Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Siang itu, terik matahari membakar kawasan pertokoan dengan panas yang menyengat. Sebuah sepeda motor bebek berwarna oranye khas milik kantor pos melaju pelan, lalu berhenti tepat di depan pelataran bangunan swalayan yang kini menjadi perbincangan hangat warga sekitar.
Pak Joko, seorang petugas pos senior berumur empat puluhan, menuruni motornya seraya memperbaiki letak topi seragamnya. Matanya mengamati bangunan swalayan di hadapannya yang tampak merana. Spanduk besar bertuliskan penyegelan hukum dari pihak bank terpasang melintang di pintu kaca utama. Rantai besi berukuran besar dengan gembok hitam mengunci rapat akses masuk, membiarkan toko yang dulu sempat megah itu kini mati suri tanpa penghuni.
Pak Joko mengeluarkan selembar amplop cokelat tebal yang terbungkus rapi dari dalam tas pos samping motornya. Di bagian depan amplop tersebut, tertera stempel resmi berwarna merah tua dari Pengadilan Agama, lengkap dengan alamat tujuan yang secara khusus menunjuk pada bangunan swalayan tersegel ini.
"Loh, kok tutup rapat begini ya?" gumam Pak Joko bingung seraya melihat sekeliling.
Ia melangkah mendekati pintu kaca, mencoba mengintip ke dalam ruangan yang gelap dan hampa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam toko. Pak Joko berbelok ke samping, memeriksa lorong kecil dekat kamar mandi karyawan, namun tetap saja hasilnya nihil.
Hampir lima belas menit lamanya Pak Joko mondar-mandir di pelataran toko, mengusap keringat di dahinya yang kian bercucuran. Ia ragu apakah harus menitipkan surat penting ini ke pengurus RT setempat atau menunggu sebentar lagi. Pengirim surat ini adalah instansi hukum, dan penerimanya harus ditandatangani secara langsung oleh nama yang tertera di bagian depan amplop.
CITTT!
Suara derit rem mobil mendadak memecah keheningan jalanan. Sebuah armada taksi berwarna biru berhenti tepat di depan pelataran swalayan. Tak lama kemudian, pintu taksi terbuka.
Dua orang penumpang turun dengan raut wajah yang sangat bertolak belakang. Bian turun terlebih dahulu dengan tubuh yang tampak membungkuk lunglai, kemeja kerja mewahnya kusut dan tak terurus, sementara wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Namun, penumpang wanita yang turun di sampingnya justru memperlihatkan pemandangan yang bertolak belakang.
Salma melangkah turun dari taksi dengan napas memburu dan raut wajah yang murka. Pakaian blazer mahal bernilai puluhan juta rupiah yang ia kenakan sejak pagi kini tampak kusut berantakan di bagian lengan. Make-up tebal di wajahnya mulai luntur terkena keringat, namun mata wanita muda itu menyalang penuh emosi. Ia baru saja selesai melampiaskan amarahnya sepanjang jalan setelah drama pemecatan hina dan penyitaan mobil dinas di kantor pusat Bian tadi.
Saat matanya menangkap sosok pria berseragam oranye yang berdiri di depan swalayan sambil memegang amplop cokelat, amarah Salma yang memang sudah memuncak seketika langsung menyasar pria itu.
"Heh! Kamu mau apa di swalayan ini?! Mau nyolong ya?!" tanya Salma to the point dengan nada melengking dan mata melotot galak.
Pak Joko tersentak kaget. Ia menunjuk dadanya sendiri dengan raut wajah yang langsung berubah sangat masam. Sebagai petugas pos yang sudah belasan tahun mengabdi dan melayani masyarakat, belum pernah sekali pun ia dituduh sebagai pencuri saat sedang menjalankan tugas resminya.
"Astaghfirullah! Bu, kenapa Anda mulutnya jahat sekali?!" balas Pak Joko dengan nada kesal dan penuh penekanan. "Pantas saja toko ini viral di media sosial dan dihujat orang se-Indonesia, ternyata pemiliknya modelannya begini."
"Apa kamu bilang?! Berani-beraninya ya kamu ngomong begitu sama saya. Kamu tahu saya siapa?!" teringis Salma murka. Ia melangkah maju dengan sepatu hak tingginya, bersiap memaki dan melayangkan tangannya untuk membalas perkataan petugas pos itu.
Namun, sebelum Salma sempat meluapkan kegilaannya lebih jauh, Bian yang berada di sampingnya langsung memegang erat lengan Salma dan menariknya ke belakang dengan kasar.
"Cukup, Salma! Malu-maluin saja kamu!" bentak Bian dengan suara parau yang menahan malu amat sangat.
Bian memejamkan matanya sejenak, mengusap wajahnya yang terasa amat tebal oleh rasa hina, lalu melangkah mendekati Pak Joko. Ia mencoba mengatur nada suaranya meski tubuhnya masih gemetar hebat.
"Sudah... ada apa ya, Pak?" tanya Bian lemas.
Pak Joko menghela napas panjang, menatap Bian dengan tatapan menilai yang sangat dingin. Dari ciri-ciri pria di hadapannya yang tampak begitu mengenaskan dan habis dipermalukan, ia langsung menebak identitasnya.
"Maaf, Pak. Saya mau mengantar surat," ujar Pak Joko seraya menyodorkan map penerimaan. "Apakah Anda sendiri yang bernama Bapak Bian?"
Bian menelan ludahnya yang terasa sekeras batu. "Iya, saya Bapak Bian... Surat apa lagi ya, Pak?"
"Ini, Pak. Surat panggilan dari Pengadilan Agama," jawab Pak Joko singkat tanpa mau berlama-lama. Ia menyerahkan pulpen dan lembar bukti penerimaan.
"Tolong ditandatangani terlebih dahulu ya, Pak, sebagai bukti resmi bahwa surat ini sudah diterima langsung di tangan Bapak."
Tanpa banyak bicara atau menanyakan alasan lebih lanjut, Bian langsung meraih pulpen tersebut dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas lembaran tanda terima tanpa minat sedikit pun.
Pikirannya sudah terlalu hancur untuk mempertanyakan hal lain.
Setelah menerima kembali pulpen dan bukti tanda terima yang sudah ditandatangani, Pak Joko menyerahkan amplop cokelat tebal itu ke tangan Bian.
"Terima kasih. Permisi," ucap Pak Joko dingin. Tanpa menunggu balasan, petugas pos itu langsung berbalik arah, menaiki sepeda motornya, dan melaju pergi meninggalkan pelataran swalayan tanpa sudi melirik Salma sedikit pun.
Bian berdiri mematung di pelataran toko yang berdebu. Matanya tertuju pada baris tulisan di bagian depan amplop cokelat tebal itu. Tulisan cetak tebal dengan logo resmi Pengadilan Agama terpampang sangat jelas:
SURAT PANGGILAN SIDANG PERTAMA DAN SALINAN BERKAS GUGATAN CERAI
PENGGUGAT: HUSNA ANGGRAENI
TERGUGAT: BIAN AFNANDA
DEG!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dada Bian serasa dihantam godam raksasa. Pandangan matanya mendadak kabur. Seluruh persendian di tubuhnya terasa meloloskan diri hingga ia hampir jatuh tersungkur jika tidak berpegangan pada tiang kanopi toko.
Surat yang ditakutinya akhirnya benar-benar sampai di tangannya. Gugatan cerai dari Husna wanita yang selama belasan tahun ini membesarkan namanya, menyokong finansialnya, dan memberikan kehormatan dalam hidupnya kini resmi bergulir.
"Mas... Mas Bian! Itu surat apa sih?!" cerceh Salma yang penasaran. Ia merebut kasar amplop cokelat itu dari genggaman Bian yang melemah.
Bian tak menghiraukan Salma. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia merogoh kantong celananya, mengambil kunci rantai swalayan, lalu membuka gembok besar itu dengan tangan bergetar. Ia mendorong pintu kaca, lalu melangkah masuk ke dalam bangunan swalayan yang gelap dan pengap.
Salma yang sudah membaca tulisan di depan amplop itu ikut menerobos masuk ke dalam toko, langsung membanting pintu kaca di belakang mereka hingga bergetar keras.
Di dalam ruangan swalayan yang sunyi, pengap, dan hanya diterangi remang-remang cahaya matahari yang menembus kaca, Bian berjalan lunglai menuju lorong belakang. Pria itu terduduk lemas di atas tumpukan kardus bekas tempat tidur darurat mereka semalam. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu terisak menangis penuh rasa frustrasi dan keputusasaan yang teramat sangat.
Semuanya telah musnah dalam waktu kurang dari satu hari. Jabatannya sebagai manajer senior melayang dengan PHK tidak hormat, gaji dan bonus puluhan jutanya sirnah, mobil sedannya disita, rumah mewahnya disegel atas nama Husna, dan kini ikatan pernikahannya dengan Husna berada di ujung tanduk perceraian.
Salma berdiri di hadapan Bian seraya merobek amplop cokelat itu dengan kasar. Ia membaca lembaran-lembaran gugatan cerai yang dibuat oleh tim pengacara Husna. Semakin bawah ia membaca, semakin memerah raut wajah Salma oleh rasa kecewa dan amarah yang meluap-luap.
"Gila! Ini benar-benar gila!" jerit Salma melengking, suara nyaringnya memantul keras di dalam bangunan swalayan yang kosong. Ia melemparkan berkas gugatan itu tepat ke muka Bian.
"Mbak Husna benar-benar mau nyeraikan kamu, Mas! Dan lihat isinya! Dia menuntut hak asuh anak sepenuhnya, dan dia menegaskan di surat ini kalau kamu TIDAK BERHAK atas satu sen pun harta gono-gini karena semua aset tanah, rumah, dan bisnis adalah murni modal dan atas nama dia."
Salma berjalan bolak-balik di hadapan Bian dengan sepatu hak tingginya yang berdetak nyaring. Wajahnya yang memerah dipenuhi kecemasan akan masa depannya sendiri.
"Kamu dengar gak sih, Mas?!" bentak Salma lagi, mengguncang bahu Bian dengan kasar. "Terus gimana nasib kita sekarang?! Swalayan ini sudah disita bank, uang di rekening kamu cuma sisa tujuh juta setengah dari pesangon minim itu, mobil gak ada dan sekarang Husna buang kamu gitu aja tanpa kasih harta gono-gini! Mau makan apa kita esok hari?."
Bian tetap bungkam, bahunya berguncang hebat oleh tangisan yang tanpa suara. Penyesalan yang amat dalam meremukkan dadanya. Bayangan wajah Husna yang selalu tersenyum sabar melayaninya, bayangan Devan dan Deka yang dulu selalu menghormatinya, kini berganti menjadi bayangan kehancuran hidupnya sendiri.
Melihat Bian yang hanya bisa menangis diam bagaikan pria lemah, rasa muak di hati Salma mencapai puncaknya. Wanita muda itu menyunggingkan senyum sinis yang sangat menghina.
"Cih! Dasar pria tidak berguna!" cibir Salma ketus. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Bian dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Tapi ya... kalau dipikir-pikir, untunglah sekarang istri tua kamu itu akhirnya sadar! Untung Husna cepat-cepat sadar kalau selama belasan tahun ini dia itu cuma menikah sama seorang BENALU."
DEG!
Kata BENALU yang keluar dari mulut Salma seketika menghentikan tangis Bian.
Ruangan yang pengap itu mendadak menjadi sangat hening. Bian perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang merah padam, bengkak, dan dipenuhi urat-urat emosi menatap tajam ke arah Salma. Rasa sakit di hatinya akibat kehilangan segalanya seketika berubah menjadi ledakan amarah yang sangat dahsyat.
Bian bangkit berdiri dari atas kardus. Tubuhnya yang tadinya membungkuk kini berdiri tegap mengintimidasi, melangkah mendekati Salma dengan tatapan mata yang seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup.
"Kamu... bilang apa tadi?" suara Bian terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.
Salma sempat tersentak kaget melihat perubahan raut wajah Bian yang mendadak menakutkan, namun kesombongan dan rasa kecewanya membuat wanita itu menolak untuk mundur. Ia justru membusungkan dadanya.
"Kenapa? Kamu marah aku bilang begitu?!" tantang Salma dengan nada nyalang. "Emang kenyataannya begitu kan?! Semua orang di kantor pusat tadi juga ngomong begitu! Kamu itu cuma benalu yang menempel di kekayaan Husna! Kamu gaya-gayaan jadi manajer senior, sok kaya, sok bisa beliin aku barang-barang mewah, padahal semuanya cuma hasil numpang di atas aset istri tua kamu! Pas garansi aset Husna dicabut, kamu langsung di-PHK dan cuma dikasih pesangon tujuh juta setengah! Kalau bukan benalu, terus apa namaya?!"
"DIAM KAMU, SALMA!!!"
BARRR!
Bian berteriak keras hingga suaranya memecahkan keheningan swalayan. Pria itu membanting sebuah tiang besi pembatas antrean di dekatnya hingga menumbuk lantai keramik dengan suara dentuman raksasa.
Salma menjerit kaget, refleks mundur dua langkah dengan wajah pucat.
"Kamu tidak sadar diri ya, Salma?!" amuk Bian dengan napas memburu dan urat-urat di lehernya yang menegang merah padam. Matanya menatap Salma dengan rasa benci dan muak yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Kamu sebut saya benalu?! Kamu seolah-olah tidak punya malu ngomong begitu ke saya, Salma! Memangnya kamu siapa, hah?!" bentak Bian tepat di depan wajah Salma hingga wanita itu terkejut.
"S-saya ini istri kamu, Mas!" balas Salma gagap, mencoba membela diri.
"Istri?! Istri macam apa kamu?!" tembak Bian sinis, tertawa keras yang terdengar sangat frustrasi dan gila. "Kamu itu cuma seorang PELAKOR! Wanita gatal yang tidak tahu diri yang masuk ke dalam rumah tangga saya dan merusak semuanya."
Wajah Salma seketika merah padam mendengar kata 'pelakor' terlempar keras dari mulut suami sapaannya itu. "Mas Bian! Berani-beraninya kamu"
"KENAPA?! KAMU TIDAK TERIMA?!" potong Bian dengan suara melengking penuh penekanan. Ia menunjuk muka Salma dengan jarinya yang gemetar oleh amarah.
"Dengar ya Salma! Kalau saya ini benalu di hidup Husna, kamu itu ulat bulu busuk yang menghancurkan pohonnya! Siapa yang goda saya saat bisnis saya sedang stabil?! Siapa yang minta dibelikan baju-baju mahal harga puluhan juta?! Siapa yang minta dibelikan tas impor, perhiasan, sampai minta dibangunkan toko swalayan mewah ini dari uang kas dan utang jaringan bisnis Husna?! KAMU, SALMA! KAMU YANG MINTA SEMUANYA."
Salma mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya berkaca-kaca oleh rasa marah dan terhina. "Aku minta semua itu karena kamu yang janji bisa mencukupi aku! Kamu yang bilang kamu pria kaya!"
"Saya bisa mencukupi kamu karena Husna masih diam dan mengizinkan saya pakai fasilitasnya!" bentak Bian tak mau kalah, air matanya menetes di tengah amarahnya yang membara.
"Kalau bukan karena keserakahan kamu yang tidak pernah cukup itu, saya tidak akan pernah mengkhianati Husna! Saya tidak akan pernah menginjak-injak istri yang sudah menemani saya dari nol! Dulu hidup saya terhormat! Saya dihormati anak-anak saya, saya disegani karyawan, dan rumah tangga saya adem ayem. Tapi begitu kamu masuk... kamu gerogoti uang saya, kamu racuni pikiran saya untuk lawan Husna, sampai akhirnya hidup saya hancur sehancur-hancurnya seperti sekarang ini."
Bian melangkah makin maju, membuat Salma terdesak hingga punggungnya menabrak rak besi yang kosong.
"Sekarang kamu berlagak sok suci dan sebut saya benalu?!" cecar Bian dengan tatapan menghina. "Kamu tidak tahu malu! Kamu datang cuma buat menguras harta saya saat kamu pikir saya kaya raya! Dan sekarang begitu tahu saya tidak punya apa-apa lagi selain uang tujuh juta setengah ini, kamu tunjukkan belang kamu yang asli."
"Cukup, Mas Bian! Cukup!" jerit Salma seraya menutup kedua telinganya. Air mata amarah meluncur menyeberangi pipinya yang tertutup kosmetik mahal.
"Memang benar kok!" teriak Salma histeris, tidak mau kalah sedikit pun. "Aku mau sama kamu dulu karena aku pikir kamu manajer senior kaya raya yang punya segalanya! Siapa wanita yang mau sama pria tua bangkai kayak kamu kalau bukan karena uangnya?! Sekarang uang kamu habis, kamu cuma punya tujuh juta setengah, rumah tidak punya, mobil disita, dan kamu cuma gembel yang harus tidur di atas kardus swalayan busuk ini! Aku sudi hidup melarat sama kamu."
"KALAU BEGITU PERGI KAMU DARI SINI!" jerit Bian dengan lantang, menyambar koper pakaian milik Salma yang tergeletak di lantai lalu melemparkannya kasar ke arah pintu utama.
BRUKKK!
Koper mahal itu terhempas keras dekat pintu kaca.
"Pergi kamu! Angkat kaki kamu dari hidup saya!" amuk Bian seraya menunjuk pintu luar. "Bawa semua baju-baju mahal kamu yang kamu beli pakai uang hasil utang itu! Pergi dan jangan pernah balik lagi ke hadapan saya! Kamu wanita jahat yang sudah hancurkan hidup saya!"
Salma menatap koper mewahnya yang tergeletak di lantai, lalu menatap Bian dengan pandangan penuh rasa benci dan penghinaan tertinggi. Ia menghapus air matanya dengan kasar, membenarkan posisi tas impor di lengannya, lalu menyunggingkan senyum paling sinis.
"Tanpa kamu usir pun aku bakal pergi dari sini, Mas!" seru Salma dengan nada melengking penuh cemooh. "Kamu pikir aku sudi tinggal di bangunan pengap ini sama pria bangkrut dan tidak punya masa depan kayak kamu?! Tujuh juta setengah itu simpan saja buat kamu beli kain kafan! Karena sebentar lagi, kamu bakal mati kelaparan di atas kardus-kardus ini sendirian."
Dengan langkah kaki penuh amarah dan sepatu hak tingginya yang menghentak keras di lantai, Salma berjalan menuju pintu utama. Ia menyambar kopernya, memutar kunci rantai, lalu keluar menembus pintu kaca swalayan. Ia membanting pintu itu kuat-kuat hingga suara pecahan kaca hampir terdengar bergema di dalam toko.
BAMMM!
Pintu tertutup rapat. Bayangan Salma yang menyeret kopernya di pelataran jalan raya perlahan menghilang ditelan hiruk-pikuk lalu lintas kota.
Keheningan mendadak kembali menyergap bangunan swalayan yang gelap dan pengap itu.
Bian berdiri mematung sendirian di tengah lorong toko yang kosong. Tangannya meluncur lemas ke samping tubuhnya. Seluruh kemarahan yang tadi meluap-luap seketika menguap, menggantikannya dengan rasa hampa dan kesepian yang teramat sangat berat.
Pria itu menatap sekelilingnya. Rak-rak kayu yang melengkung tanpa barang dagangan, lantai keramik yang penuh noda debu, tumpukan kardus bekas di sudut ruangan, serta lembaran surat gugatan cerai dari Husna yang berserakan di atas lantai kotor.
BRUKK.
Kedua lutut Bian menyerah. Pria setengah baya itu jatuh tersungkur berlutut di atas lantai keramik yang dingin. Bian meraih lembaran surat gugatan cerai dari Husna yang tergeletak di dekat tangannya. Ia memeluk lembaran kertas itu di dadanya seraya menempelkan jidatnya ke lantai.
"Husna..." bisik Bian dengan suara yang pecah hancur bertabur tangis penyesalan. "Maafkan mas, Husna... Maafkan mas..."
Tangisan penyesalan Bian memecah keheningan toko swalayan itu. Namun, suara tangisannya hanya memantul di dinding-dinding beton yang bisu. Di luar sana, Husna dan kedua putra kembarnya sedang bersiap memulai hidup baru yang cerah dan bahagia, sementara Bian ditinggalkan sendirian di dalam kegelapan dan kebiasaan pahit akibat dosa-dosanya sendiri.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?