⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH NYALA DARI SATU SUMBER [FRAGMEN KEENAM: MO WUXIN]
Lin Qing kembali ke Danau Bayangan Hilang sepuluh hari kemudian, wajahnya tidak lagi dipenuhi harapan yang membabi buta seperti sebelumnya, melainkan sesuatu yang lebih tenang—belum sepenuhnya damai, tapi setidaknya sudah berhenti berperang dengan dirinya sendiri.
"Aku menemuinya," ia berkata, duduk di tepi air, tidak lagi meminta Mo Wuxin membuka apa pun secara paksa. "Sebagai kakaknya, bukan sebagai seseorang yang menuntut ia kembali menjadi Lin Yue."
"Bagaimana hasilnya?"
"Ia menangis," Lin Qing berkata pelan. "Tapi bukan tangisan orang yang ingatannya dipaksa kembali. Tangisan orang yang akhirnya diberi pilihan untuk mengingat sedikit, secukupnya, tanpa harus menanggung semuanya sekaligus." Ia menatap permukaan danau yang tenang. "Ia tidak mau tahu detail pembantaian itu. Tapi ia mau tahu bahwa ia punya kakak yang masih hidup, dan bahwa keluarganya pernah menyayanginya sebelum semuanya hancur."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku mengunjunginya sebulan sekali, sebagai paman jauh bagi anaknya," Lin Qing tersenyum tipis, senyum pertama yang pernah Mo Wuxin lihat darinya. "Bukan yang kubayangkan dua tahun lalu saat mulai mencarinya. Tapi mungkin yang lebih baik daripada yang kubayangkan."
Mo Wuxin mengangguk sekali, tidak perlu berkata lebih banyak. Beberapa penyelesaian tidak membutuhkan kata-kata untuk diakui sebagai penyelesaian yang baik.
---
Setelah Lin Qing pergi, Mo Wuxin duduk sendirian lebih lama daripada biasanya, pertanyaan yang sudah mengendap sepuluh hari terakhir kembali naik ke permukaan pikirannya.
Tunjukkan padaku sesuatu yang belum pernah kulihat.
Siapa kau, yang terus bertanya hal yang sama dari begitu banyak arah berbeda?
Dua kalimat itu terus berputar dalam benaknya, satu yang ia terima, satu yang ia lontarkan kembali tanpa sepenuhnya berharap dijawab.
Ia sudah merasakan gema serupa tiga kali dalam hidupnya yang ia ingat dengan jelas—setiap kali dalam keadaan meditasi dalam atau saat berjalan di ambang mimpi orang lain. Sebagai seseorang yang mendedikasikan hidupnya mempelajari batas antara jiwa, mimpi, dan kesadaran, ia tidak bisa lagi menganggap ini sekadar kebetulan atau kelelahan pikiran.
Ada seseorang, atau sesuatu, yang benar-benar nyata di balik gema itu.
Dan jika ada satu tempat di seluruh Benua VI yang mungkin menyimpan catatan tentang fenomena seperti ini, itu adalah Sekte Mimpi Melayang, jauh di utara, tempat para tetua tertua mempelajari Dream Dao sejak ribuan tahun lalu.
---
Perjalanan menuju Sekte Mimpi Melayang memakan waktu dua minggu, melewati pegunungan yang selalu diselimuti kabut tipis yang, konon, adalah mimpi-mimpi yang mengembara terlalu jauh dari pemiliknya.
Grandmaster Xuan Ming, tetua tertua sekte yang usianya sudah tidak lagi dihitung dalam angka biasa, menerimanya di sebuah ruangan yang penuh gulungan kitab kuno, sebagian begitu tua hingga hurufnya nyaris tak terbaca.
"Seorang Soul Wanderer mengunjungi kami," Xuan Ming berkata, suaranya seperti kertas tua yang digesek pelan. "Jarang sekali seseorang dari jalanmu datang mencari jawaban dari kami, alih-alih menemukannya sendiri di jalan sunyi."
"Aku sudah mencoba menemukannya sendiri," Mo Wuxin berkata, duduk di seberangnya. "Tapi apa yang kualami tidak cocok dengan kerangka apa pun yang kupelajari sepanjang hidupku."
Ia menjelaskan gema itu—kalimatnya, konteksnya, perasaan bahwa itu berasal dari suatu tempat yang sangat jauh, namun terasa familiar dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Xuan Ming mendengarkan dalam diam yang panjang, matanya yang sudah keruh karena usia tampak menajam untuk sesaat.
---
"Ada legenda tua," Xuan Ming akhirnya berkata, "yang jarang diceritakan lagi, bahkan di sekte kami sendiri. Sebagian tetua menganggapnya sesat, sebagian lain menganggapnya sekadar dongeng anak-anak yang salah dipahami sebagai ajaran. Tapi apa yang kau ceritakan cocok dengan detail yang sudah lama tidak kudengar disebutkan siapa pun."
Ia berdiri, perlahan, berjalan ke rak paling dalam ruangan, mengeluarkan sebuah gulungan yang begitu tua hingga Mo Wuxin bisa merasakan usianya hanya dari cara kertas itu bergetar pelan saat disentuh.
"Legenda ini disebut," Xuan Ming berkata, membuka gulungan dengan hati-hati, "Tujuh Nyala dari Satu Sumber."
---
Ia membacakan bagian yang masih bisa dibaca, suaranya melambat di setiap kata yang sudah pudar dimakan waktu:
"Pada suatu masa yang tidak tercatat, seorang makhluk yang telah melampaui seluruh sistem kekuatan dunia merasa kesepian di puncaknya. Dalam kesendirian yang telah berlangsung terlalu lama, ia membelah kehendaknya menjadi tujuh nyala, melepaskan mereka ke tujuh penjuru dunia, agar masing-masing dapat menjalani kehidupan yang tidak pernah bisa ia jalani sendiri lagi.
"Ketujuh nyala tidak mengetahui asal mereka. Mereka hidup sebagai manusia biasa, menempuh jalan masing-masing, tidak menyadari bahwa jiwa mereka berasal dari sumber yang sama.
"Namun kadang, dalam keheningan yang paling dalam—saat jiwa seseorang cukup tenang untuk mendengar melampaui batas tubuhnya sendiri—gema dari sumber itu bisa terdengar, sekilas, seperti mimpi yang lupa dari siapa asalnya.
"Dikatakan, ketika ketujuh nyala akhirnya cukup dekat untuk saling mengenali keberadaan masing-masing, dunia itu sendiri akan mulai berubah, karena tidak ada sistem kekuatan yang dirancang untuk menampung tujuh fragmen dari sesuatu yang pernah melampaui seluruh sistem itu sendiri."
---
Xuan Ming menggulung kembali kitab itu perlahan.
"Itu saja yang tersisa," ia berkata. "Sisa gulungan ini rusak dimakan usia, atau sengaja dihancurkan—aku sendiri tidak tahu pasti yang mana. Legenda ini pernah dianggap ajaran sesat oleh beberapa sekte generasi lalu, karena implikasinya menantang gagasan bahwa kekuatan tertinggi selalu berasal dari sistem kultivasi yang diakui dunia."
"Kau percaya ini benar?" Mo Wuxin bertanya.
"Aku sudah hidup terlalu lama untuk percaya penuh pada apa pun tanpa bukti," Xuan Ming berkata. "Tapi aku juga sudah hidup terlalu lama untuk menolak sesuatu hanya karena terdengar mustahil. Dan yang kau ceritakan padaku hari ini cocok dengan legenda ini lebih tepat daripada kebetulan yang bisa kuterima begitu saja."
---
Mo Wuxin duduk diam lama, mencerna kemungkinan yang baru saja terbuka di hadapannya.
Jika legenda ini benar—jika ada sesuatu di balik gema yang selama ini ia rasakan, sesuatu yang telah membelah dirinya menjadi tujuh, tersebar entah ke mana di seluruh dunia—maka pertanyaan yang selama ini mengganggunya bukan lagi sekadar renungan filosofis pribadi.
Itu berarti mungkin ada enam orang lain, di suatu tempat di dunia yang sama, merasakan gema yang persis sama, bertanya-tanya dengan cara yang persis sama, tanpa satu pun dari mereka tahu bahwa mereka mungkin berbagi asal yang sama.
Dan jika demikian—pertanyaan tentang identitas yang selama ini ia ajukan pada dirinya sendiri, tentang rumah dan penghuni, tentang apakah seseorang tetap menjadi dirinya sendiri meski kehilangan ingatannya—pertanyaan itu tiba-tiba terasa jauh lebih personal daripada yang pernah ia duga.
*Aku* mungkin adalah salah satu jawaban dari pertanyaan yang selama ini kuajukan kepada orang lain.
---
"Apakah legenda ini menyebutkan bagaimana ketujuh nyala bisa saling menemukan?" ia bertanya.
"Tidak secara eksplisit," Xuan Ming berkata. "Tapi ada satu baris di akhir gulungan yang selalu kuanggap menarik, meski maknanya tidak sepenuhnya jelas." Ia membuka gulungan sekali lagi, menunjuk baris terakhir yang nyaris tak terbaca. "Mereka akan saling menemukan bukan karena mencari, tapi karena dunia yang sama akan terus mempertemukan jalan yang berbeda, sampai jalan-jalan itu, pada akhirnya, tidak bisa lagi dihindari untuk bersinggungan.'"
Mo Wuxin menatap baris itu lama.
"Kalau begitu," ia akhirnya berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Xuan Ming, "mungkin aku tidak perlu mencari mereka secara aktif. Mungkin aku hanya perlu terus menjalani jalanku sendiri, dan mempercayai bahwa dunia akan melakukan sisanya."
"Kebijaksanaan macam itu," Xuan Ming berkata, tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak Mo Wuxin tiba, "adalah kenapa aku memutuskan menunjukkan gulungan ini padamu, bukan menyimpannya seperti yang kulakukan selama enam puluh tahun terakhir setiap kali seseorang bertanya tentang legenda-legenda lama semacam ini."
---
Mo Wuxin meninggalkan Sekte Mimpi Melayang tiga hari kemudian, membawa salinan gulungan itu yang diizinkan Xuan Ming untuk ia bawa—sesuatu yang jarang diizinkan sekte itu kepada tamu luar.
Dalam perjalanan pulang, saat bermalam di sebuah gua terlindung dari angin pegunungan, ia duduk bermeditasi lebih dalam daripada biasanya, sengaja membuka dirinya seluas mungkin, bukan lagi menunggu gema itu datang, tapi mencoba, untuk pertama kalinya, mengulurkan kesadarannya sendiri ke arah yang ia rasa paling mungkin menjadi sumbernya.
Ia tidak tahu apakah itu akan berhasil. Legenda itu sendiri menyebutkan mereka akan bertemu karena dunia mempertemukan, bukan karena mencari secara aktif.
Tapi untuk sesaat—begitu singkat hingga ia hampir yakin itu hanya harapannya sendiri yang menciptakan ilusi—ia merasakan sesuatu membalas uluran kesadarannya. Bukan kata-kata. Bukan gambar. Hanya kesan samar bahwa ada sesuatu yang jauh, sangat jauh, yang untuk sepersekian detik, berhenti melakukan apa pun yang sedang dilakukannya, seolah menyadari ada yang mengetuk dari arah yang tidak pernah ia duga akan mengetuk.
Mo Wuxin membuka matanya perlahan, menatap gulungan tua di pangkuannya.
"Jadi memang benar," ia bergumam pelan ke dalam kegelapan gua. "Ada tujuh dari kita."
Ia menutup gulungan itu dengan hati-hati, menyimpannya dekat dadanya seperti sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kertas tua biasa, dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai mengembara mempelajari jiwa dan mimpi orang lain, ia merasa bahwa perjalanannya sendiri baru saja menemukan tujuan yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.