Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Yang Mengubah Segalanya
Bab 32
Beberapa hari berlalu dengan tenang dan damai. Setiap pagi aku terbangun dengan perasaan gembira menyambut hari yang baru. Ayahku selalu menyempatkan waktu untuk menemaniku sarapan dan berjalan jalan di taman sebelum ia pergi menyelesaikan urusan urusannya. Setiap kali hendak berangkat ia selalu berpesan agar aku menjaga diri dan jangan khawatir tentang apa pun. Wajahnya yang tegas di hadapan orang lain seketika berubah menjadi lembut dan hangat setiap kali ia menatapku seolah olah kehadiranku adalah satu satunya alasan yang membuatnya tetap kuat dan tegar menghadapi dunia yang keras di luar sana. Aku pun mulai mengenal suasana rumah ini dan kebiasaan orang orang yang tinggal di dalamnya. Semuanya tampak hidup dengan tertib dan tenang tidak ada pertengkaran tidak ada kebohongan dan tidak ada rasa curiga yang melayang layang di udara. Rasanya seolah olah tempat ini adalah sebuah pulau yang damai terpisah jauh dari segala keburukan dan kesengsaraan yang pernah kualami di dunia lamaku.
Namun kedamaian itu tiba tiba terganggu pada suatu siang yang cerah. Saat aku sedang duduk di beranda rumah menikmati angin sepoi sepoi sambil membaca buku yang diberikan ayahku terdengar suara langkah kaki yang tergesa gesa mendekat dari arah gerbang utama. Suara itu tidak terdengar seperti langkah kaki pelayan rumah yang biasanya berjalan tenang dan tertib melainkan langkah kaki yang berat dan terburu buru seolah olah membawa kabar yang sangat mendesak dan penting. Aku mendongak dan melihat seorang pria berpenampilan rapi namun dengan wajah yang tampak sangat cemas dan tergesa gesa berjalan cepat menuju pintu utama rumah. Ia adalah orang kepercayaan ayahku yang sering datang melaporkan sesuatu namun belum pernah sekalipun kulihat wajahnya setegang dan secemas itu.
Pria itu masuk ke dalam rumah dan tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki ayahku yang keluar menyambutnya. Aku tidak bermaksud menguping namun suara pembicaraan mereka terdengar jelas karena mereka berbicara di ruang tamu yang tidak jauh dari tempatku duduk. Suara ayahku yang biasanya tenang dan rendah hati kini terdengar sedikit meninggi dan penuh tekanan. Apa yang kau katakan? Mereka datang ke sini? Sekarang juga? Suara itu terdengar serius dan penuh kekhawatiran yang belum pernah kudengar sebelumnya. Pria itu menjawab dengan suara yang rendah dan penuh hormat namun tetap terdengar gugup. Benar Tuan. Mereka sudah berada di dalam kendaraan tidak jauh dari sini. Mereka membawa banyak orang dan terlihat tidak datang dengan niat yang baik. Apa yang harus kami lakukan Tuan?
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak sebelum suara ayahku terdengar kembali berat dan tegas. Tetap tenang. Jangan ada yang menunjukkan rasa takut atau panik. Biarkan mereka masuk. Aku akan menunggu mereka di sini. Namun pastikan tidak ada satu orang pun yang mendekat ke bagian belakang rumah dan jangan sampai putriku melihat atau mendengar apa pun yang akan terjadi. Jaga dia sebaik baiknya. Jangan biarkan dia tahu siapa mereka dan apa yang sebenarnya terjadi. Perintah itu terdengar begitu tegas dan mendesak hingga hatiku ikut berdebar kencang. Siapakah orang orang yang datang itu? Mengapa ayahku terlihat begitu cemas dan berhati hati? Dan mengapa ia menyuruh menyembunyikan keberadaanku dari mereka?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh seorang pelayan mendekat kepadaku dengan wajah yang tampak pucat dan gugup. Ia membungkuk hormat lalu berkata dengan suara yang bergetar memohon kepadaku Nona mohon ikut saya segera ke dalam kamar. Tuan memerintahkan agar Nona tidak berada di luar saat tamu tamu itu datang. Mohon Nona jangan menolak demi keselamatan Nona sendiri. Melihat ketakutan yang tulus di wajahnya aku tidak menolak. Aku segera berdiri dan mengikutinya masuk ke dalam rumah menuju kamarku di lantai atas. Sebelum masuk ke dalam kamar aku sempat menoleh ke arah gerbang utama dan melihat beberapa kendaraan besar berwarna gelap meluncur masuk dengan cepat dan berhenti tepat di halaman depan rumah. Pintu pintu kendaraan terbuka dan banyak orang berpakaian serba hitam turun berdiri berbaris rapi dan kokoh. Di antara mereka berjalan seorang pria tua yang tampak berwibawa namun matanya tajam dan dingin menatap sekelilingnya dengan pandangan yang penuh kekuasaan dan keangkuhan.
Aku segera masuk ke dalam kamarku namun aku tidak menutup pintu sepenuhnya. Aku berdiri di balik celah pintu memandang ke bawah melalui jendela kamar yang menghadap ke halaman depan. Jantungku berdegup kencang menyaksikan sekelompok orang itu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang berat dan penuh tekanan. Ayahku berdiri menunggu mereka di ambang pintu dengan wajah yang tenang namun sikapnya tetap tegak dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan namun aku bisa melihat dari gerak gerik mereka bahwa suasana pembicaraan itu sangat panas dan menegangkan. Pria tua yang tampak menjadi pemimpin rombongan itu menunjuk nunjuk dengan kasar ke arah wajah ayahku seolah olah sedang melontarkan tuduhan dan ancaman yang berat. Sementara ayahku tetap berdiri tenang mendengarkan dengan kepala tegak dan sesekali menjawab dengan suara yang tegas namun terkontrol.
Waktu terasa berjalan sangat lambat siang itu. Aku berdiri di balik pintu kamarku dengan perasaan gelisah dan takut. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada ayahku. Aku takut kedamaian yang kurasakan selama beberapa hari ini akan hancur begitu saja seperti yang pernah terjadi di rumahku yang dulu. Aku menggenggam tanganku erat erat menahan rasa takut yang mulai merayap di dadaku. Andai saja aku bisa turun dan berdiri di sampingnya. Andai saja aku bisa ikut menanggung beban berat yang sedang ia pikul sendirian di bawah sana. Namun aku tahu bahwa ia menyuruhku tetap di dalam kamar karena ia ingin melindungiku. Ia tidak ingin aku melihat sisi gelap dan berbahaya dari dunianya. Ia ingin tetap menjadi tameng yang melindungiku dari segala badai yang datang menghantam.
Setelah cukup lama berlalu akhirnya rombongan itu keluar kembali dari dalam rumah. Wajah pria tua itu tampak merah padam menahan amarah yang meluap luap. Ia menoleh ke belakang sekali lagi menatap tajam ke arah pintu rumah seolah olah sedang mengancam dengan tatapannya sendiri sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam kendaraannya dan pergi meninggalkan rumah dengan cepat. Ayahku berdiri sendirian di ambang pintu menatap kepergian mereka dalam diam cukup lama. Tubuhnya yang tegak perlahan terlihat sedikit membungkuk seolah olah tadi ia baru saja memikul beban yang sangat berat di pundaknya. Ia menghela napas panjang lalu menutup matanya sejenak seolah olah sedang mengumpulkan sisa kekuatannya kembali.
Aku tidak tahan lagi. Aku segera membuka pintu kamarku dan berlari turun menuju ke arahnya. Saat ia mendengar langkah kakiku dan menoleh ke arahku matanya yang tadi tampak lelah dan berat seketika kembali berubah lembut dan penuh kasih sayang. Ia segera melangkah mendekat menyambutku dan merentangkan kedua tangannya untuk memelukku erat. Ia tidak berkata apa pun. Ia hanya memelukku dengan sangat erat seolah olah takut jika melepaskanku aku akan ikut pergi bersama mereka. Aku merasakan detak jantungnya yang masih berpacu cepat dan napasnya yang sedikit tidak teratur. Aku menyadari betapa beratnya ujian yang baru saja ia hadapi namun di hadapanku ia tetap berusaha tampak tenang dan kuat.
Aku mendongak menatap wajahnya yang tampak sedikit pucat lalu berkata dengan suara yang tulus dan lembut Ayah. Ayah tidak perlu menyembunyikan kesedihan atau kelelahan di hadapanku. Aku tahu Ayah sedang menanggung beban yang berat. Jika Ayah mau bercerita aku siap mendengarkan. Dan aku siap menemani Ayah agar Ayah tidak merasa sendirian menanggungnya. Mendengar kata katanya ayahku menatapku lekat lekat dengan mata yang perlahan berkaca kaca. Ia mengusap wajahnya perlahan lalu tersenyum senyum yang penuh rasa syukur dan kelembutan. Ia berkata dengan suara yang rendah dan bergetar terima kasih putriku sayang. Kau memang hadiah terindah yang dikirimkan Tuhan kepada Ayah. Jangan kau pikirkan hal hal tadi ya. Itu hanyalah urusan orang orang yang tidak tahu diri. Ayah akan menyelesaikannya. Yang penting kau tetap aman dan bahagia di sini. Selama kau baik baik saja Ayah akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi siapa pun yang datang mengganggu.
Malam itu ayahku tidak pergi ke mana mana. Ia memilih duduk bersamaku di ruang tengah bercerita hal hal yang menyenangkan seolah olah tidak pernah terjadi hal menegangkan siang tadi. Namun aku tahu di dalam hatinya beban itu masih tertumpuk berat. Aku pun tidak lagi menanyakan hal itu. Aku hanya duduk di sampingnya sesekali menyuguhkan minuman dan makanan sambil tersenyum kepadanya. Aku ingin ia merasakan bahwa kehadiranku benar benar menjadi kekuatan baginya bukan beban tambahan yang harus ia pikul. Saat ia hendak mengantarkanku ke kamar nanti malam ia berhenti sejenak di depan pintu kamarku lalu menatapku dengan tatapan yang dalam dan serius. Maya sayang. Mulai hari ini harus kau ingat baik baik. Apa pun yang terjadi di luar sana apa pun yang kau dengar atau kau lihat jangan pernah takut selama Ayah masih berdiri di kakimu. Orang orang yang datang tadi adalah kerabat jauh Ayah yang memiliki keinginan yang tidak baik kepada Ayah. Mereka tidak menyukai keberadaanmu di sini karena mereka takut harta dan kekuasaan Ayah jatuh ke tanganmu kelak. Karena itulah mereka berusaha mencarinya celah untuk menyakitimu. Namun Ayah berjanji tidak akan membiarkan satu orang pun dari mereka menyentuh rambutmu sedikit pun. Kau adalah putri kesayangan Ayah dan tidak ada kekuatan apa pun yang boleh mengambilmu dari sisi Ayah.
Aku menatap matanya yang penuh ketegasan dan tekad yang tak tergoyahkan. Aku mengangguk perlahan dengan hati yang tenang dan mantap. Aku percaya Ayah. Dan aku tidak akan takut. Karena aku tahu Ayah akan selalu melindungiku. Dan aku juga akan berusaha menjadi putri yang kuat agar tidak menjadi beban bagi Ayah. Ayahku tersenyum bangga mendengar jawabanku lalu mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Masuklah dan tidurlah yang nyenyak. Jangan khawatirkan apa pun. Malam ini Ayah akan memastikan penjagaan diperketat di seluruh penjuru rumah. Tidak ada yang bisa menyakitimu. Setelah ia pergi aku masuk ke dalam tempat tidurku namun kali ini hatiku tidak lagi merasa gelisah. Aku menyadari bahwa hidup di dunia baru ini tidak akan selamanya tenang dan damai. Bahaya masih mengintai dari arah yang tidak disangka. Namun selama aku dan ayahku saling mendukung dan saling menjaga satu sama lain kami pasti akan mampu menghadapi segala badai yang datang. Malam itu aku menutup matanya dengan perasaan teguh dan bertekad bulat. Aku akan belajar menjadi kuat. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaanku dan keselamatan ayahku. Karena di sinilah tempatku berada sekarang. Di sinilah tempatku dicintai dan dilindungi. Dan di sinilah aku akan membela kebahagiaanku sekuat tenagaku.
Bersambung...