Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Buah Kesabaran yang Pahit
BAB 1: Buah Kesabaran yang Pahit
Mata Amira berbinar saat ponsel di genggamannya berdering. Nama "Mas Adam" tertera di layar. Setelah dua tahun menjalani hubungan jarak jauh tepat sehari setelah akad nikah, suaminya akhirnya memberi kabar akan pulang hari ini dan memintanya menjemput di bandara.
"Jangan kasih tahu Sonia dan Ibu, ya," pesan Adam dari balik telepon.
"Kenapa, Mas? Kan aku bisa pakai mobil Sonia buat jemput?" tanya Amira polos.
"Jangan dulu. Kamu sewa taksi online saja."
Amira tersenyum tipis. "Oh, begitu... Mas mau kasih kejutan ya buat Ibu?"
"Ya... begitulah."
Jam empat sore, Amira bergegas keluar dari restoran tempatnya bekerja. Ia melambaikan tangan memanggil taksi online menuju bandara. Tepat pukul lima sore, ia sudah sampai di terminal kedatangan. Amira kembali merengkuh ponselnya dan menghubungi sang suami.
"Mas, sudah di mana?"
"Aku di Cafe Chatime, area private room-nya," jawab Adam singkat.
Setelah bertanya pada pelayan kafe, Amira dituntun menuju ruangan tertutup di pojok restoran. Dadanya berdebar kencang. Ia merapikan pakaiannya, bersiap menumpahkan seluruh rasa rindu yang tertahan selama dua tahun. Namun, saat pintu kaca itu terdorong terbuka, pemandangan di dalamnya membuat langkah Amira terhenti seketika.
Adam duduk berdampingan dengan seorang wanita berpenampilan modis namun sopan. Jarak duduk mereka terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang hanya berteman.
Amira duduk di hadapan mereka dengan canggung. Adam pun tampak sedikit serba salah.
"Amira, perkenalkan... ini Alya," ucap Adam memecah keheningan.
"Alya," tutur wanita itu ramah seraya mengulas senyum.
Amira hanya mengangguk kaku. Firasat buruk mulai menggerogoti dadanya. "Ada apa ini, Mas?"
Adam menarik napas panjang. "Amira... Alya ini adalah calon istriku."
Deg.
Jantung Amira serasa diremas kuat-kuat. Pasokan udara di sekitarnya mendadak menguap. Ia menatap wanita di depannya, lalu beralih menatap suaminya.
"Apa dia tidak tahu kalau kamu sudah punya istri, Mas?" suara Amira mulai bergetar.
"Dia baru tahu sekarang, Amira. Jangan sampai kamu punya pikiran kalau Alya ini pelakor!" potong Adam cepat, membela wanita di sampingnya.
Amira tersenyum getir. "Jadi, Mas yang menyembunyikan fakta kalau Mas sudah menikah demi mengejar cintanya?"
Adam menghela napas kasar, tampak mulai tidak sabar. "Amira, kamu tahu sendiri pernikahan kita dulu itu sangat singkat. Kamu tidak cinta sama aku, dan aku juga belum punya rasa sama kamu—"
"Kalau tidak cinta, kenapa kamu menikahi aku, Mas?!" potong Amira tegas.
Sebelum Adam menjawab, sebuah kesadaran mendadak melintas di benak Amira. Celah-celah masa lalu itu mendadak terbuka terang.
"Oh... aku tahu. Sponsor kamu dulu langsung setuju melepaskanmu ke Jepang karena kamu sudah menikah, kan? Dan kamu menikahi anak panti asuhan karena sponsor kamu itu teman dekat Ibu Panti! Benar, kan?" cecar Amira tanpa ragu.
Wajah Adam menyelimut pucat sejenak. "Bukan begitu, Amira..."
"Lalu apa, Mas?!"
"Aku kasihan sama kamu, makanya aku menikahi kamu! Dulu aku belum tahu apa itu jatuh cinta. Tapi selama di Jepang, aku mengenal Alya... dan aku baru tahu apa arti cinta yang sebenarnya. Andai aku tidak kenal Alya, mungkin aku akan mencoba belajar jadi suami yang baik buat kamu."
"Kalau begitu, memang tidak ada lagi yang perlu kita pertahankan," potong Amira dingin. Matanya menatap Adam lurus tanpa hembusan air mata. "Ceraikan aku sekarang, Mas."
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan, Amira!" sergah Adam. "Aku tidak akan langsung pulang ke rumah Ibu. Aku mau menikah dulu dengan Alya di rumah orang tuanya di Jawa. Alya sudah sepakat, kita baru akan bercerai... setelah kamu punya anak."
Amira mengernyit jijik. "Maksud kamu apa?"
"Ini wujud tanggung jawab aku! Usia kamu sekarang mau 28 tahun. Menyandang status janda tanpa anak dan tanpa keluarga itu sulit, Amira. Tapi kalau kamu punya anak dulu dari aku, kamu tidak akan sebatang kara lagi. Kamu bisa hidup membesarkan anak itu!" ucap Adam dengan nada tanpa rasa salah, seolah ide gilanya adalah sebuah kebaikan besar.
"Gila. Aku tidak mau. Kita bercerai sekarang."
"Tidak bisa, Amira! Tunggu satu atau dua tahun dulu. Kalau aku langsung menceraikanmu sekarang, apa kata tetangga? Lagipula... aku kan belum pernah menyentuhmu sama sekali."
Alya yang sejak tadi diam kini ikut bersuara dengan nada lembut yang dibuat-buat. "Sudah, Mbak Amira... Jujur, aku juga kecewa waktu Mas Adam mengaku kalau dia sudah punya istri. Tapi setelah mendengar latar belakang Mbak Amira yang sebatang kara, aku jadi kasihan. Makanya aku merelakan Mas Adam poligami dulu selama dua tahun sampai Mbak punya anak. Setelah itu, Mbak bisa berpisah baik-baik."
Amira menatap Alya dengan pandangan tak percaya. Kasihan? Merelakan? Betapa tenangnya wanita ini membagikan belas kasihan palsu.
"Maaf, aku tidak butuh kasihan dari siapa pun. Aku hanya minta cerai."
"Kamu tidak akan aku ceraikan sekarang, Amira!" bentak Adam mulai menyombongkan diri. "Siapa kamu berani mengatur-ngatur aku, hah? Ikuti saja pengaturanku! Dan silakan... laporkan saja sama Ibu kalau aku mau nikah lagi!"
"Terserah kamu, Mas," bisik Amira pelan.
Ia langsung berdiri, merapikan tasnya tanpa sudi memandang dua insan di hadapannya lagi.
"Amira! Jangan pergi dulu! Amira!" panggil Adam, namun Amira terus melangkah keluar kafe tanpa menoleh.
Dada Amira bergemuruh hebat di sepanjang koridor bandara. Bohong jika ia tidak merasa sakit hati. Berpisah sehari setelah akad nikah, tidak pernah disentuh, menunggu dengan setia selama dua tahun... dan hadiah pertama yang ia terima saat suaminya pulang adalah kata: "Aku mau nikah lagi."
Dulu, Adam datang membawa secercah harapan. Saat Amira ragu karena statusnya yang hanya anak panti asuhan, Adam pura-pura menerima apa adanya. Karena harapan itulah Amira bertahan dan bersabar.
Ia sabar ketika Ibu Mirna—ibu mertuanya—selalu memandangnya rendah. Ia sabar ketika Sonia—adik Adam—selalu menuduhnya menguasai uang Adam. Padahal, Adam hanya mengiriminya 10 juta rupiah per bulan.
Uang 10 juta itu harus dipotong jatah Ibu Mirna 5 juta, cicilan mobil Sonia 4 juta, dan sisanya bahkan tidak cukup untuk membayar biaya kuliah Sonia sebesar 3 juta per bulan—belum termasuk uang harian, listrik, air, dan beras. Selama dua tahun ini, Amira yang diam-diam menombokinya menggunakan uang pribadinya sendiri. Namun, ia masih saja dituduh menilap uang belanja.
Semua pengorbanan dan hinaan itu ia telan bulat-bulat demi menghargai statusnya sebagai seorang istri. Tapi ternyata... buah dari kesabaran yang ia rawat selama dua tahun ini sungguh sangat pahit.
novel aku yang kesekian kalinya, tolong tinggalkan jejak like, komen postif,