Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Yang Berani Menghina Istriku

Baskara mengambil satu langkah ke depan.

Ratri mengangkat tangan tanpa melihatnya.

"Jangan."

Satu kata itu menahan amarah yang hampir pecah.

Ratri mengambil serbet dari meja. Ia menekan kain putih pada bagian gaunnya yang basah, lalu menatap perempuan di hadapannya.

"Anda bilang tangan Anda licin?"

"Saya sudah minta maaf."

"Belum. Anda baru mengucapkan kata maaf sambil tersenyum."

Nyonya itu mendengus. "Gaunnya akan saya ganti. Sebut saja harga."

"Masalah Anda selalu mengira harga bisa mengganti akibat."

Suami perempuan itu mendekat dari meja lain. Ia adalah pemilik sebuah perusahaan manufaktur menengah yang menjadi pemasok beberapa konglomerasi. Wajahnya menunjukkan keyakinan orang yang terbiasa membuat masalah selesai dengan satu telepon.

"Bu Ratri, istri saya tidak sengaja," katanya. "Jangan membuat keributan di acara amal."

"Istri Anda baru saja menuduh saya membunuh seseorang di depan puluhan saksi."

"Semua orang pernah mendengar kasus Larasati."

"Mendengar bukan membuktikan."

Perempuan itu menyilangkan tangan. "Kalau tidak bersalah, kenapa tersinggung?"

Ratri menyerahkan serbet bernoda kepada Wira. "Karena orang mati bukan aksesori untuk menutupi masalah keluarga Anda sendiri."

Senyum pasangan itu menghilang.

Maharani berdiri di sisi Ratri. "Sepertinya ada cerita yang lebih menarik daripada anggur tumpah."

Ratri menatap pria tersebut. "Tiga bulan lalu, seorang pekerja meninggal setelah jatuh dari lantai empat pabrik Anda. Perusahaan menyebutnya kelalaian pribadi karena ia tidak mengaitkan tali pengaman."

"Itu hasil pemeriksaan internal."

"Sinar Sentosa mewakili keluarganya."

Beberapa wartawan segera mengangkat ponsel.

Pria itu merendahkan suara. "Perkara itu sedang dibicarakan. Jangan bawa ke sini."

"Istri Anda yang ingin membahas dosa dan orang mati."

Ratri membuka ponselnya, tetapi tidak menampilkan data pribadi korban.

"Foto alat menunjukkan pengait tali pengaman retak sebelum jatuh. Dua pekerja telah melaporkan kerusakan pada minggu yang sama. Catatan pemeriksaan keselamatan hilang dari server, tetapi salinan surel masih ada pada penerima. Setelah kejadian, supervisor diminta menandatangani laporan dengan waktu mundur."

Ratri membuka satu foto yang sudah menutupi wajah dan identitas korban. Retakan pada pengait terlihat di dekat bagian logam yang menanggung beban.

"Pola patah memiliki korosi di bagian dalam. Artinya kerusakan tidak terjadi hanya ketika pekerja jatuh. Alat sudah melemah sebelum dipakai. Di gudang ditemukan tiga pengait dari batch yang sama, tetapi semuanya dibuang sehari setelah keluarga meminta pemeriksaan independen."

Seorang wartawan bertanya, "Apakah Ibu menyatakan perusahaan membunuh pekerja itu?"

"Tidak. Saya menyatakan ada kewajiban keselamatan dan penyimpanan bukti yang harus diuji. Jangan mengubah penjelasan menjadi putusan."

Jawaban itu menutup jalan bagi pasangan tersebut untuk menuduh Ratri melakukan fitnah balik.

Pria itu pucat. "Itu tuduhan."

"Itu materi yang akan diuji dalam proses hukum. Kami sudah meminta pengamanan rekaman, log surel, dan daftar pengadaan. Jika satu file lagi hilang setelah malam ini, kehilangan tersebut juga akan dicatat."

"Anda mengancam saya?"

"Saya menjelaskan kewajiban menyimpan bukti. Ancaman adalah menumpahkan minuman lalu memakai kematian orang untuk mempermalukan lawan."

Nyonya itu melihat sekeliling. Orang-orang yang tadi tertawa kini menjauh setengah langkah. Tidak ada yang ingin berdiri terlalu dekat dengan dugaan penutupan kematian pekerja.

"Keluarga korban hanya mengejar uang," katanya putus asa.

Ratri mendekat satu langkah. "Mereka mengejar jawaban tentang mengapa seseorang disuruh bekerja dengan alat rusak. Jangan hina mereka di depan saya."

Suaminya meraih lengan perempuan itu. "Cukup."

Namun, harga dirinya sudah terluka.

"Kau takut pada pengacara ini?" ia membentak. "Kita punya perusahaan, bank, dan mitra yang lebih besar daripada kantornya. Kalau perlu, semua kliennya akan tahu bagaimana dia memeras orang lewat kasus kecelakaan."

Baskara akhirnya berbicara.

"Sebutkan lagi."

Pria itu menoleh. "Apa?"

"Hal-hal yang membuatmu merasa besar. Perusahaan, bank, mitra. Sebutkan satu per satu."

Tawa mengejek terdengar dari beberapa tamu. Mereka masih menganggap Baskara suami miskin dengan uang kusut.

"Mas, jangan ikut campur urusan bisnis," kata pria itu. "Anda bahkan tidak mengerti bagaimana rantai pasok bekerja."

Baskara mengeluarkan ponsel lama dari sakunya. Ia menelepon Panji.

"Perusahaan manufaktur yang memasok komponen untuk tiga kelompok usaha di utara Jakarta," katanya tanpa menyebut nama. "Periksa kontrak pasok, fasilitas kredit, dan jaminan yang dipegang jaringan Nardi."

Keheningan jatuh.

Nama Nardi tidak dikenal semua orang. Namun, mereka yang mengenalnya segera berhenti tersenyum.

Panji menjawab dari seberang. Baskara mendengarkan beberapa detik.

"Jangan batalkan apa pun," katanya. "Terapkan hak peninjauan yang sudah ada. Pastikan pemeriksaan keselamatan dan risiko hukumnya selesai sebelum fasilitas berikutnya dipakai."

Ia memutus panggilan.

Pria pemilik perusahaan tertawa kaku. "Sandirwara apa ini?"

"Tunggu."

Tiga menit kemudian, ponselnya berdering.

Panggilan pertama datang dari direktur keuangan. Bank utama meminta penjelasan mendadak tentang potensi kewajiban perkara kecelakaan kerja sebelum memperpanjang fasilitas modal kerja.

Panggilan kedua datang dari bagian pengadaan. Salah satu pelanggan terbesar menunda pesanan baru sampai audit keselamatan pemasok selesai.

Panggilan ketiga datang dari perusahaan logistik. Slot pengiriman yang selama ini didapat melalui konsolidasi jaringan Nardi dimasukkan kembali ke antrean umum sesuai kontrak.

Tidak ada kontrak yang dilanggar. Tidak ada aset yang dirampas. Hanya semua kemudahan yang selama ini dianggap hak tiba-tiba diperiksa sesuai aturan.

Panji mengirim ringkasan singkat ke ponsel Baskara. Fasilitas kredit memang memuat kewajiban mengungkap perkara material. Kontrak pelanggan mengizinkan audit pemasok jika ada risiko keselamatan. Jaringan logistik hanya mencabut prioritas tidak tertulis, bukan hak angkut.

Baskara tidak menciptakan kehancuran dari udara. Ia hanya menghentikan orang-orangnya menutup mata terhadap kewajiban yang selama ini dibiarkan longgar.

Ratri memahami itu ketika membaca layar ponselnya dari samping. Cara tersebut berbahaya, tetapi bersih. Tidak ada celah mudah untuk menyebutnya pemerasan.

Wajah pria itu menjadi abu-abu.

"Siapa Anda?"

Baskara memasukkan ponsel ke saku. "Suaminya."

"Tidak mungkin. Nardi tidak bergerak untuk orang biasa."

"Mungkin aku punya teman yang rajin."

Ratri menatap Baskara tajam. Jawaban itu sama dengan yang dipakainya ketika jalur media kembali terbuka.

Pria tersebut mendekat dengan suara memohon. "Mas Baskara, mari kita bicarakan baik-baik. Istri saya salah bicara. Audit mendadak bisa membuat ribuan pekerja terdampak."

"Karena itu aku tidak menyuruh siapa pun menutup perusahaanmu. Perbaiki keselamatan, selesaikan hak keluarga korban, dan berhenti mengancam istriku."

Baskara melihat ke seluruh aula.

"Siapa pun yang mengucapkan satu kata penghinaan lagi kepada istriku, besok akan belajar bagaimana rasanya ketika semua kemudahan tiba-tiba berubah menjadi pemeriksaan."

Tidak seorang pun menganggapnya lucu sekarang.

Nyonya yang menumpahkan anggur menelan ludah. Maharani menyerahkan tisu baru kepadanya.

"Sepertinya ada satu kata yang belum Anda ucapkan dengan benar," katanya.

Perempuan itu menghadap Ratri. "Saya minta maaf. Saya sengaja menumpahkan anggur dan tidak seharusnya mengucapkan tuduhan itu."

"Permintaan maaf Anda dicatat," jawab Ratri. "Perkara pekerja tetap berjalan."

Pasangan itu meninggalkan aula tanpa menunggu acara selesai.

Bisik-bisik pecah sesudah mereka pergi.

"Dia bilang Nardi."

"Bagaimana suami pengangguran bisa memerintahkan peninjauan fasilitas?"

"Mungkin benar hanya temannya."

"Tidak ada teman yang menjawab secepat itu."

Ratri menarik Baskara ke koridor samping.

"Anda baru saja mengancam seluruh aula."

"Aku menjanjikan pemeriksaan."

"Jangan meniru kata-kata saya."

"Kata-katamu bagus."

"Siapa Anda sebenarnya?"

Wajah Baskara kembali tampak lugu. "Suamimu yang berutang tempat tinggal."

Ratri hampir tertawa karena kesal. "Dan Nardi?"

"Teman."

"Semua jawaban Anda selalu teman."

"Aku orang yang mudah bergaul."

Ratri menahan tatapannya beberapa detik. Di balik kebohongan konyol itu, ia baru saja melihat kekuasaan yang mampu membuat perusahaan besar gemetar tanpa satu tindakan melanggar hukum.

Ia hendak bertanya lagi ketika rasa logam muncul di mulut.

Darah merembes dari gusinya. Ujung jari kirinya berubah kebiruan. Tubuhnya kehilangan tenaga begitu cepat hingga bahunya menyentuh dinding.

Baskara menangkapnya.

"Kita pulang sekarang."

"Hanya gejala ringan."

"Tidak. Ikatanmu turun."

Ratri mengangkat kepala. "Ikatan apa?"

Baskara sadar telah salah bicara. "Maksudku tenaga."

"Anda bahkan tahu kapan tenaga saya turun?"

"Ratri, bukan sekarang."

Ia hendak mengangkat tubuhnya. Ratri mencengkeram kerah jasnya.

"Turunkan saya. Saya bisa berjalan."

"Kau hampir jatuh."

"Dan semua kamera masih ada."

Baskara melihat sekeliling, lalu membiarkannya berdiri sambil tetap menopang siku. Maharani dan Wira menutup jalur mereka menuju pintu belakang.

Di dalam mobil, Ratri duduk dengan pusaka di telapak kiri. Baskara menahan titik nadi di pergelangannya dan diam-diam mengalirkan tenaga sukma. Wajahnya semakin pucat sementara warna di ujung jari Ratri perlahan kembali.

Wira menurunkan pembatas kaca agar mereka memiliki ruang. Dari depan, ia hanya mendengar napas Baskara yang sesekali tertahan.

"Lepaskan kalau Anda tidak kuat," kata Ratri.

"Aku tidak apa-apa."

"Wajah Anda lebih putih daripada gaun saya sebelum disiram anggur."

"Itu warna alami."

"Anda juga pembohong alami."

Meski berkata demikian, Ratri tidak menarik pergelangannya. Ia membiarkan tangan Baskara bertahan sampai jari mereka sama-sama hangat.

"Panggilan tadi," kata Ratri. "Ditujukan kepada siapa?"

Baskara tidak menjawab.

"NG Executive Office. Nardi. Yayasan rumah sakit. Perusahaan distribusi. Semua jalurnya bertemu pada Anda."

Lampu kota melintas di wajah Baskara.

"Suatu hari," katanya akhirnya, "aku akan memberitahumu semuanya."

"Kapan? Setelah tiga tahun lagi?"

Rasa sakit melintas di matanya.

Baskara menarik tangannya dari nadi Ratri. Saat itu, ujung lengan kemejanya bergeser. Sebuah luka baru terlihat di antara bekas sayatan lama, masih mengeluarkan satu garis darah tipis.

Ratri menatap luka tersebut.

Untuk pertama kalinya, ia merasa rahasia Baskara mungkin bukan hanya tentang uang dan kekuasaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!