Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 8 Ayah kandung Arunika
Pagi berikutnya, cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar, Arunika membuka mata dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada biasanya.
Namun begitu melihat langit-langit kamar yang bukan miliknya, ia langsung teringat sesuatu.
Rumah Adrian Dan percakapan mereka semalam, Serta satu kalimat yang membuatnya tersenyum sebelum tidur.
"Karena sekarang aku punya pacar."
Arunika menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
"Astaga..."
Ia baru saja hendak bangun ketika terdengar ketukan dari luar.
Tok. Tok.
"Arunika?"
Suara Adrian, Arunika buru-buru bangkit.
"Tunggu!"
Ia merapikan rambut dan membuka pintu. Adrian berdiri di sana dengan pakaian rapi. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, tetapi begitu melihat Arunika, tatapannya langsung melunak.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
"tidur nyenyak?"
Arunika mengangguk.
"Nyenyak."
"Bagus."
Adrian menyerahkan sebuah cangkir.
"Ini."
Arunika menerimanya.
"Kopi?"
"Cokelat panas."
Arunika menatapnya heran.
"Kamu tahu aku suka?"
"Aku tahu."
"Sejak kapan?"
Adrian tersenyum tipis.
"Sejak aku mulai memperhatikanmu."
Arunika terdiam Pipinya perlahan memerah.
"Kamu kalau pagi-pagi jangan bikin orang kaget."
"Aku cuma menjawab."
Arunika memutar bola mata.
"Kamu memang menyebalkan."
"Ayo sarapan."
Mereka berjalan menuju ruang makan. Namun baru beberapa langkah, ponsel Adrian bergetar. Adrian berhenti Ia melihat layar ponselnya Sebuah pesan masuk dari Raka.
Raka: Tuan, informasi yang Anda minta sudah ditemukan.
Ekspresi Adrian berubah Senyum kecil yang tadi masih terlihat menghilang, Ia membuka pesan berikutnya.
Raka: Identitas orang tua kandung Nona Arunika sudah terkonfirmasi.
Adrian membaca baris berikutnya.
Raka: Ayah kandungnya adalah pria bernama—
Langkah Adrian terhenti Matanya menyipit Nama itu, Nama yang sudah beberapa kali muncul dalam laporan tentang kejadian di penginapan. Pria yang beberapa waktu lalu selalu memperhatikan Arunika dari kejauhan.
Pria yang tatapannya selalu berubah setiap kali melihat perempuan itu. Pria yang selama ini Adrian kira hanya seseorang yang memiliki urusan tertentu dengan Arunika. Ternyata bukan Dia keluarga Arunika, Lebih tepatnya... Ayah kandung Arunika.
Adrian menatap layar beberapa detik tanpa bergerak, Arunika yang sudah beberapa langkah di depannya akhirnya menoleh.
"Adrian?"
Pria itu mengangkat wajah.
"Ada apa?"
Adrian memasukkan ponselnya ke saku.
"Tidak apa-apa."
"Kamu kelihatan serius."
"Aku hanya harus menyelesaikan satu urusan."
"Urusan apa?"
Adrian terdiam sebentar.
"Arunika."
"Hm?"
"Setelah sarapan, aku perlu pergi sebentar."
Arunika mengangguk.
"Baik."
Adrian menatapnya cukup lama Ada sesuatu yang ingin ia katakan Namun ia menahannya, Belum saatnya. Satu jam kemudian Adrian berada di ruang kerjanya. Raka berdiri di hadapannya sambil menyerahkan sebuah map.
"Ini semua informasinya."
Adrian membuka map tersebut.
Nama.
Riwayat keluarga.
Foto lama.
Catatan hubungan.
Semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama, Pria itu memang ayah kandung Arunika. Adrian mengangkat sebuah foto. Foto pria yang selama ini ia lihat di penginapan tempat Arunika kerja. Tatapan Adrian menjadi dingin.
"Kenapa dia tidak pernah mendekati Arunika?"
Raka menggeleng.
"Belum diketahui pasti."
"Sudah berapa lama dia mengawasinya?"
"semenjak nona Arunika di usir dari keluarga Pratama."
Adrian meletakkan foto itu perlahan.
"Dan Arunika tidak tahu?"
"Sepertinya tidak."
Adrian bersandar di kursinya Ia teringat wajah Arunika semalam, Perempuan itu terlihat begitu bahagia hanya karena merasa memiliki seseorang yang bisa dipercaya.
Namun sekarang Adrian menemukan sebuah fakta tentang hidupnya. Bukan hanya tentang keluarga, Tetapi tentang masa lalu Arunika.
"Hubungi dia."
Raka sedikit terkejut.
"Sekarang?"
"Sekarang."
"Di mana?"
Adrian menatap foto pria itu.
"Tempat yang dia pilih."
Nada suaranya semakin dingin.
"Dan jangan beri tahu Arunika dulu."
Raka mengangguk.
"Baik."
Beberapa menit kemudian, Adrian mengambil ponselnya, Nomor pria itu sudah tersimpan di tangannya. Ia menekan tombol panggil Nada sambung terdengar beberapa kali Akhirnya panggilan tersambung.
"Siapa?"
Adrian menjawab tanpa basa-basi.
"Adrian."
Hening Pria di seberang telepon terdengar berubah.
"Adrian?"
"Kita perlu bertemu."
"Untuk apa?"
Adrian menatap keluar jendela.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
"Kalau tentang Arunika—"
"Saya tahu."
Hening kembali Adrian melanjutkan dengan nada datar.
"Saya sudah tahu siapa Anda."
Pria itu tidak menjawab.
"Saya juga sudah tahu hubungan Anda dengan Arunika."
Suara pria itu terdengar lebih berat.
"Kamu tidak mengerti semuanya."
"Kalau begitu jelaskan langsung kepada saya."
"Adrian..."
"Besok saya tidak mau menunggu."
Adrian berhenti sebentar.
"Temui saya siang ini."
"Di mana?"
Adrian menyebutkan sebuah tempat.
"Datang sendiri."
"Dan kalau saya tidak datang?"
Tatapan Adrian mengeras.
"Saya akan datang mencari Anda."
Panggilan terputus Raka yang sejak tadi berdiri di dekat meja hanya menatap Adrian.
"Anda benar-benar akan menemuinya?"
Adrian meletakkan ponsel.
"Ya."
"Bagaimana dengan Nona Arunika?"
Adrian diam Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya memperlihatkan keraguan.
"Saya belum tahu."
Ia menatap foto Arunika yang terselip di antara dokumen.
"Saya tidak ingin dia terluka."
Sementara itu, di ruang makan, Arunika sedang menunggu. Ia melihat jam, Kemudian melihat ke arah pintu.
"Kenapa Adrian lama sekali?"
Ia baru saja hendak mengambil ponselnya ketika Adrian muncul, Pria itu berjalan mendekat dengan wajah tenang Arunika langsung tersenyum.
"Kamu dari mana?"
"Ada urusan."
"Sudah selesai?"
"Belum."
Arunika mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Adrian duduk di hadapannya.
"Arunika."
"Hm?"
"Kalau suatu hari kamu mengetahui soal orang tua kandung mu..."
Arunika menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Adrian menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Kamu aneh hari ini."
Adrian tersenyum tipis.
"Mungkin."
Arunika memiringkan kepala.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Tatapan mereka bertemu Untuk beberapa detik, Adrian tidak menjawab Kemudian ia berkata pelan,
"Untuk sementara."
Arunika terdiam.
"Adrian..."
"Aku janji."
Adrian menggenggam tangannya di atas meja.
"Aku tidak akan menyembunyikannya selamanya."
Arunika menatap tangan mereka, Lalu menatap wajah Adrian. Entah kenapa hatinya terasa tidak tenang. Karena ia belum tahu bahwa beberapa jam lagi...sebuah nama dari masa lalunya akan kembali muncul.
Dan nama itu adalah nama ayah kandungnya sendiri.