Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Langkah kaki Miska terasa berat saat memasuki rumah. Pikirannya masih melayang pada pemandangan yang baru saja ia lihat — Askar dan Rara berjalan beriringan masuk ke dalam hotel, tangan mereka saling bertaut erat, wajah keduanya tampak begitu bahagia seolah tidak ada beban sedikit pun. Dunia seakan runtuh di hadapannya. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu duduk di tepi tempat tidur. Air mata jatuh tanpa ditahan. Ia Menunggu suaminya pulang, berharap ada penjelasan yang bisa meredam badai di dadanya.
"dari mana kamu mas?" tanyanya, suaranya bergetar namun tegas.
Askar terkejut, lalu memalingkan wajah gugup. "aku lagi Banyak urusan kantor. Rapat nya panjang trus ada diskusi tambahan. Kenapa belum tidur?"
"Rapat di hotel?" Miska melangkah mendekat. "Aku melihatmu Askar. Aku melihatmu masuk ke hotel bersama wanita lain. Kalian berpegangan tangan, kamu tersenyum padanya... senyum yang sudah lama tidak pernah kamu berikan padaku."
Wajah Askar berubah pucat lalu merah padam. Ia langsung meninggikan suara, berusaha menutupi kegugupannya dengan kemarahan. "Kamu ini ngomong apa sih! kamu Pasti salah lihat! Mana mungkin aku berbuat begitu! Kamu saja yang berpikiran kotor, menuduh tanpa bukti!"
"Salah lihat?" suara Miska kini naik, penuh kepedihan. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Bagaimana bisa kamu bilang itu salah lihat? kemana semua janji mu dulu mas apa itu semua hanya bohong?"
"Sudah cukup!" bentak Askar keras. "Kamu mulai tidak tahu diuntung ya! suami Pulang-pulang malah dituduh macam-macam!"
Suara mereka terdengar hingga ke ruang tengah. Tak lama, pintu kamar terbuka kasar — Bu Ratih berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kemarahan.
"Kalian ini ribut apa sih malam-malam begini! Apa tidak tahu orang mau tidur!" bentak Bu Ratih, matanya langsung menatap tajam ke arah Miska.
"Ibu..." Miska mencoba menjelaskan, suaranya masih bergetar. " mas askar... aku lihat dia masuk ke hotel sama wanita lain. Aku hanya minta penjelasan, tapi dia malah marah—"
Belum selesai Miska bicara, PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Kepala Miska terayun ke samping, perih menjalar seketika.
"Keterlaluan kamu!" Bu Ratih menunjuk wajahnya dengan kasar. "Berani-beraninya kamu menfitnah anakku! Askar itu pria baik, mana mungkin dia berbuat begitu! Kamu saja yang tidak tahu diri, setiap hari cuma curiga dan menuduh!"
"Ibu... aku tidak berbohong..." Miska menatap mertuanya dengan mata berkaca-kaca, tangan mengepal erat hingga kuku menancap di telapak tangan. "Aku melihatnya sendiri... kenapa Ibu selalu membela Askar dan menyalahkanku?"
"Karena memang kamu yang salah!" seru Bu Ratih. "Sudah diam! Jangan bikin keributan lagi!"
Miska berbalik menatap suaminya, berharap ia akan berkata sesuatu. "Katakan sesuatu, mas... Katakan kalau aku nggak bohong."
Namun Askar hanya diam, memalingkan wajah dingin. "Sudah, Bu. Biarkan dia sendiri dulu. Dia sedang emosi." Lalu ia berbalik dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Miska sendirian bersama rasa sakit yang luar biasa.
"Dasar istri nggak guna bisanya hanya menyusahkan saja" Bu Ratih mendorong bahu Miska hingga terhuyung mundur. "Kalau bukan karena belas kasih Askar, sudah lama aku usir kamu dari rumah ini!" Setelah berkata begitu, ia keluar dan membanting pintu dengan keras.
Miska jatuh berlutut di lantai, air mata jatuh membasahi pipi yang masih terasa perih. Tak ada yang membelanya. Di rumah ini, ia hanyalah orang asing yang kebetulan menjadi istri Askar. Malam itu, ia tidur sendirian di atas kasur yang terasa begitu dingin.
Hari-hari berlalu dengan kelabu. Setiap pagi Miska bangun tanpa semangat. Makian Bu Ratih kini terdengar lebih tajam dan lancang, seolah tanpa beban.
"Eh, bangun siang ya kamu!" seru Bu Ratih saat melihat Miska keluar kamar. "Mau masak apa hari ini? Hanya sayur bening lagi? Kamu itu istri atau pelayan? Pelayan saja dibayar, kamu cuma makan dan tidur!"
"Maaf Bu, tadi pasar sayur harganya naik," jawab Miska pelan, meski hatinya perih. "Besok aku akan siapkan yang lebih baik."
"Alasan saja! Pasti kamu malas belanja! Dasar pemalas!" Bu Ratih membuang sendok ke piring dengan kasar, lalu pergi mendengus.
Miska hanya menghela napas, melanjutkan pekerjaannya. Ia tak lagi membalas. Ia tahu, bicara pun tak akan didengar.
Sementara itu, Askar semakin berubah. Jarang sekali ia menyapa, bahkan saat berpapasan di ruang tengah. Pulang selalu larut malam, wajahnya tampak bersemangat — bukan karena pekerjaan, melainkan karena seseorang yang lain. Setiap kali Miska mencoba berbicara, ia akan langsung memotong atau pergi.
"mas, bisa nggak kita bicara sebentar?" tanya Miska suatu sore saat melihat Askar sedang duduk sebentar sebelum berangkat lagi.
"Aku sibuk," jawab Askar tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar ponsel. "Bicara apa lagi, selalu saja hal yang sama."
"Kita suami istri, mas. Sudah berbulan-bulan kita tidak pernah bicara baik-baik. Rasanya kita seperti orang asing."
Askar berdiri dan merapikan bajunya. "Kamu saja yang terlalu berlebihan. Aku bekerja keras, malah dibilang begitu. Jangan bikin aku pusing ya." Lalu ia pergi, meninggalkan Miska yang terpaku di tempat.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan memberi cahaya. Ponsel jadul yang dulu terasa beban, kini menjadi penopang harinya. Usaha jualan yang dimulai atas saran Bu Siti berkembang jauh lebih baik dari yang dibayangkan. Setiap hari pesanan terus masuk.
Ting! — notifikasi pesanan baru. Lalu satu lagi, dan lagi. Miska tersenyum tipis, senyum tulus yang pertama kali setelah sekian lama. Ia segera membalas pesan pembeli, mencatat pesanan, lalu menyiapkan barang. Saat ia sibuk bekerja, sejenak ia lupa pada rasa sakit di hatinya. Ia merasa berguna. Bukan sekadar istri yang menunggu di rumah dan dihina kapan saja.
"Pesananmu makin banyak ya, Miska!" sapa Bu Siti saat Miska mengantar barang ke tokoh. "Bulan ini omzetmu lumayan lho! Kalau terus begini, kamu bisa menabung sendiri, Nak!"
"Terima kasih banyak ya Bu, sudah membantuku mulai dari nol," jawab Miska dengan mata berbinar. "Aku tidak menyangka bisa sejauh ini."
"Kamu rajin dan jujur, itu yang penting. Lanjutkan saja, jangan pedulikan omongan orang yang tidak menghargaimu."
Kata-kata Bu Siti menenangkan hatinya. Ia pulang dengan perasaan lebih ringan. Meski Bu Ratih kembali menyambutnya dengan omelan karena terlambat menyiapkan teh, kali ini Miska tidak terlalu merasakannya. Ia punya hal lain yang membuatnya berdiri tegak.
Satu bulan berlalu sejak hari itu. Keadaan di rumah tidak membaik — justru semakin dingin. Askar hampir tidak pernah makan bersama, sering pulang lewat tengah malam, dan ponselnya selalu dijaga ketat. Bu Ratih semakin berani menghina, bahkan kadang melempar barang jika makanan tidak sesuai selera. Namun Miska berubah. Matanya yang dulu selalu berkaca-kaca kini lebih tenang dan tegas. Ia tidak lagi menunggu suaminya dengan cemas. Ia tidak lagi memohon perhatian yang tak diberikan.
Pagi itu, setelah selesai membersihkan rumah dan menyiapkan pesanan, Miska duduk sebentar di teras. Ia melihat ponselnya — ada lima pesanan baru masuk. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Senang sekali ya, sampai lupa waktu," suara Bu Ratih terdengar tajam dari belakang. "Kamu itu setiap hari pegang HP terus, apa saja yang kamu lakukan? Jangan-jangan kamu main pria di belakang Askar ya?"
Miska menoleh, tidak marah, hanya menatap tenang. "Tidak Bu. Aku sedang mengurus pesanan jualan. Uangnya bisa untuk belanja kebutuhan rumah, jadi Bu Ratih tidak perlu keluar uang sendiri."
Bu Ratih terdiam sejenak, lalu mendengus. "Hmph, mana aku tahu itu uang halal atau bukan. Tetap saja tidak berguna. Lebih baik kamu cari cara lain supaya Askar tidak pergi terus tiap hari."
"Kalau dia mau pergi, mau bagaimana pun aku menahan, dia akan tetap pergi, Bu," jawab Miska pelan namun tegas. "Aku hanya berusaha berdiri dengan kakiku sendiri."
Bu Ratih menggerutu lalu masuk ke rumah, namun kali ini Miska tidak terpengaruh. Ia melihat ke depan, ke jalan setapak yang terbentang. Hatinya memang masih terluka, tapi ia sadar satu hal — ia bukan istri lemah yang dulu bisa diinjak-injak sesuka hati.
Di kantor, Askar sedang duduk di ruang kerjanya. Rara masuk membawa secangkir kopi, lalu duduk di tepi mejanya.
"Kopi kesukaanmu, Mas," ucap Rara lembut, tangannya menyentuh tangan Askar saat menyerahkan cangkir itu. "Terima kasih untuk kemarin ya... di hotel itu sangat menyenangkan."
Askar tersenyum, menggenggam tangan wanita itu. "Sama-sama, Sayang. Bersamamu aku merasa benar-benar hidup. Berbeda dengan di rumah, yang hanya ada kesunyian dan tuntutan."
"Kita bisa selalu bersama kan?" tanya Rara manja.
"Tentu saja. Tidak ada yang bisa memisahkan kita," jawab Askar yakin, tak menyadari bahwa wanita yang dulu ia janjikan setia kini sedang tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat darinya.
Malam itu, saat Askar pulang pukul dua pagi seperti biasa, Miska tidak lagi menunggunya di ruang tamu. Ia sudah tidur, tenang dan damai. Di meja belajarnya, tertulis catatan kecil — daftar tabungan jualannya yang terus bertambah.
Miska tidak tahu kapan semuanya akan berakhir, tapi ia tahu satu hal pasti: mulai hari ini, ia tidak akan lagi membiarkan kebahagiaannya bergantung pada orang yang bahkan tidak menghargainya. Ia bukan lagi istri lemah yang dulu bisa diinjak-injak sesuka hati.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪