Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PERJUANGAN BIKIN KOMIK
Jam pelajaran keempat akhirnya berakhir. Bel istirahat yang bergema di penjuru sekolah bukannya jadi pertanda kebebasan, tapi justru awal dari penderitaan Raka dan Dimas. Mereka harus rela mengorbankan waktu santai demi mengejar deadline komik yang makin mepet.
"Haa... Sial! Kenapa harus sekarang, sih?!" kesal Dimas sembari menggaruk kepalanya frustrasi.
"Hah? Udah istirahat, ya?" Raka bangkit dari duduknya dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, matanya redup tanpa cahaya. "Mending gue samperin Dimas..."
Sementara dua cowok itu masih meratapi nasib di kelas, Alya dan Aira justru sudah berada di ruang klub sejak tadi. Pasalnya, saat jam pelajaran berlangsung mereka sempat izin ke toilet. Berhubung bel istirahat berbunyi tepat saat mereka mau kembali ke kelas, keduanya memutuskan untuk langsung meluncur ke markas.
"Kapan mereka datang, ya? Kok lama banget?" gumam Aira sembari menopang dagu.
"Sabar aja, Aira. Mereka kan lelah habis pelajaran. Kamu gak lelah juga?" sahut Alya lembut.
"Lelah sih... Hehe," cengir Aira polos.
Panjang umur. Baru saja dibicarakan, pintu ruang klub terbuka. Raka dan Dimas masuk, melepas sepatu, lalu berjalan lesu menuju meja utama.
Namun, begitu mendaratkan bokong di kursi, mata mereka langsung membelalak. Di atas meja sudah menumpuk tumpukan kertas draf, pensil, dan sketsa kasar yang menggunung.
"Anjir! Banyak banget, udah kayak berkas kantor aja!" seru Dimas shock.
"Udah lah, Mas. Jangan banyak protes. Udah jadi beban, masa mau protes lagi?" tembak Aira cepat, memberikan tatapan sinis andalannya.
Jleb!
"Aduh... Sakit banget," Dimas memegang dadanya dramatis, merasa kena mental attack telak dari teman sekelasnya itu.
"Udah, lanjut kerjakan aja. Jangan banyak omong," sela Raka mencoba fokus.
Dimas menatap Raka iri. "Lu mah enak, Rak!"
"Lah, enak gimana?"
"Ya enaklah! Tadi pas istirahat pertama lu bisa bertigaan santai ama dua cewek cantik!" cerocos Dimas berapi-api. "Sedangkan gue? Panas-panasan sembari bersihin toilet!"
Aira langsung menutupi hidungnya. "Eww... Pantesan agak bau."
"Ya, ya, ya... Terserah lu, Mas. Gue males debat," balas Raka pasrah sambil meraih pensilnya.
"Lah, ini ceritanya gimana, Aira? Tadi kan gue gaada, dan katanya lu yang gantiin gue?" tanya Dimas heran.
"Oh iya, sini duduk dekat gue," sahut Aira sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Dimas pun bangkit dari tempat duduknya dan berpindah mendekati Aira.
Aira mulai menjelaskan detail alur cerita dengan nada serius. Namun, setiap kali cewek itu berusaha menjelaskan dengan gestur tubuh yang sungguh-sungguh, tawa Dimas justru pecah seketika.
"Hahaha! Lucu banget, sih!" tawa Dimas meledek.
Aira membelalakkan mata. "Apasih, Mas! Bukannya serius!"
"Hahaha, sorry, sorry! Soalnya gak biasa aja liat lu berlagak serius gitu," kekeh Dimas.
Mendengar kata "lucu" yang keluar dari mulut Dimas, mendadak kedua pipi Aira mengeluarkan rona merah tipis. Ia memalingkan wajah, gugup. "A-apalah! Emangnya... g-gak boleh?!"
"Hahaha, iyalah gak boleh! Gua di sini kan bertindak sebagai ketua!" seru Dimas bangga.
"Ketua?! Sini gue cubit!" ancam Aira gemas.
"Apasih main cubit-cubit!"
"Serah gue lah, hmph!"
Raka yang berada di depan mereka menatap dua orang itu dengan pandangan datar. "Hey... Kalian mau main atau kerja, sih?"
Dimas mendadak merinding melihat tatapan Raka. "Wah, iya-iya! Ngeri juga lu, Rak, kalau lagi marah."
"Marah? Gak sih, bukan marah. Lebih ke kesal aja," balas Raka datar.
"Lah, apa bedanya coba?"
Alya menepuk tangannya pelan untuk menengahi. "Teman-teman, ayo dong serius. Aira, tolong jelasin lagi pasal ceritanya. Dan Dimas... please, serius."
"Iya, Alya. Gue serius nih," janji Dimas cepat. "Jadi apa ceritanya? Maaf, gue gak dengerin tadi, hehe."
Aira menghela napas pasrah. "Hadeh... Jadi judul cerita ini Secercah Cahaya. Menceritakan seorang anak gemuk yang dibuli, tapi saat dia hampir kehilangan harapan, ada secercah cahaya yang ditemukan di sekolah barunya."
Mata Dimas berbinar. "Gila, keren banget! Terus ini udah bab berapa yang lu buat?"
"Masih bab 4. Lu lanjutin bab 5 dan seterusnya," jawab Aira.
"Lah, lu gak bantu gue? Terus peran lu di sini apa dong?"
"Peran promosi juga bisa, kan? Jadi nanti gue bantuin Alya," balas Aira santai.
Dimas mendengus. "Oke, oke, gue lanjutin. Kalau gambaran atau alurnya jelek, jangan salahin gue ya!"
Aira menyeringai kecil. "Aman. Palingan hukuman lu diberatin lagi kalau lu leha-leha dan gak serius, Mas. Wkwkwk!"
"Wah, wah... Dendam nih ceritanya?"
"Lah, kan bener? Wlee!" Aira menjulurkan lidahnya.
"Lanjutin, Mas. Gausah diladenin," sela Raka memotong.
Dimas mendekatkan kepalanya ke Raka lalu berbisik pelan, "Iya, Rak. Memang si Aira ini orangnya nyebelin banget..."
"Udah, ah..." Raka memilih mengabaikan keributan kecil itu.
Setelah perdebatan antarteman itu berakhir, mereka akhirnya fokus melanjutkan pekerjaan membuat komik. Selama prosesnya, Dimas yang ketakutan bakal dijatuhi hukuman tambahan terus-menerus minta saran dari Aira.
Sementara itu, Raka nggambar dengan posisi miring demi menjaga presisi garis sketsanya. Di sudut lain, Alya yang sudah berhasil menyelesaikan poster promosi kini sibuk memantau respons netizen di media sosial. Aira yang fleksibel pun menjadi partner sementara Dimas, sembari bersiap membantu Alya jika ia mendadak buntu ide.
Setelah menyelesaikan draf untuk bab 5 sampai 10, bel penanda akhir istirahat berbunyi. Mereka merapikan kertas dan kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran terakhir.
Di sepanjang koridor menuju kelas, keempatnya berjalan sambil meluapkan keluhan.
"Huh... Gila! Ternyata bikin cerita sama draf komik tuh susah banget ya, gak nyangka gue," keluh Dimas sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Aira tertawa kecil. "Makanya, Mas, yang serius! Kalau gak serius, nanti di masa depan lu nganggur loh! Wkwkwk!"
"Makin sebel gue sama lu, Ra..." ringis Dimas.
Alya tersenyum menenangkan. "Ya... Yang penting kan tugas hari ini udah selesai, jadi gak perlu terlalu dipikirkan susah atau mudahnya."
"Bener sih kata Alya. Tapi gue juga ngerasain hal yang sama kayak Dimas, kok," aku Raka.
Dimas langsung merangkul pundak Raka. "Wah, mantap, Rak! Ada temen keluh kesah!"
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan pintu kelas. Keempatnya melangkah masuk dan duduk di bangku masing-masing dengan perasaan lega.
"Wah, mantap! Habis ini akhirnya pulang, yey!" seru Dimas bersemangat.
"Pulang memang paling enak, Mas. Apalagi nanti di rumah langsung main game... bweh, wenak banget!" sahut Raka menyetujui.
"Iya, Rak! Memang mantap!"
Melihat dua cowok itu masih punya sisa energi melimpah, Aira berbisik pelan pada Alya dengan ekspresi judes. "aduh... Kayaknya energi mereka masih ada tuh, Al. Gimana kalau kita tambahin tugasnya?"
"Jangan... Mending begini aja, kan udah dikasih tugasnya masing-masing," cegah Alya lembut.
"Hmm, kamu terlalu baik, Alya..." desah Aira.
"Terlalu baik gimana?" tanya Alya polos.
"Haha, gue gak bisa jelasin, karena meskipun gue jelasin, lu gak bakal ngerti," kekeh Aira.
Alya memiringkan kepalanya bingung. "Bukannya tinggal ceritain? Kenapa dibilang gak bakal ngerti... Aneh," batin Alya.
"Lu kenapa diam?" tegur Aira menatap Alya.
"Hah? Oh, enggak, gapapa."
Berselang beberapa menit, guru pengajar pun masuk ke kelas dan memulai pelajaran terakhir. Para siswa membuka tas, menyiapkan alat tulis, dan memfokuskan pikiran.
Begitu bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring, suasana koridor mendadak heboh oleh derap langkah para siswa yang berlarian keluar. Sementara itu, Raka dan kawan-kawan berjalan berdampingan dengan santai—Alya bersama Aira di depan, serta Dimas dan Raka di belakang.
"Huaam... Sepertinya besok drafnya bakal bener-bener selesai ya, Rak?" Dimas menguap lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Iya," jawab Raka singkat namun mantap.
Begitu sampai di gerbang sekolah, Aira dan Alya berpamitan lalu berbelok ke arah kanan, sedangkan Raka dan Dimas melangkah ke arah kiri.
Angin sore berembus sejuk, membawa perasaan lega di dada Raka dan Dimas. Walau hanya sementara, jeda waktu ini terasa sangat berharga untuk meregangkan napas setelah lelah memeras otak dalam proses pembuatan komik tadi.
Tepat di persimpangan jalan, Dimas melambaikan tangan. "Gue jalan lurus ya, Rak!"
"Sip, hati-hati," balas Raka sambil berbelok ke kanan menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Raka mencopot sepatunya di depan pintu, melangkah naik ke lantai dua, dan meletakkan tas sekolahnya di kamar dengan helaan napas puas.
Raka merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar sambil mengangkat kedua tangannya yang masih ternoda bekas gesekan pensil dan tinta hitam. Rasa lelah di sekujur badannya nyata, tapi ada letupan kepuasan aneh yang mekar di dalam dada.
Hari ini mereka memang sempat saling ledek, berdebat absurd, dan berkali-kali dihantam kekacauan teknis yang bikin pusing. Namun, di atas meja klub yang berantakan itu, sebuah mimpi kecil tidak lagi sekadar tersimpan di dalam kepala. Secercah Cahaya mulai menemukan bentuknya—lembar demi lembar, coretan demi coretan.
Raka memejamkan mata perlahan, menarik napas panjang menikmati keheningan kamarnya. Perjuangan bikin komik ini baru saja dimulai, dan besok, langkah yang jauh lebih besar sudah menanti di depan mata.