Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 DOKUMEN SEBELUM KECELAKAAN
Revan kembali masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Kaluna berdiri di lorong tanpa bergerak. Ia sempat ingin mengejar dan memaksa lelaki itu menjelaskan maksudnya, tetapi Salindri menyentuh lengannya.
“Jangan,” katanya pelan.
“Dia baru saja mengaku memasukkan dokumen lain atas namaku.”
“Dia juga kelihatan sedang diawasi.”
Kaluna memperhatikan kamera di ujung lorong. Lampu merah kecil di bawah lensa masih menyala.
Naren berjalan lebih dahulu menuju lift. “Kita keluar dulu.”
Mereka tidak membicarakan Revan sampai tiba di lobi. Kaluna beberapa kali menoleh ke belakang, berharap lelaki itu menyusul atau setidaknya mengirim seseorang membawa pesan. Tidak ada. Begitu berada di dalam mobil, Salindri membuka catatannya.
“Ucapan Revan belum bisa kita anggap pengakuan resmi.”
“Dia mengatakan sendiri ada dokumen lain.”
“Tapi kita belum tahu dokumen apa, kapan dimasukkan, atau atas perintah siapa.”
Kaluna menyandarkan tubuh. “Kamu selalu berhasil membuat semuanya terdengar belum cukup.”
“Memang belum.”
Naren menyalakan mesin, tetapi belum menjalankan mobil. “Revan tidak akan bicara di kantor. Dia melihat kamera sebelum menyuruh kita pergi.”
“Kalau dia memang mau bantu, harusnya dia bisa cari cara buat hubungi kita,” kata Salindri.
Kaluna mengeluarkan teleponnya. Tidak ada pesan. Mereka baru meninggalkan halaman perusahaan ketika sebuah nomor tidak dikenal menelepon. Kaluna langsung menjawab. Tak ada suara beberapa detik.
“Halo?”
“Jangan sebut nama saya.”
Kaluna mengenali suara Revan. Salindri dan Naren menoleh kepadanya.
“Kamu mau bertemu di mana?” tanya Kaluna.
“Gedung lama. Parkiran bawah tanah. Setengah tujuh malam.”
“Apa yang kamu masukkan menggunakan namaku?”
Sambungan langsung terputus. Kaluna menatap layar telepon.
“Revan?” tanya Naren.
Kaluna mengangguk. “Dia ingin bertemu di parkiran gedung lama.”
“Tempat dia menaiki kendaraan operasional kemarin,” kata Salindri.
“Bukan dia yang naik kendaraan itu,” jawab Kaluna. “Pengemudi bilang ada dua laki-laki. Kita belum menunjukkan foto Revan kepadanya.”
“Makanya kita jangan simpulkan dulu.”
Naren melirik jam pada layar mobil. “Masih dua jam.”
“Aku akan datang,” kata Kaluna.
“Kita bertiga,” jawab Salindri.
“Dia mungkin tidak mau bicara kalau melihat banyak orang.”
“Kau tidak akan menemuinya sendirian.”
Akhirnya disepakati Kaluna masuk ke parkiran seorang diri. Naren menunggu di lantai yang sama, tetapi tidak terlalu dekat. Salindri berada di mobil sambil tetap merekam suara dari sambungan ponsel yang dibiarkan aktif.
Gedung lama Mahardika Medika tampak lebih sepi saat malam mulai turun. Hanya beberapa lantai yang masih menyala. Sebagian ruang digunakan untuk penyimpanan arsip, pelatihan pegawai, dan pekerjaan administrasi yang tidak lagi ditempatkan di kantor pusat.
Kaluna memasuki parkiran bawah tanah pukul enam lewat dua puluh lima menit.
Udara di sana terasa lembap. Beberapa lampu berkedip karena belum diganti. Suara langkahnya memantul di antara deretan mobil. Revan belum terlihat.
Kaluna berdiri di dekat pilar bernomor B-17. Ia menunggu sambil memegang telepon di dalam tas. Sambungan dengan Salindri tetap aktif.
Lima menit kemudian, sebuah pintu darurat terbuka. Revan keluar mengenakan jaket gelap. Tidak ada tas kerja di tangannya. Ia berjalan cepat, lalu berhenti beberapa langkah dari Kaluna.
“Anda membawa orang lain?”
“Naren ada di sekitar sini.”
Revan langsung menoleh ke arah pintu keluar.
“Dia tidak akan mendekat kalau kamu tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan.”
“Saya seharusnya tidak datang.”
“Tapi kamu datang.”
Revan mengusap wajahnya. Ia tampak lebih lelah daripada saat berada di kantor.
“Kamu bilang ada dokumen lain yang dimasukkan atas namaku,” kata Kaluna. “Dokumen apa?”
Revan mengambil selembar kertas kecil dari saku jaket, tetapi belum menyerahkannya.
“Tiga hari sebelum kecelakaan, saya diminta memasukkan permohonan akses arsip khusus menggunakan persetujuan digital Anda.”
“Akses untuk apa?”
“Beberapa laporan keuangan dan dokumen pengadaan.”
“Aku yang meminta?”
“Saya tidak pernah menerima perintah langsung dari Anda.”
“Lalu kenapa memakai persetujuanku?”
Revan memandang lantai. “Sudah ada dalam sistem.”
“Siapa yang memasukkannya?”
“Saya tidak tahu.”
Kaluna menahan amarah. “Kamu memproses dokumen atas namaku tanpa memastikan aku yang menyetujui?”
“Di perusahaan, banyak persetujuan diteruskan melalui sekretariat. Kalau setiap asisten harus memeriksa langsung kepada direksi, pekerjaan tidak akan selesai.”
“Dan sekarang tanda tanganku muncul setelah aku mati.”
Revan menegang. “Saya tidak membuat tanda tangan itu.”
“Aku tidak bilang kamu yang membuat.”
“Tapi semua jejak mengarah kepada saya.”
“Karena namamu memang ada di sana.”
Revan berjalan dua langkah menjauh, lalu kembali. “Saya hanya memasukkan apa yang diberikan kepada saya.”
“Dari siapa?”
“Saya tidak bisa mengatakan.”
“Tidak bisa atau tidak mau?”
Revan menatap Kaluna. “Kalau hanya diri saya yang terancam, mungkin saya akan bicara.”
Kaluna teringat reaksinya saat keluarga disebut di kantor.
“Siapa yang mereka ancam?”
“Jangan tanya.”
“Kamu ingin aku percaya, tapi kamu tidak memberi apa-apa.”
Revan akhirnya menyerahkan kertas kecil itu. Di sana terdapat kode arsip dan satu nomor ruang penyimpanan.
“Cari arsip pertemuan hotel,” katanya. “Kode itu mengarah ke salinan administrasinya.”
“Pertemuan yang kuhadiri dua hari sebelum kecelakaan?”
Revan mengangguk.
“Kamu ada di sana?”
“Saya mengantar beberapa berkas, lalu pergi.”
“Termasuk telepon perusahaan?”
Revan tidak menjawab.
Kaluna mendekat satu langkah. “Kamu mengambil fotoku?”
“Saya bilang telepon itu dipakai banyak orang.”
“Itu bukan jawaban.”
Revan menurunkan suara. “Saya membawa perangkat tersebut ke hotel. Setelah menyerahkannya, saya tidak lagi memegangnya sampai malam.”
“Siapa yang menerima?”
Revan memalingkan wajah.
“Kamu selalu berhenti kalau sudah sampai bagian yang penting.”
“Saya sudah memberi kode arsip.”
“Apa isi pertemuannya?”
“Saya tidak masuk ke ruangan.”
“Lalu apa yang kamu tahu?”
Revan masih diam. “Anda membawa map merah.”
Kaluna merasa sesuatu bergerak di dalam ingatannya. Map merah tua. Meja di ruang pertemuan. Dua gelas di dekat tangannya. Bayangan itu muncul singkat, lalu menghilang sebelum bisa disentuh.
“Apa isi map itu?”
“Saya tidak tahu semuanya. Tapi setelah pertemuan, ada permintaan agar beberapa laporan ditarik dari sistem utama.”
“Laporan apa?”
“Pengadaan dan pembayaran.”
“Siapa yang meminta ditarik?”
Revan menggeleng. “Cari arsipnya.”
Kaluna memejamkan mata sebentar. Sakit kecil muncul di sisi kepalanya. Ia melihat dirinya membuka map merah. Di halaman paling atas terdapat tabel berisi angka. Satu kolom diberi lingkaran menggunakan pena hitam. Ada nama perusahaan yang tidak bisa ia baca. Kemudian suara seseorang berkata, “Kita tidak bisa membawa ini ke kantor.”
Kaluna membuka mata.
“Kamu tahu siapa saja yang hadir?”
“Ada daftar peserta dalam arsip.”
“Kenapa kamu tidak menyebut nama mereka sekarang?”
“Bisa jadi daftar itu beda dengan yang sebenarnya.”
Kaluna menatapnya. “Apa maksudmu?”
Revan mundur satu langkah saat suara kendaraan terdengar dari ujung parkiran. Sebuah mobil masuk, tetapi hanya lewat menuju lantai berikutnya.
“Daftar itu pernah diubah,” kata Revan setelah suara mesin menjauh. “Saya tidak tahu bagian mana yang asli.”
“Siapa yang mengubah?”
Revan menggeleng.
“Setelah Anda mengalami kecelakaan, saya diminta membuat salinan baru. Beberapa nama tetap ada. Beberapa keterangan dihapus.”
“Apakah kamu menyimpan salinan lama?”
“Tidak.”
“Kamu berbohong.”
“Saya tidak cukup bodoh membawa dokumen perusahaan pulang.”
“Tapi cukup berani menemuiku di sini.”
Revan menatap kertas kode arsip di tangan Kaluna. “Itu satu-satunya yang bisa saya berikan sekarang.”
“Kapan kamu akan bicara sepenuhnya?”
“Tidak tahu.”
“Anakku sedang diawasi.”
Revan tampak gelisah. “Saya tidak terlibat soal Elara.”
“Tapi orang yang melakukannya memakai kendaraan rekanan perusahaan.”
“Saya tidak tahu.”
Kaluna memperhatikan wajahnya. Revan tampak takut, tetapi bukan karena tertangkap. Ia seperti seseorang yang tahu satu langkah salah dapat membahayakan orang lain.
“Kalau kamu tidak ikut merencanakan semua ini, bantu aku menghentikannya.”
“Saya sudah membantu.”
“Belum cukup.”
“Buat Anda mungkin belum. Buat saya, datang ke sini saja sudah kelewat jauh.”
Revan berbalik menuju pintu darurat.
“Revan.”
Lelaki itu berhenti.
“Apakah orang yang mencoba membunuhku hadir dalam pertemuan hotel?”
Revan tidak menoleh.
“Saya tidak tahu siapa yang mencoba membunuh Anda.”
“Tapi kamu tahu sesuatu terjadi setelah pertemuan itu.”
Revan meraih gagang pintu.
“Anda seharusnya tidak membawa map merah itu keluar dari kantor.”
Setelah mengatakan hal itu, ia masuk dan menutup pintu.
Naren muncul dari balik deretan mobil beberapa detik kemudian.
“Kau baik-baik saja?”
Kaluna menyerahkan kertas kode arsip.
“Dia bilang ada salinan administrasi pertemuan hotel.”
Salindri turun dari mobil dan menghampiri mereka. “Saya mendengar sebagian. Rekamannya cukup jelas.”
“Itu belum bisa dipakai tanpa izinnya,” kata Naren.
“Saya tahu. Tapi setidaknya kita punya catatan pembicaraan.”
Kaluna melihat pintu tempat Revan pergi.
“Dia bilang daftar peserta pernah diubah.”
“Kalau begitu, arsip yang kita pegang belum tentu benar semua,” jawab Salindri.
“Tapi tetap harus kita lihat.”
Ruang arsip berada di lantai dua gedung lama. Secara resmi sudah tutup, tetapi Salindri menghubungi pihak perusahaan dan menggunakan hak pemeriksaan dokumen yang berkaitan dengan sengketa saham Kaluna.
Mereka harus menunggu hampir satu jam sebelum seorang petugas datang membawa kunci.
Kode dari Revan mengarah ke rak penyimpanan administrasi rapat eksternal. Arsip digitalnya sudah tidak aktif, tetapi salinan kertas masih disimpan dalam kotak. Petugas mengeluarkan satu kotak abu-abu.
Di dalamnya terdapat tagihan hotel, pemesanan ruang pertemuan, daftar konsumsi, surat tugas perangkat, dan daftar peserta.
Kaluna mengambil dokumen paling atas.
Pertemuan Internal Mahardika Medika.
Tanggalnya sama dengan hari ketika ia difoto memasuki hotel. Empat orang tercatat sebagai peserta. Dua nama pertama dicetak jelas. Dua nama lainnya seperti pernah dikoreksi. Warna tintanya berbeda.
Kaluna membaca namanya sendiri pada baris pertama.
Di sebelahnya terdapat tanda tangan yang mirip tanda tangannya.
Baris berikutnya mencantumkan jabatan direktur utama. Dada Kaluna mengencang.
“Arsen.”
Naren melihat dokumen dari samping. “Dia tercatat hadir.”
Kaluna langsung mengeluarkan telepon. Arsen menjawab setelah beberapa dering.
“Ada apa?”
“Kamu berada di hotel dekat bandara dua hari sebelum kecelakaanku?”
Arsen terdiam sebentar. “Tidak.”
“Kamu yakin?”
“Aku sedang meninjau cabang di Bandung. Kenapa?”
“Jadi kamu tidak bertemu denganku di hotel hari itu?”
“Tidak. Aku baru kembali malamnya.”
Kaluna memandang daftar peserta di tangannya. Nama Arsen Mahardika tercetak tepat di bawah namanya, lengkap dengan tanda tangan kehadiran.
“Kaluna?” panggil Arsen. “Apa yang kamu temukan?”
Kaluna diam sebentar. Kalau Arsen berkata jujur, seseorang telah menambahkan namanya ke dalam daftar pertemuan. Kalau daftar itu benar, Arsen baru saja berbohong. Kaluna memperhatikan tanda tangan di sebelah nama suaminya.
“Aku menemukan daftar orang yang hadir dalam pertemuan hotel.”
Arsen kembali terdiam. Kaluna menggenggam dokumen itu lebih erat.
“Dan namamu ada di dalamnya.”