Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Semua pasang mata di ruang rapat itu tertuju pada ujung sendok plastik yang dipegang oleh Pak Hendra.
Direktur Utama yang terkenal sangat pemilih soal makanan itu perlahan membuka mulutnya.
Ia memasukkan suapan pertama nasi goreng pemulihan itu dengan raut wajah keraguan yang masih tersisa.
Kunyah. Kunyah.
Gerakan rahang Pak Hendra mendadak melambat pada kunyahan ketiga.
Mata tuanya yang tadi terlihat sayu dan kemerahan akibat kurang tidur tiba-tiba terbuka lebar.
Ia merasakan sebuah ledakan rasa gurih dari telur ayam kampung yang berpadu dengan manisnya kecap hitam premium.
Rasa hangat dari bawang putih tunggal itu menyapu lidahnya dan turun ke tenggorokan dengan sangat lembut.
Trang. Trang. Trang.
Tanpa mempedulikan tatapan heran dari puluhan direktur lainnya, Pak Hendra mulai menyuap nasinya dengan sangat cepat.
Suara sendok plastik yang beradu dengan dasar kotak makan terdengar sangat nyaring memecah keheningan ruangan.
"Pak Hendra? Bapak baik-baik saja?" tegur Pak Surya dengan nada panik melihat bos besarnya makan seperti orang kesurupan.
Pak Hendra tidak menjawab pertanyaan itu dan terus mengunyah dengan mata terpejam rapat.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, porsi nasi goreng di dalam kotak hitam itu sudah tandas tanpa sisa sedikit pun.
Pak Hendra meletakkan sendoknya lalu bersandar pada kursi kulitnya yang empuk.
Haaah.
Sebuah helaan napas panjang dan sangat lega meluncur dari mulut pria paruh baya tersebut.
Efek magis dari resep sistem perlahan merayap naik ke bagian kepalanya yang sejak pagi berdenyut nyeri.
Rasa sakit kepala akibat stres memikirkan target perusahaan itu menguap begitu saja bagaikan embun yang terkena sinar matahari pagi.
Pikiran Pak Hendra yang tadinya sangat buntu kini mendadak menjadi sangat jernih dan tajam.
"Luar biasa," bisik Pak Hendra dengan suara bergetar menatap kotak makan kosong di depannya.
"Saya belum pernah memakan nasi goreng seenak dan seringan ini seumur hidup saya."
Pak Surya dan Bu Ratna saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.
"Masa sih Pak senikmat itu? Ini kan cuma makanan kaki lima," bantah Pak Surya masih tidak mau percaya.
Pak Hendra menatap tajam ke arah Pak Surya dengan pandangan matanya yang kini sudah kembali segar.
"Surya, buka kotak makanmu sekarang juga dan makanlah," perintah Pak Hendra dengan nada mutlak.
"Kamu akan tahu sendiri kenapa Nadia berani mempertaruhkan jabatannya untuk makanan ini."
Mendengar perintah langsung dari bos besar, Pak Surya mau tidak mau melangkah maju ke meja prasmanan.
Ia mengambil satu kotak makan dengan kasar dan membukanya di meja rapatnya sendiri.
Klak.
Sekali lagi, aroma karamelisasi kecap dan bawang putih tunggal langsung menyergap penciuman Direktur Operasional tersebut.
Pak Surya menelan ludah dengan susah payah karena perutnya tiba-tiba berbunyi keroncongan.
Kruyuk.
Ia mengambil sendok dan menyuapkan sedikit nasi itu ke dalam mulutnya dengan ekspresi sangat meremehkan.
Namun begitu nasi itu menyentuh lidahnya, pertahanan ego Pak Surya seketika runtuh total.
Trang trang trang.
Sama seperti Pak Hendra, Pak Surya kini makan dengan sangat rakus hingga wajahnya berkeringat.
Bu Ratna dan direktur-direktur lainnya yang melihat kejadian itu langsung berhamburan menuju meja prasmanan tanpa disuruh dua kali.
"Tolong sisakan satu untuk saya!" teriak Bu Ratna yang tadi paling menolak makanan tersebut.
"Jangan dorong-dorong, ambil satu-satu!" seru direktur lainnya tidak kalah heboh.
Dalam sekejap, ruang rapat direksi yang tadinya penuh ketegangan itu berubah menjadi seperti kantin sekolah yang sedang istirahat.
Suara kunyahan dan sendok beradu terdengar riuh bersahut-sahutan.
Galang dan Nadia hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan menyaksikan pemandangan yang sangat tidak masuk akal itu.
"Mas Galang, mereka semua benar-benar menyukainya," bisik Nadia dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
"Sudah kubilang kan Mbak, nasi goreng buatan saya tidak pernah mengecewakan," jawab Galang tersenyum tipis.
Sepuluh menit kemudian, seratus kotak nasi goreng itu sudah bersih dibabat habis oleh para petinggi perusahaan.
Suasana ruangan kini terasa sangat berbeda dari sebelumnya.
Tidak ada lagi aura kemarahan, stres, dan kelelahan yang membebani udara di sana.
Semua orang terlihat duduk bersandar dengan wajah yang sangat rileks, damai, dan penuh energi.
Bu Ratna merapikan lipatan jasnya sambil tersenyum lebar menatap Galang.
"Anak muda, saya harus mengakui bahwa saya salah besar menilaimu tadi," ucap Bu Ratna dengan nada yang sangat tulus.
"Perut saya yang biasanya gampang mual sama sekali tidak protes memakan nasi gorengmu, minyaknya sangat bersih."
Galang menganggukkan kepalanya dengan sopan menerima pujian dari Direktur Keuangan tersebut.
"Terima kasih Bu, saya menggunakan bahan-bahan organik dan minyak berkualitas untuk memasaknya," jawab Galang merendah.
Pak Surya perlahan berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Nadia dengan wajah menunduk.
Pria paruh baya yang terkenal sangat arogan itu kini terlihat sangat malu dengan perbuatannya sendiri.
"Nadia, saya selaku Direktur Operasional meminta maaf atas ucapan kasar saya tadi," ucap Pak Surya dengan suara pelan namun terdengar oleh semua orang.
"Kamu benar, makanan ini bukan cuma enak, tapi entah kenapa rasa pegal di pundak saya langsung hilang seketika."
Nadia buru-buru membungkuk hormat dengan perasaan lega yang tak terkira.
"Tidak apa-apa Pak Surya, saya hanya menjalankan tugas saya sebaik mungkin untuk kebaikan rapat ini," jawab Nadia sopan.