Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Bab 1: Di Balik Kesederhanaan

Hujan deras mengguyur kota Jakarta sore itu. Angin kencang membawa butiran air yang menembus celah jaket tipis yang dipakai Larasati. Ia berdiri sendirian di halte bus yang mulai sepi, memeluk tas kerja erat-erat agar berkas-berkas penting di dalamnya tidak basah. Gajinya yang pas-pasan harus cukup untuk menyewa kamar kos kecil, membayar tagihan listrik, dan membiayai pengobatan ibunya yang sedang sakit di kampung. Setiap rupiah yang ia miliki sudah terhitung dengan cermat, tidak ada sisa untuk kemewahan sedikitpun.

Saat ia mulai merapatkan tubuhnya karena kedinginan, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Pengendaranya mengenakan jaket kerja yang sudah agak pudar, sarung tangan yang bagian ujungnya sudah menipis, dan helm yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Namun saat ia melepas kaca helmnya, senyum yang ia berikan begitu tulus dan menenangkan, seolah mampu menghangatkan suasana yang dingin itu.

"Mbak mau ke mana? Kalau searah, saya antar saja. Hujannya makin lebat, takutnya Mbak sakit nanti," ucap pria itu dengan suara yang rendah namun ramah.

Larasati ragu sejenak. Ia sering mendengar berita buruk tentang orang asing yang menawarkan bantuan, namun sorot mata pria itu terasa begitu jujur, tidak ada niat jahat yang tersembunyi di sana. "Saya ke arah Tebet, Mas. Tapi saya tidak punya uang bayarannya..."

Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar begitu bersih. "Tidak perlu bayaran. Nama saya Agung. Ayo naik, nanti berkas-berkasnya rusak kalau kehujanan."

Dengan ragu yang masih tersisa, Larasati akhirnya naik ke belakang motor Agung. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara, namun Larasati merasa sangat aman. Agung mengendarai motornya dengan hati-hati, tidak pernah melaju kencang, dan sesekali bertanya apakah ia sudah kedinginan atau belum. Saat mengantarnya sampai depan kamar kos, Agung bahkan menawarkan payungnya dan berjanji untuk mengambilnya besok saat lewat.

Sejak hari itu, pertemuan mereka menjadi lebih sering. Agung selalu tampak sederhana: pakaian yang selalu bersih namun bukan barang bermerek, sepeda motor tua yang sering mogok di tengah jalan, dan tempat tinggalnya yang berupa kamar kos kecil persis di sebelah tempat tinggal Larasati. Ia sering membantu Larasati mengangkat barang berat, menemaninya berobat ke rumah sakit saat ibunya datang berkunjung ke Jakarta, bahkan sering membagi bekal makan siangnya yang sederhana saat Larasati belum sempat membeli makanan karena terlalu sibuk bekerja.

Teman-teman dan kerabat Larasati sering memperingatkannya. "Lar, kamu yakin menjalin hubungan sama Agung? Dia kan tidak punya apa-apa, kerjanya juga tidak pasti. Kamu sudah cukup susah bekerja keras sendiri, jangan tambah bebanmu nanti." Atau perkataan yang lebih menyakitkan dari kerabat jauh: "Kamu cantik, sopan, dan pekerja keras. Harusnya kamu cari pria yang mapan, yang bisa mensejahterakanmu. Jangan buang waktumu pada orang yang tidak jelas masa depannya."

Setiap mendengar perkataan itu, hati Larasati terasa perih sekali. Namun setiap kali ia menatap Agung yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah membalas dengan kemarahan, yang selalu berusaha menenangkannya dengan pelukan hangat dan kata-kata penyemangat, ia tahu bahwa ia tidak salah memilih. "Saya tidak butuh orang kaya," katanya dalam hati sambil memandangi wajah Agung yang sedang tertidur pulas di sampingnya. "Saya hanya butuh orang yang tulus mencintai saya, yang menghargai saya apa adanya, dan tidak akan pernah meninggalkan saya saat susah maupun senang."

Setahun setelah berkenalan, mereka memutuskan untuk menikah. Acaranya sangat sederhana, hanya dihadiri kerabat dekat dan beberapa sahabat terpercaya. Agung hanya mampu memberikan cincin perak sederhana yang ia beli dari hasil menabung berbulan-bulan, namun janji yang ia ucapkan saat akad nikah membuat air mata Larasati jatuh membasahi pipi. "Saya mungkin belum bisa memberimu kemewahan duniawi, Lar. Saya mungkin belum bisa membelikanmu pakaian mahal atau rumah yang megah. Tapi saya berjanji di hadapan Tuhan dan semua orang yang hadir, saya akan berusaha sekuat tenaga agar kamu tidak pernah merasakan kesepian, tidak pernah merasa terabaikan, dan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Seumur hidup saya hanya untukmu."

Bulan-bulan pertama pernikahan mereka penuh perjuangan. Gaji Agung yang tidak menentu seringkali hanya cukup untuk makan seadanya. Larasati terpaksa harus bekerja lembur setiap hari, bahkan mengambil pekerjaan tambahan sebagai penulis artikel lepas di malam hari agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Namun di sela-sela kesulitan itu, ada kehangatan yang tak tergantikan. Agung selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sederhana, memijat bahu Larasati yang terasa pegal setelah bekerja seharian, dan selalu memeluknya erat sebelum mereka tidur.

Seringkali Agung meminta maaf dengan wajah tertunduk, "Maafkan aku yang belum bisa memberimu kehidupan yang layak, Lar. Maafkan aku yang masih membuatmu susah."

Larasati akan segera mengangkat wajah suaminya, menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Jangan bicara begitu, Agung. Kita bangun bersama, pelan-pelan. Yang paling penting kita saling memiliki dan saling menyayangi. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Namun lama-kelamaan, bayang-bayang keraguan mulai muncul di hati Larasati. Kadang ia melihat Agung menerima telepon yang berusaha ia sembunyikan, berbicara dengan nada rendah seolah sedang berdebat dengan seseorang. Kadang pula ia pulang dengan wajah pucat dan terlihat sangat lelah setelah bertemu dengan orang-orang yang berpakaian sangat rapi dan mewah. Setiap kali ditanya, Agung hanya menjawab itu hanya urusan pekerjaan biasa, namun Larasati merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Ia berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh, takut jika ia mengetahui sesuatu yang akan merusak kebahagiaan kecil yang sudah mereka bangun dengan susah payah.

Sampai suatu hari, saat ia pulang lebih awal dari kantor karena tugasnya sudah selesai lebih cepat, ia melihat sebuah mobil sedan hitam besar yang sangat mewah berhenti tepat di depan rumah kos mereka. Seorang pria tua yang berpakaian sangat rapi dan berwibawa berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Agung dengan nada yang sangat tegas dan penuh wibawa.

"Kamu sudah cukup lama bermain peran menjadi orang biasa, Nak. Waktunya kamu kembali ke tempat yang seharusnya. Perusahaan keluarga tidak bisa menunggu kamu terus-menerus. Seluruh nasib ribuan karyawan bergantung pada keputusanmu," suara pria itu terdengar sangat jelas hingga sampai ke telinga Larasati yang masih berdiri terpaku di kejauhan.

Agung menunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Namun saat ia perlahan menoleh ke arah pintu, matanya langsung bertemu dengan mata Larasati yang terbelalak kaget dan penuh tanya. Dunia seakan berhenti berputar saat itu. Semua hal yang selama ini terasa janggal, semua rahasia yang disembunyikan suaminya, seakan mulai terkuak perlahan.

Episodes
1 Bab 1: Di Balik Kesederhanaan
2 Bab 2: Retak di Balik Kebenaran
3 Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing
4 Bab 4: Ujian di Antara Dinding Dingin
5 Bab 5: Kebenaran yang Menyatukan
6 Bab 6: Bayangan di Balik Persatuan
7 Bab 7: Malam Sebelum Topeng Jatuh
8 Bab 8: Di Bawah Langit yang Saksi Janji Kita
9 Bab 9: Lembar Baru yang Tertulis dengan Kepercayaan
10 Bab 10: Rumah Kecil dan Prinsip yang Tak Tergoyahkan
11 Bab 11: Di Antara Janin yang Tumbuh dan Masa Lalu yang Tak Mau Pergi
12 Bab 12: Warisan Terakhir dan Tangisan Pertama yang Menutup Semua Luka
13 Bab 13: Kebaikan yang Tumbuh Diam-Diam Selama Puluhan Tahun
14 Bab 14: Harga yang Tak Ternilai oleh Emas
15 Bab 15: Nilai yang Lebih Tinggi dari Segala Angka
16 Bab 16: Kelahiran yang Menutup Segala Luka
17 Bab 17: Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Luas
18 Bab 18: Jejak yang Tersembunyi di Lereng Gunung
19 Bab 19: Rahasia Tanam yang Terkubur Seratus Tahun
20 Bab 20: Surat yang Membongkar Fondasi
21 Bab 21: Jejak Ratu yang Hilang
22 Bab 22: Pohon Beringin dan Kotak Besi yang Tak Bisa Dibuka
23 Bab 23: Anak Ratu yang Selama Ini Bersama Mereka
24 Bab 24: Sidang Rakyat di Lereng Gunung
25 Bab 25: Ancaman yang Menyasar Anak-anak Kita
26 Bab 26: Cinta Pertama yang Beracun
27 Bab 27: Pesta yang Menjadi Jebakan
28 Bab 28: Warisan untuk Generasi Berikutnya
29 Bab 29: Langkah Pertama yang Menyakitkan
30 Bab 30: Perjuangan di Tanah Perbatasan
31 Bab 31: Kabar yang Menggetarkan Hati
32 Bab 32: Nyawa Ibu yang Dipertaruhkan
33 Bab 33: Badai Keuangan yang Mengguncang
34 Bab 34: Nyawa Bagas yang Dipertaruhkan
35 Bab 35: Perang yang Tak Akan Ada Pemenangnya
36 Bab 36: Rahasia Tersembunyi di Balik Surat Kuno
37 Bab 37: Pengkhianatan yang Memecahkan Hati
38 Bab 38: Abu-abu
39 Bab 39: Bu Wulan
40 Bab 40: Benih Harapan
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Di Balik Kesederhanaan
2
Bab 2: Retak di Balik Kebenaran
3
Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing
4
Bab 4: Ujian di Antara Dinding Dingin
5
Bab 5: Kebenaran yang Menyatukan
6
Bab 6: Bayangan di Balik Persatuan
7
Bab 7: Malam Sebelum Topeng Jatuh
8
Bab 8: Di Bawah Langit yang Saksi Janji Kita
9
Bab 9: Lembar Baru yang Tertulis dengan Kepercayaan
10
Bab 10: Rumah Kecil dan Prinsip yang Tak Tergoyahkan
11
Bab 11: Di Antara Janin yang Tumbuh dan Masa Lalu yang Tak Mau Pergi
12
Bab 12: Warisan Terakhir dan Tangisan Pertama yang Menutup Semua Luka
13
Bab 13: Kebaikan yang Tumbuh Diam-Diam Selama Puluhan Tahun
14
Bab 14: Harga yang Tak Ternilai oleh Emas
15
Bab 15: Nilai yang Lebih Tinggi dari Segala Angka
16
Bab 16: Kelahiran yang Menutup Segala Luka
17
Bab 17: Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Luas
18
Bab 18: Jejak yang Tersembunyi di Lereng Gunung
19
Bab 19: Rahasia Tanam yang Terkubur Seratus Tahun
20
Bab 20: Surat yang Membongkar Fondasi
21
Bab 21: Jejak Ratu yang Hilang
22
Bab 22: Pohon Beringin dan Kotak Besi yang Tak Bisa Dibuka
23
Bab 23: Anak Ratu yang Selama Ini Bersama Mereka
24
Bab 24: Sidang Rakyat di Lereng Gunung
25
Bab 25: Ancaman yang Menyasar Anak-anak Kita
26
Bab 26: Cinta Pertama yang Beracun
27
Bab 27: Pesta yang Menjadi Jebakan
28
Bab 28: Warisan untuk Generasi Berikutnya
29
Bab 29: Langkah Pertama yang Menyakitkan
30
Bab 30: Perjuangan di Tanah Perbatasan
31
Bab 31: Kabar yang Menggetarkan Hati
32
Bab 32: Nyawa Ibu yang Dipertaruhkan
33
Bab 33: Badai Keuangan yang Mengguncang
34
Bab 34: Nyawa Bagas yang Dipertaruhkan
35
Bab 35: Perang yang Tak Akan Ada Pemenangnya
36
Bab 36: Rahasia Tersembunyi di Balik Surat Kuno
37
Bab 37: Pengkhianatan yang Memecahkan Hati
38
Bab 38: Abu-abu
39
Bab 39: Bu Wulan
40
Bab 40: Benih Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!