Indonesia
NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEASON 2. BAB 32 KAIN KAFAN DI KOS SELVI

Jam 03.16.

Aku terbangun dengan dada sesak. Lagi-lagi mimpi yang sama. Gapura Desa Bayunglencir. Kabut tebal. Dan 6 batu nisan kosong dengan nama kami berenam terukir di atasnya.

FARHAN. BIMA. MAYA. SINTA. RIKO. SELVI.

Tapi nama Farhan... darahnya sudah mengalir dari huruf F sampai habis.

Aku duduk di kasur. Keringat dingin membasahi punggung. Sudah 40 hari sejak kami kabur dari desa itu. 40 hari sejak pemakaman Farhan yang petinya kosong. Karena jasadnya ditemukan tergantung di pohon beringin dengan kain kafan melilit leher.

Aku pikir dengan pindah ke Kota Jambi, teror itu berhenti.

Ternyata tidak.

Tit. Tit.

HP di meja nakas bergetar. Bukan sekali. Tapi 5 kali berturut-turut.

Aku meraihnya dengan tangan gemetar. Jam 03.17.

Pesan dari nomor: +62 8xx-xxxx-xxxx

Isinya:

[1/6] FARHAN - LUNAS

[2/6] BIMA

[3/6] MAYA

[4/6] SINTA

[5/6] RIKO

[6/6] SELVI

"40 HARI SUDAH. WAKTUNYA MEMBAYAR SISA 5. JANGAN COBA KABUR."

Darahku berhenti mengalir.

Masih sisa 5.

Perjanjian Penunggu Gapura. 6 tumbal setiap 40 tahun. Farhan sudah jadi yang pertama di desa. Berarti sekarang... giliran kami yang di kota.

Sebelum aku sempat berteriak, pintu kos diketuk keras.

Duk. Duk. Duk.

"SELVI! BUKA!"

Itu suara Bima.

Aku langsung lari membuka pintu. Bima berdiri di depan dengan kaos dan celana pendek, rambut acak-acakan, wajah pucat seperti mayat.

"Baru dapet juga?" tanyanya napasnya tersengal.

Aku mengangguk sambil menunjukkan HP. "Dia ngikutin kita sampai sini, Bim..."

Bima masuk dan langsung mengunci pintu 3 kali. Menggembok. Mengganjal dengan kursi.

"Kita harus kumpulin yang lain. Sekarang. Maya, Sinta, Riko. Sebelum dia ambil satu-satu," kata Bima. Suaranya bergetar tapi dia berusaha tegar.

Aku mengangguk. "Aku telpon Maya dulu."

YANG PERTAMA DATANG

Pukul 04.00. Maya datang dengan taksi online.

Begitu pintu dibuka, aku langsung memeluknya. Tubuhnya dingin. Bajunya basah kuyup padahal di luar tidak hujan.

"Sel... sumpah aku takut," isak Maya. "3 malam ini aku mimpiin Farhan. Dia basah kuyup, matanya melot, terus narik tanganku ke sumur sambil bilang 'giliranmu, May. Giliranmu'."

Aku mengusap punggungnya. "Udah aman. Ada kita."

Tapi kata "aman" itu terasa kosong di mulutku sendiri.

Bima menuang air putih. "Kita tunggu Sinta sama Riko. Abis itu kita ke rumah Pak Ustadz Rahman. Dia satu-satunya yang ngerti soal ginian."

TANDA DI SINTA

Pukul 04.30. Sinta datang.

Tapi dia tidak masuk seperti biasa. Dia berdiri di depan pintu, memeluk dirinya sendiri, menggigil.

"Sin, masuk," ajakku.

Sinta menggeleng. Matanya merah. "Aku... aku gak bisa, Sel. Tiap aku mendekat ke kos kamu, aku denger suara gamelan. Dari bawah kasur kamu."

Bulu kudukku meremang.

Bima keluar dan menarik tangan Sinta. "Udah. Masuk."

Begitu Sinta masuk, dia langsung duduk di lantai dan menangis. "3 malam ini tiap jam 03.17, kasurku goyang sendiri. Kayak ada orang dewasa duduk di ujung. Terus aku kecium bau anyir. Bau tanah kuburan."

Riko datang paling akhir. Pukul 04.50.

Dia ojol. Helm masih di tangan. Tapi wajahnya hancur.

"Tadi malem," kata Riko dengan suara serak. "Aplikasiku nyala sendiri. Narik order ke Kuburan Talang Banjar jam 3 pagi. Pas aku sampe... gak ada orang. Cuma ada cewek berbaju putih KKN duduk di jok belakang motorku. Pas aku noleh ke spion, dia udah di belakangku. Bisik di telingaku: 'Anterin aku pulang ke gapura'."

Kami berlima terdiam.

Di luar, angin bertiup kencang. Padahal ini lantai 3. Jendela tertutup rapat.

Bima berdiri. "Udah. Kita gak bisa diem. Kita ke Pak Ustadz sekarang juga."

KAIN ITU

Sebelum berangkat, aku mau ke kamar ambil dompet dan kunci.

"Sebentar ya," kataku.

Begitu aku buka pintu kamar...

Lampu mati.

GLEDEK.

Suara berat. Seperti sesuatu yang dijatuhkan di atas kasur.

Jantungku copot.

"Kenapa Sel?" tanya Bima dari luar.

"Aku... aku cek dulu," jawabku pelan.

Dengan tangan gemetar aku nyalakan senter HP.

Dan di atas kasurku, tergelar rapi sehelai kain kafan putih.

Panjangnya seukuran tubuh manusia. Bersih. Baru. Tapi di ujungnya ada noda coklat. Darah kering.

Dan yang paling membuatku menjerit:

Di kain itu ada 6 jahitan benang hitam. Rapi. Seperti dijahit tangan.

Jahitan pertama, di bagian kepala... penuh darah kering. Menghitam.

Jahitan kedua, di bagian dada... mulai merembes. Merah. Basah.

3 jahitan lainnya masih bersih. Tapi basah oleh sesuatu yang lengket.

"APAAN ITU?!" Bima langsung masuk dan menyalakan lampu.

Begitu lampu nyala, kami semua melihatnya.

"ITU KAIN KAFAN!" teriak Maya. "PUNYANYA SIAPA?!"

Bima langsung menutup pintu dan mengunci dari dalam. Wajahnya pucat pasi. "Jangan sentuh. Itu... itu Kain Penanda."

"Penanda apa?" tanya Riko.

"Penanda siapa yang akan mati duluan," jawab Bima. "Di desa dulu, Pak Lurah Karjo pernah cerita. Kalau Penunggu Gapura mau nagih tumbal, dia akan kirim kain. 1 jahitan \= 1 nyawa. Yang berdarah duluan, dia yang diambil duluan."

Semua mata menatap jahitan kedua yang terus merembes darah.

Dan di HP Bima yang tergeletak di meja, layarnya menyala sendiri.

Nama "BIMA" bercahaya merah.

"BIMAAAA!" teriakku.

Bima mundur. "Enggak... enggak mungkin..."

KEDATANGAN PAK USTADZ

20 menit kemudian Pak Ustadz Rahman datang. Beliau langsung membaca Ayat Kursi begitu melihat kain itu.

"Innalillahi..." bisik beliau. "Ini Kain Penanda dari Penunggu Gapura. Artinya perjanjian sudah dimulai. Dia akan ambil sesuai urutan."

"Urutan apa, Pak?" tanya Sinta ketakutan.

Pak Ustadz menunjuk kain itu. "Lihat. 6 jahitan. Pertama Farhan. Sudah lunas. Kedua..."

Beliau menatap Bima.

Bima terduduk. "Aku..."

Belum selesai bicara, lampu kembali mati. Tapi kali ini tidak hidup lagi.

Dari kamar mandi terdengar suara air menetes. Tetes... tetes... tetes...

Padahal keran mati.

Dari jendela, terdengar suara menyeret. Tas... tas... tas... seperti kaki yang diseret di lantai.

"Dia datang," bisik Pak Ustadz. "Dia datang untuk yang kedua."

Jendela pecah.

Kaca berhamburan. Dan dari kegelapan itu, muncul sosok perempuan.

Baju putih KKN. Rambut panjang menutupi wajah. Lehernya ada tali tambang. Dan tangannya... memegang ujung kain kafan yang sama dengan yang di kasurku.

Itu Penunggu Gapura.

Dia tidak berjalan. Dia melayang. 10cm di atas lantai.

Dia menunjuk Bima. Jarinya panjang. Kukunya hitam.

Bima berdiri. "Jangan sentuh teman-temanku!"

Dia berlari ke arah sosok itu. Tapi tubuh Bima tiba-tiba terangkat. Seperti ada tali tak terlihat yang menarik lehernya ke atas.

"LEPASIN!" teriakku. Aku mau lari ke Bima.

"TIDAK!" Pak Ustadz menahanku. "Kalau kamu sentuh dia, kamu yang jadi ganti! Itu aturannya!"

Aku menangis. "Tapi Pak..."

KRETEK.

Suara yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Suara tulang leher patah.

Tubuh Bima jatuh. Tapi tidak ke lantai. Dia tergantung di kipas angin. Kain kafan itu sudah melilit lehernya. Rapi. Seperti sudah disiapkan dari dulu.

Matanya terbuka. Menatapku. Mulutnya terbuka seperti mau bilang sesuatu. Tapi yang keluar hanya darah.

Maya menjerit histeris. Sinta pingsan. Riko muntah di pojok.

HP semua orang bergetar bersamaan.

[1/6] FARHAN - LUNAS

[2/6] BIMA - LUNAS

[3/6] MAYA

[4/6] SINTA

[5/6] RIKO

[6/6] SELVI

"SISA 4. KUMPUL DI GAPURA DESA BAYUNGLENCIR JAM 12 MALAM. JIKA TIDAK, KAMI AMBIL PAKSA SATU PER SATU."

Aku jatuh terduduk. Lututku lemas.

"Kenapa... kenapa Bima..." isakku. "Dia yang paling kuat..."

Pak Ustadz memelukku. "Karena makhluk itu pilih yang paling berani dulu, Nak. Biar yang lain takut."

PERJALANAN KE GAPURA

Jam 11.30 malam. Kami 4 orang tersisa. Aku, Maya, Sinta, Riko.

Naik mobil Riko ke Desa Bayunglencir. Perjalanan 3 jam.

Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Hanya suara tangis Maya yang tertahan.

Di spion tengah, aku melihatnya.

Perempuan berbaju putih itu duduk di jok belakang. Tersenyum ke arahku. Di pangkuannya ada 4 helai kain kafan lagi. Sudah ada nama yang dijahit: MAYA. SINTA. RIKO. SELVI.

Aku berteriak. Riko langsung menoleh. "Ada apa?"

"Tidak ada," jawabku bohong. "Aku ngantuk."

Tapi tanganku gemetar memegang HP.

Jam 11.59. Kami sampai di gapura.

Gapura itu masih sama. Reot. Kayu lapuk. Dan di bawahnya... ada 4 peti mati.

Di atas setiap peti ada papan nama.

MAYA

SINTA

RIKO

SELVI

Dari dalam kabut, muncul Pak Lurah Karjo.

Tapi tubuhnya tidak seperti manusia lagi. Setengahnya sudah menjadi tanah. Matanya kosong.

"Selamat datang anak-anak," katanya. Suaranya seperti berasal dari dalam tanah. "Perjanjian 40 tahun harus ditepati. Sisa 4."

"Pak Lurah tolong," pinta Maya sambil menangis. "Kami gak tau apa-apa..."

Pak Lurah menggeleng. "Aku yang buat perjanjian ini 40 tahun lalu. Agar desa ini subur. Agar sawah tidak gagal panen. Aku tukar 6 nyawa orang luar dengan 2000 nyawa warga desaku. Sekarang aku yang jadi penjaganya."

Tanah bergetar.

Dari bawah gapura keluar 5 sosok.

Pertama: Farhan. Wajahnya hancur. Lehernya patah.

Kedua: Bima. Matanya melot. Kain kafan masih di lehernya.

Ketiga, keempat, kelima: 3 perempuan berwajah hancur. Itu arwah-arwah yang jadi tumbal 40 tahun lalu.

"Kurang 4," kata sosok Farhan. Tapi suaranya berat. Bukan suara Farhan.

Aku maju. "Ambil aku! Aku yang ngajakin KKN! Aku yang baca tulisan di gapura! Lepaskan mereka!"

Penunggu Gapura tertawa. Suaranya memecah telinga. "Tidak bisa. 4 untuk 4. Itu perjanjian."

Dia mengambil kain kafan bertuliskan "MAYA" dan berjalan ke arah Maya.

Maya menjerit dan lari ke pelukanku.

Saat kain itu hampir menyentuh leher Maya...

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR

Adzan Subuh. Dari masjid desa yang sudah lama kosong.

Semua sosok itu menjerit. Tubuh mereka berasap dan masuk ke dalam tanah.

Pak Lurah Karjo jatuh berlutut. "Waktuku... habis. Aku... aku yang ganti satu."

Tubuhnya hancur menjadi tanah dan tersedot ke dalam gapura.

Peti-peti itu terbuka sendiri. Kosong.

Kami selamat. Untuk malam ini.

Tapi di batu gapura, muncul tulisan baru. Ditulis dengan darah yang masih menetes:

"HUTANG 3 NYAWA. BIMA SUDAH LUNAS. SISA: MAYA. SINTA. RIKO. SELVI. 40 HARI LAGI."

Aku menatap HP terakhir kali sebelum sinyal hilang.

Nama yang masih merah: MAYA. SINTA. RIKO. SELVI.

Dan di langit, bulan purnama berubah merah darah.

Teror belum selesai. Baru dimulai.

1
Tio Buki
Semangat ya thor👍👍👍👍👍🙏
Author Melda: terimakasih kk sdh mampir👍 semangat jg untuk kak nya👍
total 1 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu ya thor
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Masuk aja, jangan di berat berat kan
Tio Buki
Siapa takut😄
Tio Buki
Aku ngak ikut ya 😄😄😄
Tio Buki
Sprei gue nggak bisa datang 🤣
Tio Buki
Mampir thor🙏🙏🙏
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!