Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Rahasia
"Davin! Kamu sungguh datang?"
Gigolo itu tidak memperdulikan celotehan Anne lagi, melihat sepasang mata tajam di tengah cahaya remang yang kian mendekat itu jauh lebih mengerikan.
Suara sepatu mahalnya yang beradu
dengan keramik terdengar makin mendekat, membuat seluruh keberaniannya runtuh seketika.
Darahnya terasa seperti mengalir bagaikan di tikam. Aura pria itu begitu mengerikan dari apapun saat ini.
"Tinggalkan tempat ini, sebelum aku membuat jiwa mu terpisah dari ragamu!" serunya dengan suara dingin, namun aura nya begitu mematikan.
Akhirnya gigolo itu melangkah mundur
dengan kaki bergetar, dengan hasrat yang dia tahan.
Menahan semua ini jauh lebih baik dari
pada ia mati dengan cepat.
Ia berlari terbirit-birit keluar dari kamar itu.
Viktor pun mendekati Anne, ia melihat wanita itu terbaring dengan kondisi yang
memprihatinkan.
Gaun yang di robek oleh pria tadi membuat separuh dadanya terlihat, begitu menonjol dan mulus sempurna.
Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan tergoda, termasuk ia.
"Davin! Kamu datang tepat waktu, kamu
pasti kesini karena kamu tidak ingin melepaskan ku kan. Kamu masih mencintai ku kan!" ujar Anne masih berfikir jika pria itu adalah Davin.
Dia tersenyum, meski matanya memejam.
Tubuhnya meliuk seperti cacing kepanasan, membuat dress pendek berwarna gold yang di kenakan nya tertarik ke atas hingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
Pandangan Viktor tertarik kesana.
Dia berdecih melihat kebodohan wanita itu.
Ada rasa iba yang tiba-tiba dia rasakan.
Namun fokusnya pudar saat wanita itu terus saja meliuk-liukan tubuhnya seperti cacing kepanasan yang sangat kehausan.
Tepat ketika itu Viktor mengeluarkan
sebuah topeng dari sakunya dan memasang ke wajahnya.
Bagaimana pun ia tak mau orang lain akan mengenalinya.
Lalu mendekat ke tempat gadis itu terbaring, dia ingin menjelaskan bahwa ia bukan Davin, pria yang sejak tadi di sebut-sebut olehnya.
Namun ketika berada di dekatnya, wanita itu menarik tangannya.
Dan berkata seolah-olah ia memanglah Davin.
"Sungguh, kau tidak sejahat itu kan m membatalkan pernikahan kita? Aku tidak mau semua itu terjadi." ucapnya.
"Siapa Davin?" suara berat Viktor terdengar, mendominasi di tengah keheningan itu.
Anne tampak terhenyak sesaat, namun
kemudian dia terkekeh, lalu membangkitkan tubuhnya memperhatikan seseorang tinggi
berdiri di depannya.
Ruangan yang gelap dan mata yang tertutup topeng membuat Anne tidak bisa melihat jelas sosok itu, ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Viktor,
memeluknya begitu erat juga mencium
pipinya seolah dia memang Davin.
Viktor terdiam mendapat serangan seperti ini.
Ia bahkan tak bereaksi seperti ketika wanita malam di luar tadi menggodanya yang langsung dia usir.
Ini aneh memang.
Dia yang tidak bisa di sentuh oleh sembarang orang, kini merasa biasa saja
ketika di sentuh nya.
"Mari ku antar pulang." ucap Viktor.
Wanita itu malah menggeleng dan semakin menempel erat di tubuh pria itu, bermanja seolah-olah menumpahkan kerinduan padanya.
Dengan ini ia menjadi tahu jika wanita ini memang benar-benar mabuk.
Anne menggerakan tubuhnya meliuk-liuk
dalam pelukan itu, membuat Viktor malah makin gelisah, seperti memprovokasi macan yang sedang terlelap, ini bisa berbahaya tanpa wanita itu sadari.
la tak ingin memanfaatkan wanita ini, apalagi ketika ia di anggap pria lain olehnya.
"Jangan bergerak atau kau dalam bahaya!" ucapnya dia lalu menggendong wanita itu membawanya pergi.
Tak memperdulikan celotehannya di sepanjang jalan.
***
Mobil Viktor berhenti di depan sebuah
hotel mewah malam itu, dia langsung menuju kamarnya.
Sebuah President Suite dengan ranjang berukuran king size yang nyaman, dia
langsung merebahkan tubuh gadis itu ke sana, berfikir akan mengantarnya esok pagi.
Namun ketika ia hendak pergi, tangan wanita itu tak melepasnya sama sekali.
Dia tetap mengalungkan tangan nya ke belakang leher pria itu.
"Jangan pergi, aku ingin kamu disini." Racaunya.
"Aku harus pergi, aku bukan pria yang
kamu sebut. Aku bukan Davin!" balasnya, dia tak mau wanita itu akan terus salah paham.
Tapi setelah mendengar nya, dia seperti
merasakan kecewa.
Manik mata teduhnya terlihat bersedih, namun tak lama dia juga terkekeh.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu
pasti hanya ingin menyelamatkan ku dari pria tadi dan pergi begitu saja kan? Huh,"
"Padahal aku masih kangen." lanjutnya, tangannya lalu terulur membelai pipi pria itu.
Mengusap dengan lembut, Viktor memejam, merasakan kelembutan sentuhan dari gadis itu.
Betapa mampu membangkitkan gairah yang sedang tertidur dalam dirinya.
Dia masih menahan dirinya membungkuk di hadapan wanita yang enggan melepasnya itu.
Wanita seksi yang sedang mabuk ini memang terlihat begitu menarik.
"Aku bukan Davin! Kau akan menyesal jika ingin mempertahankan ku disini." seru Viktor dengan suara dingin dan berat, memberi peringatan.
Anne menggeleng, bola matanya mengerling terang, sangat indah di tengah remang malam itu.
"Aku tidak peduli siapapun kamu," pada akhirnya ia pasrah, dan tak ingin merasakan kesepian.
Hari-hari nya sudah cukup membuat ia sunyi setelah kepergian Davin hingga membuat ia tak ingin malam ini merasakan kesepian.
Viktor terdiam, semakin lama ia menahan dirinya, malah semakin sesak yang dia rasakan.
Begitupun rasa sesak itu harus di tuntaskan.
Wanita itu menarik tubuh Viktor hingga
terjatuh di atas tubuh nya, kedua wajah itu kini semakin mendekat tak berjarak.
Melihat bibir ranum dengan warna merah alami dan leher jenjang yang menggairahkan membuat ia makin tergoda. Ia mendekati wajah itu lalu menempelkan bibirnya ke bibir ranum itu dan mencumbunya sesaat.
Gadis itu terpejam menikmati sentuhan
itu, begitupun juga Viktor, meski ia tidak
mabuk namun gadis itu hampir membuat ia kehilangan akal sehatnya, tangannya menarik belakang kepala gadis itu menahan cumbuan itu.
Betapa tubuhnya kini telah bereaksi, ia merasakan darahnya berdesir menghangat, pendingin di dalam hotel ini sepert tidak lagi berfungsi, saat yang dia rasakan adalah panas, kulit mereka saling bersentuhan, semakin menaikan suhu di ruangan itu.
Sesuatu di bawah sana telah menegang, keperkasaan miliknya yang selalu dia banggakan.
Tatapan matanya kian meremang, ia merasakan tubuh di bawahnya terus bergerak gelisah.
Saat cumbuan itu ia akhiri, dia berfikir
sejenak, dan ingin menghentikan semuanya, marena tak mau memberi luka yang makin mendalam pada gadis yang sedang patah hati ini, ia tahu dan mendengar semua celotehannya ketika di depan meja bar tadi, ia tak akan mungkin merusaknya bukan? Apalagi setelah ini dia harus pergi ke luar negeri.
Viktor menarik tubuhnya, hendak pergi,
dia harus menuntaskannya dengan cara lain.
Tapi sial, Anne menahannya.
"Lakukanlah," bisik Anne tentu di luar akal sehat juga kesadarannya. Dia menarik tangan Viktor dan mendekap erat tubuh kekar pria itu tak mau melepasnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu setelah ini." Viktor berbisik di depan telinganya.
"Tidak, kamu tidak akan menyakitiku.
Marilah kita bersenang-senang dan saling memuaskan," entah Anne sendiri tak bisa mengontrol dirinya, ia begitu gila, dia menatap pria itu memohon bahkan tidak malu untuk menciumnya dahulu, sesuatu hal yang tak pernah dia lakukan pada siapapun, dia mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir pria itu dan melumatnya, menyecap bibir tebal milik pria itu dengan gerakan amatir.
Anne bahkan tak peduli jika malam ini dia akan melakukannya dan kehilangan apa yang sudah dia jaga selama ini, lagi pula hidupnya sudah benar-benar tak karuan, tak ada lagi yang menarik, untuk sekali ini saja dia ingin merasakan apa yang telah di lakukan kebanyakan pasangan, meski harus berakhir dengan pria asing sekalipun.
Viktor terkesiap, pria itu merasakan bibir lembut dan manis bak cream melumatnya dengan sensual.
Dia memejamkan mata mengepalkan tangannya, semakin dia menahan, sesuatu di bawah sana malah makin memberontak.
Ia makin sesak.
"Jangan salahkan aku jika setelah ini kau
akan menyesal," bisik Viktor lalu menarik
dress itu dan menambah lagi robekannya, gaun itu telah koyak, sebagian tubuhnya bisa ia lihat, tak hanya cantik parasnya saja, apa yang ia sembunyikan bahkan juga cantik.
Pria itu melepas seluruh gaun yang telah robek itu dari tubuhnya.
Gerakan kasar yang dia lakukan itu membuat Anne melenguh.
"Engh," tangannya sambil terulur meraba
pipi dengan jambang yang tercukur habis itu, namun hal itu menimbulkan sensasi sensual yang menggelitik di tangannya.
Anne tersenyum tak menyadari reaksi
tubuhnya, "mengapa kamu harus mengenakan topeng?"
Viktor mendongak, melihat gadis itu dan
tak menanggapi racaunya.
la melepaskan satu persatu kancing kemejanya, juga kait celananya dan melemparnya ke lantai hingga berserakan.
Keduanya sudah sama-sama tak berbusana, Viktor kembali menuruni tubuhnya memberi ciuman-ciuman.
Beberapa detik kemudian, tubuh gadis itu terdorong kuat dan memejam dengan bibir yang tertarik menahan jeritan.
Tangannya mencengkram bahu pria itu dengan kuat.
Wajahnya mengernyit mendefinisikan
perasaan yang tak terucap saat tubuhnya telah menyatu.
Ruangan itu kini menjadi terasa panas saat keduanya menyatu dan membara, siluet mereka terlukis di dinding.
Dengan nafas lembut yang menjadi nada merdu pengiring malam itu.
Anne benar-benar kehilangan kesadarannya, hanya aroma tubuh dan detak jantung pria itu yang mudah ia hafal, terlebih aroma sandal Wood miliknya mendominasi semakin memacu hasratnya.
Malam semakin larut, menghanyutkan mereka berdua dalam getaran yang saling menghanyutkan.