Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kejaran di Hutan Sunyi
Setelah Su Yu pergi menjauh tanpa disadari siapa pun, keributan di tengah hutan itu pecah. Para pendekar yang baru saja keluar dari dimensi rahasia saling berteriak, wajah mereka dipenuhi kemarahan dan kebingungan.
"Peluang yang kudapatkan hilang! Semua hilang tanpa jejak!" seru seorang pendekar bertubuh pendek sambil meraba dadanya sendiri, mencari benda yang sebelumnya tersimpan di balik jubahnya.
Pendekar lain di sebelahnya ikut memeriksa tubuhnya, lalu meninju batang pohon hingga kulitnya terkelupas.
"Sial! Kitab yang kusimpan di dalam kantong penyimpanan juga lenyap! Seolah tidak pernah ada!"
Keriuhan semakin menjadi. Beberapa orang mulai saling tuduh, menunjuk satu sama lain dengan mata liar. Suasana berubah menjadi gelanggang saling curiga.
"Kau pasti mencurinya saat kami keluar tadi!"
"Jangan menuduh sembarangan! Aku juga kehilangan semuanya!"
"Berhenti! Kalian semua tertipu!"
Suara lantang itu datang dari Tetua Wu. Pria berjubah putih itu berdiri di atas batu besar, menatap seluruh pendekar dengan raut yang kacau. Ada keterkejutan, kemarahan, dan sedikit ketakutan di matanya.
Semua perhatian langsung tertuju kepadanya. Tetua Bai yang berdiri tidak jauh dari sana menyipitkan matanya, menunggu pria itu melanjutkan.
Tetua Wu menarik napas panjang, lalu menggenggam kepalanya sendiri dengan kedua tangan. "Dua bulan yang lalu... aku melewati tempat ini seorang diri. Saat itulah aku mendengar suara. Suara seorang pria yang berbisik dari kejauhan, tetapi setiap katanya terdengar begitu dekat."
"Apa maksud anda senior?" tanya salah satu pendekar.
Tetua Wu menurunkan tangannya dan menatap kosong ke depan. "Suara itu menyebutkan ada peluang tersembunyi di tempat ini. Dia memintaku melakukan penjelajahan dan mengundang banyak pendekar untuk ikut. Katanya, semakin banyak orang yang masuk, semakin besar manfaat yang akan kuperoleh."
Hening.
Tetua Bai memecah kesunyian dengan tawa sinis. "Haha. Jadi kau sengaja mengumpulkan kami semua demi bisikan hantu? Sungguh tetua sekte yang bijaksana."
"Tutup mulutmu!" bentak Tetua Wu sambil menunjuk Tetua Bai. "Anehnya aku baru ingat semuanya sekarang! Sebelumnya ingatan itu seperti tertutup kabut, seolah-olah seseorang memasang segel di dalam pikiranku!"
Tetua Bai tidak lagi tersenyum. Wajahnya berubah serius, lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau begitu, siapa pengirim suara itu? Kenapa dia memilihmu, dan untuk apa semua ini?"
"Kalau aku tahu, aku tidak akan berdiri di sini dengan wajah sebodoh ini!" jawab Tetua Wu dengan nada frustrasi.
Di bawah sana, para pendekar mulai berbisik-bisik. Ketakutan mulai merayap di antara mereka, menggantikan amarah yang sebelumnya membara. Satu per satu mereka memilih mundur, meninggalkan area itu dengan langkah cepat, tidak peduli pada harta yang sudah lenyap entah ke mana.
Sementara itu, jauh dari kerumunan, wanita berjubah biru sudah menyelinap pergi. Sosoknya melesat cepat di antara pepohonan, hampir tidak menyentuh tanah. Kilau hitam di pupil matanya sesekali muncul, lalu menghilang seperti bayangan yang tertelan cahaya.
*****
Waktu berlalu dari pagi hingga sore. Su Yu akhirnya berhenti di pinggir sungai dan duduk di atas batu besar. Suara gemericik air mengalir menemani keheningan di antara batang-batang pohon yang mulai diselimuti jingga. Xioutian keluar dari balik kerah jubahnya dan bertengger di batu kecil di depan tuannya.
"Tuan, kejadian tadi itu sangat aneh."
Su Yu mengangguk pelan. "Kau benar. Bayangkan saja, seorang penjaga mengatur segala hal agar mendapatkan penggantinya. Begitu pengganti itu datang dan ia pergi, ternyata sesuatu yang dijaga justru kembali tidak berselang lama."
"Ini memang benar-benar aneh," jawab Xioutian.
Su Yu berdiri dari batu, lalu merentangkan kedua lengannya ke samping. "Apa yang tidak aneh. Pak tua itu bergaya dengan merentangkan tangan seperti ini, lalu dia tertawa kencang. Hahaha, akhirnya terbebas!"
Ia menurunkan tangannya perlahan sambil menggelengkan kepalanya. "Siapa sangka, orang yang dijebak juga bebas beberapa tarikan napas kemudian."
"Pft!" Xioutian menahan tawanya, tetapi gagal. "Hahahahaa... ini sangat lucu sekali! Kalau orang-orang mendengar kejadian ini, mereka pasti tidak akan percaya sampai mati! Kebetulan ini terlalu konyol, hahahaaa!"
Su Yu terkekeh pelan sembari duduk kembali. "Lebih dari itu, aku tidak tahu harus berterima kasih kepada siapa atas keberuntungan konyol ini. Karenanya, aku mendapatkan dua teknik."
Xioutian berhenti tertawa, lalu memejamkan matanya sebentar. Ketika kelopak matanya terbuka, ia berkata, "Aku juga mendapatkan warisan pedang tingkat emas. Lihat ini tuan."
Begitu kalimat itu selesai, sebilah pedang muncul melayang di hadapannya. Bilahnya berwarna perak tanpa sarung, sementara gagangnya putih seperti awan. Cahaya tipis memancar dari permukaan logamnya, menandakan bahwa senjata itu bukan pedang biasa.
"Aku memberinya nama Pedang Roh Awan," kata Xioutian dengan nada bangga. "Karena aku mendapatkannya di aula awan."
Su Yu mengamati pedang itu sebentar, lalu mengangguk. "Nama yang tepat."
Pedang tersebut kemudian menghilang dan masuk kembali ke tubuh Xioutian. Burung kecil itu menghela napas panjang. "Tapi sayangnya aku belum tahu keahliannya. Mungkin hanya pertarungan langsung yang bisa menunjukkan seberapa hebat pedang milikku."
Su Yu bangkit lagi, menepuk-nepuk bagian belakang jubahnya yang terkena debu. "Nanti ada waktunya untuk mencoba. Sekarang kita harus menangkap ikan. Malam kita di sini saja, besok lanjutkan perjalanan."
"Baik, Tuan."
Xioutian mengikuti Su Yu ke arah aliran sungai yang airnya mengalir pelan di antara bebatuan. Suasana sore itu tenang, hanya suara air dan gesekan dedaunan yang menemani langkah mereka.
Namun belum sempat mereka mencapai tepian air, tiga sosok tiba-tiba muncul dari balik pepohonan.
Wush! Wush! Wush!
Satu wanita muda berjubah biru, satu pria jangkung berpostur ramping, dan satu pria tiga puluhan dengan ekspresi dingin. Ketiganya berdiri berjajar, menghalangi jalan menuju sungai.
Su Yu langsung melompat menjauh, menciptakan jarak aman sekitar lima langkah. Begitu kedua kakinya menapak tanah, matanya menyipit tajam.
"Siapa kalian? Kenapa mengikutiku sampai ke sini?"
Wanita berjubah biru itu maju selangkah. Pupil matanya berkilat oleh energi hitam yang berdenyut lembut, lalu menghilang seperti uap tersedot udara.
"Kami adalah pengikut pamanmu..." Ucapnya pelan, namun masing-masing kata terdengar menusuk. "Patriark Klan Su... Su Gaochang."
Mendengar nama itu, mata Su Yu melebar. Darahnya berdesir, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
"Tuan, hati-hati," bisik Xioutian yang terbang di samping Su Yu. "Mereka semua pendekar perak tahap awal. Kita tidak akan mampu menghadapi mereka untuk saat ini."
Su Yu menarik napas dalam-dalam mendengar saran burung kecil itu, dan berusaha meredam debaran jantungnya. Tiga lawan pendekar perak, jauh di atas kemampuannya sekarang.
"Apa sebenarnya yang di inginkan pamanku?" tanya Su Yu sembari menatap musuhnya dengan sorot tajam.
Pria jangkung itu tertawa pendek. "Haha... kau tidak perlu tahu. Yang penting kau ikut kami dengan tenang, atau mati di sini jika melawan."
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔