Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kabar yang Menggetarkan Hati

Tiga hari setelah kejadian tanah longsor, kabar tentang keberanian Lala menyebar seperti api di musim kemarau. Awalnya hanya dari mulut ke mulut penduduk desa, lalu diangkat oleh wartawan lokal yang kebetulan sedang meliput kondisi cuaca ekstrem di lereng gunung, dan akhirnya menjadi berita utama di media nasional dengan judul yang menggetarkan hati: PUTRI KONGLOMERAT SARASWATI PERTARUHKAN NYAWA SELAMATKAN ANAK PETANI DI DESA TERPENCIL.

Di kediaman utama keluarga Saraswati, pagi itu suasana berubah total. Larasati berdiri di tengah ruang keluarga, memegang koran pagi dengan tangan gemetar hebat. Matanya membaca ulang setiap baris berita itu berulang kali, seolah tidak percaya bahwa putri kecilnya yang dulu sering menangis jika jatuh dari sepeda kini mampu melakukan hal seberani itu.

Agung baru saja turun dari tangga ketika melihat istrinya berdiri membeku. Ia berjalan mendekat cepat, lalu membeku juga saat melihat judul besar di koran itu. Wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah pucat, lalu perlahan memerah karena campuran rasa takut yang luar biasa dan rasa bangga yang meledak di dadanya.

“Dia… dia hampir jatuh ke jurang,” suara Agung pecah di akhir kalimat. Ia meraih koran dari tangan Larasati, jemarinya gemetar hebat menyentuh foto Lala yang sedang diobati penduduk desa — wajahnya pucat dan lelah, tapi masih tersenyum lemah kepada anak kecil yang diselamatkannya. “Dekat sekali kematian, Laras. Anak kita hampir… hampir…”

Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Rasa bersalah yang mendadak menyerangnya — rasa bersalah karena membiarkan putrinya pergi ke tempat berbahaya, rasa bersalah karena tidak ada di sana untuk melindunginya, rasa bersalah karena menjadi ayah yang gagal menjaga anaknya dari bahaya.

Larasati segera memeluk pinggang suaminya erat-erat, menempelkan wajahnya di dada bidang pria itu yang kini naik turun hebat menahan emosi yang meluap-luap. Ia bisa merasakan detak jantung Agung yang berpacu liar, bisa merasakan getaran ketakutan yang jarang ditunjukkan pria itu pada siapa pun.

“Tapi dia selamat, Yang. Dia selamat dan dia berhasil. Dia melakukan apa yang selalu kita ajarkan padanya — mengutamakan orang lain sebelum dirinya sendiri. Bukankah itu yang membuat kita paling bangga?”

Agung menutup matanya rapat-rapat, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya menetes juga, jatuh membasahi rambut hitam istrinya.

“Aku bangga. Tuhan saksi, aku sangat bangga padanya. Tapi aku juga takut, Laras. Takut sekali. Setiap kali aku membayangkan bagaimana dia bergelantungan di tepi jurang itu… bagaimana jika Reno terlambat sedetik saja? Bagaimana jika tangannya terlepas? Aku tidak sanggup membayangkannya. Aku tidak sanggup hidup di dunia tanpa Lala.”

Larasati mendongak, mengusap air mata di pipi suaminya dengan ibu jari yang lembut. Matanya sendiri juga berkaca-kaca, tapi suaranya tetap teguh — suara wanita yang dulu pernah bertahan hidup dari nol, yang tahu betapa berharganya setiap detik kehidupan yang diberikan Tuhan.

“Dia tidak sendirian di sana, Yang. Reno ada bersamanya. Dan lebih dari itu… doa kita selalu bersamanya. Ingat tidak dulu saat kita masih di kontrakan, saat aku hamil tua dengan Lala dan kita hampir tidak punya uang untuk biaya persalinan? Kita berdoa malam-malam buta hanya meminta satu hal: agar anak kita lahir sehat dan tumbuh menjadi orang yang berguna. Tuhan tidak hanya menjawab doa kita. Dia memberinya lebih dari yang kita minta.”

Agung menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia mencium kening Larasati lama sekali, mencari kekuatan yang selalu ia temukan di wanita ini.

“Kita harus pergi ke sana. Sekarang juga. Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus memastikan dia benar-benar baik-baik saja.”

 

Sementara itu, di desa perbatasan, luka di punggung Lala mulai membaik, meski masih terasa sakit setiap kali ia bergerak. Penduduk desa kini memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Ibu-ibu datang membawa makanan terbaik yang mereka miliki, anak-anak berkumpul di depan pintu kamarnya setiap pagi ingin bermain, dan para petani tua mulai dengan senang hati mengajarkannya seluk-beluk tanah dan tanaman kopi yang tidak pernah diajarkan di buku mana pun.

Sore itu, Lala duduk di bangku kayu di depan rumah tempat ia tinggal, menikmati angin sore yang sejuk. Reno duduk di sampingnya, sedang dengan hati-hati mengoleskan ramuan obat tradisional pada luka di lengannya yang tergores batu tajam saat menyelamatkannya. Sentuhan tangannya lembut, sangat berhati-hati seolah kulit Lala adalah barang paling rapuh di dunia.

“Kau tidak perlu melakukan ini setiap hari, Reno,” kata Lala lembut, menatap wajah pria muda yang kini sudah menjadi satu-satunya tempat pulangnya di tanah asing ini. “Lukaku sudah hampir sembuh.”

Reno tidak menoleh. Tangannya tetap bekerja dengan teliti.

“Aku mau. Selama kau masih merasakan sakit sedikit pun, tugasku belum selesai.” Suaranya rendah, penuh perasaan yang tidak sempat ia ucapkan dengan kata-kata. “Dan… aku harus memastikan tidak ada bekas luka yang tertinggal. Kau tidak boleh membawa bekas luka ini seumur hidup karena kebodohanku yang tidak bisa melindungimu lebih baik lagi.”

Lala menarik napas pelan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Reno yang kasar karena terbakar matahari dan cuaca dingin gunung. Pria itu tersentak, tangannya berhenti bergerak, dan akhirnya menoleh menatapnya — mata cokelatnya yang biasanya tenang kini bergejolak hebat menyimpan perasaan yang terlalu besar untuk ditahan.

“Kau tidak bodoh, Reno,” kata Lala pelan namun tegas. “Kau yang menyelamatkanku. Kalau bukan karena kau menarik tanganku saat itu… aku sudah tidak ada di sini sekarang. Kau sudah menjagaku lebih baik dari yang aku harapkan. Lebih baik dari yang dijanjikan pada Ayahku.”

Reno menelan ludah keras. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai ia takut Lala bisa mendengarnya. Ia ingin mengatakan segalanya — betapa ia mencintainya sejak pertemuan pertama di lorong gelap perpustakaan, betapa setiap detik menjaganya membuatnya merasa hidup kembali setelah bertahun-tahun merasa mati di dalam, betapa ia bersedia melakukan apa saja hanya agar senyum di wajah gadis ini tidak pernah hilang.

Tapi sebelum kata-kata itu sempat keluar dari mulutnya, suara deru mesin kendaraan yang asing terdengar dari arah jalan setapak. Mereka berdua bangkit berdiri serentak. Beberapa menit kemudian, dua mobil pengawal dan satu mobil mewah hitam muncul dari balik kabut — mobil yang sangat dikenali Lala.

Jantungnya melonjak kencang. Pintu mobil terbuka, dan Agung turun dengan langkah cepat dan terburu-buru, diikuti Larasati yang wajahnya sudah basah oleh air mata sejak melihat putrinya berdiri di sana.

“LALA!” teriak Larasati histeris, berlari mendekat secepat kakinya sanggup membawanya.

Lala tidak sanggup menahan dirinya lagi. Ia berlari menyambut ibunya, lalu jatuh ke dalam pelukan Larasati yang erat dan hangat — pelukan yang sudah ia rindukan lebih dari apa pun di dunia ini. Keduanya menangis tersedu-sedu, saling memeluk seolah takut akan terpisah lagi selamanya. Agung berdiri di samping mereka, tangannya gemetar menyentuh rambut putrinya, lalu memeluk istrinya dan anaknya sekaligus dalam satu dekapan yang begitu erat dan penuh syukur.

“Maafkan Ayah… maafkan Ayah sudah membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya ini,” bisik Agung dengan suara pecah di telinga putrinya, air matanya menetes jatuh membasahi ubun-ubun Lala. “Ayah hampir gila membaca berita itu. Jangan pernah lakukan hal seberani itu lagi tanpa memberitahu kami dulu. Tolong, Nak.”

Lala menggeleng di pelukan ayahnya, menangis semakin kencang.

“Aku tidak bisa membiarkan anak itu mati, Ayah. Aku tidak bisa hanya berdiri diam melihatnya. Aku hanya melakukan apa yang pasti akan Ayah dan Ibu lakukan jika berada di posisiku.”

Agung dan Larasati saling berpandangan di atas kepala putrinya. Keduanya tahu — Lala benar. Gadis itu tumbuh menjadi cerminan sempurna dari nilai-nilai yang mereka tanamkan sejak kecil, bahkan melebihi apa yang mereka harapkan. Rasa bangga yang mereka rasakan saat ini jauh lebih besar daripada semua kekayaan dan jabatan yang pernah mereka miliki.

 

Malam harinya, seluruh penduduk desa berkumpul di lapangan tengah untuk menyambut kedatangan Agung dan Larasati. Tidak ada lagi tatapan curiga atau kebencian. Yang ada hanya rasa hormat dan terima kasih yang mendalam. Kepala desa maju ke depan, membawa sebuah kotak kayu tua yang sudah sangat usang.

“Pak Agung, Bu Larasati,” kata pria tua itu dengan suara parau namun penuh penghormatan. “Kami dulu salah menilai keluarga kalian. Kami pikir kalian hanya orang kaya yang datang untuk mengambil hasil tanah kami. Tapi putri kalian telah membuktikan sebaliknya. Dia telah memberikan nyawanya demi nyawa anak kami. Dan karena itu… kami ingin menyerahkan ini kembali pada keluarga kalian.”

Ia membuka kotak kayu itu. Di dalamnya terdapat sebuah tongkat kayu tua berukir bunga melati, dan selembar surat kulit kambing yang sudah sangat tua.

“Ini adalah tongkat pemimpin adat tanah ini, dan surat perjanjian asli penyerahan pengelolaan tanah dari leluhur kami kepada kakek buyut kalian ratusan tahun lalu. Kami simpan turun-temurun sebagai bukti bahwa keluarga Saraswati bukanlah pencuri tanah seperti yang sering dituduhkan orang. Keluarga kalian adalah penjaga tanah ini yang dipercaya oleh leluhur kami sendiri. Dan hari ini, kami mempercayakannya kembali dengan penuh keyakinan — karena kami tahu, di tangan keluarga kalian, tanah ini dan kami semua akan selalu aman.”

Agung menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Ia menatap surat tua itu, lalu menatap wajah-wajah penduduk desa yang penuh kepercayaan. Air mata kembali menetes dari matanya — air mata syukur yang tak terbendung.

“Terima kasih. Terima kasih telah mempercayai kami, dan terutama telah menerima putri kami sebagai bagian dari keluarga kalian. Aku berjanji atas nama keluarga Saraswati — kami tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan ini. Selama kami masih bernapas, tanah ini dan kalian semua akan selalu menjadi prioritas utama kami.”

Suasana menjadi haru dan hangat. Namun di tengah kebahagiaan itu, tidak ada yang menyadari bahwa seseorang sedang mengintip dari balik pepohonan di pinggir lapangan. Seorang pria bertopeng hitam merekam seluruh kejadian itu dengan kamera tersembunyi, lalu mengirimkan pesan pendek ke nomor yang tidak dikenal:

Target berhasil memenangkan hati penduduk desa. Rencana A gagal. Siapkan Rencana B. Kita serang dari sisi yang paling lembut: kesehatan ibunya.

Pria itu menghilang kembali ke dalam kegelapan hutan sebelum ada yang menyadari keberadaannya.

 

Malam itu, di kamar kayu yang sederhana, Agung dan Larasati duduk berdampingan di tepi tempat tidur Lala, menatap putri mereka yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Wajah Lala masih tampak pucat dan lelah, tapi senyum tipis terukir di bibirnya seolah sedang bermimpi indah.

Larasati menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, tangannya memegang tangan Lala yang hangat dan kasar karena kerja keras.

“Kita harus membawanya pulang, Yang. Lukanya masih butuh perawatan medis yang lebih baik. Dan aku… aku tidak sanggup lagi berjauhan dengannya. Aku takut sesuatu terjadi lagi dan kita tidak ada di sana.”

Agung mengangguk pelan, namun matanya penuh pemahaman.

“Kita tanya padanya dulu besok pagi. Jangan paksa dia. Aku tahu dia masih punya banyak hal yang ingin dia selesaikan di sini. Dan kita tidak boleh mematahkan semangat yang baru saja tumbuh begitu kuat di hatinya.”

Ia menunduk, mencium kening putrinya pelan-pelan agar tidak membangunkannya.

“Tapi satu hal yang pasti — mulai besok, kita tambahkan pengawal dan tenaga medis tetap di sini. Tidak ada lagi celah bagi bahaya untuk mendekatinya. Aku tidak akan membiarkan kejadian kemarin terulang lagi. Tidak pernah.”

Di luar kamar, Reno berdiri diam di bawah cahaya bulan. Ia melihat melalui celah jendela bagaimana Agung dan Larasati menjaga putri mereka dengan penuh cinta, dan ia menyadari satu hal yang menyakitkan namun benar — ia hanyalah orang asing yang beruntung bisa menjaga Lala sebentar. Cintanya pada gadis itu mungkin besar, tapi ia tahu bahwa ia harus membuktikan dirinya jauh lebih banyak lagi sebelum pantas berdiri sejajar dengan keluarga besar ini sebagai bagian dari mereka, bukan sekadar pengawal.

Dan di tempat yang jauh, di sebuah rumah sakit tua yang kumuh, seorang wanita tua terbaring lemah di tempat tidur. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka kasar. Seorang pria bertopeng hitam masuk, diikuti oleh dokter yang wajahnya penuh ketakutan.

“Kita mulai persiapan operasi,” kata pria bertopeng itu dingin. “Tapi bukan untuk menyembuhkanmu. Kita akan membuatmu sakit parah… supaya anakmu yang setia itu mau melakukan apa pun yang kita perintahkan demi menyelamatkan nyawamu.”

Wanita tua itu membuka mata lebar-lebar karena ketakutan. Ia mengenali suara itu. Ia tahu siapa orang ini bekerja untuknya. Dan ia tahu — bahaya besar baru saja mulai mengintai putranya dan gadis yang dicintainya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!