Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang Tertinggal
Anjani duduk di ruang kerjanya, menatap komputer dengan begitu jeli, memperhatikan sebuah grafik yang terus bergerak naik turun tidak stabil. Acap kali dia menggigit ujung kukunya hingga nyaris putus, terkadang juga meraba bagian belakang lehernya yang terasa nyeri, dan menggerutu tidak jelas.
Di atas meja terdapat setumpuk berkas yang belum sempat Anjani periksa, ada tablet, dan juga kertas-kertas yangg berserakan. Sementara di sudut meja ada secangkir kopi susu yang terlah kehilangan suhu panasnya karena terlalu lama dianggurin.
Ruang kerja Anjani berada di lantai paling atas gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Di dalam ruang pribadinya ini di desain sesederhana mungkin, dengan menaruh dua kursi di depan mejanya dan sofa panjang di sisi kanan---searah dengan pintu masuk---ruangan yang langsung menghadap jendela besar.
Di sisi kiri hingga bagian belakang kursi Anjani terdapat jendela dengan ukuran besar, memanjang dari bawah hingga setinggi plafon. Anjani ingin tetap bisa melihat langit atau dunia luar ketika ia sedang lelah dengan pekerjaan, area itu menjadi tempat favoritnya untuk melihat gedung-gedung lain kala menjelang malam.
Di sudut dekat jendela ada vas bunga setinggi setengah meter, diisi dengan ranting-ranting kecil. Ada satu lukisan pemandangan di dinding yang lain. Ada Rak juga di dekat sofa panjang yang berisi beberapa buku hingga medali dan piala penghargaan bergensi dalam dunia bisnis.
Ketukan pintu terdengar, tidak lama seorang laki-laki muda masuk dengan membawa tablet berwarna putih dan setumpuk data, dia berjalan mendekati Anjani lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Apa itu?" Anjani memiringkan sedikit kepalanya, melihat wajah Abbas yang tadi sempat terhalang komputer besarnya, lalu pandangannya jatuh pada tumpukan berkas yang ada di atas meja.
Tumpukan baru, sedangkan yang lama belum ia sentuh sama sekali. Anjani menghela napas panjang dan kembali mengerjakan pengamatan saham sebuah hotel yang akan diluncurkan bulan depan, ia menimang-nimang apakah bisa menyuntikkan dana ke sana.
"Hotel Grand Priest, kamu tahu itu?" tanya Anjani tanpa melirik ke Abbas. Matanya masih saja fokus pada layar komputer.
Abbas menaikkan kacamata, segera membuka tabletnya dan mencari nama hotel itu. "Oh, hotel ini. Hotel ini akan disahkan bulan depan, kan? Aku dengar, pemiliknya salah satu orang di lingkaran elit ibu kota, jadi banyak yang percaya kalau berbisnis dengan dia akan untung besar. Nyonya akan membeli saham hotel itu?"
Benar dugaan Anjani. Perusahaan yang menaungi Hotel Grand Priest memang sudah mencatatkan sahamnya di bursa, meskipun hotel itu belum sepenuhnya beroperasi.
Langkah yang mereka ambil cukup berani. Pihak pengelola tampaknya ingin menghimpun dana dari investor jauh-jauh hari sebelum hotel dibuka. Apalagi pemiliknya adalah seorang yang masuk lingkaran elit pebisnis di ibu kota, sehingga banyak yang mempercayakan uang padanya.
"Aku ingin tanam modal ke sana, bukan beli sahamnya," ujar Anjani. Tangannya meraba bagian belakang lehernya lagi, lalu mengeluh, "Tapi, aku lihat sahamnya naik turun terus, tidak stabil. Dengan grafik yang seperti ini, kenapa orang-orang percaya?"
Abbas segera mengecek status statistik saham dari Hotel Grand Priest, "Terlalu fluktuatif, Nyonya."
Abbas memperhatikan Anjani, perempuan itu ternyata selama ini sedang ragu dengan kondisi hotel yang nilai sahamnya dalam beberapa bulan terakhir ini naik dan turunnya terlalu drastis. Sebenarnya itu masalah sederhana dan tidak berbahaya, tetapi jika pergerakannya membuat Anjani ragu, itu bisa jadi pertanyaan besar.
Bibir Abbas terkunci, matanya pun hampir lepas dari tempatnya ketika tak sengaja melihat bekas ungu di bagian belakang leher Anjani. Ia pikir atasannya kecapekan hingga sering meraba leher belakang, ternyata ketika ia iseng mengintip justru ada penampakan lain yang berbeda.
"Bukannya Nyonya sudah tahu Tuan Syahrul sudah berselingkuh?" batin Abbas dan segera memalingkan wajah ke arah lain, itu bukan urusannya.
"Tapi itu jelas banget, oi!" jerit Abbas di dalam hati, ingin memberitahu Anjani, tapi membayangkan wajah datar dan tatapan sini Anjani membuatnya menarik keinginannya sendiri.
"Aku tidak ingin dipecat," putus Abbas cepat.
Anjani sendiri sudah tidak memikirkan kegiatan tadi malam dengan Syahrul. Meski sentuhan hangat itu nyata, ciuman mereka begitu indah, tetapi baginya itu adalah dasar jurang kesakitan yang tak bisa ditutup dengan mudah.
"Nyonya, aku berhasil menemukan keuangan Tuan," seru Abbas sambil membuka salah satu berkas yang ia bawa, lalu ia berikan kepada Anjani.
Anjani menarik berkas itu, membacanya dengan teliti. Banyak sekali tanggal tercatat dan nilai nominalnya. Syahrul sudah beberapa kali mengirim untuk Yeshika.
"Jika ditotal semua, nominalnya berjumlah tiga ratus dua puluh juta," beritahu Abbas dengan yakin.
Anjani menghela napas panjang. Matanya terlihat tidak memiliki nyawa tatkala melihat total jumlah di paling bawah. Jemarinya meremas setiap sisi kertas yang ia pegang.
"Tetapi, ada sesuatu yang lebih aneh, Nyonya."
Anjani mengusap permukaan wajahnya kasar. Menyiapkan diri atas laporan Abbas mengenai Syahrul dan Yeshika. Jauh di hatinya sebenarnya ingin tahu alasan mengapa Syahrul terus memberikan uang untuk perempuan itu.
"Saya menemukan transaksi delapan bulan yang lalu, nominalnya seratus tiga puluh juta, dengan penerima Yeshika Larasati."
Kalimat Abbas berhenti, saat itu juga dunia di sekitar Anjani seperti tidak bersuara.
Anjani melebarkan matanya karena terkejut dengan nilai nominal, lebih mengejutkan lagi bahwa ia tertampar fakta bahwa delapan bulan lalu Syahrul sudah berhubungan dengan Yeshika.
Mereka berdua sudah sejauh itu, jauh sebelum Yeshika masuk ke dalam kantor Abbas sebagai sekretaris, mereka sudah saling kenal.
Tangan Anjani mengepal, giginya bergemelutuk, ia menahan emosinya dengan sekuat tenaga supaya tidak berteriak layaknya orang gila di ruang kerjanya.
Abbas bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Anjani berubah menjadi merah delima, matanya pun mulai berair hendak menangis, dan bagaimana tubuh atasannya menegang di tempat duduknya.
Anjani mengambil napas pelan-pelan. Suaminya telah berhasil menipunya selama itu, dia terlalu cerdik hingga membuatnya tak menyadari semua itu, yang membuat ia tidak terima adalah Syahrul telah berpura-pura menjadi suami yang sangat sayang istri---nyatanya di belakang main sikut dengan pujangga lain.
"Nyonya, masih ada lagi, Tuan Syahrul mendirikan perusahaan dengan mengatas namakan Yeshika sebagai direktur utamanya," lanjut Abbas sambil menaruh satu berkas tebal pada Anjani.
Abbas tersenyum kecut, ia sebenarnya tidak ingin membicarakan soal pendirian perusahaan ini ke Anjani, tetapi menyembunyikan terlalu lama bukan ahlinya juga.
Anjani seolah dijatuhi tiga kali meteor besar tepat di atas kepalanya, tapi yang terakhir lebih besar dan panas. Ia tidak menyangka bahwa Syahrul akan bermain segila ini demi seorang perempuan.
Nama Perusahaan: Larasati Couture
Bidang Usaha : Desain dan Produk Busana.
Status : Dalam Tahap Pembangunan.
Anjani melempar data dari Abbas ke lantai. Ia benar-benar marah hingga tidak bisa mengendalikan emosinya. Segera ia berdiri, membalik badan, dan matanya menatap gedung-gedung tinggi dari balik jendela.
"Apa yang ingin mereka rencanakan? memangnya perselingkuhan bisa seperti ini?"
Anjani mengomel, kedua tangannya mengepal di setiap sisi tubuhnya, dan air matanya jatuh sekilas yang langsung dihapusnya cepat.
Sementara Abbas, dia memunguti kertas-kertas yang di buang Anjani di lantai, hingga tangannya menyentuh satu data yang mengingatkannya akan satu hal.
"Ini?" bisik Abbas melihat nama-nama perusahaan yang tertera.