meja kosong di sudut kantin yang sedikit lebih tenang.
"Kau mau makan apa? Biar aku yang pesankan," tawar Shinta menaruh tasnya di kursi.
"Samakan saja dengan pesananmu," jawab Arif tidak cerewet soal makanan.
Shinta mengangguk dan berjalan menuju antrian salah satu gerai makanan.
Arif duduk santai sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.
Beberapa mahasiswa di meja lain sesekali mencuri pandang ke arahnya sambil berbisik-bisik.
"Lihat tuh, itu cowok yang ngaku-ngaku tunangannya Shinta kan?" bisik seorang mahasiswi berkacamata.
"Iya, berani banget dia melawan Reyhan tadi pagi, padahal penampilannya biasa saja," sahut temannya.
Arif mendengarnya dengan sangat jelas berkat pendengarannya yang tajam, tapi dia hanya mengabaikannya.
Tiba-tiba, suara tawa keras yang mengganggu terdengar dari arah pintu masuk kantin.
Hahaha!
Reyhan dan kelima anak buahnya berjalan masuk dengan gaya petentang-petenteng.
Hidung Reyhan sudah diperban kecil akibat mencium lantai lobi tadi pagi.
Mata Reyhan langsung tertuju pada Arif yang duduk sendirian di sudut kantin.
Pemuda arogan itu menyeringai licik dan memberi isyarat pada dua anak buahnya.
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan kan? Jangan sampai ketahuan," bisik Reyhan pelan.
Dua anak buah itu mengangguk paham dan berjalan mengendap-endap memutar menuju meja Arif.
Mereka membawa sebuah botol kecil berisi cairan lengket berwarna hitam pekat di balik jaket mereka.
Itu adalah lem super kuat bercampur tinta hitam yang sangat sulit dihilangkan.
Salah satu dari mereka berjalan melewati meja Arif dan pura-pura tersandung kaki kursi.
Bruk.
"Ups, maaf," ucap anak buah Reyhan itu.
Di saat yang bersamaan, temannya yang lain diam-diam menuangkan cairan hitam itu tepat di atas kursi kosong di sebelah Arif.
Kursi itu adalah tempat duduk Shinta yang sedang memesan makanan.
Setelah melancarkan aksinya, kedua preman kampus itu langsung berjalan cepat kembali ke kelompok Reyhan.
Mereka semua menahan tawa membayangkan Shinta akan marah besar pada Arif karena tidak menjaga tempat duduknya.
Arif yang sedang bersandar di kursinya menyeringai tipis melihat kelakuan kekanak-kanakan mereka.
"Cuma sekelas trik anak SD," batin Arif meremehkan.
Dengan kecepatan tangan yang tidak bisa ditangkap mata telanjang, Arif mengeluarkan sebuah jarum perak kecil.
Jari telunjuknya menjentikkan jarum itu dengan tepat sasaran ke arah meja Reyhan yang berjarak sepuluh meter.
Tak.
Jarum tipis itu menancap tanpa suara di kaki kursi yang sedang diduduki oleh Reyhan.
Hawa energi Qi ringan menjalar dari jarum itu membuat baut-baut penahan kursi itu merenggang secara tidak wajar.
Shinta akhirnya kembali membawa nampan berisi dua porsi spageti dan minuman dingin.
"Ini makanannya," ucap Shinta hendak duduk di kursinya.
"Tunggu," cegah Arif menahan pergelangan tangan gadis itu dengan cepat.
Shinta terkejut dan menatap Arif dengan wajah bingung bercampur curiga.
"Apa lagi? Kau mau minta diladeni makan ya?" omel Shinta kesal.
Arif menunjuk ke arah kursi yang hendak diduduki oleh Shinta.
"Lihat dulu apa yang ada di kursimu sebelum kau duduk," ucap Arif melepaskan tangannya.
Shinta menundukkan pandangannya dan langsung melotot melihat genangan cairan hitam lengket di atas kursinya.
"Sialan! Siapa yang menaruh lem tinta di sini?!" jerit Shinta marah.
Kalau dia sampai duduk di sana, celana jeans mahalnya pasti akan hancur dan dia akan dipermalukan di seluruh kampus.
Arif menoleh ke arah gerombolan Reyhan yang sedang tertawa tertahan sambil melihat ke arah meja mereka.
"Tanya saja pada monyet-monyet yang sedang menonton di sana," tunjuk Arif santai.
Shinta mengikuti arah telunjuk Arif dan melihat wajah licik Reyhan dan teman-temannya.
Amarah Shinta langsung meledak, dia tahu pasti ini adalah ulah Reyhan untuk membalas dendam kejadian tadi pagi.
"Berengsek kau Reyhan! Ini sudah keterlaluan!" teriak Shinta bersiap mendatangi meja pemuda itu.
"Biar alam yang menghukum kesombongannya," ucap Arif santai memotong niat Shinta.
Tepat setelah Arif menyelesaikan kalimatnya, kejadian konyol terjadi di meja Reyhan.