Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33 Ingatan yang Kupilih
"Jangan bergerak."
Nathan berlutut di belakang Keira dengan kedua tangan di pinggangnya. Video fisioterapis diputar tanpa suara di tablet, menampilkan gerakan pijat sederhana untuk otot yang tegang.
"Kamu sudah bilang itu tiga kali," kata Keira.
"Karena kamu bergerak tiga kali."
"Tanganmu dingin."
Nathan menggosok kedua telapak sebelum menyentuhnya lagi. "Begini?"
"Lebih baik."
Tekanan jarinya tetap ringan dan berhenti setiap kali Keira menegang. Malam sebelumnya meninggalkan sedikit pegal yang belum hilang, tetapi pijatan perlahan membuat ototnya lebih longgar.
"Kalau sakit, bilang."
"Aku akan bilang."
"Jangan diam seperti pohon."
Keira menoleh. "Siapa yang menyebutku pohon?"
"Aku. Pohon yang kuat dan tidak bersuara saat terluka."
"Metaforamu aneh."
"Aku ahli teknologi, bukan penyair."
Setelah pijatan selesai, Nathan mencium sisi pinggangnya melalui kain kaus. Keira menahan napas sesaat, lalu berbalik dan menarik wajahnya naik. Kedekatan itu berlanjut tanpa kata-kata panjang, tetap dengan pertanyaan singkat dan jawaban yang jelas.
Kemudian mereka berbaring berdampingan. Nathan masih memandang Keira seolah sedang menyimpan setiap detail.
"Kamu ingat apa saja tentangku?" tanya Keira.
"Banyak."
"Contoh."
"Kamu tidak suka saus terlalu manis. Selalu memilih kursi yang bisa melihat pintu. Minum air hangat kalau gugup. Mengusap jempol ke sisi telunjuk saat menahan marah."
Keira melihat tangannya sendiri. Gerakan itu memang sedang ia lakukan.
"Kamu mengawasi terlalu banyak."
"Ingatan selektif."
"Apa yang kamu lupakan?"
Nathan berpikir. "Nama beberapa menteri. Kata sandi Wi-Fi rumah Ko Marcus. Ulang tahun Kevin."
"Tapi kamu ingat posisi tanganku?"
"Aku memilih mengingat semua tentangmu."
Jawaban itu terlalu lurus untuk ditertawakan. Keira menarik selimut sampai ke bahu dan memejamkan mata agar Nathan tidak melihat wajahnya menghangat.
"Itu terdengar manis dan sedikit menakutkan," katanya dari balik selimut.
"Bagian mana yang menakutkan?"
"Semua. Tidak ada manusia yang harus diingat sedetail itu."
Nathan tidak langsung membalas. Ia memahami bahwa ketelitian yang baginya merupakan kasih sayang bisa terasa seperti pengawasan bagi Keira. Jarak di antara dua hal itu tipis, terutama setelah apa yang dilakukan Fabian.
"Kalau ada hal yang tidak ingin kuingat atau catat, bilang," ujarnya. "Aku akan berhenti."
Keira menurunkan selimut. "Jangan simpan jadwal tubuhku tanpa izin. Jangan catat hal pribadi di server. Dan jangan memakai apa yang kamu tahu untuk memilihkan jawaban bagiku."
"Disetujui."
"Kamu boleh ingat aku tidak suka saus manis."
"Itu data penting."
"Kamu juga boleh ingat aku tidak suka dibangunkan sebelum alarm."
Nathan mengulurkan tangan dan mematikan alarm cadangan miliknya yang berbunyi sepuluh menit lebih awal. "Sudah diperbaiki."
Keira bergeser mendekat. Kepalanya berhenti di lekuk bahu Nathan. Untuk beberapa menit, mereka hanya mendengar napas satu sama lain.
"Aku juga ingat sesuatu tentangmu," katanya.
"Apa?"
"Kalau benar-benar khawatir, kamu berhenti memanggilku Ci."
Nathan tersenyum kecil di atas rambutnya. "Berarti kamu juga memilih mengingatku."
Keira tidak menyangkal.
Pagi berikutnya, kedekatan mereka kembali tumbuh di antara cahaya tipis dan suara kota. Kali ini Nathan sudah menyiapkan perlengkapan di laci. Seprai tahan air yang baru dibeli masih terlipat rapi di bawah tempat tidur, membuat Keira menatapnya dengan curiga.
"Kamu membelinya kapan?"
"Kemarin."
"Kenapa?"
"Mitigasi risiko untuk kasur."
"Jangan menyebutnya begitu."
Nathan menahan tawa dan kembali bertanya sebelum mendekat. Pagi itu berlangsung lambat, tanpa deskripsi yang perlu dibawa keluar dari kamar mereka.
Di dapur, Bi Surti pura-pura tidak melihat dua orang itu datang terlambat untuk sarapan. Ia hanya menambahkan telur ke piring Nathan dan sup hangat ke depan Keira.
Setelah pasangan itu masuk kamar untuk bersiap, ponselnya bergetar. Vivian menanyakan keadaan rumah, seperti biasa.
Bi Surti mengetik bahwa keduanya sehat, makan terlambat, dan tampak semakin akrab. Ia tidak menyampaikan detail pribadi. Andreas sudah menegaskan bahwa laporan hanya boleh menyentuh keselamatan dan kebutuhan rumah tangga.
Balasan Vivian datang cepat: Mereka punya cukup teman?
Bi Surti melihat tas Keira dan Nathan yang sudah disiapkan dekat pintu. Ia menjawab bahwa sore ini mereka pergi ke kompleks Nirwana untuk makan malam bersama Adrian dan Cindy.
Kekhawatiran keluarga Halim ternyata bukan soal hubungan mereka lagi. Hanya kehidupan sosial yang dinilai terlalu sempit.
Nathan turun membawa satu tas pakaian, satu tas berisi makanan ringan, dan sebuah kantong belanja yang sengaja ditutup rapat.
Keira memeriksanya. "Apa itu?"
"Perlengkapan menginap."
"Kita cuma makan malam."
"Rumah nomor tujuh milikku. Kalau malas pulang, kita tidur di sana."
Keira membuka kantong yang tertutup. Isinya terlalu banyak kontrasepsi untuk satu malam.
"Nathan."
"Aku belajar dari kesalahan kamar mandi."
"Kamu membawa satu kotak penuh."
"Aku suka cadangan."
Keira mengembalikan kantong itu ke tas dan menutup ritsleting dengan keras. "Bawa. Tapi jangan sampai Cindy melihat."
Nathan mengangkat tas dengan wajah puas. "Baik, Ci."
Mereka berangkat menuju Nirwana dengan pakaian senada, empat anjing yang belum mereka kenal menunggu di lingkungan yang sama, dan satu undangan makan malam yang ternyata akan menghadirkan lebih banyak orang daripada rencana awal.
Keira belum tahu bahwa salah satu tamu itu akan membawa wajah yang terasa samar-samar akrab, sementara Nathan sudah mengenal nama dan seluruh rahasia di belakang wajah tersebut.
Pertemuan itu akan menguji batas diam yang baru saja dipilihnya.