Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Darah di Desa Pelarian

Udara sore yang dingin mendadak terasa mencekik leherku. Suara rintik hujan yang menghantam payung dedaunan dan aspal jalanan desa seolah meredam detak jantungku yang berpacu tak karuan.

"Raka... dia tahu gue ada di sini, Gisel."

Kalimat yang meluncur dari bibir pucat Varro itu bagaikan vonis mati yang dijatuhkan tepat di atas kepalaku. Bola mata cokelat gelapnya yang tadi memancarkan kehangatan dan kerinduan, kini kembali menajam, berkilat oleh insting membunuh yang teramat pekat.

Keluargaku!

Satu pemikiran itu menghantam kewarasanku bagai sambaran petir.

"Varro! Mama sama adik-adik gue ada di rumah Bude Sri!" jeritku panik, mencengkeram lengan kemejanya yang basah kuyup. "Jaraknya cuma sepuluh menit jalan kaki dari sini! Kalau Raka udah ngelacak posisi gue, berarti dia juga tahu di mana keluarga gue sembunyi!"

Tanpa membuang waktu seperseribu detik pun, Varro mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia menarik tanganku, menyeretku menerobos tirai hujan menuju pintu penumpang mobil BMW M8 Coupe miliknya.

"Masuk!" perintahnya mutlak seraya membukakan pintu untukku.

Aku menurut, melompat masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma parfum maskulinnya. Varro memutar tubuhnya, berlari ke sisi pengemudi dengan langkah yang sedikit tertatih. Begitu ia menghempaskan tubuh jangkungnya ke atas jok kulit kemudi, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ia meringis tertahan.

Tangan kirinya mencengkeram setir kemudi, sementara tangan kanannya menekan kuat-kuat area perutnya. Kemeja hitamnya yang basah kini memperlihatkan noda pekat yang lebih gelap dari air hujan, darah segar kembali merembes deras dari balik perbannya. Luka jahitannya pasti robek lagi akibat pergerakan kasar dan kelelahan luar biasa.

"Varro, perut lo! Lo berdarah lagi!" teriakku histeris, rasa bersalah kembali menyayat-nyayat sanubariku.

"Gue gak peduli, Gisel. Pegangan yang kuat!" tumpas Varro dengan suara bariton yang menggeram rendah.

VRROOOM!

Mesin V8 mobil sport mewah itu mengaum buas, membelah jalanan desa yang sempit dan berlumpur dengan kecepatan yang sama sekali tidak masuk akal. Roda mobil berdecit keras, mencipratkan genangan air hujan ke udara. Varro mengemudi bagaikan orang kesetanan, tatapannya terkunci lurus menembus kaca depan yang disapu wiper dengan cepat.

"Arahin gue, Gisel. Ke mana letak rumah bude lo?" desak Varro dengan napas memburu, keringat dingin mulai bercampur dengan air hujan di pelipisnya.

"Lurus terus, belok kanan di pertigaan pohon beringin, rumah kayu nomor tiga!" jawabku dengan suara bergetar, tanganku meremas sabuk pengaman hingga buku-buku jariku memutih.

Sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu kurang dari dua menit itu, doaku tak putus-putus mengangkasa. Tuhan, tolong lindungi Mama, Gwen, dan Glenn. Jangan biarkan masa lalu yang kejam ini merenggut nyawa mereka.

Begitu mobil BMW Varro berbelok kasar di pertigaan pohon beringin, mataku langsung membelalak ngeri.

Tepat di pelataran halaman rumah kayu Bude Sri, terparkir dua buah mobil SUV hitam tanpa pelat nomor. Pintu depan rumah Bude Sri tampak hancur, engselnya patah seolah baru saja ditendang paksa dari luar.

CIIIT!

Varro menginjak pedal rem hingga mobilnya terseret beberapa meter di atas tanah berlumpur dan berhenti melintang menutupi akses jalan keluar dua mobil SUV tersebut.

"Tetap di mobil, kunci pintunya dari dalam!" perintah Varro dingin, mencabut kunci kontak.

"Gak! Gue gak bakal ninggalin keluarga gue, dan gue gak bakal biarin lo mati sendirian di dalam sana, Varro!" bentakku menolak keras. Aku tidak akan menjadi gadis lemah yang hanya bisa menangis melihat pria yang kucintai dan keluargaku disakiti.

Melihat kilat keberanian di mataku, Varro mendecak pelan namun tak membantah. "Berlindung di belakang punggung gue. Apapun yang terjadi, jangan jauh-jauh dari jangkauan tangan gue."

Kami berdua menerjang keluar dari mobil, berlari menembus hujan menuju pintu rumah yang terbuka menganga.

Dari dalam ruang tamu yang sederhana, terdengar jeritan histeris Mama dan tangisan keras adik kembarku. Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun.

Begitu kami melangkah masuk melewati ambang pintu yang hancur, pemandangan di dalam sana sukses membuat kewarasanku putus total. Tiga orang pria berbadan gempal dengan jaket kulit geng Viper sedang mengacak-acak seisi rumah.

Bude Sri terduduk gemetar di sudut ruangan, sementara Mama memeluk Gwen dan Glenn dengan erat di lantai, menangis histeris seraya ditodongkan sebuah tongkat bisbol besi oleh salah satu preman berwajah bopeng.

"Mana anak gadis lo yang bernama Gisel, Hah?! Bos Raka mau kepalanya malam ini juga!" bentak preman bopeng itu, mengayunkan tongkatnya ke arah Mama.

"JANGAN SENTUH KELUARGA GUE, BAJINGAN!" jeritku memecah keheningan mencekam itu.

Ketiga preman Viper itu serentak menoleh ke arah pintu. Saat melihat kehadiranku, seringai licik terukir di wajah mereka. Namun, seringai itu tak bertahan lebih dari dua detik. Mata mereka langsung melebar penuh kengerian ketika menyadari siapa sosok tinggi tegap yang berdiri menjulang tepat di depanku.

Varro Aldrian Wijaya.

Sang iblis jalanan yang baru saja membakar hangus nama keluarganya sendiri, kini berdiri dengan aura membunuh yang jauh lebih pekat dan kelam daripada malam-malam sebelumnya. Wajah pucatnya tak lagi menyiratkan kesakitan, melainkan kebuasan absolut seekor naga yang murka.

"Varro..." gumam preman bopeng itu, melangkah mundur selangkah. "B-bukannya lo lagi sekarat di rumah sakit Jakarta?!"

Varro tidak menjawab dengan kata-kata.

Pria itu melesat maju bagaikan bayangan hitam pembawa maut. Kecepatannya sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran pria yang perutnya sedang robek berdarah.

BUK! KRAK!

Satu tendangan telak dari kaki panjang Varro menghantam dada preman bopeng itu hingga tubuh gempalnya terpelanting keras, menabrak meja kayu Bude Sri hingga hancur berantakan. Bunyi retakan tulang rusuk terdengar begitu ngilu.

Dua preman lainnya yang baru saja tersadar dari keterkejutan mencoba merangsek maju, mengeluarkan belati lipat dari saku mereka.

Aku menjerit tertahan, hendak maju membantu, namun tangan Varro menepis musuhnya lebih cepat dari kedipan mata. Ia menangkap pergelangan tangan preman kedua yang memegang pisau, memelintirnya dengan sangat kejam hingga terdengar bunyi tulang patah yang mengerikan, lalu melayangkan pukulan mentah tepat ke rahang lawannya.

Darah menyembur dari mulut preman itu sebelum ia jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas lantai.

Preman ketiga yang ketakutan setengah mati mencoba berbalik lari ke arah pintu belakang. Namun Varro menyambar kerah jaketnya, menariknya ke belakang, dan membanting tubuhnya ke lantai dengan kekuatan penuh.

Varro berlutut di atas dada preman itu, menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun. Tangan kanannya yang tak terbalut sarung tangan berlumuran darah musuhnya. Ia memukul, memukul, dan memukul bak mesin pembunuh yang kehilangan rem.

"Varro! Sudah! Dia udah pingsan!" teriakku panik. Jika Varro tak dihentikan, pria itu bisa benar-benar membunuh orang di depan mata adik-adikku.

Aku berlari mendekat, merengkuh bahunya yang gemetar hebat, dan menarik lengannya.

Sentuhanku seolah menjadi tombol penawar bagi amarahnya. Tangan Varro terhenti di udara. Dada bidangnya naik turun dengan brutal. Ia menoleh ke arahku, menatapku dengan napas tersengal, lalu perlahan bangkit berdiri.

Tubuh tingginya limbung sejenak. Aku buru-buru menahan pinggangnya, merasakan telapak tanganku kembali basah oleh darah segar yang mengalir deras dari perutnya.

"Gisel... hiks... Gisel..." isak Mama dari sudut ruangan, menatap kami dengan wajah syok yang luar biasa.

Aku menuntun Varro untuk bersandar di dinding, lalu berlari memeluk Mama, Gwen, dan Glenn. "Mama gak apa-apa?! Gwen, Glenn, ada yang luka?!"

"Kita gak apa-apa, Kak," tangis Gwen memeluk leherku erat.

Di saat kami sedang meresapi kelegaan yang menyesakkan dada itu, suara tepuk tangan pelan namun sarat akan ejekan terdengar dari arah pintu depan yang terbuka.

Prok... Prok... Prok...

Napas kami semua tercekat. Varro yang tadinya bersandar lemah, seketika kembali menegakkan tubuhnya, menyembunyikan posisiku di balik punggung lebarnya.

Di ambang pintu, berdirilah sosok tinggi berjaket kulit cokelat dengan bekas luka di pelipisnya. Senyum iblis terukir di wajahnya. Raka.

Di belakang Raka, lebih dari dua puluh orang anggota utama geng Viper berdiri rapat, mengepung seluruh area pekarangan rumah kayu Bude Sri sambil membawa balok kayu, rantai baja, dan senjata tajam.

"Pertunjukan yang sangat mengharukan, Varro," ejek Raka dengan suara paraunya yang menggelegar menembus suara hujan. Pria itu melangkah masuk dengan santai, menginjak pecahan kayu meja. "Lo bener-bener nekat buang nyawa lo jauh-jauh dari Jakarta cuma buat mati di gubuk reot ini."

Varro mengepalkan tangannya yang gemetar karena menahan nyeri. "Gue yang bakal mutusin kepala lo malam ini juga, Raka."

Raka tertawa terbahak-bahak, seolah itu adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar. "Lo? Dengan perut robek berdarah-darah begitu? Melawan dua puluh anak buah gue sendirian?"

Raka menyeringai tajam, menatap ke arahku dan keluargaku yang meringkuk ketakutan. "Malam ini... gue bukan cuma bakal menghabisi nyawa lo, Al. Gue bakal pastikan lo menonton dengan mata kepala lo sendiri, bagaimana anak-anak Viper merusak cewek lo dan menghabisi keluarganya, sebagai hadiah perpisahan."

Darah di dalam nadi Varro serasa mendidih. Aku bisa merasakan otot-otot di punggungnya menegang keras sekeras baja. Ia menoleh sedikit ke arahku, menatap mataku dengan binar yang tak pernah kulihat sebelumnya, binar perpisahan yang dibalut tekad pengorbanan absolut.

"Gisel..." bisik Varro pelan, nyaris tak terdengar. "Bawa keluarga lo lari lewat pintu belakang. Tiga menit. Kasih gue waktu tiga menit buat nahan mereka di sini, dan lo jangan pernah menoleh ke belakang."

"Gak, Varro! Gue gak bakal biarin lo mati konyol di sini!" jeritku histeris, air mata bercampur keputusasaan pecah tak tertahankan.

Raka mengangkat tangannya, memberi isyarat mematikan pada dua puluh anak buahnya di luar sana. "Habisi mereka semua. Jangan sisakan satu pun nyawa malam ini!"

Pertarungan berdarah yang mustahil untuk dimenangkan, kini benar-benar meledak di depan mataku.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!