Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemakaman

Zevanna perlahan membuka kedua matanya. Ia terbangun dari tempat tidur dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemas dan dada yang sesak sejak semalam.

Ia mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan kirinya. Jam tangan hitam pemberian Zoyya masih melingkar manis di sana.

Kata-kata sang kakak saat memberikan jam ini semalam kembali terngiang jelas di kepalanya.

"Jadi... ini maksud Kakak kasih aku jam tangan ini?" gumam Zevanna lirih, mengelus permukaan kaca jam tersebut.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu kamar memecahkan keheningan.

"Zevanna, bangun, Nak," panggil Liona dari balik pintu dengan suara serak.

Zevanna menoleh ke arah pintu. "Iya, Ma."

"Cepat mandi ya. Pagi ini kita harus memakamkan jasad kak Zoyya," ucap Liona melanjutkan.

Zevanna tersentak mendengar kata 'memakamkan'. Lidahnya mendadak kaku.

"Makamin...?" lirihnya.

"Zevanna? Kamu lagi apa? Cepat mandi ya, habis itu turun ke bawah. Di bawah udah banyak kerabat yang dateng," ujar Liona lagi.

Zevanna berusaha menguasai dirinya. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya. "Iya, Ma. Ini aku mau mandi kok."

Langkah kaki Liona perlahan terdengar menjauh.

Zevanna menghela napas panjang, bangkit berdiri dari kasur, lalu melangkah lesu menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Zevanna selesai membersihkan diri dan berganti pakaian serba hitam. Ia menyisir rambutnya sebentar, lalu melangkah turun menuju lantai bawah.

Suasana ruang tamu sudah sangat ramai. Keluarga besar, tetangga, dan beberapa kerabat dekat tampak sudah berkumpul mengelilingi ruang tengah. Bisik-bisik dari orang-orang di sekitar langsung terdengar di telinga Zevanna.

"Eh, kok bisa ya dia meninggal mendadak gitu?"

"Nggak tau juga. Katanya sih jatuh di kantor.”

"Masa sih? Padahal dia anak yang baik dan penurut banget, ya."

Zevanna menghentikan langkahnya sejenak, mendengarkan bisik-bisik itu dengan raut datar. Rasanya aneh. Ia sama sekali tidak percaya kalau kak Zoyya bisa meninggal cuma gara-gara jatuh.

Zevanna berjalan mendekati kedua orang tuanya yang sedang duduk bersandar di sofa dengan wajah sembap.

"Ma, Pa... Aku mau nanya sesuatu," tutur Zevanna pelan tapi tegas.

Liona dan Yovandra mendongak menatap anak bungsunya.

"Sebenarnya apa yang terjadi sebelum Kak Zoyya meninggal? Dan siapa orang yang pertama kali nemuin Kak Zoyya?" tanya Zevanna menatap intens kedua orang tuanya.

Liona mengusap matanya yang basah. "Mama juga nggak tau pasti apa yang terjadi sebelumnya, Zev... Katanya kakak kamu jatuh di toilet kantor."

Zevanna mengerutkan keningnya. "Jatuh di toilet?”

Yovandra mengangguk pelan, menyela dengan suara berat. "Iya. Kata karyawan kantor yang nemuin, Kakak kamu jatuh di toilet sampai nggak sadarkan diri. Terus karyawan itu telepon Papa dan bantu bawa Kakak kamu pulang ke rumah. Tapi... pas sampai rumah, Kak Zoyya ternyata udah nggak ada."

Zevanna terdiam kaku. Ia mencoba mencerna perkataan papanya. Tapi Zevanna merasa ada yang aneh.

Siapa karyawan yang menemukan Kak Zoyya? Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit dulu? Dan yang paling bikin dia penasaran, dari mana goresan di lengan Kak Zoyya?

Melihat Zevanna diam melamun, Liona memegang lembut tangan anak bungsunya itu. "Zevanna... kamu ikhlasin Kak Zoyya ya, Nak. Biar Kakak kamu tenang di alam sana."

Zevanna menatap mamanya, lalu memaksa senyum tipis. "Iya, Ma. Aku bakal ikhlasin Kak Zoyya."

Arak-arakan pemakaman bergerak menuju TPU. Zevanna, Liona, Yovandra, beserta rombongan keluarga mengantarkan jasad Zoyya ke peristirahatan terakhirnya.

Di depan liang lahat yang baru digali, Zevanna menatap jasad kakaknya untuk yang terakhir kali. Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar. Ia masih nggak percaya kak Zoyya benar-benar sudah pergi.

Tanah perlahan menutupi jenazah Zoyya. Setelah proses penguburan selesai dan papan nisan ditancapkan, Zevanna melangkah maju. Tangannya yang bergetar menaburkan bunga-bunga segar di atas gundukan tanah yang masih basah itu.

Zevanna kemudian berjongkok di samping makam dan mengusap pelan batu nisan bertuliskan nama—Zoyya Fiorellia Oliver.

"Kak... yang tenang ya di sana," lirih Zevanna dengan suara serak. "Maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi adik yang baik buat Kakak. Makasih untuk semuanya ya, Kak... Aku bakal kangen banget sama Kakak yang selalu setia dengerin cerita curhat aku."

Liona yang berdiri di belakangnya menyentuh lembut pundak Zevanna. "Ayo, Sayang... kita pulang. Jangan sedih terus, biar Kak Zoyya tenang di sana."

Zevanna mengusap sudut matanya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ma." Ia bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan area pemakaman bersama keluarganya.

Sesampainya di rumah dan setelah suasana sedikit sepi, Zevanna tidak langsung menuju kamarnya sendiri. Ia memilih melangkah ke kamar Kak Zoyya.

Ceklek.

Zevanna mendorong pintu kamar kakaknya. Aroma parfum khas Zoyya masih tercium jelas di dalam ruangan itu. Zevanna berjalan mendekati meja kerja kakaknya.

Ia membuka lemari, memeriksa laci meja, dan menggeledah beberapa tumpukan berkas milik Zoyya.

Zevanna menemukan sebuah map dokumen tebal. Dengan cepat, ia meraih map itu dan membuka lembar demi lembar isinya.

Zevanna membaca setiap baris kalimat di dalamnya dengan teliti. Namun, nggak ada satu pun yang terlihat mencurigakan. Semua hanya dokumen pekerjaan Zoyya sebagai sekretaris.

Zevanna menghempaskan map itu kembali ke atas meja, lalu mengusap wajahnya frustrasi.

"Sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Zoyya di kantor Verion Group...?”

***

Sementara itu, di London, suasana di dalam ruang kerja yang megah dan dingin terasa begitu hening.

Ravenzo Verion Ganendra sedang duduk di balik meja kerjanya sambil memeriksa beberapa dokumen di layar laptop.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar.

“Masuk,” ucap Ravenzo tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

Pintu terbuka. Arvin masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.

“Rav, ini ada dokumen dari kantor pusat Jakarta yang harus segera lo tanda tangan," ujar Arvin sambil berjalan mendekati meja.

Ravenzo mengangkat pandangannya. "Dokumen apa?"

"Beberapa urusan perusahaan di Jakarta udah selesai. Tinggal nunggu tanda tangan lo aja." Arvin meletakkan dokumen tersebut di atas meja Ravenzo.

Ravenzo mengambil salah satu berkas dan membacanya sekilas. "Kalau gitu bagus. Gue juga udah selesaiin semua urusan di sini.”

Arvin mengangguk. "Berarti lo jadi balik ke Indonesia?"

"Iya. Tiga hari lagi gue balik."

Arvin langsung tersenyum lega. "Akhirnya balik juga lo. Gue kira lo mau menetap di London."

Ravenzo mendengus kecil. "Ngapain gue menetap di sini? Gue masih punya perusahaan yang harus gue urus di Indonesia."

"Terus penerbangannya udah diatur?"

"Belum. Nanti lo atur."

Arvin mengangguk. "Oke. Gue urusin sekarang."

Arvin mengambil kembali beberapa dokumen yang sudah ditandatangani Ravenzo.

Sebelum keluar, Arvin sempat menoleh. "Oh iya, Rav."

"Apa?"

"Pas lo balik nanti, jangan langsung kerja terus. Sesekali keluar juga. Lo tuh hidupnya kerja mulu."

Ravenzo menatap Arvin datar. "Gue balik buat kerja, bukan buat jalan-jalan."

Arvin terkekeh. "Yaudah, terserah lo."

Arvin kemudian keluar dari ruangan dan menutup pintu.

Ravenzo kembali menatap layar laptopnya. Setelah beberapa saat, ia menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Tiga hari lagi..." gumamnya pelan.

Ravenzo bersandar di kursinya, menghela napas pendek lalu mengalihkan pandangannya menatap ke luar jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota London.

"Indonesia... I'm coming," gumam Ravenzo dingin.

***

Kembali ke rumah keluarga Oliver, Zevanna sedang duduk melamun di tepi ranjang kamar Kak Zoyya. Otaknya kembali memutar memori kejadian semalam, terutama luka goresan merah di lengan kakaknya.

"Perasaan kemarin pas Kak Zoyya mau berangkat kerja, lengannya mulus-mulus aja. Nggak ada goresan apa-apa," gumam Zevanna menautkan jemarinya. "Terus kenapa pas meninggal tiba-tiba ada goresan dalam kayak gitu?”

Zevanna menggeram pelan. "Terus kata Mama sama Papa, dia meninggal gara-gara jatuh di toilet? Nggak masuk akal! Gue nggak bakal pernah percaya kalau Kak Zoyya meninggal murni cuma karena jatuh di toilet!"

Zevanna mengangkat tangan kirinya. Ia menatap lekat-lekat jam tangan hitam pemberian Zoyya yang melingkar riang di pergelangan tangannya.

Tatapan Zevanna berubah serius. Ia sudah mengambil keputusan.

"Kak... gue janji," gumam Zevanna dengan serius. "Gue bakal masuk dan kerja di perusahaan Verion Group! Gue bakal cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama lo!”

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!