Indonesia
NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hentikan Kata Sembuh

Tiga minggu berlalu begitu cepat, bagaikan pasir yang meluncur jatuh di sela-sela jemari. Wafa tetap teguh pada pendiriannya ia menolak mentah-mentah untuk terbang berobat. 

Jaya bahkan sudah sampai membelikan sepuluh tiket pesawat menuju Singapura, berharap ada satu hari di mana hati putra ketiganya itu melunak. Namun, tiket-tiket itu hanya berakhir menumpuk tak tersentuh di atas meja kerja.

Melihat tubuh Wafa yang kian mengikis dan napasnya yang makin terengah saban hari, semua orang akhirnya bungkam tak berdaya. Jaya bahkan sampai pada titik paling membenturkan dada: mungkin ini memang jalan yang harus ditempuh.

Hari ini, Kamis pukul 16.30. Suasana ruang tengah terasa hening dan pekat oleh rasa kehilangan yang pelan-pelan merayap.

"Pih... bisa enggak minta izin ke sekolah? Selama satu minggu ini Lily cuma mau di rumah... nemenin Wafa," ujar Lily lirih. Matanya yang sembap menatap sang Papi penuh permohonan.

"Abang juga mau izin, Pih. Bang Owen juga pasti bakal ambil cuti kuliah," sahut Rafa dari samping Lily, mengepalkan jemarinya kuat-kuat.

Jaya menghela napas panjang, merengkuh bahu anak perempuannya. "Iya, Papi bakal urus izin kalian ke sekolah. Papi juga mulai hari ini bakal wfh. Kita... kita harus bikin hari-hari terakhir Wafa jadi indah."

Jaya menunduk sejenak, mengingat percakapan penting yang terjadi beberapa jam lalu. "Wafa bilang... hari ini kita udah boleh kasih tahu Ell."

Flashback Semalam

Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 21.30 ketika Jaya mengetuk pelan pintu kamar Wafa. Lampu kamar tampak temaram, hanya menyisakan pendar redup dari lampu tidur di sudut ruangan.

"Waf... belum tidur?" tanya Jaya seraya melangkah masuk.

Wafa yang sedang berbaring miring dengan wajah pucat dan mata tertutup perlahan membuka kelopak matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis, mencoba menguasai rasa sesak di dadanya. 

"Belum, Pih. Dada Wafa rada hangat aja malam ini."

Jaya menarik kursi meja belajar dan mendudukkannya tepat di samping tempat tidur Wafa. Pria paruh baya itu meraih jemari putranya terasa dingin dan makin kurus. Jaya mengusapnya lembut, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya sendiri.

"Papi baru aja memperbarui reservasi tiket penerbangan buat lusa, Nak," bisik Jaya, suaranya parau menahan tangis yang mengganjal di tenggorokan. 

"Satu kali ini aja... turuti kemauan Papi, ya? Papi mohon, Waf. Papi enggak sanggup kalau cuma diam lihat kamu kayak gini."

Wafa menatap Papinya lekat-lekat. Pria yang selama ini menjadi sosok paling tegar di matanya kini tampak begitu rapuh dan kelelahan. Wafa perlahan meremas balik tangan Papinya.

"Pih..." panggil Wafa lirih, suaranya terputus-putus oleh hembusan napas yang berat. "Sayang uangnya... Tiketnya hangus terus, kan?"

"Papi enggak peduli soal uang, Wafa! Mau Papi jual rumah ini pun Papi bakal lakukan asal kamu mau sembuh!" tegas Jaya, air mata yang ia tahan sejak masuk kamar akhirnya menetes membasahi pipinya.

Wafa menggeleng pelan. "Wafa tahu Papi mampu... Tapi Wafa udah enggak mampu, Pih."

Wafa mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar. "Satu tahun belakangan ini, Wafa udah capek banget bertarung sama sakit ini. Wafa tahan-tahan demi Papi, demi Lily, Bang Owen, Bang Rafa, sama Ell. Tapi tubuh Wafa udah ngasih sinyal kalau dia udah enggak kuat lagi..."

"Wafa..." bisik Jaya, runtuh sepenuhnya. Ia menundukkan kepala, menyatukan keningnya dengan tangan Wafa yang dingin.

"Pih, jangan dipaksa lagi ya?" pinta Wafa tulus. Sebuah lelehan air mata jernih mengalir dari sudut matanya yang memerah. "Wafa cuma mau di sini. Wafa cuma mau habiskan sisa waktu Wafa kumpul sama kalian, bukan di dalam ruang operasi atau kamar rumah sakit yang baunya obat semua..."

Keheningan melingkupi mereka berdua selama beberapa menit, hanya diiringi suara isakan pelan Jaya dan helaan napas Wafa yang tersendat-sendat. Jaya akhirnya menyadari, menahan Wafa lebih lama dengan cara yang membebani fisik dan mental anaknya justru merupakan sebuah kekejaman.

"Maafin Papi ya, Nak..." ujar Jaya parau seraya mengusap air matanya. "Papi gagal jaga kamu... Papi gagal gantikan posisi Mami buat jaga kamu..."

"Papi enggak pernah gagal," pangkas Wafa cepat. "Papi orang tua terbaik buat Wafa. Makanya... Wafa mau minta satu hal lagi sama Papi."

"Apa, Sayang? Sebutin apa aja, Papi bakal kabulin," sahut Jaya bergegas.

Wafa mengulas senyum paling hangat yang ia miliki. "Besok sore... kasih tahu Ell soal keadaan Wafa ya, Pih?"

Dahi Jaya berkerut cemas. "Kamu yakin? Ell masih kecil banget, Waf..."

"Ell harus tahu, Pih," bisik Wafa yakin. "Ell anak pinter. Wafa enggak mau kalau nanti Wafa pergi tiba-tiba, Ell malah bingung dan nungguin Wafa pulang. Lagian... Wafa mau pamitan secara baik-baik sama si bontot."

Jaya memejamkan matanya rapat-rapat, mengangguk pasrah seraya mengecup dahi putra ketiganya itu dengan penuh kasih sayang seorang ayah. "Iya... Besok Papi kasih tahu Ell."

End

"LILY, BURUAN!" teriak Wafa dari ruang tengah, menyuarakan panggilan yang memenuhi penjuru rumah.

"Iya-iya, sebentar!" balas Lily dari dalam kamar.

Gadis itu bergegas merapikan catatannya lalu berlari kecil menuju ruang tengah. Sore ini, ia sudah berjanji untuk menemani Wafa dan Ell belajar bersama di meja rendah dekat karpet.

"Kak Lily, PR Ell banyak banget hari ini..." keluh Ell seraya meregangkan kedua tangan kecilnya lebar-lebar ke udara, memasang raut wajah sangat tertekan.

Melihat tingkah gemas adik bontotnya itu, Lily tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia mendudukkan diri di samping Ell, lalu membagikan perhatiannya membantu Ell memahami perkalian dan membimbing Wafa mengurai rumus-rumus Kimia.

Melihat Wafa yang begitu tenang dan fokus mencoret-coret lembar jawabannya, dada Lily berdesir hangat.

'Mih... sekarang Wafa udah rajin belajar. Pasti di sana Mami bangga banget lihat Wafa,' batin Lily tersenyum tipis.

"Widih! Rajin-rajin banget sih adik-adik Abang sore ini," celetuk sebuah suara dari belakang.

Rafa melangkah mendekat, lalu dengan penuh kasih mengusap kepala Wafa, Lily, dan Ell satu per satu.

"Lah, gue mah emang rajin dari dulu!" sahut Wafa penuh percaya diri, menyunggingkan cengiran khasnya. Rafa hanya mampu tersenyum tipis merespons seloroh adiknya itu.

Rafa kemudian mengambil posisi duduk melantai di sebelah Ell. "Ell..." panggilnya lembut.

Ell mendongak dari buku tulisnya. "Kenapa, Bang?"

Rafa menatap mata jernih adik bontotnya itu cukup lama. Tenggorokannya terasa begitu sempit. "Abang mau ngomong sesuatu sama Ell..."

"Mau ngomong soal apa, Bang?" tanya Ell polos.

Rafa menarik napas panjang yang terasa membakar dadanya. "Jadi... sebenarnya Bang Wafa sakit, Ell. Bang Wafa sebentar lagi bakal susul Mami ke surga. Jadi mulai sekarang... Ell harus turutin semua kata Bang Wafa ya?" bulir air mata Rafa mendadak menetes begitu saja membasahi pipinya.

Ell mengerutkan dahi kebingungan. Ia bergantian menatap Rafa, Wafa, dan Lily dengan tatapan penuh tanya, berharap ucapan abangnya hanyalah lelucon sore hari.

Lily mengulas senyum paling tipis yang amat rapuh, lalu merangkul bahu Ell rapat-rapat. "Bang Wafa bakal pergi untuk selama-lamanya, Ell... Kita enggak bisa bertemu sama Bang Wafa lagi di sini," jelas Lily, tak sanggup lagi menahan tangisnya yang seketika pecah.

"Bang Wafa bakal mening..." Ell menghentikan kalimatnya. Wajah kecilnya mendadak kaku seolah ia baru saja menyadari makna tersembunyi dari kata-kata itu.

Lily dan Rafa mengangguk pelan dengan mata yang memerah dan basah. Sementara itu, Wafa hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata adik kecilnya.

"Enggak... Nggak boleh! Bang Wafa nggak boleh pergi!" tangis Ell pecah seketika.

"KALAU BANG WAFA PERGI, ELL NANTI MAIN SAMA SIAPA?! JANGAN PERGI, BANG!!" teriak Ell histeris, suaranya menggelegar memecahkan keheningan rumah.

Di sudut dekat dapur, Jaya yang menyimak percakapan anak-anaknya hanya bisa terpaku membisu. Wajah paruh bayanya sudah dipenuhi lelehan air mata yang tak kunjung berhenti.

"Ell... kan masih ada Bang Rafa, Bang Owen, sama Kak Lily," puji Rafa mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri sudah parau tercekik rasa sakit.

"NGGAK! ELL NGGAK MAU!!" jerit Ell menolak keras. Anak kecil itu melompat dan langsung memeluk tubuh Wafa erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada abangnya. "Ell enggak akan biarin Mami ambil Bang Wafa!"

Wafa mengusap lembut kepala Ell yang bersandar di dadanya. "Ell enggak kasihan sama Mami? Dari dulu Mami kan sendirian di sana... Kalau Abang nyamperin Mami, Mami pasti bakal seneng banget punya temen..."

"Nggak! Nggak boleh!" rintih Ell makin erat memeluk Wafa. "Bang Wafa harus tetap di sini! Sama Ell, sama Papi, sama Bang Rafa, sama Kak Lily juga!"

Lily tak sanggup lagi berdiri kokoh. Ia meluruh dan ikut melingkarkan tangannya memeluk tubuh Wafa dari samping. Rafa yang tak bisa membendung lagi rasa kehancurannya pun ikut merengkuh kedua adiknya itu.

Ell terus menangis sesenggukan, jemari kecilnya mencengkeram kuat kaus seragam yang dikenakan Wafa. Tangisan Histeris si bungsu seolah merubuhkan seluruh dinding kebohongan yang selama ini dibangun rapat-rapat di rumah itu.

Jaya melangkah perlahan dari sudut ruangan. Langkah kakinya terasa amat berat. Pria paruh baya itu menjatuhkan kedua lututnya ke atas karpet, lalu melingkarkan lengan besarnya merengkuh Wafa, Ell, Lily, dan Rafa sekaligus dalam satu pelukan hangat keluarga. Tangis Jaya pecah tanpa suara.

Bahunya bergetar hebat saat merasakan betapa makin kurusnya tubuh Wafa di balik dekapan mereka.

"Papi..." bisik Ell di antara isakannya, wajahnya basah kuyup oleh air mata. 

"Papi... bilang sama Bang Wafa, jangan pergi... Papi punya uang banyak kan? Papi beliin obat yang banyak buat Bang Wafa biar cepat sembuh..."

Jaya tak sanggup menjawab. Setiap kepolosan yang keluar dari mulut si bungsu bagaikan sembilu yang menancap makin dalam di dadanya. Jaya hanya sanggup makin mengeratkan pelukannya, menekan keningnya di puncak kepala Wafa seraya membisikkan kata maaf berkali-kali tanpa suara.

"Ell..." panggil Wafa lirih. Ia mengusap pipi Ell yang basah. "Dengerin Abang ya... Abang pergi bukan karena Abang mau, tapi karena tubuh Abang udah enggak sanggup lagi. Dada Abang sakit terus tiap malam... Abang capek, Ell..."

Ell menggelengkan kepalanya kuat-kuat, matanya memerah menatap wajah abangnya yang amat pucat. "Tapi Ell takut... Nanti Ell kangen sama Bang Wafa..."

"Kalau Ell kangen... Ell bisa sebut nama Abang di dalam doa," bisik Wafa tersenyum tulus, suaranya makin terputus-putus. "Ell juga bisa ngobrol sama Kak Lily, Bang Rafa, Bang Owen, atau Papi. Mereka semua bakal selalu ada buat Ell."

Lily membenamkan wajahnya di leher Wafa, menyerap aroma tubuh adiknya yang amat familiar. Air matanya menetes meresap ke dalam kain baju Wafa. 'Tolong... siapapun, kembalikan adik gue...' jerit Lily dalam hatinya yang paling dalam, menjerit pada ketidakberdayaan takdir.

Tak lama kemudian, suara pintu depan terbuka tergesa-gesa. Owen yang baru saja mengurus izin cuti kuliahnya terpaku di ambang ruang tengah. Pemandangan di depannya seluruh keluarganya yang saling merengkuh dalam derai air mata di atas karpet membuat pertahanan yang ia bangun sepanjang hari hancur tanpa sisa.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Owen menjatuhkan tas punggungnya begitu saja ke lantai. Ia berlari kecil, meluruhkan dirinya di atas karpet dan melingkarkan kedua lengannya, menyatu dalam pelukan besar itu.

"Abang di sini, Waf..." bisik Owen dengan suara parau menahan raungan. "Kita semua di sini... sama kamu."

Di tengah lingkaran pelukan hangat keluarganya, Wafa perlahan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menanggung penyakit dan rasa takut sendirian, ia merasakan kedamaian yang luar biasa. Tidak ada lagi rasa sakit di dadanya, tidak ada lagi rasa bersalah.

"Makasih ya..." bisik Wafa sangat pelan, sebaris air mata jernih mengalir lembut di sudut matanya yang terpejam. "Makasih udah mau jadi keluarga Wafa..."

Sore itu, di ruang tengah yang penuh dengan lembaran soal dan balok Lego, mereka tidak lagi membicarakan tentang obat atau rumah sakit. Mereka hanya saling memeluk rapat, menyimpan setiap detik kehangatan yang tersisa untuk dijadikan kenangan yang abadi.

1
Wawan
Salam kenal untuk Lily 💪✍️
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!