Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Bayangan dari Utara

Kabar tentang runtuhnya kekaisaran keluarga Thorne dalam waktu kurang dari dua belas jam telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh penjuru kota metropolis. Bagi masyarakat awam dan media massa, itu hanyalah kebangkrutan tragis akibat skandal hutang dan kesalahan investasi. Namun, bagi para elit kota, itu adalah sebuah peringatan berdarah: ada predator tak kasat mata yang sangat ganas baru saja memasuki ekosistem mereka.

Untuk menenangkan gejolak pasar dan merayakan "kestabilan ekonomi baru", sebuah acara perjamuan amal super eksklusif digelar pada malam harinya. Lokasi yang dipilih adalah aula ballroom di lantai teratas Pusat Perdagangan Internasional di pusat kota. Gedung pencakar langit ini pada dasarnya memang sengaja dibeli secara rahasia oleh Silas Mercer untuk mendirikan fondasi operasi mereka.

Tuan rumah dari perjamuan megah ini tidak lain adalah Drake Tucker. Sebagai penyelenggara, Drake dikenal publik sebagai orang terkaya di kota tersebut. Namun, yang tidak diketahui oleh para tamu undangan malam itu adalah sebuah fakta kuat: Drake dulunya pernah menjadi salah satu pengikut setia organisasi Arthur, dan begitu sang komandan tiba di sana, maka dia akan siap melayani segala kebutuhan yang diminta.

Di sudut balkon VIP yang remang-remang, tersembunyi dari pandangan ratusan tamu yang berdansa di bawah, Arthur Summers berdiri menatap gemerlap lampu kota melalui dinding kaca. Ia mengenakan tuksedo hitam pekat yang sederhana, memancarkan keanggunan seorang akademisi yang tenang.

Malam ini, Arthur datang bukan sebagai penguasa dunia, melainkan murni memainkan perannya sebagai dosen sejarah yang diundang sebagai pendamping Maya Lin. Walaupun saat ini ia sejatinya telah memiliki otoritas tertinggi, bersama dengan kekayaan dan status sosial yang sangat luar biasa, Arthur memilih untuk menyembunyikan semuanya. Organisasi yang ia pimpin memiliki skala kekuatan yang sangat masif.

Namun, Arthur tidak menginginkan peperangan. Ia kembali ke kota ini karena ia berencana untuk hidup bahagia selamanya. Pengkhianatan Elena mungkin telah menghancurkan hatinya, namun tekadnya untuk memiliki kehidupan yang tenang jauh dari medan perang tetaplah kuat. Mengungkap identitasnya kepada dunia sama saja dengan mengundang perang dunia ketiga ke halaman rumahnya.

Terdengar langkah kaki yang ringan mendekati balkon. Maya Lin, yang malam ini mengenakan gaun malam berwarna navy elegan, melangkah masuk sambil memegang dua gelas sampanye. Sebagai keponakan Drake Tucker, kehadirannya di area VIP sama sekali tidak mengundang kecurigaan.

"Malam yang indah untuk merayakan kemenangan diam-diam, Profesor Summers," sapa Maya dengan senyum tipis, menyodorkan segelas sampanye. Ia masih memanggil Arthur dengan sebutan 'Profesor' saat berada di tempat umum.

Arthur menerimanya tanpa meminumnya. "Ada pergerakan yang mencurigakan, Maya?"

Gadis itu segera mengubah nada bicaranya menjadi sangat profesional. Matanya menyapu sekeliling sebelum ia merendahkan suaranya.

"Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh keluarga Thorne telah menarik perhatian pihak luar dengan sangat cepat," lapor Maya sambil memberikan sebuah ponsel yang menampilkan layar peretasan. "Saya memantau daftar tamu VVIP paman Drake. Ada satu nama yang tiba-tiba masuk ke daftar malam ini tanpa undangan resmi:"

Identitas: Terdaftar sebagai Viktor Dragunov, seorang investor tambang multinasional dari negara tetangga di perbatasan utara.

Aliran Dana: Perusahaannya baru saja menyuntikkan dana ratusan juta dolar ke berbagai politisi lokal hanya dalam waktu tiga jam setelah Yayasan Thorne hancur siang tadi.

Aktivitas Mencurigakan: Viktor tidak datang sendirian. Kamera pelabuhan mendeteksi puluhan kargo tak terdaftar yang masuk atas nama perusahaannya sore ini, dikawal oleh pria-pria berpostur militer.

Mata Arthur menyipit saat membaca nama 'Viktor Dragunov'. Suhu di balkon itu mendadak turun drastis. Ia mengenal nama samaran itu. Viktor Dragunov adalah Jenderal Volkov pemimpin unit intelijen elit dari Kekaisaran Utara yang telah menjadi musuh bebuyutannya selama tiga tahun di perbatasan.

"Dia bukan investor tambang," gumam Arthur pelan, menahan amarahnya.

Belum sempat Maya merespons, pintu ganda menuju balkon VIP itu berderit terbuka.

"Sebuah pesta yang sangat luar biasa untuk ukuran kota kecil yang damai."

Suara berat dengan aksen Eropa Timur yang kental menggema di ruangan itu. Dari ambang pintu, melangkah masuk seorang pria jangkung bertubuh besar dengan rambut keperakan yang disisir rapi. Ia mengenakan setelan jas putih yang sangat mencolok. Pria itu adalah Jenderal Volkov.

Di belakang Volkov, dua orang pengawal bayangan berdiri mematung, secara tak kasat mata mengunci akses keluar dari balkon tersebut.

Maya terkesiap, instingnya seketika memperingatkannya akan bahaya ekstrem.

Volkov melangkah maju, tatapannya langsung tertuju pada Maya. Jenderal musuh itu tidak mengenali Arthur yang berdiri memunggunginya di dekat jendela. Bagi Volkov, target interogasinya malam ini adalah keponakan dari Drake Tucker.

"Nona Maya Tucker Lin, saya asumsikan?" sapa Volkov dengan senyum predator, berdiri hanya satu meter dari Maya. "Saya Viktor Dragunov. Saya sangat terkesan dengan manuver paman Anda siang tadi. Menghancurkan sebuah yayasan besar dalam hitungan jam... itu membutuhkan bantuan dari pihak yang sangat profesional. Pihak bayangan yang kebetulan sedang saya cari."

Maya menelan ludah, mencoba mempertahankan ketenangannya. "S-saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Tuan Dragunov. Paman saya murni melakukan tindakan bisnis biasa."

"Bisnis?" Volkov terkekeh pelan, melepaskan sedikit aura penindasan yang membuat napas Maya tercekat. "Tidak ada bisnis biasa yang melibatkan pembantaian dua belas pembunuh bayaran dalam satu malam. Saya tahu ada organisasi militer tingkat tinggi yang beroperasi di kota ini. Saya datang untuk mencari komandan mereka."

Melihat gadis itu terpojok, Arthur akhirnya berbalik perlahan. Ia meletakkan gelas sampanyenya di atas meja dengan bunyi 'klik' yang cukup nyaring untuk memecah aura intimidasi Volkov.

"Maaf mengganggu diskusi bisnis Anda, Tuan Dragunov," ucap Arthur dengan nada datar dan sopan yang dibuat-buat, persis seperti seorang akademisi. "Namun Nona Lin sedang mendiskusikan materi perkuliahan dengan saya. Jika Anda ingin membahas bisnis pamannya, mungkin Anda salah ruangan."

Volkov menoleh. Ia menatap Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Dan siapa kau?"

"Arthur Summers. Dosen Sejarah di Universitas St. Jude," jawab Arthur tenang, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Volkov melirik tangan Arthur, lalu tertawa meremehkan tanpa membalas jabatan tangan tersebut. "Seorang guru sejarah? Nona Lin, saya sarankan Anda mencari teman mengobrol yang lebih berkelas di pesta seperti ini, bukan seorang warga sipil yang bahkan tidak mengerti bagaimana dunia ini berputar."

Di dalam hati Arthur, amarah mulai bergejolak. Menghadapi musuh bebuyutannya dalam jarak sedekat ini membuat insting membunuhnya meronta. Wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam. Jika ia menjentikkan jarinya sekarang, Silas dan penembak runduk Phantom Vanguard yang berjaga di luar gedung bisa menghancurkan kepala Volkov dalam sekejap.

Namun, Arthur menarik napas dalam-dalam, menekan aura binatang buasnya kembali ke dasar jiwanya. Ia telah berjanji untuk menyembunyikan identitasnya. Ia murni ingin hidup damai. Jika Volkov tahu bahwa komandan Phantom Vanguard ada di hadapannya sekarang, kota metropolis ini akan hancur menjadi medan perang antara dua kekuatan militer raksasa esok pagi.

Dengan wajah yang kembali tenang bagai danau tak beriak, Arthur menarik tangannya dan membalas tatapan Volkov.

"Mungkin saya memang hanya seorang guru sejarah biasa, Tuan Dragunov," ucap Arthur dengan intonasi bariton yang tenang, namun menyimpan peringatan mematikan di setiap penekanannya. "Tapi justru karena sejarah, saya tahu satu fakta penting. Mereka yang datang membawa pedang ke tanah yang tenang dengan niat menjajah... biasanya akan berakhir membusuk, terkubur di bawah tanah kota yang mereka remehkan."

Mata Volkov sedikit melebar. Ia merasakan hawa dingin yang aneh merayapi tengkuknya saat menatap mata sang 'dosen'. Tidak ada warga sipil biasa yang bisa mempertahankan kontak mata dengan seorang Jenderal dari Utara tanpa gemetar.

"Menarik," Volkov menyeringai licik, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Keberanian yang konyol. Nikmati kehidupan membosankanmu selagi bisa, Tuan Summers. Karena sebentar lagi, kota ini akan terbakar, dan buku sejarahmu tidak akan bisa menyelamatkanmu."

Volkov memperbaiki kerah jas putihnya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari balkon VIP diikuti kedua pengawalnya, meninggalkan kesan arogansi yang kental di udara.

Begitu pintu tertutup, lutut Maya nyaris goyah jika saja ia tidak berpegangan pada pinggiran meja.

"Bos..." bisik Maya dengan suara bergetar menahan panik. "Siapa pria itu sebenarnya? Auranya... dia tidak seperti Julian Thorne. Dia seperti monster sungguhan."

Arthur memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, menatap bayangan Volkov yang menghilang di keramaian pesta dari balik kaca.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!