Indonesia
NovelToon NovelToon
Affair With Hot Secretary

Affair With Hot Secretary

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Kehidupan di Kantor
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Hari Wawancara

Hari wawancara akhirnya tiba. Sejak pagi, Nayla sudah bangun lebih awal dari biasanya. Dia bahkan hampir tidak bisa tidur semalam karena terus memikirkan hari ini. Berkali-kali dia membayangkan bagaimana suasana kantor Nebula, pertanyaan seperti apa yang akan diberikan kepadanya, dan apakah dirinya benar-benar mampu bersaing dengan para pelamar lain.

Setelah membantu ibunya menyiapkan sarapan dan memastikan kedua adiknya berangkat sekolah, Nayla segera bersiap. Dia memilih pakaian terbaik yang dimilikinya.

Sebuah kemeja putih sederhana yang sudah beberapa kali dia pakai untuk melamar pekerjaan, dipadukan dengan rok hitam panjang dan sepatu hitam yang masih cukup layak meskipun bukan barang mahal. Rambut panjangnya dia rapikan dan diikat sederhana di belakang. Wajahnya hanya diberi sedikit riasan agar terlihat segar.

Nayla berdiri di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya sendiri beberapa saat. Tidak ada blazer mahal. Tidak ada tas bermerek. Tidak ada sepatu dengan harga jutaan. Namun dia berusaha tampil serapi mungkin.

"Aku pasti bisa," gumamnya pelan.

Setelah menarik napas panjang, Nayla mengambil tasnya dan berangkat.

Perjalanan menuju kantor pusat Nebula memakan waktu hampir satu jam. Begitu kendaraan yang ditumpanginya berhenti di depan gedung perusahaan, Nayla langsung mendongak.

Gedung Nebula jauh lebih besar daripada yang pernah dia bayangkan. Bangunan modern dengan dinding kaca menjulang tinggi di hadapannya. Di bagian depan, logo Nebula terpampang besar dan elegan. Beberapa kendaraan mewah silih berganti memasuki area parkir perusahaan.

Nayla menelan ludah. "Wow..."

Dia turun dari kendaraan dan berjalan masuk dengan langkah sedikit kaku. Begitu melewati pintu utama, rasa minder yang sejak tadi berusaha dia tahan semakin terasa.

Di ruang tunggu khusus pelamar, sudah ada cukup banyak orang. Nayla memperhatikan mereka satu per satu. Seorang wanita berambut panjang mengenakan blazer bermerek sedang membaca dokumen. Di sampingnya, seorang pria dengan jas rapi tampak sibuk menggunakan tablet. Ada pula beberapa wanita lain dengan penampilan yang begitu elegan dan profesional.

Mereka semua terlihat seperti orang-orang yang terbiasa berada di lingkungan perusahaan besar. Sementara Nayla hanya membawa tas sederhana dan pakaian yang dia beli beberapa tahun lalu. Dia tanpa sadar menunduk melihat sepatunya. Untuk sesaat, keyakinannya goyah.

"Sepertinya aku memang terlalu nekat."

Nayla menggenggam tali tasnya. Dia membayangkan para pelamar lain memiliki gelar sarjana, pengalaman kerja di perusahaan besar, kemampuan bahasa asing, dan berbagai keahlian yang mungkin jauh di atas dirinya.

Sedangkan dirinya? Hanya lulusan SMA.

Nayla menarik napas dalam-dalam. Namun beberapa detik kemudian, dia menggeleng. Dia tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Bukankah selama ini dia selalu mengatakan kepada Yeni bahwa dirinya tidak boleh takut kalah sebelum bertanding?

Maka dia harus memegang prinsip itu sekarang. Nayla duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Tangannya sedikit berkeringat. Dia mencoba membaca kembali catatan yang dibuatnya semalam, tetapi semakin dibaca, justru semakin gugup.

"Aduh."

Nayla menutup mata sebentar. Dia membutuhkan udara. Setelah meminta izin kepada petugas, Nayla bangkit dan berjalan menuju toilet. Dia ingin mencuci wajah sekaligus menenangkan diri sebelum wawancara.

Sementara itu, di lantai yang berbeda, Tristan Alrish baru saja menyelesaikan rapat dengan dua orang investor penting Nebula.

Rapat tersebut berlangsung hampir dua jam. Tristan berjalan keluar dari ruang rapat bersama beberapa bawahannya.

"Pastikan semua dokumen yang mereka minta dikirim sore ini."

"Baik, Pak."

"Dan jadwalkan pertemuan lanjutan minggu depan."

"Siap!"

Tristan kemudian berjalan menuju ruangannya. Sebenarnya ada satu alasan lain dia ingin segera kembali ke sana. Sebab pagi tadi, putranya meminta izin untuk ikut ke kantor. Kebetulan sekolahnya sedang memiliki kegiatan yang membuat jam pulangnya lebih cepat, sehingga Tristan memutuskan membawa Denis bersamanya.

Sebelum rapat, Denis menunggu di ruang kerja Tristan bersama seorang staf yang ditugaskan menjaganya. Namun ketika Tristan membuka pintu ruangannya, langkahnya langsung terhenti.

"Denis?"

Tidak ada jawaban. Tristan masuk lebih jauh. Matanya menyapu seluruh ruangan. Tidak ada putranya. Dia melihat staf yang sebelumnya berada di sana juga sudah tidak terlihat.

"Di mana Denis?"

Nada suaranya langsung berubah. Seorang bawahan yang baru masuk beberapa detik setelahnya tampak kebingungan.

"Pak?"

"Denis. Tadi dia di sini."

Bawahan tersebut langsung pucat.

"Saya kira dia bersama staf di lantai bawah."

Tristan menatapnya tajam. "Cari dia!"

"Baik, Pak."

Beberapa karyawan langsung bergerak mencari Denis. Tristan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi putranya. Namun tidak ada jawaban. Keningnya berkerut.

Denis memang anak yang aktif, tetapi dia tidak pernah pergi terlalu jauh tanpa memberitahu siapa pun.

"Denis..."

Tristan berjalan keluar dari ruangannya.

Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, Nayla sudah sampai di dekat toilet. Namun langkahnya terhenti.

Ada seorang anak laki-laki yang sedang berjongkok di dekat dinding. Anak itu mengenakan pakaian yang cukup rapi dan sepatu kecil yang terlihat mahal. Kepalanya tertunduk. Bahunya bergerak naik turun. Dia sedang menangis.

Nayla langsung merasa iba. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada seorang pun di dekat anak itu.

"Hei..."

Anak tersebut tidak menjawab. Nayla mendekat perlahan lalu berjongkok beberapa langkah darinya.

"Kamu kenapa?"

Anak itu tetap diam.

"Kamu tersesat?"

Tidak ada jawaban. Nayla semakin khawatir. Entah mengapa, melihat anak kecil itu sendirian membuatnya teringat kepada kedua adiknya ketika mereka masih kecil. Dulu, setiap kali salah satu adiknya menangis, Nayla selalu menjadi orang pertama yang berusaha menenangkan mereka.

Karena itu, dia tidak tega meninggalkan anak tersebut. Nayla duduk berjongkok di sampingnya.

"Jangan menangis..."

Anak itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya terlihat basah. Nayla tersenyum lembut.

"Nama kamu siapa?"

"Denis."

Nayla tersenyum. "Denis? Nama yang bagus."

Denis menatap wajah Nayla. Untuk beberapa detik, anak itu terdiam. Nayla memang memiliki kecantikan yang mencolok, tetapi bukan kecantikan yang terlihat berlebihan. Wajahnya terlihat sederhana, segar, dan tulus. Senyumnya juga begitu hangat sehingga Denis yang semula masih murung perlahan mulai berhenti menangis.

Nayla membuka tasnya. Dia selalu membawa beberapa permen di dalam tas karena terkadang adik-adiknya meminta ketika mereka bertemu.

"Aku punya permen."

Mata Denis langsung tertuju pada benda kecil di tangan Nayla.

"Mau?"

Denis mengangguk pelan. Nayla menyerahkan permen itu.

Denis menerimanya. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Denis mulai membuka bungkus permen tersebut.

Nayla tersenyum melihatnya. "Sudah jangan menangis lagi, ya."

Denis mengangguk. Kemudian dia memandang Nayla lagi.

"Kakak cantik."

Nayla tertawa kecil. "Terima kasih."

"Namanya siapa?"

"Nayla."

"Nayla."

Denis mengulang nama itu seolah ingin mengingatnya.

Nayla tidak menyadari bahwa anak yang sedang duduk di hadapannya bukanlah anak sembarangan. Dia juga tidak tahu bahwa beberapa lantai di atas mereka, seorang pria sedang mencarinya dengan wajah tegang.

1
Mita Paramita
mungkin Denis bukan anak kandung Tristan... hasil perselingkuhan Olivia & zay😈😈😈 lanjutin Tristan sampe puas bikin Nayla tepar 🤣🤣🤣🫡
Mita Paramita
gass terus Nayla bikin Tristan lupain Olivia 🤣🤣🤣 rebut sekalian
Mita Paramita
bos dan sekretaris jadi lupa batasan malah curcol masalah rumah tangga 🫡🫡🫡 kasian ternyata Tristan Pria kesepian
Mita Paramita
Nayla takut gelap 😭😭😭 tapi kalo sekarang lebih takut kehilangan Tristan 🤣🤣🤣
Rommy Wasini Khumaidi
monggo dilanjutkan saja mas Tris
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
jangan-jangan Denis bukan anak Tristan sama Olivia lagi, Olivia kan suka di celup-celup😂
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
langsung jadian deh Tristan sama Nayla menjadi pacar selundupaan 🤭
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
kalau udah mabuk pasti lupa sama janji ya Tristan 😂
Dinda Putri
Kenapa ga nikah siri aja sih biar greget gitu
Rommy Wasini Khumaidi
gimana rasanya mas Tris?
Ass Yfa
yg katanya tdk akan terulang lagi mlh berkelanjutankan...
tattoo
lagi 🌚🌚🌚
Rommy Wasini Khumaidi
lanjutkan Nay,aku mendukungmu
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
itu beda ya nay karena itu cuma reflek aja 😂
Mita Paramita
SituationShip 🫡🫡🫡
Mita Paramita
zay cocok banget jadi selingkuhan Olivia sama sama manusia redflag 🤣🤣🤣 semoga perselingkuhan mereka cepet terbongkar nih
Mita Paramita
Nayla udah terang terangan mau jadi gundik Tristan 🤣🤣🤣
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
astaga kasihan kau Tristan lagi tanggung-tanggung nya eh di stop😂😂😂
tattoo
belum pernah dengar😭
Ass Yfa
😄😄😄Tristan dibuat kentang sama Nayla rasain...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!