Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak di undang
Rheno berjalan santai menuntun si Bos dan pasukannya menuju gubuk. Di kepalanya yang polos, orang-orang berjas rapi ini benar-benar teman lama Leo yang datang berkunjung. Rheno mengira mereka hanya ingin meminta kembali buah magis yang mungkin tidak sengaja terambil oleh Leo di pekarangan rumah mereka. Dia sama sekali tidak tahu kalau dia baru saja membawa bahaya besar ke rumahnya sendiri.
Namun, semua keramahan itu lenyap seketika begitu mereka sampai di depan gubuk. Sikap orang-orang berjas hitam itu mendadak berubah menjadi sangat kasar.
"Hei, hei! Apa yang kalian lakukan?!" protes Rheno saat melihat pintu rumahnya dihancurkan begitu saja. Pria berotot itu mencoba maju untuk menahan mereka, tetapi karena terlalu polos dan tidak siap, tubuh kekarnya langsung dikepung. Dalam hitungan detik, beberapa orang anak buah si Bos berhasil mengunci lengannya ke belakang hingga dia tidak bisa berkutik di sudut ruangan.
Leo yang mendengar keributan hebat dari ruang tengah langsung tersentak bangkit dari lantai kamarnya. Rasa lemas akibat meratapi nasibnya mendadak hilang, berganti menjadi kepanikan. Dia melangkah cepat ke ruang depan dan langsung mengernyit kesal saat melihat Rheno sudah ditangkap.
"Rheno sialan!" gumam Leo dalam hati sambil menepuk dahinya dengan frustrasi.
"Kenapa dia tidak berpikir kalau kami ini pencuri? Kalau ada orang asing yang mencari salah satu dari kami pasti ada yang tidak beres, seharusnya dia sudah paham kalau itu bahaya!"
Dalam sekejap, para pria berjas hitam itu bergerak taktis mengepung ruangan. Mereka mendesak Leo dan Cheeta hingga keduanya terpojok ke sudut tembok. Dari tengah-tengah barisan pasukan itu, si Bos melangkah maju dengan angkuh. Tatapan matanya yang dingin dan menusuk langsung tertuju lurus pada Leo.
"Halo, Leo," sapa si Bos dengan nada suara yang mengintimidasi. "Aku yakin kau tahu persis apa yang sedang kucari."
Leo mencoba tertawa renyah untuk mencairkan suasana, meskipun keringat dingin sudah mulai bercucuran deras di lehernya. Karena belum tahu kalau aksinya semalam ketahuan, Leo mengira orang-orang ini hanyalah penagih utang lamanya yang datang di waktu yang salah.
"Hahaha... Tenang dulu, Bos. Saya pasti akan bayar, kok. Tolong beri saya sedikit waktu lagi, ya?" kata Leo mencoba bernegosiasi.
Cheeta yang ikut terkepung di sebelah Leo tidak tinggal diam. Dia ikut memprotes dengan berani. "Hei! Kalau mau menagih utang boleh saja, tapi jangan merusak gubuk kami! Dan cepat lepaskan Rheno!"
Namun, gertakan Cheeta sama sekali tidak berguna. Dua pria berjas di dekatnya langsung maju dan memegangi kedua tangan gadis itu dengan sangat erat hingga dia tidak bisa bergerak.
"Jangan main-main denganku, bocah!" gertak si Bos, wajahnya langsung mengeras karena amarahnya mulai memuncak.
"Buahku! Kembalikan buah magis ku yang kau curi semalam!"
Mendengar kata-kata itu, Leo langsung terkejut setengah mati sampai jantungnya rasanya mau copot. Dia baru menyadari sepenuhnya bahwa pria berjas di depannya ini bukan penagih utang biasa, melainkan pemilik sah dari buah magis seharga jutaan koin emas yang baru saja selesai dia cerna di dalam perutnya.
Di sisi lain, Cheeta yang mendengar kata 'buah' langsung teringat pada potongan buah segar yang dia siapkan di meja tadi pagi. Kesadaran mengerikan langsung melanda kepalanya; buah yang tadi dimakan Leo ternyata adalah barang curian yang sangat berbahaya.
Cheeta segera melirik Leo, memberikan kode mata yang sangat tajam: Serang sekarang dan kabur!
"Ohhh... iya, buaaahh!" teriak Leo sekencang mungkin untuk memancing perhatian semua orang di ruangan itu.
BUGH!
Detik itu juga, Leo melayangkan pukulan keras tepat ke wajah salah satu pria di dekatnya. Memanfaatkan momentum kekacauan yang terjadi, Cheeta bergerak lincah meloloskan diri dari cengkeraman penjaganya. Dengan gerakan cepat, dia langsung menerjang orang-orang yang sedang menahan tubuh Rheno.
Keributan besar pun pecah di dalam gubuk yang sempit dan pengap itu. Rheno memanfaatkan tubuhnya yang kuat dan besar untuk maju menjadi umpan di barisan depan. Sementara itu, Leo dan Cheeta memposisikan diri di belakangnya, menyerang setiap kali ada kesempatan dan menggunakan barang-barang keras di sekitar gubuk untuk memukul mundur para pria berjas.
Namun, perlawanan mereka tidak bisa bertahan lama. Pasukan berjas itu bukan petarung amatir jalanan yang bisa dikalahkan dengan mudah. Melihat situasi mulai tidak terkendali, mereka secara serentak mundur satu langkah lalu mengacungkan tongkat sihir hitam mereka ke tengah ruangan.
"BOOM!"
Sebuah ledakan api magis berdentum keras, menciptakan gelombang panas yang menghempaskan tubuh Leo, Cheeta, dan Rheno hingga menghantam dinding gubuk dengan keras. Asap hitam langsung mengepul tebal, membungkam seluruh perlawanan mereka dalam sekejap.
Dalam kondisi lemas dan sesak napas, ketiganya langsung dikerumuni musuh. Tanpa ampun, pasukan berjas itu memukuli mereka bertiga hingga babak belur di atas lantai gubuk yang sudah hancur berantakan. Beruntung Rheno selalu memasang badannya untuk melindungi Leo dan Cheeta, sehingga walaupun terluka, cedera mereka tidak sampai fatal.
Setelah tidak berdaya, mereka bertiga akhirnya diikat kuat-kuat di kursi gubuk untuk diinterogasi. Si Bos berjas rapi mulai melangkah mondar-mandir dengan angkuh. Pandangannya mendadak melirik ke arah Cheeta yang wajahnya sedikit tergores.
"Kamu lumayan cantik juga," ucap si Bos dengan nada sok karismatik sambil melangkah mendekat, mencengkeram dagu, dan memegang wajah Cheeta.
Melihat fokus atasannya mulai melenceng ke hal yang tidak penting, salah satu anak buah berjas yang berdiri di sampingnya langsung menghampiri dan berbisik panik.
"Ingat, Bos! Buah! Fokus pada buahnya!"
"Ops, maaf. Aku hampir melenceng dari tujuan utama," ucap si Bos sambil berdeham canggung, mencoba mengembalikan wibawa dan karismanya yang mendadak luntur di depan para tawanan.
Dia langsung berbalik badan dan kembali menatap Leo dengan pandangan tajam. "Dan sekarang, di mana buahku, Leo?"
Leo hanya diam dan tidak menjawab. Keheningan menantang itu seketika membuat sang Bos naik pitam. Dengan cepat, dia melayangkan tamparan keras ke wajah Leo hingga kain pengikat mulut pemuda itu terlepas dan terbang ke lantai.
"Apakah kau pikir aku bisa bicara dengan mulut terikat, dasar bodoh?!" maki Leo dengan nada yang sangat keras dan menantang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Namun, sedetik kemudian, Leo baru tersadar kalau dia baru saja membentak seorang bos mafia yang memegang tongkat sihir mematikan. Rasa panik langsung menyerang otaknya. Nada suaranya mendadak merendah dan melembut drastis.
"Iya... oh, ga ga ga, bukan! Anu... itu… maksudnya... Bos habis potong rambut, ya? Terlihat sangat cocok, rapi, dan gagah sekali," ucap Leo meracau asal-asalan demi menyelamatkan nyawanya.
PLAK!
Ucapan asal-asalan itu langsung dihadiahi tamparan keras sekali lagi oleh si Bos, kali ini disertai bentakan yang tidak kalah nyaring.
"Aku pakai topi! Bagaimana caranya kamu bisa tau dan bilang model rambutku cocok?! Sekarang siapa yang bodoh?!" teriak si Bos dengan sangat frustrasi hingga urat lehernya menonjol keluar.
Melihat obrolan tidak bermutu antara dua orang bodoh di depan mereka, Cheeta, Rheno, dan seluruh pasukan berjas rapi yang berjaga di dalam gubuk serentak menyipitkan mata dengan dahi mengernyit. Suasana gubuk mendadak terasa garing dan canggung.
Si Bos seketika merasakan aura aneh di ruangan itu; dia sadar dirinya baru saja ketularan bodoh akibat meladeni ucapan Leo. Demi menjaga harga diri dan wibawanya yang runtuh di hadapan para anak buah, si Bos langsung berbalik memunggungi Leo sambil membetulkan letak jasnya dengan gerakan sok elegan.
"Baiklah... kalian semua, buat dia siap untuk bicara!" perintah si Bos dengan dingin.
Ketika para anak buah berjas mulai mendekat untuk memberi pelajaran fisik yang lebih kejam, mereka tidak tahu kalau Leo bukanlah pencuri amatir yang mudah menyerah.
Di balik punggungnya, jemari Leo yang cekatan ternyata sudah berhasil membuka ikatan tali sejak tadi, menggunakan sebuah alat besi rahasia yang tersembunyi di dalam gelang kulitnya.
Begitu tali terlepas sepenuhnya, Leo tidak membuang waktu. Dia langsung melesat maju ke depan.
BUGH!
Dia menghajar salah satu anak buah berjas rapi, lalu dengan gerakan cepat merampas tongkat sihir dari genggaman orang tersebut.
"Stop! Aku punya senjata kalian! Berani macam-macam, aku tembak kalian semua!" ancam Leo lantang sembari menodongkan tongkat sihir itu ke sekeliling ruangan, walaupun di dalam hati kecilnya dia sedang kebingungan setengah mati mencari di mana letak pelatuk atau tombol untuk menembakkannya.
Di ujung ruangan, si Bos yang masih membelakangi Leo hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan sok tenang.
"Leo, Leo... Kau benar-benar tikus kecil yang keras kepala."
Namun di posisi Leo berdiri, matanya mendadak menangkap sesuatu yang aneh. Dari ujung batu magis pada tongkat sihir yang dipegangnya, perlahan keluar asap tipis berwarna-warni yang berpendar secara mistis.
"Ehh, apa ini?" gumam Leo bingung. Karena penasaran, dia mencoba meraih dan menyentuh asap itu dengan tangan kosong.
Namun, begitu kulit telapak tangannya menyentuh asap tersebut, energi misterius itu justru seperti tersedot dan terserap masuk ke dalam tubuhnya. Sebuah sensasi hangat yang sangat kuat menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya.
Detik itu juga, sebuah insting alami yang asing mendadak muncul di kepala Leo. Tanpa diajari, dia tiba-tiba tahu cara menyerap energi tersebut dan mulai menariknya dengan jauh lebih kuat lagi.
Energi murni itu terus masuk ke dalam tubuhnya, lalu dialirkan menuju batu magis di ujung tongkat sihirnya, membuat pendarannya semakin lama semakin deras.
Melihat fenomena yang tidak asing itu, para anak buah berjas langsung panik dan melangkah mundur ketakutan.
"Bos! Bos, gawat, Bos!" teriak mereka dengan suara gemetar.
Si Bos akhirnya menengok ke belakang dengan malas. Namun di detik berikutnya, matanya langsung membelalak horor dan mulutnya menganga lebar.
Karena si Bos dan anak buahnya adalah sesama pemakan buah magis, mereka segera menyerap sedikit energi alam dan memfokuskannya ke mata untuk mengaktifkan penglihatan magis mereka.
Apa yang mereka lihat sungguh jelas: seluruh energi magis murni yang ada di udara sekitar terserap hebat secara paksa ke dalam tubuh Leo, lalu dialirkan masuk kembali untuk mengisi batu magis pada tongkat sihir yang dipegangnya hingga bergetar hebat.
Hanya ada satu jawaban mengenai fenomena yang tidak asing bagi mereka ini.
"Leeeooo...! Kamu... kamu memakan buahku?!" teriak si Bos dengan suara yang bergetar murka bercampur ketakutan yang luar biasa.
bersambung