Indonesia
NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 28, Rahasia

"Jangan."

Terlambat, Jeevan sudah membuka Instagram. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.

Di layarnya terpampang sebuah video, Anna.

Perempuan itu terlihat duduk bersama Sherly dan Irene di sebuah rooftop. Api panggangan menyala di depan mereka. Asap tipis menari bersama angin malam. Ada makanan yang tersusun di meja tempat duduk mereka, suara musik yang samar, dan tawa tiga perempuan yang terdengar begitu ringan.

Anna tertawa.

Bukan senyum terpaksa. Bukan pula ekspresi seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan kesedihan.

Jeevan memandangi layar itu cukup lama. Sementara Abimanyu hanya bisa memperhatikan perubahan wajahnya.

"Dia bahagia," bisik Jeevan.

Abimanyu tidak menjawab.

"Dia kelihatan bahagia." Lelaki itu menelan ludah, "setelah pergi dari aku..." jempolnya berhenti di atas layar. "Dia bisa ketawa seperti itu."

Ada luka yang tak mengeluarkan darah, tetapi mampu membuat dada terasa seperti diremas dari dalam.

Jeevan tersenyum tipis.

Senyuman yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. "Mungkin aku memang nggak penting."

"Jeevan." Panggil Abimanyu.

"Mungkin selama ini cuma aku yang menganggap pernikahan itu rumah."

Suaranya pecah.

"Jangan menyimpulkan sesuatu hanya dari sosial media." Kata Abimanyu mengingatkan.

"Tapi dia bahagia, Bi." Selanya.

"Orang bisa tertawa meskipun sedang terluka." Abimanyu melipat jemarinya di atas meja. " Karena kamera cuma merekam beberapa detik dari hidup seseorang."

Jeevan terdiam.

Tatapannya kembali jatuh pada wajah Anna di layar. Perempuan yang selama lima tahun selalu ia temukan di rumah. Perempuan yang dulu menunggunya pulang. Perempuan yang pernah membuat apartemen itu terasa seperti tempat paling nyaman di dunia.

Kini hanya tersisa di sebuah layar kecil.

Dan anehnya, jarak beberapa sentimeter antara dirinya dengan ponsel terasa jauh lebih mustahil di tempuh daripada jarak ribuan kilometer.

"Aku masih cinta sama dia, Bi."

Pengakuan itu akhirnya keluar.

Pelan.

Jujur.

Tanpa pertahanan.

Abimanyu menatap sahabatnya dengan dada sesak. Jeevan menundukkan kepala, lalu kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya bergerak.

Tangisan tidak keras, tidak pula dramatis. Hanya suara napas yang patah-patah, seperti seseorang yang terlalu lama menahan banjir hingga tanggul terakhirnya akhirnya runtuh.

Abimanyu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandangi dan menemani Jeevan yang menangis. Sebab terkadang, seorang sahabat tidak perlu membawa jawaban.

Cukup tinggal.

Cukup menjadi saksi bahwa ketika dunia terasa terlalu sepi, masih ada seseorang yang bersedia duduk di sampingnya.

Malam terus berjalan.

Di luar sana, Jakarta tetap sibuk dengan cahaya dan deru kendaraan yang tidak pernah benar-benar tidur.

Namun di dalam apartemen itu, seorang lelaki sedang belajar menerima kenyataan yang paling pahit dalam hidupnya:

Bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti mampu membuatnya tetap tinggal.

...🌴🌴🌴...

 Satu hari berlalu...

Pagi datang tanpa membawa banyak perubahan bagi Jeevan.

Lelaki itu tetap bangun dengan kepala berat dan tenggorokan kering. Sisa percakapan bersama Abimanyu semalam masih berputar-putar di benaknya seperti rekaman yang tidak memiliki tombol berhenti. Kalimat-kalimat yang terlontar ketika kesadarannya dikuasai alkohol terasa memalukan, tetapi tidak ada satu pun yang ingin ia tarik kembali.

Ia memang masih mencintai Anna.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Jeevan mulai menyadari bahwa selama lima tahun pernikahan mereka, terlalu banyak hal yang ia anggap baik-baik saja hanya karena Anna tidak pernah benar-benar mengeluh.

Menjelang siang, sebuah keputusan muncul begitu saja.

Jeevan pergi ke Kepulauan Seribu, di sanalah tempat kedua orang tua mertuanya tinggal.

Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah tas kecil, dompet, dan penyesalan yang rasanya jauh lebih berat daripada apa pun yang berada di dalam koper.

Setidaknya ia ingin meminta maaf. Bukan sebagai suami yang berharap mendapatkan pembelaan. Ia hanya ingin berdiri di hadapan kedua orang tua perempuan itu dan mengatakan bahwa dirinya gagal membuat Anna bahagia.

Perjalanan teras panjang meskipun Jeevan hampir tidak memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Laut terbentang luas dengan warna biru yang perlahan berubah mengikuti pantulan matahari. Angin asin menyentuh wajahnya, tetapi tidak cukup untuk mengusir sesak yang sejak kemarin menetap di ada.

Ketika akhirnya sampai di rumah orang tua Anna, matahari mulai condong ke barat.

Rumah itu sederhana.

Tidak selalu besar, tetapi terawat. Beberapa pot tanaman berjajar di depan teras. Tirai tipis bergerak mengikuti hembusan angin dari jendela yang terbuka.

Jeevan berdiri beberapa saat di dalam pintu.

Tangannya mengepal.

Ia menarik napas panjang, kemudian mengangkat tangan untuk mengetuk. Namun sebelum buku jarinya menyentuh permukaan kayu, suara dari dalam membuat gerakannya terhenti.

"Jadi sekarang kamu mau bercerai?"

Suara perempuan, suara yang ia kenal: ibu Anna. Ibunya yang dulu sempat hampir tidak menerima lamaran dirinya karena Anna dan Jeevan memilih menikah tanpa sebuah acara besar seperti orang lain. Dengan alasan ekonomi, ibunya Anna cukup mengatakan lantang kepada kedua orang tuanya di rumah makan saat mereka pertama kali mempertemukan kedua orang tua masing-masing.

"Saya tidak mau menikahkan putri kami dengan cara seperti itu."

Namun pada akhirnya ayahnya Anna lah yang kembali mengendalikan semuanya. Bertanya kepada Anna dengan hati-hati, lalu kedua orang tuanya yang siapa akan mengadakan acara seperti biasanya, namun Anna tetap teguh pendiriannya.

Jeevan perlahan menurunkan tangannya. Ia tidak berniat untuk menguping--sungguh. Tetapi suara itu terdengar terlalu jelas dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.

"Aku sudah bilang, Bu."

Suara Anna terdengar bergetar. "Aku dan Mas Jeevan sudah sepakat."

"SEPAKAT?!"

Nada ibunya meninggi.

"Enak sekali kamu bicara soal sepakat! Kamu pikir pernikahan itu permainan?"

Jeevan membeku.

Dari celah pintu, ia dapat mendengar suara kursi bergeser.

"Sudah lima tahun kamu menikah, Anna! Lima tahun! Lalu sekarang tiba-tiba kamu bilang mau bercerai?"

"Aku nggak tiba-tiba, Bu." Kata Anna serak.

"Kalau bukan tiba-tiba, kenapa baru sekarang?"

Hening sejenak.

Kemudian suara ibunya kembali terdengar.

"Sejak dulu kamu memang selalu seperti ini. Waktu kuliah, ibu dan ayah sudah susah payah mengarahkan kamu. Kamu malah memilih sastra. Untung kamu pintar, sampai bisa lulus dari universitas Indonesia dengan predikat cumlaude."

Jeevan mengerutkan kening.

"Tapi setelah itu apa yang kamu lakukan?"

Suara tersebut semakin tajam.

"Kamu malah resign dari pekerjaanmu dan memilih menikah!"

Jeevan menahan napas.

Di dalam rumah, terdengar suara ayah Anna yang sangat pelan.

"Sudahlah..."

Namun sang ibu tidak menghiraukannya.

"Kamu pikir ibu dan ayahmu tidak kecewa waktu itu?"

"Ibu..."

"Kamu punya masa depan, Anna!"

"Aku tahu..."

"Tapi kenapa kamu buang semuanya?!"

"Aku tahu, Bu!"

"Dan sekarang kamu malah menghancurkan sendiri pernikahanmu sendiri!"

Kalimat itu seperti cambuk. Jeevan memejamkan mata.

Apa yang harus ia lakukan? Apakah harus mengetuk pintu rumah itu? Atau lebih baik pergi? Benar! Seharusnya ia memberikan privasi kepada keluarga Anna, namun kakinya seolah berakar pada lantai.

Lalu terdengar suara benda diletakkan cukup keras.

"Aku gak menghancurkan apa pun."

Suara Anna terdengar lebih tegas. "Aku cuma ingin menyelamatkan diri aku sendiri."

"Selamatkan diri dari apa?"

Anna tidak langsung menjawab.

Hening.

Kemudian ibunya berkata lagi dengan suara yang lebih rendah, tetapi justru terasa lebih menusuk.

"Jangan bilang kamu sekarang menyalahkan pernikahanmu."

"Nggak."

"Lalu?"

Anna menarik napas panjang. "Aku sakit, Bu."

Jeevan membuka matanya, sesuatu di dalam dadanya seperti berhenti.

"Apa?" tanya ibunya lagi.

"Aku sakit." Suara Anna kali ini terdengar lebih keras. "Aku sudah lama sakit."

Ibunya terkekeh tidak percaya. "Memangnya kamu sakit apa?"

Anna diam beberapa detik.

Lalu kalimat berikutnya membuat dunia Jeevan seolah kehilangan suara.

"Aku depresi."

Jeevan membeku, benar-benar membeku. Tangannya yang tadi hendak mengetuk pintu perlahan turun ke sisi tubuh.

Depresi.

Hanya satu kata, namun mendadak segala sesuatu tentang Anna selama beberapa bulan terakhir seperti kepingan puzzle yang jatuh berserakan di dalam kepalanya.

Tatapan kosong Anna, kelelahan perempuan yang sering kali ia abaikan, lalu mengeluh sakit kepala dan selalu terbangun dengan dada sesak.

"Jangan mengada-ada!" teriak ibunya. "Kamu tidak mungkin depresi!"

"AKU MEMANG DEPRESI, BU!" teriak Anna pada akhirnya memecahkan rumah itu.

"TIDAK!" sahut ibunya kembali lantang, tidak terima kenyataan apa yang di alami putrinya.

"Ibu tidak bisa menentukan aku sakit atau tidak!" ucap Anna lagi.

"Kamu anak ibu. Ibu tahu kamu."

Anna terkekeh. "Tahu?" tanya Anna getir, kali ini air mata semakin beruraian. "Tahu tentang aku bagaimana? Ibu tahu kenapa aku memilih resign dari kantor itu?"

"Karena kamu memilih menikah!" tegasnya lagi.

Anna memalingkan wajahnya, menghapus air matanya cepat dengan ujung jemarinya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian yang memalukan tersebut.

"Kamu lulus dari Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude. Kamu punya kemampuan, kamu punya masa depan, Anna!" tegas ibunya lagi.

"Apa hubungannya dengan sakit yang aku derita, Bu?" tanya Anna kali ini terdengar pasrah.

"Orang seperti kamu tidak mungkin depresi!"

Anna mengeluarkan tawa kecil namun terdengar begitu getir. "Jadi, orang pintar nggak boleh sakit?"

Tidak ada jawaban.

"Kalau aku pintar, aku bakal kebal begitu?" suara Anna tetap tenang. "Kalau aku bisa lulus dengan nilai bagus, berarti aku gak boleh hancur?"

"Lihat kakakmu! Dia bisa beli tempat tinggal karena dia lebih fokus ke kariernya dulu dari pada menikah! Dan sekarang, dia cukup bahagia bersama keluarganya. Kamu harusnya mencontoh kepada kakakmu, dan kamu memberikan contoh kepada adikmu!"

"Ibu selalu membahas aku yang selalu memilih menikah. Ibu tahu alasannya? Aku menikah karena ingin ada orang yang melindungi aku! Kenapa aku berhenti menulis? Karena atasanku sendiri melecehkan aku, Bu!" tegas Anna pada akhirnya.

Rahasia yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan dari siapa pun akhirnya terbuka.

Jeevan yang mendengar kalimat Anna tertegun, kata "Melecehkan" membuat dadanya gemuruh, tangannya mengepal. Pantas saja, di awal pernikahan Anna selalu menolak nalurinya sebagai pria dewasa.

"Apa? Kak Anna di lecehkan?" tanya adiknya yang memang ada di sana.

Anna menangis diam, ibunya duduk lunglai di atas sofa setelah mendengar rahasia itu.

"Jadi apa salahnya kalau Anna sakit, Bu?" tanyanya serak.

Pertanyaan itu perlahan menghantam Jeevan lebih keras daripada tuduhan apa pun. Ia menatap pintu di hadapannya, selama ini ia mengira Anna pergi karena sudah tidak mencintainya lagi.

Ia mengira perempuan itu memilih perceraian karena tidak bahagia bersamanya. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, Jeevan melihat kemungkinan yang jauh lebih menyakitkan.

Mungkin selama ini Anna tidak sedang menjauh darinya. Mungkin perempuan itu sedang tenggelam, dan dirinya tidak pernah menyadarinya.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu.

Jeevan tersentak.

Pintu itu terbuka dan...

...🌴🌴🌴...

Apa yang terjadi?

Tunggu bab selanjutnya 🫶

...BERSAMBUNG...

1
Emily
wajah 4 tokoh lelaki orang yg sama
💞Putri Chania💞
lanjut Thor..sampai ada sesi penyembuhan nya ya.bagus ceritanya..
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!