Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
— PEKERJAAN YANG DIAMBIL ALIH
Sejak Bu Ratih jatuh sakit, kehidupan Nadira berubah.
Hampir seluruh waktunya habis untuk mengurus rumah dan merawat mertuanya.
Pagi-pagi ia menyiapkan sarapan.
Setelah itu menyiapkan obat Bu Ratih, membersihkan kamar, mencuci pakaian, dan memastikan kebutuhan rumah semuanya terpenuhi.
Awalnya Nadira tidak keberatan.
Ia menganggap itu sebagai bentuk perhatian kepada keluarga.
Namun beberapa hari kemudian, Rani mulai memanfaatkan keadaan.
“Kak, Ibu minta dibuatkan bubur.”
Nadira yang sedang mencuci piring menoleh.
“Bukankah tadi sudah makan?”
“Ibu ingin makan lagi.”
“Baik.”
Belum sempat Nadira masuk dapur, Rani kembali memanggil.
“Sekalian buatkan teh.”
Nadira mengangguk.
“Baik.”
Setelah itu datang lagi permintaan lain.
“Baju Ibu belum dicuci.”
“Kamar Ibu belum dirapikan.”
“Obat Ibu jangan sampai terlambat.”
Nadira mulai merasa seperti tidak pernah memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Suatu sore, Nadira sedang merapikan kamar Bu Ratih ketika Rani masuk.
“Kak.”
“Ya?”
“Besok kamu jangan ke mana-mana.”
Nadira berhenti melipat selimut.
“Kenapa?”
“Aku mau pergi.”
“Lalu?”
“Temani Ibu.”
Nadira menatapnya.
“Bukankah kamu bisa meminta bantuan?”
Rani menggeleng.
“Kan kamu yang lebih tahu kebutuhan Ibu.”
Nadira menghela napas.
“Rani, aku juga perlu istirahat.”
Rani langsung memasang wajah tidak suka.
“Cuma menemani Ibu saja kenapa susah?”
Nadira memilih diam.
Keesokan harinya, Nadira mendapat kabar yang membuatnya terkejut.
Asisten rumah tangga yang selama ini membantu pekerjaan rumah datang membawa tasnya.
“Nona Nadira…”
Nadira menoleh.
“Kenapa?”
Perempuan itu terlihat sedih.
“Saya sudah tidak bekerja di sini.”
Nadira mengernyit.
“Maksudnya?”
“Bu Ratih memecat saya.”
Nadira terdiam.
“Kenapa?”
“Katanya pekerjaan rumah bisa ditangani keluarga sendiri.”
Nadira langsung memahami maksudnya.
Ia mencari Bu Ratih.
“Bu, kenapa asisten rumah tangga dipecat?”
Bu Ratih yang sedang berbaring menatapnya.
“Ibu tidak membutuhkannya lagi.”
“Tapi pekerjaan rumah cukup banyak.”
“Kan ada kamu.”
Nadira terdiam.
“Bu…”
“Kamu menantu Ibu. Tidak salah kalau membantu.”
Nadira menahan napas.
“Saya tidak keberatan membantu.”
“Tapi?”
“Saya tidak mungkin mengerjakan semuanya sendirian.”
Rani yang berada di dekat jendela langsung berkata,
“Kalau kamu benar-benar sayang Ibu, harusnya tidak mengeluh.”
Nadira menoleh.
“Aku tidak mengeluh.”
“Wajahmu terlihat seperti mengeluh.”
Nadira hampir membalas, tetapi ia memilih diam.
Sore itu, Arga pulang.
“Nadira?”
Nadira sedang membawa tumpukan pakaian.
Arga langsung menghampirinya.
“Kamu sedang apa?”
“Tidak apa-apa.”
Arga melihat tumpukan pakaian di tangannya.
“Kenapa kamu yang mengerjakan semuanya?”
“Biasa.”
“Mana asisten rumah tangga?”
Nadira terdiam.
Sebelum ia menjawab, Bu Ratih berkata dari ruang tamu,
“Ibu sudah memberhentikannya.”
Arga langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Karena Ibu merasa tidak perlu.”
Arga mengerutkan kening.
“Tapi dokter menyuruh Ibu banyak istirahat. Siapa yang mengurus rumah?”
Bu Ratih tersenyum.
“Kan ada Nadira.”
Arga menatap istrinya.
Kemudian melihat pakaian yang dibawanya.
Wajahnya perlahan berubah.
“Nadira, kamu mengerjakan semua ini setiap hari?”
Nadira tersenyum kecil.
“Tidak semuanya.”
Rani langsung menyela.
“Kak, Nadira memang mau membantu.”
Arga menatap adiknya.
“Aku tidak bertanya kepadamu.”
Rani terdiam.
Arga kemudian menghampiri Nadira dan mengambil sebagian pakaian dari tangannya.
“Mulai sekarang, jangan kerjakan semuanya sendiri.”
Nadira menatapnya.
“Tapi Ibu…”
“Aku yang bicara dengan Ibu.”
Arga kemudian menatap Bu Ratih.
“Bu, kalau memang butuh bantuan di rumah, kita cari orang lagi.”
Bu Ratih terlihat tidak senang.
“Untuk apa? Bukankah Nadira bisa?”
“Dia istri ku, Bu.”
Nada suara Arga tegas.
“Bukan pembantu.”
Ruangan langsung sunyi.
Nadira menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dadanya terasa sedikit lega.
Namun Bu Ratih hanya memandang Nadira dengan tatapan dingin.
Rencananya untuk membuat Nadira semakin sibuk ternyata mulai diketahui Arga.
Dan kali ini, Bu Ratih harus mencari cara lain.