Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29.
"Sebentar kupikirkan dulu!" jawab Olivia.
Ia mulai memutar otaknya untuk mengusir keluarga orang tuanya, karena sudah membuat drama di pekarangan villa menarik perhatian tetangga villa.
Ia kemudian melemparkan pandangan matanya ke luar jendela mobil yang sedang meluncur.
Matanya melihat sekumpulan para ibu-ibu seumuran Ibunya, di sebuah lapangan kecil sedang melakukan senam kebugaran.
Seketika mata Olivia berbinar melihat para ibu-ibu yang sedang senam tersebut, dan sontak tangannya memegang tangan Vincent yang sedang menyetir.
"Berhenti!!"
Mobil pun di hentikan Vincent ke pinggir jalan.
Olivia tersenyum senang memandang sekumpulan ibu-ibu yang sedang senam itu.
Olivia menggoyang-goyang lengan Vincent, sembari melemparkan pandangan matanya kepada para ibu-ibu itu.
"Kak Vincent! kamu punya uang cash tidak??" tanyanya dengan nada gembira, sembari terus melihat ke arah sekumpulan ibu-ibu yang sedang senam kebugaran tersebut.
Vincent yang kebingungan dengan apa yang diinginkan Olivia, mengambil satu ikat uang cash dari balik saku jas mewahnya.
Lalu menyodorkannya kepada Olivia, dan Olivia menoleh menerima uang cash yang diberikan Vincent sembari tersenyum senang.
"Sangat cukup!!" ucap Olivia senang melihat setumpuk uang yang diberikan Vincent.
Ia pun kemudian mengangkat sedikit tubuhnya, lalu menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil.
Ia kemudian berteriak sekencang-kencangnya kepada sekumpulan ibu-ibu yang sedang senam itu.
"Ibu-ibu! sudah jangan senam lagi!!!" Olivia kemudian menunjukkan uang yang ia pegang, dengan melambaikan uang itu ke arah mereka.
"Aku mau bayar mahal kalian yang pandai marah-marah! siapa diantara kalian sangat pandai memarahi orang?? maju sini!!!"
Sekumpulan ibu-ibu itu melemparkan pandangan mereka kepada Olivia, lalu mereka saling pandang satu sama lain mendengar apa yang diteriakkan Olivia.
"Lima ratus ribu!!!" teriak Olivia lagi melihat ibu-ibu itu tidak mau bergerak.
Begitu mendengar nominal uang yang disebutkan Olivia, mereka pun serentak berlari menghambur ke arah Olivia.
"Aduh! aku! aku! aku!!!"
Sekumpulan ibu-ibu itu terlihat begitu senang sekali, dan saling berebutan menghampiri mobil Vincent.
"Aku! aku! aku paling jago memarahi orang!!!" sahut salah satu ibu, yang paling depan sampai ke jendela mobil dengan begitu senangnya.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan aku soal memarahi orang!!!" sambung ibu itu dengan begitu senangnya merekomendasikan dirinya si ibu-ibu cerewet.
"Aku juga! dikampung ku, aku paling jago memarahi orang!!!" sahut ibu lainnya tidak mau kalah merekomendasikan dirinya yang paling cerewet.
"Aku juga bisa!!!" sahut lainnya yang lainnya mendorong temannya ke samping.
"Pilih aku! pilih aku!!!"
Sekumpulan ibu-ibu itu saling berebutan agar dipilih Olivia dengan begitu berisiknya.
Vincent hanya bisa melongo melihat keributan sekumpulan ibu-ibu, yang terlihat begitu bersemangat untuk mendapatkan uang dari Olivia.
Ia tidak menduga Olivia melakukan rencana seperti ini untuk melawan orang tuanya, agar dapat segera angkat kaki dari villa Olivia.
"Jangan berebutan!!" jawab Olivia semakin tersenyum dengan begitu senangnya melihat semangat para ibu-ibu itu, "Semuanya bisa ikut!!"
Ibu-ibu itu berhenti saling berebutan setelah mendengar jawaban Olivia.
"Nah, begini saja! ibu bertiga!!" Olivia menunjuk tiga wanita paling depan, "Menjadi ketua tim, ya?"
Ibu-ibu itu pun mendengarkan arahan Olivia dengan patuh, tanpa ada satu pun yang menyela.
"Ikut arahan ibu bertiga saja nantinya, ya?!"
Ibu-ibu itu menganggukkan kepala mereka, lalu menerima uang yang diberikan Olivia.
"Ingat, ya! nanti tunggu instruksi dari ku, oke?!" kata Olivia membagi-bagikan uang itu kepada sekumpulan ibu-ibu tersebut.
Ibu-ibu itu dengan patuh menganggukkan kepala mereka dengan bersemangat, sembari menerima uang yang diberikan Olivia kepada mereka.
Bersambung.......
..