Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Bekerja
Beberapa hari setelah proses interview, Zevanna masih setia menunggu email balasan dari Verion Group. Ia bolak-balik memeriksa layar ponselnya dengan wajah cemas.
"Ck, kapan sih gue dapet notifnya? Lama banget! Apa jangan-jangan gue nggak diterima?!" Gerutu Zevanna merasa frustasi sambil merebahkan tubuhnya kasar ke kasur.
"Tapi kalau gue diterima, berarti nanti gue jadi bawahan si cowok lima miliar itu dong?!" Desah Zevanna Menatap langit-langit kamarnya. "Emang ngeselin banget tuh cowok! Nanti pasti gue disuruh ini-itu sama dia. Dia pasti bakal ngerjain gue buat balas dendam gara-gara motor gue nyerempet mobilnya!”
Zevanna berguling-guling di atas kasur lalu memukul-mukul bantalnya gemas.
"Awas aja kalau dia ngerjain gue sembarangan! Gue bakar gedungnya!" Ketus Zevanna kesal sendiri.
Saat Zevanna masih melampiaskan emosinya pada bantal, ponsel yang tergeletak di atas nakas tiba-tiba bergetar nyaring.
Ting!
Sebuah surel resmi dari HRD Verion Group masuk.
Zevanna seketika menghentikan aksinya, dengan cepat meraih ponsel lalu membuka pesan tersebut.
VERION GROUP—Human Resources Department
Subjek: Hasil Seleksi dan Penerimaan Karyawan
Yth. Saudari Zevanna Lyana Oliver,
Terima kasih telah mengikuti seluruh proses seleksi dan wawancara di Verion Group.
Berdasarkan hasil evaluasi dari tim Human Resources Department, kami dengan senang hati memberitahukan bahwa Saudari dinyatakan LULUS dan diterima sebagai karyawan Verion Group.
Saudari akan ditempatkan sebagai Staf Junior pada divisi yang telah ditentukan oleh perusahaan.
Hari pertama bekerja akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Senin, 13
Waktu: 08.00 WIB
Tempat: Gedung Verion Group
Dress Code: Formal
Mohon hadir tepat waktu dan membawa dokumen yang telah diinformasikan oleh pihak HRD.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai pembagian tugas dan orientasi karyawan baru, akan disampaikan oleh pihak HRD pada hari pertama kerja.
Selamat bergabung bersama Verion Group.
Hormat kami,
Human Resources Department
Verion Group
Zevanna membaca email itu sampai selesai itu dari awal sampai akhir tanpa mengedipkan mata.
Matanya langsung membesar.
"Gue... Beneran diterima?" gumamnya tidak percaya.
Zevanna buru-buru berniat menghubungi Tisha. Namun belum sempat panggilan tersambung, sebuah pesan teks masuk lebih dulu.
Tisha: ZEV! GUE DITERIMA!!!
Zevanna langsung tertawa kecil membaca pesan sahabatnya. "Gue juga, Tis!"
Zevanna melompat berdirinya di atas kasur. "AAAAAAA! GUE DITERIMA! UHUYYY!!!" heboh Zevanna berteriak senang.
Kemudian Zevanna bergegas turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamarnya menuju ruang tengah.
"Mama! Papa!”
Panggil Zevanna bersemangat.
Liona dan Yovandra yang sedang bersantai langsung menoleh.
"Kenapa, Sayang? Kok heboh banget?" tanya Liona tersenyum.
"Aku diterima kerja di Verion Group." Jawab Zevanna.
Liona tersenyum lebar dan mengelus bahu putrinya. "Syukurlah kalau kamu diterima, Nak. Mama ikut seneng mendengarnya.”
Yovandra menatap Zevanna dengan raut wajah tegas namun hangat. "Ingat ya, Zevanna. Ini pertama kalinya kamu bekerja di perusahaan orang lain. Kamu harus bertanggung jawab, disiplin, dan jangan suka bertindak seenaknya sendiri!”
"Siap, Pa! Aku nggak bakal aneh-aneh kok disana. Aku cuma mau fokus kerja aja,” jawab Zevanna menyakinkan.
Namun, tentu saja Zevanna menyembunyikan tujuan utamanya masuk ke sana. Ia masih menyimpan rapat-rapat rencana penyelidikan soal kematian Kak Zoyya sendirian.
***
Malam harinya, Zevanna sudah sudah berada di kamar. Beberapa dokumen untuk keperluan registrasi besok sudah ia rapikan dan masukkan ke dalam map.
Ia kembali mengecek isi tasnya satu per satu.
"CV... ada. KTP... ada. Dokumen dari HRD... ada."
Zevanna mengangguk puas setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia lalu mengambil kemeja putih dan celana bahan hitam yang sudah disetrika rapi, kemudian menggantungnya di pintu lemari.
"Besok gue harus bangun pagi-pagi. Jangan sampai telat di hari pertama," gumamnya.
Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba berdering nyaring.
Tisha calling...
Zevanna langsung menggeser tombol hijau.
"Kenapa, Tis?"
"Zev, lo udah siapin semua berkas buat besok belum?" tanya Tisha dari seberang telepon dengan nada cemas.
"Udah lah. Gue bahkan udah siapin baju sama dokumen lengkap.” jawab Zevanna mantap.
"Gue juga udah sih. Tapi sumpah ya, Zev… gue masih deg-degan banget!”
Zevanna terkekeh kecil. "Lo dari tadi ngomongin deg-degan mulu. Santai aja kali, Tis.”
"Enak aja bilang santai! Besok kita beneran mulai kerja di Verion Group, Zev!"
"Iya, gue tahu."
"Terus kalau besok kita bikin salah pas kerja gimana?" Tanya Tisha merasa cemas.
"Ya tinggal belajar lagi. Namanya juga hari pertama, wajar kalau masih penyesuaian.”
Tisha terdiam sejenak sebelum pelan-pelan kembali bertanya. "Eh, Zev... lo masih kepikiran soal Kak Zoyya?"
Senyum di wajah Zevanna perlahan menghilang. Ia melirik ke arah meja samping tempat tidur, di mana jam tangan hitam pemberian kakaknya tergeletak.
"Masih," jawabnya pelan. "Tapi gue nggak bakal gegabah. Kita fokus kerja dulu, Tis. Gue cuma mau cari tahu sedikit demi sedikit."
Tisha mengangguk meskipun Zevanna tidak bisa melihatnya. "Yang penting lo harus hati-hati."
"Iya. Lo juga."
Setelah beberapa menit berbicara, panggilan mereka akhirnya berakhir.
Zevanna meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kemudian mengambil jam tangan pemberian Zoyya dan mengelusnya pelan.
Besok adalah hari pertamanya bekerja di Verion Group. Perusahaan tempat kakaknya pernah bekerja.
Dan sekarang, ia akhirnya punya kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Zoyya.
Zevanna memasang kembali jam tangan itu di pergelangan tangannya.
"Pelan-pelan, Kak. Gue bakal cari tahu semuanya." Bisik Zevanna mantap.
Setelah itu, Zevanna mematikan lampu kamar dan berbaring di tempat tidur.
Ia mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya masih dipenuhi berbagai hal tentang pekerjaan barunya dan Verion Group.
"Besok bakal jadi hari yang panjang..." gumamnya sebelum akhirnya mencoba tidur.
***
Keesokan harinya, Zevanna dan Tisha sudah tiba di pelataran gedung Verion Group dengan pakaian formal yang rapi.
"Zev, gue deg-degan rasanya jantung gue mau copot!” keluh Tisha memegangi dadanya.
Zevanna menoleh. "Ya jangan copot dong, bahaya itu! Udah tenang aja. Santuy, Tis. Kalau lo makin deg-degan yang ada lo bisa pingsan di lobi. Tarik napas, tenangin diri lo!"
Tisha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Udah mendingan?” tanya Zevanna.
"Belum. Masih deg-degan."
Zevanna menghela napas pasrah. "Ya udah, terserah lo deh.”
Mereka berdua masuk ke dalam lobi gedung. Setelah menunjukkan bukti surel penerimaan kepada petugas keamanan, Zevanna dan Tisha diarahkan menuju ruang orientasi karyawan baru di lantai tiga.
Di dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa karyawan baru lainnya yang duduk rapi. Zevanna dan Tisha memilih dua kursi yang masih kosong lalu duduk berdampingan.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita dari bagian HRD masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Selamat pagi semuanya. Saya Elsa dari Human Resources Department. Hari ini saya akan menjelaskan beberapa hal yang perlu kalian ketahui sebelum mulai bekerja di Verion Group." Sapa Elsa ramah.
"Selamat pagi, Mbak!" jawab para karyawan serempak.
Elsa mulai menjelaskan beberapa aturan dasar yang berlaku di perusahaan. Ia juga menjelaskan mengenai jam kerja, absensi, pakaian kerja, serta kewajiban setiap karyawan selama berada di lingkungan kantor.
"Jam kerja dimulai pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Kalian wajib melakukan absensi ketika datang dan pulang."
Beberapa karyawan langsung mencatat penjelasan tersebut.
Zevanna juga ikut mencatat poin-poin penting di buku kecil yang dibawanya.
"Selain itu, ID card wajib digunakan selama berada di dalam gedung perusahaan. Jangan sampai tertinggal atau dipinjamkan kepada orang lain."
Elsa kemudian membagikan ID card kepada masing-masing karyawan baru.
Saat mendapatkan ID card miliknya, Zevanna langsung melihat nama yang tertera di sana.
ZEVANNA LYANA OLIVER
VERION GROUP
"Resmi juga akhirnya gue kerja di sini," gumam Zevanna pelan.
Tisha yang duduk di sebelahnya ikut melirik ID card miliknya. "Gila, Zev. Kita sekarang punya ID card Verion Group."
Zevanna tersenyum kecil. "Iya. Dijaga baik-baik, jangan sampai hilang.”
Setelah semua karyawan mendapatkan ID card, Elsa melanjutkan penjelasannya mengenai pembagian divisi.
"Selanjutnya saya akan membacakan pembagian divisi kalian."
Ruangan yang tadinya cukup santai kembali hening. Beberapa karyawan mulai memperhatikan Elsa dengan serius.
"Tisha Zora Emilia."
Tisha langsung menegakkan tubuhnya. "Ya, Mba?"
"Kamu ditempatkan di bagian Administrasi Umum."
Tisha mengangguk lega. "Baik, Mba."
Elsa kemudian melihat daftar berikutnya.
"Zevanna Lyana Oliver."
Zevanna ikut menegakkan tubuhnya. "Saya, Mba."
"Kamu ditempatkan sebagai Staf Junior di bagian Administrasi dan Dokumentasi."
Zevanna mengangguk. "Baik. Mbak.”
Dalam hati, Zevanna cukup lega. Pekerjaan di bagian administrasi dan dokumentasi berarti ia akan berurusan dengan berbagai arsip dokumen perusahaan.
Mungkin saja suatu saat ia bisa menemukan informasi tentang Kak Zoyya. Namun, Zevanna tidak mau terlalu terburu-buru.
Setelah seluruh pembagian divisi selesai, Elsa menjelaskan bahwa setiap karyawan baru akan diarahkan menuju divisi masing-masing oleh staf HRD.
"Untuk selanjutnya, kalian akan diarahkan ke divisi masing-masing. Tolong ikuti arahan dari staf yang bertugas dan jangan lupa membawa ID card kalian."
Para karyawan baru mulai berdiri dari kursi masing-masing.
Tisha memasukkan buku catatannya ke dalam tas lalu menoleh kepada Zevanna. "Zev, berarti kita pisah nih."
"Iya. Lo di Administrasi Umum, gue di Administrasi dan Dokumentasi."
Tisha mengangguk. "Nanti ketemu pas jam istirahat ya."
"Siap. Lo jangan nyasar aja."
"Yang nyasar paling lo!"
Zevanna terkekeh kecil.
Tak lama kemudian, seorang staf HRD menghampiri Tisha dan memintanya mengikuti menuju divisinya.
Tisha berdiri lalu menatap Zevanna. "Semangat ya, Zev."
"Lo juga."
Tisha kemudian pergi bersama staf HRD tersebut.
Zevanna memperhatikan kepergian sahabatnya sebentar sebelum memasang ID card di lehernya.
Setelah itu, seorang staf HRD lain menghampirinya.
"Zevanna Lyana Oliver?"
"Iya."
"Silahkan ikut saya. Saya antar ke bagian Administrasi dan Dokumentasi."
Zevanna mengangguk lalu mengikuti staf tersebut meninggalkan ruang orientasi.
"Nah, di sini meja kamu. Tugas kamu nanti memeriksa dokumen, menginput data, menyusun laporan, dan mengarsipkan berkas," jelas Elsa yang mendampinginya.
"Baik, Mbak. Terima kasih penjelasannya," jawab Zevanna sopan.
Elsa mengangguk. "Ya sudah, kamu kerjain sekarang ya."
"Siap, Mbak."
Elsa kemudian pergi meninggalkan Zevanna sendirian.
Zevanna duduk di kursinya lalu menyalakan komputer yang ada di depannya. Ia mulai mengerjakan tugas yang diberikan Elsa.
Awalnya Zevanna menganggap pekerjaannya cukup membosankan. Ia hanya memeriksa beberapa dokumen dan mengarsipkan berkas lama yang sudah tidak digunakan.
Namun, saat sedang memeriksa salah satu dokumen lama, pandangannya tiba-tiba berhenti pada sebuah nama.
Zoyya Fiorellia Oliver.
Zevanna langsung mengernyit.
"Ini kok ada nama Kak Zoyya?" gumamnya heran.
Ia mengambil dokumen tersebut dan membacanya lebih teliti.
Ia mengambil dokumen tersebut dan membacanya lebih teliti.
Zevanna membuka arsip itu dengan hati-hati. Matanya mulai membaca satu per satu informasi yang tertulis di dalamnya.
"Kak Zoyya dulu kerja di bagian apa, sih?" gumamnya pelan. "Dia nggak pernah cerita soal kerjaannya ke gue. Cuma bilang kalau dia kerja di Verion Group."
Ia terus membaca isi dokumen tersebut.
Namun, semakin dibaca, rasa penasaran Zevanna justru semakin besar.
"Ck, nggak jelas banget ini dokumen." Decak Zevanna kesal.
***
Di lantai eksekutif, Ravenzo sedang menjalani rutinitas kerja bersama Arvin.
"Rav, karyawan baru udah pada mulai kerja," ucap Arvin memberitahu.
Ravenzo mengangguk. "Bagus. Kalau ada masalah, kasih tahu gue."
"Siap. Oh ya, ini ada beberapa laporan lama perusahaan yang perlu diperiksa kembali," kata Arvin sambil menyerahkan beberapa berkas.
Ravenzo melihat tumpukan berkas tersebut sekilas.
"Yaudah, lo tangani itu. Gue lagi sibuk."
Arvin langsung melirik tumpukan berkas di tangannya. "Semuanya, Rav?"
Ravenzo mengangguk. "Iya."
Arvin tersentak kecil. "T-tapi ini banyak banget. Masa gue yang tangani semuanya sih?! Nanti kalau gue kenapa-napa gimana?"
Ravenzo menoleh sekilas.
"Kenapa-napa apanya? Itu cuma laporan. Lo kan udah biasa menangani itu."
"Ya... emang sih. Tapi..."
Ravenzo mengangkat alis. "Tapi apa? Nggak bisa?"
Arvin langsung menggeleng cepat. "E-enggak kok, gue bisa. Oke, gue tangani laporan ini."
Arvin kemudian keluar dari ruangan sambil membawa tumpukan berkas tersebut dan menutup pintu.
Ravenzo menghela napas lalu kembali bersandar di kursinya.
"Berarti dia udah mulai kerja ya?"
***
Saat mengerjakan tugasnya, Zevanna menemukan sebuah dokumen lama yang mencantumkan nama Zoyya sebagai sekretaris yang pernah menangani sebuah proyek.
Deg!
Zevanna langsung terdiam.
Ia memastikan bahwa nama tersebut memang nama kakaknya. Namun, dokumen itu hanya berisi informasi pekerjaan biasa.
Tidak ada rahasia besar.
"Sekretaris? Jadi kak Zoyya kerja di sini sebagai sekretaris? Kok gue nggak tau ya? Kak Zoyya nggak pernah cerita ke gue." Kata Zevanna.
Zevanna menoleh ke sebelah.
"Maaf, Mbak. Saya mau tanya sesuatu boleh?" Tanya Zevanna.
Gista menoleh kearahnya dan mengangkat alisnya. "Mau tanya apa?"
"Mbak, kenal nggak yang namanya Zoyya Fiorellia?"
Gista sedikit tersentak mendengar ucapan Zevanna. "K-kenapa nanya itu?"
"Saya cuma mau tanya aja, dia kerja disini sebagai sekretaris ya, Mbak?" Kata Zevanna.
Gista mengangguk. "Iya, setahu saya. Mbak Zoyya mengundurkan diri."
Zevanna langsung terdiam sejenak.
Ia tau cerita keluarganya berbeda.
Zoyya tidak pernah mengatakan ingin resign sebelum meninggal.
"Oh gitu ya, Mbak. Saya kira dia masih kerja disini." Kata Zevanna.
Gista tersenyum tipis. "Dia udah lama nggak kerja di sini. Saya juga nggak tahu alasannya kenapa tiba-tiba keluar."
Zevanna hanya mengangguk seolah menerima jawaban itu, lalu ia kembali menatap komputernya.
"Mengundurkan diri?" Batin Zevanna.
Setelah berbicara dengan Gista, Zevanna kembali mengerjakan tugasnya. Namun ucapan Gista tentang Zoyya yang mengundurkan diri masih terus terngiang di pikirannya.
Saat kembali mengarsipkan dokumen lama, Zevanna menemukan berkas proyek yang pernah ditangani Zoyya.
Ia melihat tanggal pada dokumen tersebut.
Zevanna mengernyit keningnya.
Tanggal itu ternyata masih cukup dekat dengan waktu Zoyya meninggal.
"Kalau Kak Zoyya udah resign, kenapa masih ada dokumen yang mencantumkan nama dia di tanggal ini?"
Rasa penasarannya muncul lagi.
Zevanna membuka beberapa halaman berikutnya untuk mencari informasi tambahan. Namun isi dokumen tersebut hanya berkaitan dengan laporan proyek.
Tidak ada penjelasan tentang pengunduran diri Zoyya.
Zevanna menghela napas.
"Aneh..."
Ia hendak mengembalikan dokumen tersebut ke tempatnya ketika matanya menangkap sebuah tulisan kecil di bagian bawah halaman.
Nama penanggung jawab: Zoyya Fiorellia.
Zevanna terdiam.
Nama itu kembali membuat pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Saat Zevanna masih memperhatikan dokumen tersebut, seorang pegawai senior yang duduk tidak jauh darinya tiba-tiba lewat.
Hesa sempat melirik dokumen di tangan Zevanna.
"Kamu nemu dokumen lama?" Tanya Hesa.
Zevanna mengangguk.
"Iya, Mbak. Ini dulu proyek yang ditangani Mbak Zoyya, ya?"
Hesa melihat sekilas lalu mengangguk.
"Iya. Setahu saya begitu."
Zevanna mencoba bertanya santai.
"Mbak tahu nggak kenapa dia sampai keluar dari perusahaan?"
Hesa terdiam sebentar.
"Kurang tahu. Saya juga nggak terlalu dekat sama dia."
Zevanna mengangguk.
"Oh, kirain Mbak tahu."
Hesa kemudian pergi menuju tempatnya.
Zevanna kembali melihat dokumen di tangannya.
Ia sebenarnya belum mendapatkan jawaban apa pun.
Tapi justru semakin banyak hal yang terasa aneh.
Zoyya katanya mengundurkan diri.
Namun tidak ada satu pun dokumen yang ia temukan yang menjelaskan kapan dan kenapa Zoyya keluar.
Zevanna menutup map tersebut perlahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Zoyya sih?"
Bersambung...