Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Hangatnya Mi Instan di Atas Piring Seng dan Senyum yang Mengunci Hati

​Matahari pagi di distrik selatan akhirnya menampakkan diri, membiarkan bias cahayanya menembus kaca jendela berdebu rumah kontrakan Senja Kirana. Setelah dua hari bertarung melawan badai, cuaca dingin, dan demam tinggi yang nyaris merenggut kesadarannya, tubuh mungil itu kini mulai kembali bertenaga.

​Senja mengerjap perlahan. Kelopak matanya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Ia menarik napas dalam-dalam; tidak ada lagi rasa sesak di dadanya, dan sensasi terbakar di kepalanya telah sepenuhnya lenyap.

​Hal pertama yang disadari Senja saat ia membuka mata adalah posisi tidurnya. Semalam, sebelum ia jatuh tertidur usai disuapi bubur lezat oleh Arga, ia ingat persis posisinya berada di tepi kasur. Namun sekarang, ia terbangun dalam keadaan meringkuk nyaman di dekat dinding, sementara selimut motif bunga menutupi tubuhnya hingga rapat.

​Senja menolehkan kepalanya. Di sisi kasur yang sempit itu, Arga Danendra tampak duduk bersandar di dinding dengan posisi yang terlihat kaku dan tidak nyaman. Kepala pria besar itu terkulai ke samping, matanya terpejam rapat. Napasnya teratur, menandakan ia tertidur dalam posisi duduk semalaman demi mengawasi pemulihan Senja.

​Ada lingkaran hitam tipis di bawah mata elang pria itu. Kemeja putihnya yang sudah dijahit Senja tampak kusut masai, dan lengan kemejanya digulung sampai siku, memamerkan otot lengan yang kokoh.

​Melihat pemandangan itu, hati Senja berdesir hebat. Sebuah rasa haru yang hangat menyergap rongga dadanya. Pria asing yang mengaku amnesia dan tidak punya apa-apa ini rela menghabiskan malam keduanya dengan tidak tidur, hanya untuk memastikan demamnya benar-benar reda.

​"Kak Arga..." bisik Senja sangat pelan, takut membangunkan pria itu.

​Senja bergerak perlahan, berusaha bangkit dari kasur tanpa menimbulkan suara. Namun, gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membangunkan insting waspada Arga yang tajam.

​Dalam sepersekian detik, mata elang itu terbuka. Kilat ketegasan langsung terpancar dari manik matanya, sebelum akhirnya melembut saat ia melihat wajah Senja yang kini sudah tampak segar, tanpa rona merah demam di pipinya.

​"Kau sudah bangun?" suara Arga terdengar serak khas baru bangun tidur, berat dan begitu menenangkan.

​Senja mengangguk pelan, duduk bersila di atas kasur sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Sudah, Kak... Dan, ya ampun, rasanya luar biasa! Demamku sudah turun total. Aku tidak merasa pusing lagi."

​Arga mengulurkan tangan besarnya, menempelkan telapak tangannya ke dahi Senja. Sentuhan itu terasa hangat. Pria itu mengecek beberapa saat, memastikan suhu tubuh gadis di depannya benar-benar telah normal, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali.

​"Baguslah," gumam Arga singkat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. "Kalau kau masih keras kepala menolak sembuh, aku tidak tahu harus mencari rongsokan apa lagi untuk dijual."

​Mendengar sindiran bernada canda itu, Senja merona malu. Ia menunduk, memainkan ujung selimutnya. "Maaf ya, Kak... Gara-gara aku, Kakak jadi repot semalaman. Kakak bahkan tidak tidur di tempat yang layak..."

​"Aku terbiasa tidur di mana saja," potong Arga tanpa ekspresi, berbohong untuk kesekian kalinya. (Tentu saja kebiasaan tidur Arga adalah di atas kasur sutra Mesir berharga ratusan juta di penthouse mewah, bukan di lantai semen beralaskan tikar tipis). "Yang terpenting, suhu tubuhmu sudah normal. Kau butuh makanan yang benar hari ini untuk mengembalikan energimu."

​Senja langsung bangkit berdiri dari kasur. Kakinya sudah terasa kokoh, jauh berbeda dari kemarin saat ia ambruk. "Kalau begitu, aku akan memasak sesuatu! Untung saja kemarin lusa aku sempat menyisihkan sedikit uang receh..."

​Ia merogoh saku celemeknya, lalu melangkah ke sudut dapur kecil. Namun, saat Senja membuka kaleng beras dan memeriksa wadah penyimpanan makanannya, ia tertegun.

​Kosong.

​Beras habis. Stok telur yang dibeli kemarin sudah habis untuk membuat bubur malam tadi. Tidak ada apa-apa lagi di dapur itu selain air di dalam teko dan beberapa bungkus bumbu dapur sisa minggu lalu.

​Senja menggigit bibir bawahnya. Wajahnya berubah muram. Hari ini adalah hari rabu, dan ia baru akan menerima gaji dari Kedai Roti 'Harum Manis' pada hari Sabtu akhir pekan nanti. Ia tidak punya uang sepeser pun di dompetnya. Bagaimana ia bisa memberi makan pria yang telah menjaganya semalaman ini?

​Arga, yang memerhatikan gerak-gerik gadis itu dari tempatnya duduk, langsung menangkap perubahan ekspresi di wajah Senja. Dengan menahan sedikit rasa nyeri di pinggangnya, Arga bangkit berdiri dan melangkah mendekati dapur.

​"Ada apa?" tanya Arga datar.

​Senja berbalik dengan senyum canggung yang dipaksakan, menyembunyikan rasa bersalahnya. "Ehm... itu, Kak... Ternyata berasnya sudah habis. Aku... aku lupa kalau persediaanku menipis bulan ini."

​Arga mengernyitkan dahi. Ia melirik ke arah wadah penyimpanan yang ditunjuk Senja. Pria itu menghela napas pelan. Ia tahu persis bahwa gadis ini tidak punya uang. Namun, alih-alih merasa kesal atau menuntut makanan mewah layaknya seorang CEO sombong, Arga justru merasa dadanya kembali menghangat oleh kepedulian gadis ini yang selalu mendahulukan orang lain di atas dirinya sendiri.

​"Tunggu sebentar," kata Arga tiba-tiba.

​Ia merogoh saku celana training kebesarannya. Senja mengernyit bingung melihat Arga mengeluarkan beberapa lembar uang kertas kusut dari sana. Itu adalah sisa uang kembalian dari pembelian obat kemarin malam yang sengaja Arga simpan di saku.

​Senja membelalakkan matanya saat melihat jumlah uang itu. "Kak! Uang dari mana itu? Bukankah itu uang hasil Kakak menjual rongsokan malam itu? Jangan dihabiskan untukku, itu kan untuk kebutuhan Kakak ke depannya!"

​Arga mengabaikan protes Senja. Ia mengambil selembar uang pecahan lima ribu rupiah, lalu menyodorkannya ke hadapan gadis itu.

​"Kita tidak perlu beras," ucap Arga dengan nada absolut. Ia menunjuk ke arah warung kelontong kecil di ujung gang yang tampak lewat celah jendela. "Di sana, uang lima ribu rupiah bisa membelikan kita sesuatu yang jauh lebih praktis."

​Senja mengerjap, masih bingung. "Praktis? Maksud Kakak...?"

​"Mi instan," jawab Arga singkat, dengan ekspresi paling serius yang pernah ada di wajah seseorang saat menyebut makanan sejuta umat tersebut.

​Seketika, mata bulat Senja membelalak semakin lebar, dan detik berikutnya, tawa renyah yang merdu lolos begitu saja dari bibirnya.

​"Hahaha! Kak Arga mau makan mi instan?" Senja menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya menyipit karena geli. "Astaga, aku tidak menyangka pria sekeren Kak Arga tahu soal mi instan! Kupikir orang seperti Kak Arga hanya makan makanan mahal berlabel asing!"

​Arga menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura tersinggung meski di dalam hatinya ia justru terhipnotis oleh suara tawa gadis itu—suara tawa paling indah yang membersihkan sisa-sisa kegelapan di kepalanya. Sepanjang hidupnya, di lingkaran sosialita elit, ia hanya mendengar tawa yang palsu, penuh intrik, dan manipulatif. Tawa Senja begitu jujur, cerah, dan menular.

​"Memangnya kenapa?" balas Arga dengan nada datar yang dibuat-buat angkuh. "Mi instan adalah penemuan umat manusia yang paling efisien. Cepat dibuat, rasanya kuat, dan mengenyangkan. Kenapa aku tidak boleh memakannya?"

​"Iya sih, benar," Senja tersenyum lebar, sisa-sisa kesedihannya lenyap tak berbekas. Ia mengambil uang lima ribu rupiah dari tangan Arga. "Kalau begitu, biarkan aku yang ke warung sebentar! Kak Arga tunggu di sini, jangan banyak bergerak dulu."

​"Jangan lama-lama," pesan Arga sebelum Senja melangkah pergi.

​Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Senja untuk kembali ke rumah kontrakan. Dengan membawa kantong plastik kecil berisi dua bungkus mi instan kuah rasa ayam bawang—varian paling murah dan merakyat—serta sebungkus telur ayam negeri ukuran kecil, Senja melangkah masuk dengan wajah berbinar-binar.

​"Taraaa! Bahan makanan mewah kita hari ini sudah tiba!" seru Senja riang, meletakkan belanjaannya di atas meja kecil.

​Arga memerhatikan aktivitas gadis itu. Senja bergerak dengan sangat cekatan. Ia menyalakan kompor gas satu tungku, meletakkan panci kecil berisi air sumur di atasnya, lalu menunggu air itu mendidih sambil memotong-motong sedikit daun bawang sisa kemarin.

​"Kak Arga suka mi yang kuahnya banyak atau sedikit?" tanya Senja di tengah kesibukannya.

​"Terserah kau saja," jawab Arga, melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada dinding sambil memerhatikan punggung gadis itu.

​Bagi Arga, situasi ini sangat surealis. Seorang CEO yang memiliki perusahaan multinasional, yang biasanya dikelilingi oleh koki pribadi berbintang Michelin yang menyiapkan hidangan menggunakan bahan-bahan impor termahal di dunia, kini berdiri di dalam gubuk reot, menunggu dengan sabar sebutir mi instan seharga dua ribuan rupiah dimasak di atas kompor gas murahan.

​Jika ada direktur perusahaannya yang melihat pemandangan ini, mereka pasti akan mengira bos mereka telah kehilangan akal sehat.

​Namun, Arga tidak peduli. Justru di tempat inilah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar hidup. Tidak ada dokumen laporan keuangan yang harus ditandatangani. Tidak ada ancaman pembunuhan dari musuh bisnis. Tidak ada tatapan penuh kepalsuan dari para wanita pencari harta. Yang ada hanyalah aroma kaldu buatan pabrik yang mulai menguar, suara air mendidih, dan senyuman tulus dari seorang gadis yatim piatu.

​"Sudah matang!" pengumuman Senja memecah lamunan Arga.

​Senja mematikan kompor. Ia tidak memiliki mangkuk keramik yang bagus, jadi ia menggunakan mangkuk plastik oranye yang sama seperti saat mereka makan bubur kemarin. Dengan hati-hati, Senja membawa mangkuk besar berisi mi instan kuah panas itu ke atas meja kecil di dekat tikar.

​Ia memasukkan satu butir telur rebus ke dalam mangkuk, membelahnya menjadi dua bagian agar pas untuk dibagi berdua, lalu menaburkan sedikit daun bawang di atasnya.

​Arga maju mendekat dan duduk bersila di atas tikar anyaman, berhadapan langsung dengan Senja.

​Mangkuk plastik itu diletakkan tepat di tengah-tengah mereka berdua. Di samping mangkuk, Senja meletakkan dua buah garpu plastik berwarna hijau yang sudah sedikit melengkung di bagian ujungnya.

​Senja menatap mangkuk mi instan itu, lalu menatap Arga dengan binar mata penuh rasa syukur. "Nah, Kak Arga... Ini dia momen penting kita."

​Arga mengernyit bingung. "Momen penting apa?"

​Senja tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Makan mi instan sebungkus berdua!"

​Arga tertegun. Ia menatap mangkuk mi instan tersebut, lalu kembali menatap Senja. "Sebungkus... berdua? Maksudmu, kita berbagi satu mangkuk ini untuk berdua?"

​"Iya!" jawab Senja tanpa beban. "Uang lima ribu rupiah tadi hanya cukup untuk membeli dua bungkus mi dan satu butir telur. Kalau kita masak dua bungkus, besok kita tidak akan punya apa-apa lagi untuk dimakan sebelum aku gajian. Jadi, kita bagi satu bungkus ini saja. Rasanya pasti akan jauh lebih enak kalau dimakan bersama-sama!"

​Kalimat 'rasanya akan jauh lebih enak kalau dimakan bersama-sama' menghantam kesadaran Arga dengan sangat telak.

​Sepanjang hidupnya, Arga terbiasa makan di meja makan raksasa yang panjangnya mencapai empat meter, dikelilingi oleh hidangan melimpah ruah yang bahkan tidak habis disantap oleh sepuluh orang. Namun meja makan itu selalu terasa kosong, dingin, dan hampa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada orang yang duduk di seberangnya untuk berbagi cerita, apalagi berbagi satu piring makanan yang sama dengan senyuman tulus.

​Kini, di atas lantai semen yang dingin, berbagi satu mangkuk mi instan murah seharga dua ribu rupiah dengan seorang gadis pembuat roti, Arga menyadari arti kata 'cukup' yang sebenarnya.

​"Baiklah," ucap Arga pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat yang tidak dibuat-buat. "Mari kita buktikan apakah mi instan ini benar-benar selezat yang kau katakan."

​Senja mengangguk antusias. Ia mengambil garpunya, meniup kuah panas yang mengepul, lalu melilitkan beberapa helai mi ke ujung garpu. Sebelum menyuapnya, ia memberikan bagian telur belah pertama kepada Arga.

​"Nih, Kak Arga harus makan telurnya dulu karena Kakak yang paling banyak mengeluarkan tenaga kemarin," kata Senja menyodorkan separuh telur itu ke hadapan Arga.

​Arga menatap separuh telur rebus yang sederhana itu. Di restoran bintang lima, telur seperti ini tidak akan pernah diliriknya. Namun ia membuka mulutnya, membiarkan Senja menyuapinya. Rasanya... sangat biasa. Kuning telurnya sedikit terlalu matang, putih telurnya kenyal sederhana.

​Namun saat Arga mengunyahnya, ada rasa manis yang tertinggal di lidahnya—bukan rasa dari telurnya, melainkan rasa dari perhatian kecil yang diberikan gadis itu kepadanya.

​"Bagaimana?" tanya Senja penuh harap, matanya berbinar menanti penilaian.

​"Enak," jawab Arga jujur. "Sangat enak."

​Senja tertawa senang, lalu giliran dirinya yang menyuap mi ke dalam mulutnya sendiri. Ia mengunyah dengan penuh nikmat, seolah-olah ia sedang menyantap hidangan termahal di dunia.

​Momen makan itu berjalan dengan sangat natural. Mereka duduk berhadap-hadapan, bergantian mengambil mi dari mangkuk yang sama menggunakan garpu masing-masing. Terkadang garpu mereka hampir bersentuhan di dalam mangkuk, membuat Senja sedikit tersipu malu dan menarik tangannya cepat, sementara Arga hanya menanggapinya dengan tatapan lembut penuh geli.

​Suasana canggung yang sempat menyelimuti mereka di hari-hari pertama kini telah sepenuhnya melebur, digantikan oleh keintiman domestik yang hangat dan menenangkan.

​Di tengah suapan mereka, Senja tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mendongak, menatap mata elang Arga di seberang meja.

​"Ehm... Kak Arga," panggil Senja pelan.

​"Hm?" Arga bergumam, masih fokus melilit mi di garpunya.

​"Karena Kakak bilang Kakak amnesia dan tidak ingat apa-apa tentang masa lalu Kakak... apakah Kakak tidak merasa takut?" tanya Senja, suaranya berubah menjadi lembut, menyembunyikan rasa penasaran sekaligus empati yang dalam. "Maksudku... tidak tahu siapa nama keluarga Kakak, tidak tahu di mana rumah Kakak asal, tidak tahu siapa orang tua Kakak... Tidakkah itu membuat Kakak merasa sangat sendirian di dunia ini?"

​Gerakan tangan Arga yang memegang garpu terhenti seketika.

​Pertanyaan itu menusuk tepat ke titik paling rawan di dalam diri Arga. Sebelum bertemu Senja, jawaban atas pertanyaan itu adalah: Ya, aku merasa sangat sendirian, dan aku membenci setiap detik dari kehancuranku. Arga hidup dalam bayang-bayang dendam, mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk membangun kekuasaan agar tidak ada lagi orang yang bisa menginjak-injak harga dirinya. Ia adalah pria yang paling kesepian di puncak kejayaannya.

​Namun, saat Arga mengangkat wajahnya dan menatap bola mata cokelat jernih milik Senja di hadapannya saat ini, jawaban di dalam kepalanya berubah total.

​Arga meletakkan garpunya secara perlahan ke atas piring kecil di samping mangkuk. Ia menatap Senja lekat-lekat, membuat gadis itu sedikit salah tingkah karena intensitas tatapan mata elang tersebut.

​"Dulu... mungkin iya," suara Arga terdengar sangat rendah, begitu jujur hingga membuat bulu kuduk Senja merinding. "Aku merasa dunia ini adalah tempat paling dingin dan kejam yang diciptakan hanya untuk menghancurkan mereka yang lemah. Aku pikir sendirian adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup agar tidak disakiti lagi."

​Senja tertegun. Ia bisa merasakan kepedihan yang luar biasa tersembunyi di balik kalimat sederhana itu. Pria di hadapannya ini menyimpan luka masa lalu yang jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

​Arga mengulurkan tangannya di atas meja kecil itu, menyeberangi jarak yang memisahkan mereka, lalu meletakkan telapak tangan besarnya di atas punggung tangan Senja yang kecil dan hangat.

​Sentuhan itu membuat napas Senja tertahan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

​"Tapi sekarang..." Arga melanjutkan, suaranya melembut, membawa getaran emosi yang langsung meresap ke dalam jiwa Senja, "...setelah aku terbangun di gang gelap itu, dan melihat seseorang yang bahkan tidak mengenalku rela membuang payungnya demi menyelamatkanku... membagi satu mangkuk mi instan di saat ia sendiri kelaparan..."

​Arga menatap lurus ke dalam bola mata Senja, tatapannya penuh dengan pemujaan yang tersembunyi di balik sorot mata yang tenang.

​"...aku menyadari bahwa tidak tahu dari mana aku berasal, tidak lagi menjadi hal yang penting. Karena bagiku, masa laluku telah mati. Yang kutahu pasti... saat ini, di tempat sempit dan sederhana ini bersama denganmu, aku telah menemukan tempat di mana aku merasa benar-benar pulang."

​Deg!

​Jantung Senja serasa berhenti berdetak. Wajahnya memerah padam seketika, panas menjalar dari lehernya hingga ke ujung telinganya. Kalimat itu—aku telah menemukan tempat di mana aku merasa benar-benar pulang—bukanlah sekadar ucapan terima kasih biasa. Itu adalah sebuah pengakuan yang memiliki bobot emosional yang luar biasa berat, diucapkan dengan tatapan tulus yang tidak mungkin disalahartikan.

​Senja tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya mendadak kering. Ia hanya bisa menatap tangan besar Arga yang menutupi tangannya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, menghapus segala sisa-sisa rasa sepi yang pernah singgah di dalam hidupnya selama bertahun-tahun.

​Di luar rumah kontrakan itu, hiruk-pikuk kota kembali berjalan seperti biasa. Suara kendaraan bermotor, teriakan anak-anak bermain, dan deru angin pagi berlanjut tanpa henti. Namun di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, dunia seolah berhenti berputar bagi dua insan yang sedang saling menatap dalam kebisuan yang penuh makna.

​Momen manis pertama berbagi semangkuk mi instan berdua itu bukan sekadar tentang mengisi perut yang kosong. Itu adalah detik di mana dinding-dinding pertahanan terakhir di hati sang CEO tiran runtuh sepenuhnya, dan detik di mana seorang gadis yatim piatu yang kesepian menemukan jangkar terkuat di dalam hidupnya.

​Sebuah awal dari ikatan tak kasat mata yang kelak akan mampu mengguncang seluruh penjuru kota metropolitan, saat rahasia identitas mereka pada akhirnya terbongkar oleh waktu.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!