"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama
"Jadi ini kampungnya? Kenapa lebih terlihat seperti hutan belantara?" tanya seorang pemuda bernama Hamka
"Iya lah, namanya juga kampung misteri, penuh misteri dan di mana mana misteri" jawab temannya yang bernama Liam.
"Kalian jangan berisik, gue mau menikmati suasana hutan" gerutu satu lagi yang bernama Lintang.
Tiga laki-laki dari kota yang di tugaskan untuk menyadarkan warga kampung telah datang ke sebuah kampung yang di penuhi misteri, warganya tidak percaya Tuhan, hanya percaya pada leluhur yang mereka percayai selama ratusan tahun. Awalnya mereka begitu kesulitan tapi setelah itu mereka mulai beradaptasi dan mulai mengerti dengan apa yang terjadi di kampung itu.
Mereka adalah Hamka Haris Stuart, Liam Langit Danendra dan Lintang Langit Danendra, mereka menjalani aktifitas mereka dengan banyak kendala di kampung yang sama sekali tidak menerima datangnya orang asing itu, tapi mereka tidak akan menyerah karena mereka harus memastikan pohon keramat itu berbuah sampai tugas mereka selesai.
Tak terhitung hari mereka berada di kampung yang penuh dengan orang orang sesat itu hingga saat ini mereka sudah mulai diterima di sana meskipun juga masih tetap di curigai oleh warga.
"Kenanga bangun, shalat subuh" ucap Liam menepuk nepuk pipi Kenanga istrinya yang tidur di kasurnya dan Liam tidur di sofa.
"Aaaaa"
"Bangun! Kalau kamu malas akan aku usir kamu ke rumah bapak kamu lagi!" ancam Liam membuat Kenanga langsung terbangun dengan mata yang masih berat.
"Cepat ke kamar mandi, mandi dan wudhu, masih ingat kan yang di ajari Lyra?" tanya Liam dan Kenanga menggelengkan kepalanya
"Ayo cepat aku tunjukkan caranya, kamu mandi dulu sana"
"Iiii"
"Ada di dalam, perlengkapan mandi Lyra sudah di pindahkan ke sini, pakaian Lyra juga boleh kamu pakai mulai sekarang, Lyra bilang dia akan bawakan lagi bulan depan" jawab Liam yang tahu Kenanga ingin perlengkapan mandi Lyra karena Lyra mengatakan kalau Kenanga sangat menyukai itu.
"Jangan lama lama, waktu subuhnya nanti keburu habis" ucap Liam membuat Kenanga yang tadinya senang jadi lesu kembali.
"Dasar bocah, sepertinya dia akan lebih nakal dari Zeeshan, perlu kesabaran ekstra" gumam Liam menyiapkan pakaian untuk Kenanga.
Rencananya pagi itu mereka akan ke rumah Dirman dan meminta Panca untuk menikahkan mereka secara Islam agar Liam bisa lebih bebas membimbing Kenanga yang begitu aktif saat bergerak, bahkan Liam tidak akan tahu kapan Kenanga akan melompat ke punggungnya untuk minta di gendong.
"Kalian lama" ucap Lintang
"Sekarang kan gue punya bocil" jawab Liam yang sudah siap dengan baju Kokonya dan Kenanga sudah cantik dengan mukena baru milik Safira yang ada di dalam lemari.
"Ikuti gerakan sholat kami, nanti kamu akan belajar semua niat shalat dan juga bacaannya" ucap Liam dan Kenanga mengangguk lagi sambil berputar putar karena senang memakai mukena yang baru pertama kali dia pakai.
"Yakin dia akan bisa sampai selesai?" tanya Hamka tidak yakin.
"Pertama kali, jadi jangan terlalu berharap, nanti setelah dia sah jadi istri gue, baru gue jejali kepalanya dengan semua hafalan dan tata cara wudhu dan shalat yang benar" jawab Liam segera berdiri di tempat imam, dan memimpin shalat subuh.
Selesai shalat seperti biasa Liam akan wirid terlebih dahulu baru membaca do'a, setelahnya baru bersalaman dengan semua anggota keluarga, tapi Liam langsung menghela nafasnya saat dia melihat Kenanga malah kembali tertidur dengan mulut mengaga di samping Laily istri Lintang yang hanya terkekeh melihat gaya tidur Kenanga.
"Astagfirullahaladzim" ucap Liam mengusap dadanya.
"Perjalanan Lo panjang Liam, yang sabar ya" bujuk Hamka menahan tawanya begitupun Lintang
Saat sarapan pun bukan jadi saat yang tenang untuk Liam, karena Kenanga terus saja ingin masuk ke dalam kulkas bahkan ingin ikut memasak dengan Laily meski yang dia lakukan adalah membuat dapur jadi berantakan.
"Sini tangan kamu" ucap Liam saat mereka sudah di luar rumah dan akan ke rumah Dirman.
"Untuk apa?" tanya Kenanga yang akan bisa bicara jika di depan pohon keramat.
"Kakak punya hadiah untuk kamu" jawab Liam
"Mau" jawab Kenanga berbinar dan langsung memberikan tangannya pada Liam. Tapi bukan hadiah yang di dapat Kenanga, justru tali yang di ikatkan ke pergelangan tangannya dan pergelangan tangan Liam.
"Ini supaya kamu tidak hilang, meski di sini sepi dan tidak ramai, tapi di sini banyak jin usil, kamu bisa saja di sembunyikan mereka saat kamu berlarian kesana kemari seperti monyet" ucap Liam datar menatap wajah cemberut Kenanga yang terlihat kesal di bohongi.
"Ini makan sepanjang perjalanan, jangan manyun begitu kamu jelek" ucap Liam memberikan satu coklat untuk Kenanga yang wajahnya langsung berubah kembali ceria
"Terima kasih Liam"
"Kakak, panggil kakak" protes Liam
"Tidak mau, maunya Liam, kakak Kenanga cuma kak Karna, kak Kula dan kak Windu" jawabnya cuek sambil membuka bungkus coklat yang dia pegang.
"Ayo jalan sebelum tekanan darah ku naik" ajak Liam
"Mau gendong" rengek Kenanga
"Jalan"
"Tidak mau!"
"Jalan atau aku tinggal dan kunci di rumah!"
"Ish.. Mirip kak Karna, selalu kunci Kenanga!" kesalnya menghentakkan kakinya sambil memakan coklat yang di berikan Liam.
"Ngalah Liam, nanti dia nangis Lo yang repot" bujuk Hamka
"Ogah" jawab Liam ketus
"Hiks... Huaaa pohon ajaib Liam nggak mau gendong Kenanga" adu kenanga
Tiba tiba saja pohon ajaib terlihat layu dan itu membuat semuanya panik apalagi itu bersamaan dengan tangisan Kenanga yang begitu kencang.
"Eh.. Eh.. Iya ayo aku gendong, kamu jangan nangis lagi, PoMat, kamu harusnya jadi sekutuku bukan dia" gerutu Liam pada pohon keramat yang selalu di panggil PoMat.
"Astagfirullah, sepertinya PoMat sudah sangat menyukai Kenanga hanya karena di sogok kacang tanah" bisik Hamka
"Ayo naik ke punggungku" kesal Liam
"Ayo jalan, Kenanga mau makan coklat lagi" ucap Kenanga kembali tersenyum.
"Mood booster banget ini anak, kadang senang, kadang sedih, kadang gilanya juga lebih banyak" gumam Hamka
"Kenanga lebih mirip anak usia tiga tahun, mungkin karena terlalu lama di kurung di rumah, jadi dia tidak tahu cara bersikap pada orang luar" ungkap Laily
"Tapi kalau begini gue malah jadi repot, setiap hari harus gendong dia, memangnya dia pikir gue ini bapaknya!" kesal Liam
"Liam suami Kenanga, bapak bilang begitu" celetuk Kenanga
"Memangnya kamu tahu apa arti suami?" tanya Liam
"Tidak tahu" jawab Kenanga polos
"Makanya diam, kalau tidak tahu itu belajar" gerutu Liam
Mereka segera berjalan ke kampung Mahoni, mereka tidak menaiki motor karena kenanga masih takut dengan suaranya, jarak ke kampung itu kalau berjalan sekitar tiga puluh menit sambil menyusuri jalan setapak yang hanya bisa di lewati motor saja.
Sampai di kampung itu, warga langsung melihat ke arah Kenanga, karena Kenanga belum pernah mereka lihat, bahkan Karna yang baru pindah ke depan rumah Dirman juga ikut terkejut karena Liam membawa Kenanga ke sana secepat itu.
"Ini siapa nak Liam?" tanya Dirman yang kebetulan ada di luar
"Ini Kenanga pak, istri saya, saya kemari mau minta sesuatu yang sama seperti saat Lintang dan Laily dulu" jawab Liam tidak mengatakan tentang ijab kabul karena di sana ada beberapa warga yang akan pergi ke hutan.
"Istri nak Liam dari kampung mana?" tanya seorang warga