Bab 2: Retak di Balik Kebenaran

Langkah kaki Larasati terasa berat seolah ada rantai besi yang mengikat pergelangan kakinya. Tas kerja yang biasa ia genggam erat kini terlepas pelan, jatuh berdebam di tanah lembap tanpa ia hiraukan. Pria tua itu—yang baru saja ia ketahui adalah Haryo Wijaya, ayah kandung Agung dan pemilik konglomerat bisnis yang namanya tersohor ke seluruh penjuru negeri—menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang tajam namun sejenak tertegun.

Agung seketika berbalik badan, wajahnya pucat pasi, napasnya tercekat seakan baru saja tertangkap melakukan kesalahan besar. "Lar..." panggilnya lirih, suaranya pecah tak berdaya. Ia ingin melangkah mendekat, namun kakinya terpaku di tempat.

Larasati mundur selangkah, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak kunjung jatuh. Rasa bingung, sakit hati, dan dikhianati berdesakan di dadanya, sesak hingga rasanya sulit bernapas. "Benarkah apa yang dikatakan Bapak itu, Agung?" suaranya bergetar hebat. "Kau bukan teknisi bangunan? Kau bukan orang yang tak punya apa-apa?"

Agung menggeleng lemah, tangannya terulur ingin meraih tangan istrinya namun terhenti di udara. "Dengar aku dulu, Lar... Tolong, percayalah padaku. Ada alasan kenapa aku menyembunyikan semua ini..."

"Alasan apa?" potong Larasati dengan suara yang tiba-tiba meninggi, air mata akhirnya menetes membasahi pipi. "Alasan apa yang membuatmu harus membohongiku sejak awal pertemuan? Membiarkanku mengira kau hidup pas-pasan? Membiarkanku bekerja lembur setiap malam demi menambal kekurangan? Apakah semua ini hanya permainan bagimu? Ujian kesetiaan yang kau buat-buat agar kau bisa menertawakanku nanti?"

"Nggak! Jangan berpikir begitu, Lar! Kumohon!" Agung akhirnya berlari mendekat, namun Larasati mundur menjauh. Hati Larasati hancur lebur. Semua perhatian, semua kesederhanaan, semua janji setia yang diucapkan di malam-malam sunyi tiba-tiba terasa penuh kepalsuan. Ia merasa seperti orang bodoh yang dengan tulus mencintai bayangan yang sengaja dibuatkan suaminya.

Pak Haryo mendekat perlahan, menatap Larasati sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penilaian dingin dan sedikit rasa tidak tega. "Nak, Agung melakukannya karena ia lelah dikelilingi orang-orang yang hanya mendekatinya demi harta keluarga. Ia ingin mencari wanita yang mencintai dirinya apa adanya, bukan demi nama besar Wijaya maupun kekayaan yang kami miliki."

Larasati menatap pria tua itu tajam, lalu kembali menatap Agung yang tampak hancur. "Jadi aku hanya objek percobaan? Kau pastikan dulu aku tidak mencintaimu karena harta, baru kau berani menunjukkan jati dirimu? Bagaimana jika aku tidak pernah bisa menerima kebohongan besar ini, Agung? Bagaimana jika aku merasa seluruh cinta yang kuberikan selama ini ternyata sia-sia?"

Perdebatan itu berlanjut hingga matahari benar-benar terbenam. Agung berusaha menjelaskan semuanya: bagaimana ia memohon izin pada ayahnya untuk hidup mandiri selama dua tahun, bagaimana ia bekerja kasar agar mengerti makna perjuangan hidup, bagaimana ia bertemu Larasati dan jatuh cinta sungguh-sungguh—bukan karena rencana, melainkan karena ketulusan wanita itu yang perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya.

Namun rasa sakit hati Larasati terlalu dalam. Ia masuk ke dalam kamar kost yang sempit itu, memungut barang-barang pakaiannya seadanya. "Aku butuh waktu sendiri, Agung. Aku tidak tahu lagi harus percaya pada apa. Selama ini aku mengira kita berjuang bersama dari bawah, ternyata kau sudah berdiri di atas menara gading yang tak terbayangkan. Rasanya dunia kita terlalu jauh berbeda."

Agung memegang bahu istrinya dengan lembut namun tegas, menahan agar Larasati tidak pergi. "Tidak ada yang berbeda, Lar. Harta itu milik keluargaku, tapi hatiku tetap milikmu yang sama seperti saat kita bertemu di halte hujan dulu. Tolong jangan pergi... Kumohon, jangan biarkan kebohongan awalmu menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama."

Malam itu menjadi malam terpanjang bagi mereka. Di kamar yang sederhana itu, di antara kesunyian yang mencekam, keduanya terjaga. Larasati menangis dalam diam, merenungkan kembali setiap momen yang telah mereka lalui. Apakah senyum Agung yang tulus dulu hanyalah sandiwara? Ataukah di balik segala kemewahan itu, ia memang benar-benar pria yang ia kenal—sederhana, hangat, dan penuh kasih?

Di sisi lain, Pak Haryo sudah berjanji akan kembali esok hari. Dan besok, tak ada lagi alasan untuk menunda. Agung harus kembali ke dunianya, dan Larasati harus memutuskan: apakah ia siap menghadapi realita baru, atau melepaskan pria yang ternyata menyembunyikan segalanya demi sebuah cinta yang tulus?

 

Bersambung Ke Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing.

Episodes
1 Bab 1: Di Balik Kesederhanaan
2 Bab 2: Retak di Balik Kebenaran
3 Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing
4 Bab 4: Ujian di Antara Dinding Dingin
5 Bab 5: Kebenaran yang Menyatukan
6 Bab 6: Bayangan di Balik Persatuan
7 Bab 7: Malam Sebelum Topeng Jatuh
8 Bab 8: Di Bawah Langit yang Saksi Janji Kita
9 Bab 9: Lembar Baru yang Tertulis dengan Kepercayaan
10 Bab 10: Rumah Kecil dan Prinsip yang Tak Tergoyahkan
11 Bab 11: Di Antara Janin yang Tumbuh dan Masa Lalu yang Tak Mau Pergi
12 Bab 12: Warisan Terakhir dan Tangisan Pertama yang Menutup Semua Luka
13 Bab 13: Kebaikan yang Tumbuh Diam-Diam Selama Puluhan Tahun
14 Bab 14: Harga yang Tak Ternilai oleh Emas
15 Bab 15: Nilai yang Lebih Tinggi dari Segala Angka
16 Bab 16: Kelahiran yang Menutup Segala Luka
17 Bab 17: Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Luas
18 Bab 18: Jejak yang Tersembunyi di Lereng Gunung
19 Bab 19: Rahasia Tanam yang Terkubur Seratus Tahun
20 Bab 20: Surat yang Membongkar Fondasi
21 Bab 21: Jejak Ratu yang Hilang
22 Bab 22: Pohon Beringin dan Kotak Besi yang Tak Bisa Dibuka
23 Bab 23: Anak Ratu yang Selama Ini Bersama Mereka
24 Bab 24: Sidang Rakyat di Lereng Gunung
25 Bab 25: Ancaman yang Menyasar Anak-anak Kita
26 Bab 26: Cinta Pertama yang Beracun
27 Bab 27: Pesta yang Menjadi Jebakan
28 Bab 28: Warisan untuk Generasi Berikutnya
29 Bab 29: Langkah Pertama yang Menyakitkan
30 Bab 30: Perjuangan di Tanah Perbatasan
31 Bab 31: Kabar yang Menggetarkan Hati
32 Bab 32: Nyawa Ibu yang Dipertaruhkan
33 Bab 33: Badai Keuangan yang Mengguncang
34 Bab 34: Nyawa Bagas yang Dipertaruhkan
35 Bab 35: Perang yang Tak Akan Ada Pemenangnya
36 Bab 36: Rahasia Tersembunyi di Balik Surat Kuno
37 Bab 37: Pengkhianatan yang Memecahkan Hati
38 Bab 38: Abu-abu
39 Bab 39: Bu Wulan
40 Bab 40: Benih Harapan
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Di Balik Kesederhanaan
2
Bab 2: Retak di Balik Kebenaran
3
Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing
4
Bab 4: Ujian di Antara Dinding Dingin
5
Bab 5: Kebenaran yang Menyatukan
6
Bab 6: Bayangan di Balik Persatuan
7
Bab 7: Malam Sebelum Topeng Jatuh
8
Bab 8: Di Bawah Langit yang Saksi Janji Kita
9
Bab 9: Lembar Baru yang Tertulis dengan Kepercayaan
10
Bab 10: Rumah Kecil dan Prinsip yang Tak Tergoyahkan
11
Bab 11: Di Antara Janin yang Tumbuh dan Masa Lalu yang Tak Mau Pergi
12
Bab 12: Warisan Terakhir dan Tangisan Pertama yang Menutup Semua Luka
13
Bab 13: Kebaikan yang Tumbuh Diam-Diam Selama Puluhan Tahun
14
Bab 14: Harga yang Tak Ternilai oleh Emas
15
Bab 15: Nilai yang Lebih Tinggi dari Segala Angka
16
Bab 16: Kelahiran yang Menutup Segala Luka
17
Bab 17: Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Luas
18
Bab 18: Jejak yang Tersembunyi di Lereng Gunung
19
Bab 19: Rahasia Tanam yang Terkubur Seratus Tahun
20
Bab 20: Surat yang Membongkar Fondasi
21
Bab 21: Jejak Ratu yang Hilang
22
Bab 22: Pohon Beringin dan Kotak Besi yang Tak Bisa Dibuka
23
Bab 23: Anak Ratu yang Selama Ini Bersama Mereka
24
Bab 24: Sidang Rakyat di Lereng Gunung
25
Bab 25: Ancaman yang Menyasar Anak-anak Kita
26
Bab 26: Cinta Pertama yang Beracun
27
Bab 27: Pesta yang Menjadi Jebakan
28
Bab 28: Warisan untuk Generasi Berikutnya
29
Bab 29: Langkah Pertama yang Menyakitkan
30
Bab 30: Perjuangan di Tanah Perbatasan
31
Bab 31: Kabar yang Menggetarkan Hati
32
Bab 32: Nyawa Ibu yang Dipertaruhkan
33
Bab 33: Badai Keuangan yang Mengguncang
34
Bab 34: Nyawa Bagas yang Dipertaruhkan
35
Bab 35: Perang yang Tak Akan Ada Pemenangnya
36
Bab 36: Rahasia Tersembunyi di Balik Surat Kuno
37
Bab 37: Pengkhianatan yang Memecahkan Hati
38
Bab 38: Abu-abu
39
Bab 39: Bu Wulan
40
Bab 40: Benih Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!