Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Benar
Fabiano
"Kalau satu saja kapalmu kembali mengangkut barang untuk Lucio Castelli, besok kamu tak akan punya kapal lagi untuk diurus," ucapku sebelum menutup telepon.
Kuletakkan ponsel di atas meja lalu mengambil yang berikutnya.
Mattheo masih bicara lewat ponselnya sambil berjalan di depan peta Italia raksasa yang menutupi salah satu dinding ruang kerjaku.
"Aku tidak peduli berapa utangnya padamu," katanya dengan ketenangan yang terlalu kukenal. "Batalkan kontraknya, atau besok istrimu akan menerima foto setiap wanita yang kaupakai untuk mengkhianatinya selama tujuh tahun terakhir." Ia mengangkat satu alis saat seseorang menjawab di ujung sana. "Ya, kami juga tahu soal yang di Genoa." Ia menutup telepon lalu menjatuhkan diri ke sofa di depanku. "Beres. Dia kehilangan satu operator lagi."
Kutekan nomor berikutnya di daftar.
"Dia masih punya tiga."
"Dua," ralatnya. "Yang di Napoli berhenti menjawab tadi pagi."
"Itu tidak berarti dia menyerah."
"Itu berarti dia bersembunyi di bawah ranjangnya."
"Selama dia tidak bekerja untuk Lucio, dia boleh tinggal di sana seumur hidupnya," kataku.
Mattheo tersenyum sambil memeriksa map-map yang berserakan di atas mejaku.
Sudah berjam-jam kami bekerja.
Telepon.
Ancaman.
Rekening dibekukan.
Kontrak diputus.
Jalur diblokir.
Setiap orang yang masih bekerja dengan Lucio kehilangan sesuatu sebelum pembicaraannya dengan kami berakhir.
Mattheo menggerakkan kontak-kontaknya di pelabuhan.
Aku menutup jalur daratnya.
Kalau kami tidak bisa masuk ke San Fruttuoso tanpa membahayakan Cloe, kami akan memaksa Lucio keluar.
Kami akan membuatnya tak punya uang.
Tak punya sekutu.
Tak punya udara.
Kucengkeram ponsel saat teringat suara adikku memohon.
"Fabiano."
Kuangkat pandangan. Mattheo menatapku.
"Aku baik-baik saja."
"Aku tidak bertanya."
"Kamu sedang memikirkannya."
"Aku sedang memikirkan bahwa kamu akan menghancurkan satu ponsel lagi."
Kupandangi jari-jariku yang mencengkeram alat itu. Kuletakkan di atas meja.
Mattheo kembali fokus pada laporan-laporan.
Aku mencoba melakukan hal yang sama, tapi tidak berhasil.
Pandanganku melayang ke jendela besar. Alessia berjalan di taman. Ia mengenakan jeans terang, atasan merah, dan sweter hitamku di luarnya.
Sweterku.
Yang ia menolak mengembalikannya.
Ada buku terbuka di tangannya, meski ia tampak tak membaca satu kata pun.
Ia melangkah beberapa langkah. Berhenti dan memandang ke arah rumah. Ke arah jendela ini.
Kualihkan pandangan sebelum ia sempat melihatku.
"Apa?" tanya Mattheo.
"Tidak ada."
"Kamu sudah lima menit menatap ke luar jendela."
"Belum lima menit."
"Tiga menit kalau begitu."
Kuambil dokumen lain.
"Kita ada pekerjaan."
"Aku tahu. Aku sedang mengerjakannya," balasnya.
Kupelototi dia.
Mattheo tersenyum tanpa setitik humor pun.
"Aku cuma menyampaikan fakta," katanya.
Aku kembali menatap laporan.
Satu perusahaan angkutan.
Dua gudang.
Tiga perusahaan cangkang.
Kubaca baris yang sama berulang-ulang, tapi kepalaku masih di luar. Di taman. Bersama seorang gadis yang memakai bajuku dan berpura-pura membaca sambil menunggu aku keluar.
Aku tak akan keluar.
Aku tak bisa.
Pagi tadi ia mencoba bicara denganku.
Kutemukan ia di luar ruang kerjaku dengan sepiring makanan tertutup di tangannya.
"Fabiano," katanya sambil tersenyum. "Viola mengizinkanku membuat roti. Kali ini aku tidak membakar apa pun."
Aku berhenti hanya sedetik.
Cukup untuk melihat matanya berbinar. Cukup untuk membuatku ingin tinggal.
"Sekarang tidak bisa, Less. Aku sibuk."
Senyumnya lenyap. Ia tak menjawab. Hanya menunduk menatap piring itu lalu menyingkir agar aku bisa lewat.
Aku terus berjalan dan tidak menoleh.
Aku tidak menoleh karena aku tahu, jika melihat wajahnya, aku akan kembali.
Sekarang kenangan itu datang berulang kali.
Cara jari-jarinya mencengkeram tepi piring.
Cara ia berhenti tersenyum.
Keheningan kecil yang tertinggal di belakangku.
"Kamu akan melubangi kertasnya," ujar Mattheo.
Kupandangi pensil yang menembus kertas. Aku mengumpat lalu menyingkirkannya.
"Telepon De Santis," perintahku.
"Sudah."
"Telepon lagi."
"Dia tidak akan menjawab."
"Kalau begitu telepon ayahnya."
"Meninggal empat tahun lalu."
Kutatap dia.
"Ibunya," perintahku.
"Fabiano."
"Apa?"
Mattheo menutup map.
"Kamu tidak bisa bekerja kalau kepalamu ada di tempat lain."
"Kepalaku ada di sini."
"Ya, tentu saja."
Matanya beralih ke jendela. Aku tak perlu mengikuti arah pandangannya untuk tahu bahwa Alessia masih di taman.
"Jangan mulai," peringatku.
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bicara semuanya."
"Wajahku sempurna. Jangan salahkan dia atas masalahmu," balasnya.
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Lakukan panggilannya."
Mattheo mengamatiku beberapa detik sebelum kembali mengambil ponselnya.
Kami melanjutkan pekerjaan.
Satu jam… Dua.
Matahari mulai turun dan Alessia menghilang dari taman.
Seharusnya aku merasa lega. Sebaliknya, ruang kerja ini terasa lebih sunyi. Lebih dingin. Lebih kosong.
Sial. Seharusnya tidak terasa begini.
* * *
Ketika aku keluar untuk mengambil laporan lain, kutemukan ia di lorong.
Rambutnya dikepang berantakan, dan ada sedikit noda tepung di pipinya.
Ia berhenti saat melihatku.
Aku pun begitu.
"Hai," katanya.
"Hai."
Jari-jarinya saling bertaut di depan tubuhnya.
"Masih sibuk?"
Ya.
Tidak.
Tak penting.
"Ya."
Binar di matanya kembali padam.
"Oh."
Ia melangkah ke samping dan aku lewat di sebelahnya.
Setiap otot tubuhku menuntutku berhenti. Menanyakan apa yang ia inginkan. Membersihkan tepung dari wajahnya. Mengatakan bahwa rotinya beraroma sedap.
Tapi tidak kulakukan. Aku terus berjalan.
"Fabiano."
Kupejamkan mata sesaat sebelum berbalik.
"Apa?"
Nadaku keluar lebih kasar dari yang kumaksudkan.
Alessia sedikit mengerut.
"Bukan apa-apa."
"Less…"
"Tak penting," katanya cepat. "Kamu boleh lanjut bekerja."
Ia berbalik dan menjauh sebelum aku sempat menjawab.
Kukatupkan rahang sampai terasa sakit.
Ini hal yang benar. Harus begitu.
Semakin sedikit ia bergantung padaku, semakin sedikit ia menderita saat harus pulang nanti.
Semakin sedikit momen yang kami bagi, semakin sedikit yang harus ia rindukan.
Semakin sedikit aku mendekat… semakin mudah melepasnya.
Lalu, kenapa rasanya seperti aku sedang menghancurkannya?