Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Together
Beberapa saat kemudian, langkah kaki Miyura bergemerincing pelan saat ia keluar dari balik pintu kedai menuju ruang depan. Begitu tiba di area utama, manik matanya langsung menangkap sosok Goto yang sudah berdiri menantinya.
Pria itu tampak begitu berbeda dari biasanya. Alih-alih mengenakan pakaian santai rumah atau rompi kedai, Goto kini berdiri gagah mengenakan setelan pakaian petualang lengkap: rompi kulit kokoh dengan sabuk perkakas tersampir di dada, jubah hijau tua berkerudung tersampir di bahunya, serta pedang panjang bermata dua yang tersarung rapi di punggungnya.
Mendengar derap langkah Miyura, Goto menoleh. Pria itu tampak berdehem kecil sebelum membuka suara, seolah merasa perlu memberikan penjelasan atas penampilannya.
"Ah, Rin," sapa Goto dengan nada agak kaku. "Kira-kira seperti inilah kegiatanku kalau sedang libur dari tugas militer kerajaan. Biasanya aku menghabiskan waktu dengan menerima misi-misi pengawalan kecil, mencari tanaman obat pesanan tabib kota, atau kadang-kadang berburu hewan buruan ke hutan untuk menambah stok daging makan malam kita nanti."
Miyura tertegun sejenak di tempatnya. Gadis itu mengerjap-nengerjap polos, menatap Goto dengan sebelah alis terangkat heran. Dalam hatinya, ia merasa bingung mengapa pria itu tiba-tiba menjelaskan seluruh agendanya secara mendetail padahal ia sama sekali tidak bertanya ataupun menuntut penjelasan apa pun.
Melihat ekspresi bingung di wajah Miyura, Goto, yang merasa salah tingkah karena mendadak menjadi banyak bicara di depan gadis itu, segera mengalihkan pandangannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berdehem lagi untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Yah... intinya begitu," ucap Goto buru-buru, berusaha menutupi rasa canggungnya. Ia kemudian berbalik mengarahkan pandangannya ke pintu keluar kedai. "Kalau kau sudah siap, ayo kita berangkat sekarang. Kubantu antarkan kau ke gereja sebelum aku pergi ke hutan."
Miyura mengangguk pelan, merapikan letak gaunnya, lalu mengekor di belakang langkah lebar Goto yang mulai berjalan membukakan jalan baginya keluar kedai.
Langkah kaki mereka berdua menyusuri jalanan Kota Shima yang mulai ramai oleh aktivitas pagi hari. Di sepanjang perjalanan, Miyura terpana menyaksikan denyut kehidupan warga yang begitu tenang dan harmonis. Anak-anak berlarian kecil di trotoar, para pedagang menata barang dagangan dengan senyuman, dan tidak ada sedikit pun ketegangan yang membayangi udara pagi itu.
Melihat Miyura yang tampak memperhatikan sekeliling dengan takjub, Goto yang berjalan di sampingnya perlahan membuka percakapan untuk memecah keheningan.
"Kau melihat bagaimana damainya kota ini sekarang, Rin?" ucap Goto dengan nada berat nan tenang, melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. "Semua ini terjadi berkat perubahan besar setelah Raja baru naik takhta menggantikan penguasa lama."
Miyura menoleh, menyimak dengan penuh perhatian.
Goto menghela napas pendek, sorot matanya menerawang mengingat masa-masa sulit di masa lalu. "Tapi, keadaan tidak selalu seindah ini," lanjut Goto dengan suara yang sedikit merendah. "Beberapa tahun lalu, sewaktu penjajahan dan penindasan keji dilakukan oleh raja dari Negara Hikari... rakyat di negeri ini sempat menderita luar biasa. Ekonomi hancur, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, dan ketakutan merajai setiap sudut jalanan."
Mendengar kata-kata "Negara Hikari" dan "penjajahan" yang meluncur begitu saja dari bibir Goto, jantung Miyura seolah berhenti berdetak. Kilas balik tentang kehancuran negerinya sendiri, darah yang tumpah, serta dosa-dosa masa lalu yang melekat pada tahta keluarganya mendadak menghantam batinnya tanpa ampun. Napasnya tercekat.
Dengan tangan yang gemetar dan rasa bersalah yang teramat pekat menggerogoti dadanya, Miyura menghentikan langkahnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu menatap tanah dengan suara bergetar hebat.
"Maafkan aku..." cicit Miyura lirih, nyaris tak terdengar di antara bisingnya lalu-lalang warga. "Aku... aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah diperbuat oleh orang-orang Hikari di masa lalu..."
Goto sontak menghentikan langkahnya. Pria berpostur tegap itu berbalik, menatap Miyura dengan sebelah alis terangkat tinggi, diliputi rasa kebingungan yang nyata.
"Hah? Maaf?" tanya Goto heran, mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. "Kenapa justru kau yang meminta maaf, Rin? Bukan salahmu apa yang terjadi di masa lalu, dan kau bahkan bukan berasal dari lingkaran kekuasaan di sana."
Miyura tetap menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan pria itu.
Goto menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan kedewasaan dan kelegaan. Ia mengangkat sebelah tangannya, menepuk pelan puncak kepala gadis berambut hitam itu dengan lembut. "Sudahlah, tidak perlu membebani dirimu dengan masa lalu yang kelam. Yang terpenting sekarang, negara dan rakyat Evelia sudah hidup damai. Mari kita tinggalkan luka itu di belakang."
Miyura menengadah perlahan, mengerjap pelan merasakan kehangatan dari telapak tangan Goto di kepalanya. Hatinya sedikit berdesir tenang, namun sebuah rasa penasaran mendadak mencuat di benaknya. Bibirnya terbuka, berniat untuk menanyakan sesuatu yang sudah lama mengganjal di kepalanya mengenai kehidupan pribadi pria itu.
Namun, sebelum sempat satu patah kata pun keluar dari mulut Miyura, Goto sudah lebih dulu menebaknya.
"Kau mau bertanya soal mendiang istriku, kan?" tukas Goto pelan, menarik kembali tangannya dan kembali melangkah berjalan, memberi gestur agar Miyura mengikuti di sisinya.
Miyura tertegun, merona malu karena isi kepalanya begitu mudah terbaca. Ia hanya bisa mengangguk pelan sembari mempercepat langkahnya untuk menyamakan diri dengan Goto.
Tanpa diminta, Goto mulai bercerita dengan suara yang tenang namun sarat akan jejak kesedihan yang terkubur rapi. "Kami menikah atas dasar cinta dan restu keluarga," kenang Goto, pandangannya lurus menatap jalan di depan mereka. "Pernikahan itu sangat sederhana, tapi aku merasa menjadi pria paling berbahagia di dunia saat itu. Sayangnya... takdir berkata lain. Hanya beberapa minggu setelah pernikahan kami, Evelyn jatuh sakit-sakitan. Tubuhnya melemah hari demi hari, hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya di pelukanku."
Suara Goto melambat di akhir kalimatnya. Ada jeda panjang yang tercipta di antara mereka berdua, dipenuhi oleh keheningan yang berat.
Miyura menoleh, menatap profil samping wajah Goto yang tampak begitu tegar namun menyimpan kerapuhan tersembunyi. "Lalu... apakah sebelum dia pergi, dia meninggalkan pesan terakhir untukmu, Kak Goto?" tanya Miyura hati-hati, takut pertanyaannya terlalu lancang.
Goto terdiam sejenak. Langkah kakinya melambat. Ia menoleh sekilas ke arah Miyura, lalu membuang muka ke arah lain sambil menggelengkan kepala pelan.
"Ya... dia memang meninggalkan pesan terakhir," jawab Goto dengan suara parau yang amat pelan. Namun, pria itu segera mengatupkan rahangnya rapat-rapat, memasang ekspresi tertutup. "Tapi... maaf, itu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Aku tidak ingin menceritakan pesan itu kepada siapapun."
Tidak lama kemudian, langkah kaki keduanya membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk jalanan kota hingga tiba di depan sebuah bangunan tua berarsitektur megah namun menenangkan. Di hadapan mereka kini berdiri gerbang besi tempa yang menjulang, membatasi area pelataran Gereja Shima yang dipenuhi oleh pepohonan rindang dan suasana yang begitu hening.
Goto menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang tersebut. Ia berbalik menghadap Miyura, lalu membenarkan letak jubah dan tali pedang di punggungnya sebelum membuka suara.
"Nah, kita sudah sampai, Rin," ujar Goto dengan nada berat nan tenang. "Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Setelah ini, aku harus langsung pergi ke hutan untuk menyelesaikan urusanku."
Miyura menatap pemuda di hadapannya dengan manik mata ungunya yang teduh. Ia merapikan sedikit lipatan jubahnya, lalu tersenyum tipis seraya mengangguk paham.
"Iya, Kak Goto... terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk mengantarku sampai ke sini," ucap Miyura tulus dengan suara lembutnya.
Sebelum Goto sempat berbalik, Miyura sedikit merona, namun ia memberanikan diri untuk menambahkan pesan dengan nada khidmat yang terkesan perhatian, "Dan... tolong berhati-hatilah selama di hutan sana. Jangan sampai terlambat pulang saat malam tiba, ya?"
Goto sempat tertegun sejenak mendapati nada bicara Miyura yang begitu peduli, seolah benar-benar mengingatkan seorang anggota keluarga yang ditunggu di rumah. Pria itu mengerjap pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
"Ah... iya, aku mengerti. Jangan khawatirkan aku," jawab Goto singkat namun meyakinkan. "Nikmati waktumu di dalam gereja. Sampai jumpa nanti malam saat makan malam."
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, Goto membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh meninggalkan area gereja dengan langkah tegap. Tanpa membalikkan badan ke belakang, ia hanya mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi ke udara, memberikan gestur melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Miyura berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap Goto yang perlahan kian menjauh ditelan keramaian jalanan kota. Setelah sosok pria itu benar-benar tak terlihat lagi, Miyura menarik napas panjang, meresapi keheningan yang mulai merayap di sekelilingnya.
Ia lantas mengalihkan pandangannya ke depan, mengulurkan tangan untuk mendorong pintu gerbang besi Gereja Shima yang berderit pelan, lalu melangkah mantap memasuki halaman suci tersebut seorang diri.