Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Uhuk uhuk uhuk.
Bima terbatuk hebat sambil mengibas-ngibaskan sapu lidi di tangannya ke udara.
Wajah mahasiswa berambut gondrong itu sudah cemong oleh debu hitam pekat.
"Ampun Bang Galang, ini debunya setebal dosa koruptor," keluh Bima sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.
"Tulang rusuk saya rasanya mau rontok nyapu ruang depan yang segede lapangan bola ini."
Galang yang sedang membersihkan kaca jendela hanya tersenyum maklum mendengar keluhan karyawan barunya itu.
Bangunan tua ini memang sangat luas dan tidak mungkin dibersihkan dalam satu hari oleh dua orang normal.
"Mas Bima istirahat saja dulu di teras depan, biar saya yang terusin ngepel lantainya," tawar Galang dengan santai.
Bima menggelengkan kepalanya dengan cepat karena merasa tidak enak hati membiarkan bosnya bekerja sendirian.
"Jangan Bang, nanti gaji saya tidak berkah kalau makan gaji buta begini," tolak Bima memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Galang menepuk bahu Bima sambil menunjuk ke arah gerobak motornya yang terparkir di luar.
"Kalau begitu Mas Bima tunggu sepuluh menit, saya mau siapkan amunisi rahasia supaya kita tidak gampang capek," perintah Galang dengan nada misterius.
Galang segera berjalan keluar dan menyalakan kompor gas di gerobaknya.
Cetek. Wusss.
Ia mulai meracik dua porsi nasi goreng pemulihan menggunakan sisa bahan yang ada di dalam dimensi penyimpanannya.
Aroma gurih bawang putih tunggal langsung menguar mengusir bau apek rumah tua tersebut.
Dalam waktu singkat, Galang kembali ke dalam membawa dua piring kertas berisi nasi goreng yang masih mengepul panas.
"Ayo makan siang dulu Mas Bima, habis ini saya jamin tenaga Mas Bima bakal meledak-ledak," ucap Galang menyodorkan piring itu.
Bima tidak menolak dan langsung menyantap nasi goreng itu dengan sangat rakus seperti orang kelaparan berhari-hari.
Trang trang trang.
Begitu suapan terakhir tertelan, keajaiban dari resep sistem itu langsung bekerja di dalam aliran darah Bima.
Mata Bima yang tadinya sayu karena kelelahan mendadak membulat sempurna dan berbinar terang.
Rasa pegal di persendian dan tulang rusuknya lenyap tak berbekas digantikan oleh hawa hangat yang sangat nyaman.
"Gila Bang, saya merinding beneran ini!" teriak Bima melompat berdiri dari lantai.
"Badan saya rasanya ringan banget kayak kapas, bawaannya pengen lari maraton keliling kampus!"
Galang tertawa keras melihat tingkah karyawannya yang terlihat seperti baru saja disuntik energi tak terbatas.
"Bagus, kalau tenaganya sudah penuh lagi, ayo kita babat habis sisa debu di rumah ini sampai bersih mengkilap," ajak Galang.
Bima langsung menyambar alat pel dan ember air dengan gerakan yang sangat lincah.
Srek srek srek.
Selama dua hari berikutnya, mereka berdua bekerja layaknya mesin otomatis yang tidak kenal lelah.
Setiap kali tenaga mereka mulai habis, Galang akan memasak menu sistem untuk memulihkan energi mereka hingga penuh kembali.
Kerja keras yang gila-gilaan itu akhirnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan di hari ketiga.
Bangunan tua yang tadinya kusam dan angker kini berubah drastis menjadi bersih dan terang benderang.
Galang menyewa tukang cat harian untuk mengecat ulang bagian depannya dengan warna putih bersih.
Dua puluh meja plastik lengkap dengan kursinya sudah tertata sangat rapi di dalam ruangan utama.
Di bagian depan atap teras, terpasang sebuah spanduk kain berwarna kuning cerah yang mencolok dari jalan raya.
Spanduk itu bertuliskan nama yang sederhana namun mengintimidasi, KEDAI RAJA KULINER.
Galang berdiri di halaman parkir yang luas itu dengan dada membusung bangga melihat hasil kerjanya.
"Akhirnya selesai juga persiapan gila ini," gumam Galang mengusap peluh di dahinya.
Hari ini adalah hari penentuan untuk menyelesaikan Misi Grand Opening dari sistem.
Ia harus menjual lima ratus porsi campuran nasi goreng dan sup ayam sebelum tengah malam nanti.
"Bang Galang, bahan-bahan di dapur sudah siap semua!" teriak Bima dari arah pintu belakang kedai.
Galang mengangguk dan segera masuk menuju area dapur betonnya yang kini sudah bersih dan steril.
Di atas meja dapur, berkarung-karung beras dan puluhan ekor ayam potong segar sudah siap untuk dieksekusi.
Galang memanggil koper legendarisnya dari dalam ruang dimensi tanpa sepengetahuan Bima.
Sring.
Ia mengambil pisau serbaguna naga emas dan mulai memotong sayuran serta daging ayam dengan kecepatan kilat.
Trak trak trak trak trak.
Suara ketukan pisau di atas talenan terdengar seperti suara mesin ketik yang sedang ditekan secara brutal.
Bima yang baru masuk ke dapur untuk mengambil lap meja sampai ternganga melihat kecepatan tangan bosnya itu.
"Bang Galang itu tangan manusia atau baling-baling bambu sih, cepat banget potong dagingnya," puji Bima dengan wajah melongo.
Tepat pada pukul sepuluh pagi, pintu utama kedai akhirnya dibuka secara resmi.
Berkat promosi gencar yang dilakukan Bima dan teman-temannya di grup kampus, antrean pelanggan sudah menumpuk di halaman.
Ratusan mahasiswa berbondong-bondong datang karena penasaran dengan kedai permanen milik penjual sup ayam viral tersebut.
"Selamat datang di Kedai Raja Kuliner! Silakan duduk dan pilih mejanya!" sapa Bima dengan suara lantang dan ramah.
Pesanan mulai mengalir masuk ke dapur tanpa henti seperti air bah.
Galang menyalakan empat tungku kompor besar sekaligus di dapur belakangnya.
Wusss wusss wusss.
Api biru berkobar memanaskan wajan-wajan raksasa yang sudah siap menampung bahan makanan.
Berkat set pisau naga emas dan sisa buff energi di tubuhnya, Galang bisa menangani puluhan porsi sekaligus seorang diri.
Asap harum mengepul dari dapur dan menyebar ke area ruang makan memanjakan hidung para mahasiswa.
DING.
[Progres Penjualan: 45/500 porsi.]
Layar biru transparan mulai muncul berkedip di sudut pandangan mata Galang.
Setiap piring yang keluar dari dapur dan disantap oleh mahasiswa langsung memberikan reaksi yang luar biasa positif.
Ruang makan kedai itu dipenuhi oleh suara tawa, desahan lega, dan pujian dari pelanggan yang merasa energinya pulih.
"Gila, nasi goreng ini rasanya beneran bikin pusing hilang," ucap seorang mahasiswa berkacamata yang duduk di sudut ruangan.
Bima berlari ke sana kemari mengantarkan piring, mencatat pesanan, dan membersihkan meja yang kosong.
DING.
[Progres Penjualan: 180/500 porsi.]
Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul tiga sore, namun kedai sama sekali tidak pernah sepi.
Galang terus memasak dengan ritme yang stabil sambil sesekali mengelap keringat di lehernya.
Tiba-tiba, suasana riuh di ruang makan bagian depan mendadak berubah menjadi sunyi dan tegang.
Empat orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam masuk ke dalam kedai dan menempati meja tepat di tengah ruangan.
Aura mereka sangat gelap dan mengintimidasi, sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswa atau pekerja kantoran biasa.
Bima menelan ludah dengan susah payah saat harus berjalan mendekati meja mereka untuk mencatat pesanan.
"S...selamat sore Bang, mau pesan apa?" tanya Bima dengan suara sedikit bergetar.
Pria yang duduk di tengah dengan bekas luka sayatan di alisnya menatap Bima dengan pandangan meremehkan.
"Bawakan empat porsi nasi goreng andalan kedai sampah ini, jangan lama-lama," perintah pria itu dengan nada berat dan kasar.
Bima mengangguk cepat dan buru-buru berlari ke dapur belakang menyerahkan nota pesanan itu.
"Bang Galang, di depan ada pelanggan mencurigakan kayak preman pasar," lapor Bima berbisik panik.
Galang yang sedang mengayunkan wajan hanya tersenyum tenang menanggapi kepanikan karyawannya itu.
"Tenang saja Mas Bima, layani saja seperti biasa, pelanggan tetaplah pelanggan selama mereka mau bayar," jawab Galang santai.
Sepuluh menit kemudian, empat piring nasi goreng pemulihan sudah tersaji di depan komplotan preman tersebut.
Mereka mulai memakan nasi goreng itu dengan suapan yang besar dan kasar.
Kunyah. Kunyah.
Meski mereka adalah preman bayaran, lidah mereka tetap tidak bisa berbohong merasakan nikmatnya masakan Galang.
Rasa gurih luar biasa itu sempat membuat mereka terdiam dan saling berpandangan keheranan.
Namun mereka segera teringat akan tugas utama yang diberikan oleh bos besar mereka siang tadi.
Brak.
Pria berbekas luka itu tiba-tiba menggebrak meja plastiknya dengan sangat keras hingga piringnya terpelanting jatuh ke lantai.
Prang.
Suara pecahan piring itu mengejutkan seluruh mahasiswa yang sedang makan di ruangan tersebut.
"Kurang ajar! Makanan sampah macam apa ini!" teriak pria itu dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru kedai.
Ia berdiri dan menendang kursi plastiknya hingga terpental mengenai dinding.
Bima yang sedang mengelap meja di ujung ruangan langsung berlari panik menghampiri meja mereka.
"Ada apa Bang? Apa ada yang salah dengan pesanannya?" tanya Bima mencoba menenangkan situasi.
Pria itu langsung mencengkeram kerah baju Bima dengan satu tangan dan mengangkatnya sedikit dari lantai.
"Ada yang salah katamu? Lihat ini!" bentak preman itu sambil menunjuk ke arah sisa nasi yang tumpah di meja.
Dari mulut pria itu, menetes cairan kental berwarna merah pekat yang terlihat sangat mirip dengan darah segar.
Ia memuntahkan sebuah benda kecil berkilau ke atas telapak tangannya sendiri.
Tring.
Benda itu adalah sebuah potongan silet tajam berkarat yang sudah dilumuri cairan merah.
Beberapa mahasiswi yang duduk di meja terdekat langsung berteriak histeris ketakutan dan menutup mulut mereka.
"Ada silet karatan di dalam nasi goreng ini!" teriak teman preman yang lain dengan suara provokatif.
"Teman kami sampai muntah darah begini gara-gara masakan gila kalian!"
Suasana kedai yang tadinya damai mendadak berubah menjadi sangat kacau dan penuh kepanikan.
Para pelanggan mulai berbisik-bisik ketakutan dan berhenti memakan makanan mereka.
"Gila, masa ada silet di makanannya? Jangan-jangan kedai ini pakai pesugihan kotor," bisik seorang mahasiswa ngeri.
"Masa sih? Perasaan punyaku bersih-bersih saja dari tadi," balas temannya ragu-ragu.
Bima meronta-ronta mencoba melepaskan cengkeraman tangan preman bertubuh besar itu namun tenaganya kalah jauh.
"Lepaskan saya Bang! Bang Galang tidak mungkin masukin silet ke makanannya!" bela Bima dengan napas tersengal-sengal.
Plak.
Preman itu menampar pipi Bima dengan keras hingga sudut bibir pemuda kurus itu berdarah.
"Diam kau pelayan rendahan! Panggil bosmu keluar sekarang juga sebelum tempat ini kami hancurkan!" ancam preman itu beringas.
Dari arah pintu pembatas dapur, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.
Galang berjalan keluar dari dapur dengan wajah yang luar biasa tenang namun memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Di tangan kanannya, ia masih menggenggam erat gagang pisau naga emas yang berkilau tajam terkena cahaya lampu kedai.
Ia memakai celemek cokelatnya yang sedikit kotor oleh noda bumbu, namun tatapan matanya tajam bagaikan elang yang mengincar mangsa.
"Lepaskan tangan kotormu dari karyawanku," ucap Galang dengan suara bariton yang sangat pelan namun terdengar jelas di seluruh ruangan.
Preman berbekas luka itu menoleh dan menyeringai sinis melihat kedatangan pemilik kedai tersebut.
"Jadi kau bosnya? Kau berani meracuni lidahku dengan silet tajam ini hah?" tantang preman itu sambil memamerkan silet di tangannya.
Galang tidak menjawab, ia justru melangkah maju perlahan mendekati meja komplotan preman bayaran tersebut.
Otaknya langsung memutar ingatan tentang peringatan sistem akan adanya ancaman dari kompetitor level menengah.
"Jadi orang tua sombong itu sengaja menyewa preman elit untuk mensabotase hari pembukaanku," batin Galang menganalisis situasi dengan cepat.
"Kalau aku biarkan mereka bertingkah, reputasi kedai ini akan hancur sebelum sempat berkembang."
Galang berhenti tepat di depan preman yang masih mencengkeram Bima.
"Aku bilang, lepaskan karyawanku sekarang," ulang Galang dengan nada suara yang turun satu oktaf lebih rendah.
Preman itu tertawa meremehkan dan justru semakin mengeratkan cengkeramannya di kerah baju Bima.
"Kalau aku tidak mau kau mau apa tukang masak miskin? Mau menusukku dengan pisau dapurmu itu?" ejek preman itu.
Tanpa banyak bicara lagi, tangan kanan Galang bergerak ke atas dengan kecepatan bayangan.
Wusss.