Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azarin si kucing ganas

Mendengar dirinya di sebut jelek dan menor, Fania tentu geram. Tangannya terulur ingin meraih anak kecil di pelukan Dean.

"Heh bocah ini!"

Azarin tampik keras tangan Fania, hingga wanita itu mengaduh, memegangi lengannya yang sakit itu.

"Apa sekarang anda juga mau merundung anak kecil?! Di depan orang tuanya?!"

Dapat Fania rasakan gurat kebencian dibalik tatapan sengit Azarin.

Bisa ia tebak, pasti karena dulu ia menjadi alasan rumah tangga mereka hancur.

Fania menyeringai tipis, "Kenapa? Mau marah? Lagian kamu sendiri jadi ibu gimana, gabisa didik anak apa?"

Fajar tarik bahu istrinya mendekat, "Sudah jangan bikin ulah!"

Fania singkirkan tangan suaminya dari bahunya cepat.

"Apasih, mas! Ya orang bener kok!" balik menatap Azarin malas, "Dasarnya dia jadi ibu ga becus! Ngedidik anak ga bener makannya anaknya ngomong seenak jidat!"

Azarin punya tempat untuk marah disini. Namun itu terlalu menguras tenaganya. Jadi ia lebih memilih membalasnya dengan tenang.

Azarin tersenyum tipis, menarik nafas panjang untuk sekedar melegakan dada.

"Wah...Apa ini? Saya dinasehati mendidik anak yang betul oleh orang yang bahkan belum punya anak?"

Melotot langsung bola mata Fania. Refleks melayangkan tamparan. Namun Fajar sudah lebih dulu menangkapnya.

"Sudah Fania sudah! Jangan bikin mas lebih malu dari ini!" sentak Fajar frustasi.

Kini balik Azarin menatap sinis mantan suami.

"Jadi ini pilihan yang kamu bela, mas? Ternyata tidak lebih baik dari aku."

"Kamu—!" Fania ingin menantang, namun Fajar segera menariknya menjauh. Pergi dari sana.

"Mas lepasin, mas! Dia udah kurang ajar! Aku harus balas dendam!" seru Fania meronta.

Namun Fajar yang menahan malu setengah mati memilih membawa Fania pulang sebelum suasana makin kacau.

"Kita pulang sekarang!"

"Mass...! Aku gamau, aku harus ngasih pelajaran—"

"CUKUP FANIA!!!" Sentak Fajar akhirnya, langsung mengicepkan bibir yang semula nyerocos itu.

Bahkan Azarin yang berdiri di kejauhan sampai memejam saking menggelegarnya teriakan Fajar. Nyaris membuat semua orang disana mematung berjamaah.

Dulu Fajar tidak sampai segitunya pada Azarin. Pria itu masih tergolong lembut. Pasti Fania sudah berbuat kekacauan sebelumnya sampai Fajar tidak bisa mengontrol emosi nya.

Sementara Dean memilih menenangkan Mia yang terkejut di pelukannya. Bahkan tubuh Mia yang tersentak tadi masih terasa jelas oleh Dean.

"Sayang kamu kaget yah? Kita pulang sekarang yah...." Bisik Dean lembut.

Yang langsung dibalas pelukan manja sang putri.

Sementara Azarin menatap putrinya penuh rasa khawatir. Ia belai rambut putrinya lembut.

"Padahal putrinya disini. Tapi dia berteriak seperti itu." lirih Azarin murung.

Dean tersenyum ke arah Azarin di depannya, balik mengelus pucuk kepala Azarin lembut.

"Tidak apa-apa, kan sekarang ada ayahnya disini. Calon kamu."

Pipi Azarin kembali memerah, memalingkan wajah cepat.

Dean tertawa kecil, "Lho, padahal tadi udah ganas ngelabrak, sekarang balik ke setelan pabrik?"

Wanita itu tatap Dean ragu, merunduk kecil, "It—itu karena dia ganggu tuan!"

Dean semakin ingin menggoda, mencondongkan wajahnya sejajar dengan wajah Azarin.

"Iya juga. Kamu bilang tadi aku calon suami kamu di depan wanita itu. Aku tidak menyangka kucing polos ini juga bisa jadi ganas yah?"

"Tuann...!" rengek Azarin malu-malu kucing, semakin menghadirkan tawa renyah pria itu.

"Hihihi....papa mama lucu." kekeh Mia tiba-tiba.

Dean dan Azarin tentu terkejut.

Padahal muka Mia tadi tegang dan ketakutan. Hanya melihat obrolan kecil mereka berdua, gadis kecil itu langsung kembali ceria.

"Syukurlah, setidaknya Mia bahagia." batin Azarin tersenyum haru.

"Ayo, kita ajak Mia ke taman bermain." sela Dean, yang langsung disambut kehebohan putrinya.

"Yeee....! Taman belmain! Taman belmain! Yee..ye...ye..ye..!" seru Mia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Dean dan Azarin tersenyum manis, berjalan beriringan keluar dari butik dengan tote bag besar berisi gaun yang cukup banyak Azarin tenteng.

Azarin tidak tau harus bersyukur atau tidak enak.

Pasalnya, uang yang Dean keluarkan itu nyaris menyentuh 100 juta hanya untuk 8 setel gaun.

4 gaun Azarin, 4 gaun Mia. Tentu atas pilihan Dean, mana mungkin Azarin menuntut membeli semuanya.

Ia bahkan memilih harga diskonan yang ga nyampe 2 juta, namun Dean menolaknya.

"Aku tidak semiskin itu hanya untuk memesan barang receh ini, Azarin."

Kata-kata Dean di dalam tadi masih terngiang jelas di otak Azarin.

Receh katanya!

100 juta bagi Dean ternyata cuma uang receh!

Bagi Azarin itu sudah seperti uang darurat selama setahun!

Yahh...

Tidak bisa Azarin pungkiri. Dean adalah pria kaya sekarang, setidaknya uangnya milyaran, bahkan mungkin triliunan belum dengan aset-asetnya.

"Kenapa bengong, masuk." kata Dean tiba-tiba tatkala mereka sudah berdiri di depan mobil.

Azarin sampai terhenyak. Tidak disangka ia melamun dari pintu VIP room sampai tempat parkir.

Mengejutkan sekali.

"Makasih, tuan. Lain kali saya akan mengganti uangnya." lirih Azarin gugup.

Dean tatap Azarin malas.

"Sudah berapa kali ku bilang berhenti rendah diri seperti itu. 100 juta cuma uang receh.

Simpan uangmu baik-baik."

Bibir Azarin tertarik ke bawah, menatap Dean saja rasanya seperti menatap aset milyaran.

Bagimu mungkin receh tapi bagiku itu aset, tuan!

Dan tentu cuma bisa di simpan dalam hati.

Mana berani dia berucap seperti itu di depan Dean.

Pria itu elus pucuk kepala Azarin lembut, sementara Mia sudah masuk ke mobil lebih dulu.

"Berhenti membebani diri sendiri, Azarin. Aku mengeluarkan uang untukmu bukan semata sebagai belas kasihan. Tapi karena mulai sekarang, kamu dan Mia adalah pusat duniaku. Bahkan aku rela memberikan apapun yang kamu mau."

"Cukup Mas!" sentak Azarin melotot, membekap mulut Dean dengan tangannya syok.

"Berhenti mengucapkan hal yang mustahil!"

Apa tadi?!

Memberikan apapun?!

Woy! 100 juta saja rasanya hampir bikin pingsan apalagi apapun!

Tak terbatas!

Bisa-bisa Azarin mati tertimbun longsoran uang yang tidak ternilai harganya!

Ahh sinting.

Semakin diingat semakin bikin minder saja.

Baru sekelas Fania saja sudah tertarik. Apalagi wanita sosialita di luar sana, yang strata sosialnya jauh di atas dirinya ataupun Fania.

Bahkan untuk seruangan dengan mereka saja Azarin meras tak pantas!

"Sudah, berhenti memikirkan hal yang memusingkan. Kita berangkat sekarang."

Dean segera membukakan pintu belakang untuk Azarin. Lalu memutari mobil, masuk ke balik kemudi. Melajukan mobilnya keluar dari parkiran butik.

Sepanjang mobil berjalan Azarin sandarkan dagunya pada jendela mobil yang terbuka. Menatap pemandangan di depannya yang penuh dengan kemacetan ibukota.

"Apa aku pantas menerima semua ini?"

Dalam hati Azarin benar-benar minder. Ia bukannya senang, justru mempertanyakan kolerasi-nya disini.

Apa...

Dia pantas untuk Dean?

Apa... Dia tidak akan mempermalukan calon suaminya ini.

Dan yang lebih menakutkan adalah Dean sadar begitu merepotkan dirinya nanti.

Seperti Fajar yang juga repot dan bosan.

"Apa Dean juga akan seperti itu?"

Bosan itu spesifik, semua orang pasti merasakannya.

Dan hal yang Azarin takutkan adalah Dean bosan lalu meninggalkannya, seperti mantan suaminya.

Fajar.

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!