Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: DUA PULUH LIMA PERWAKILAN
Dua hari menyembuhkan diri berlalu dengan cepat.
Xuan Chen melangkah keluar dari Pondok 407 dengan kondisi fisik yang jauh lebih baik. Seluruh luka akibat benturan keras dan sisa racun telah pulih sepenuhnya. Tepat hari ini, ia dan dua puluh empat murid terpilih lainnya akan bertolak menuju tempat berdirinya Alam Rahasia Kuno.
TENG! TENG! TENG!
Lonceng perunggu kuno bergetar tiga kali dari puncak tebing utama sekte. Suaranya berdengung berat menembus kabut pagi. Xuan Chen tidak membuang waktu satu detik pun dan langsung melangkah menuju Pelataran Utama Sekte Luar.
Atmosfer pelataran pagi ini terasa sangat berbeda dibanding hari-hari biasa. Tidak ada suasana beringas yang berlebihan atau niat membunuh yang berhamburan liar di udara. Meskipun Sekte Jurang Jiwa adalah tempat bagi para penganut jalan demonic, dua puluh lima murid yang berdiri di sana paham betul satu hal: mereka adalah perwakilan resmi sekte yang akan dikirim ke Alam Rahasia Kuno.
Fokus utama hari ini bukanlah pertumpahan darah internal yang tidak berguna, melainkan perburuan warisan, perebutan kesempatan besar, dan menegakkan gengsi sekte di hadapan tiga sekte aliran suci.
Xuan Chen menyapu pandangannya ke arah barisan murid yang telah berkumpul.
Dua puluh lima perwakilan itu didominasi oleh para praktisi Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima dan beberapa murid Lapisan Empat. Di antara mereka, beberapa sosok senior bertudung yang menutupi wajahnya berdiri tenang bersama murid-murid elit luar lainnya.
Hanya Xuan Chen satu-satunya kultivator di tempat itu yang berdiri di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga. Kehadirannya menarik beberapa kerutan dahi dan tatapan heran dari murid-murid senior di sekitarnya, namun tidak ada yang bertindak konyol dengan mencari masalah.
Xuan Chen tetap tenang, melangkah masuk ke dalam barisan tanpa mempedulikan pandangan orang lain.
"Junior Xuan."
Sebuah suara membuyarkan keheningan. Lu Feng melangkah menghampiri Xuan Chen dari sisi kanan barisan. Rambut merahnya sedikit melambai ditiup angin pagi, dan kondisi fisiknya sudah kembali dalam kondisi bugar sepenuhnya.
"Senior Lu," sahut Xuan Chen pendek.
Lu Feng menepuk bahu Xuan Chen secara santai, mengamati rekannya dari jarak dekat. "Kau sudah jauh lebih baik, Junior," ucapnya.
"Begitulah," jawab Xuan Chen datar.
Matanya memindai kembali barisan murid hingga pandangannya terhenti pada satu figur di sudut depan pelataran. Yan Ge berdiri tegap di sana. Tampaknya pria itu adalah salah satu murid yang berhasil mengamankan Token Darah di detik-detik terakhir sebelum ujian Hutan Bayangan ditutup.
Menyadari keberadaan Xuan Chen, Yan Ge memutar kepalanya. Mata tunggalnya mengunci Xuan Chen dengan kilatan permusuhan yang amat dingin. Sebagai praktisi Lapisan Lima Puncak, kekalahan taktiknya dan fakta bahwa ia dipermainkan oleh Xuan Chen yang berada di Lapisan Tiga adalah tamparan besar bagi harga dirinya.
Xuan Chen membalas tatapan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Xiong Wei tidak terlihat di mana pun di pelataran ini. Tanpa Token Darah di tangannya, pria raksasa itu dipastikan telah tereliminasi dan tak memiliki hak sedikit pun untuk berdiri di antara dua puluh lima perwakilan.
Sret!
Gumpalan angin kencang berembus deras dari arah atas langit pelataran, menyibakkan awan hitam di sekeliling tebing. Sebuah pedang terbang raksasa meluncur turun membelah kabut, menyingkap sosok Utusan Sekte berzirah besi hitam—yang tidak lain adalah Tetua Lang dari Aula Disiplin.
Tetua Lang melompat turun dari atas bilah pedang dan mendarat di atas podium batu dengan tumpuan yang sangat kokoh. Aura Ranah Lautan Qi yang menguar tipis dari tubuhnya membuat seluruh murid seketika menghentikan pembicaraan dan berdiri tegap dalam kesunyian.
Tetua Lang menyapu sepasang matanya yang tajam ke arah dua puluh lima murid luar di hadapannya.
"Dua puluh lima murid terpilih," suara Tetua Lang bergema rendah namun berbobot, menembus pendengaran setiap orang di pelataran.
"Kalian berdiri di tempat ini karena kemampuan dan keberhasilan kalian menembus Hutan Bayangan. Tidak peduli taktik apa yang kalian gunakan, kalian adalah orang-orang yang berhasil mengamankan Token Darah."
Tetua Lang memberi jeda sejenak, menatap lurus ke dalam barisan.
"Alam Rahasia Kuno bukan sekadar tempat ujian biasa. Di sana tersembunyi warisan kuno, teknik langka, artefak, tanaman spiritual berharga, dan kesempatan besar yang sanggup mengubah takdir kultivasi kalian secara mutlak. Satu warisan yang berhasil kalian bawa keluar bukan hanya mengubah takdir kalian sendiri, tetapi juga menjadi penentu keunggulan dan gengsi Sekte Jurang Jiwa di hadapan tiga sekte lainnya."
Tetua Lang melipat kedua tangannya di balik punggung, mempertegas nada bicaranya.
"Saat kalian melangkahkan kaki menembus retakan dimensi nanti, lupakan sejenak permusuhan pribadi di antara kalian. Di dalam sana, kalian membawa nama Sekte Jurang Jiwa. Tiga sekte aliran suci masing-masing akan mengirimkan dua puluh lima murid terbaik mereka. Di mata mereka, penganut jalan demonic adalah musuh yang harus dimusnahkan."
Tetua Lang menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Tentu saja, hukum dasar dunia ini tidak pernah berubah. Jika ada yang sengaja menghalangi jalan kalian atau mencoba merebut kesempatan kalian—bahkan jika itu murid dari sekte kita sendiri—habisi tanpa ragu. Namun utamakan sasaran kalian: dapatkan warisan itu dan bertahan hidup sampai pintu keluar terbuka!"
"Ingat satu hal, tujuan utama kalian adalah merebut apa pun kesempatan yang ada!"
Kata-kata Tetua Lang menyuntikkan binar keserakahan dan ambisi yang panas ke dalam dada para murid. Di dunia kultivasi, kesempatan memasuki Alam Rahasia adalah pijakan terbesar untuk melompati batas fana menuju puncak. Siapa pun yang berhasil selamat dan membawa keluar harta kuno selalu tercatat menjadi sosok yang luar biasa di benua ini.
"Ikuti aku!" seru Tetua Lang seraya memutar tubuhnya dan melompat kembali ke atas pedang raksasa.
Wuuush!
Pedang terbang raksasa itu membelah udara, memimpin jalan menuju arah perbatasan utara wilayah empat sekte.
Dua puluh lima perwakilan murid luar—termasuk Xuan Chen dan Lu Feng—mengerahkan kekuatan fisik murni mereka, melompat lincah menyusuri dahan dan tebing batu, melaju cepat mengikuti jalur terbang Tetua Lang menuju retakan Alam Rahasia Kuno yang telah menanti di batas dimensi.
Di sepanjang perjalanan menembus pegunungan, Xuan Chen terus mengamati deretan para senior di barisan depan dengan mata yang tenang namun penuh kalkulasi.
Lu Feng yang melompat di sebelahnya melirik sekilas, seolah-olah paham dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Xuan Chen saat ini.
"Meski Tetua sudah mengatakan untuk melupakan masalah pribadi sejenak..." berucap Lu Feng dengan nada berbisik seraya melompati celah tebing. "Aku yakin Yan Ge tetap akan mengincar kita begitu ada kesempatan di dalam sana."
Xuan Chen hanya menyunggingkan seringai tipis yang dingin di sudut bibirnya.
"Kita lihat saja nanti," sahut Xuan Chen datar tanpa sedikit pun keraguan di matanya.
tapi so cerita nya menarik.