Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:710
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bibi wijaya

Pagi itu, tepat pada hari yang telah ditentukan, Bibi Wijaya datang ke rumah kami. Beliau mengetuk pintu dengan tenang, menanti jawaban yang sudah lama dinanti-nantikannya. Aku menyambutnya dengan sopan, mempersilakan duduk, lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan teh. Saat kembali ke ruang tengah, Ibu sudah duduk berhadapan dengan beliau. Ibu menatapku lembut dan menyuruhku duduk di sebelahnya. Hari ini aku tidak pergi bekerja, aku ingin menemani Ibu di rumah saja.

"Sudah tiga hari berlalu. Hari ini aku datang untuk mendengar jawabanmu," ucap Bibi Wijaya dengan nada yakin.

Ibu menarik napas panjang, menggenggam tanganku erat di bawah meja seakan mencari kekuatan dariku, lalu menatap Bibi Wijaya dengan mantap.

"Iya, Kak. Aku mau."

Aku tertegun sejenak mendengarnya, namun tidak menyela. Aku tahu keputusan ini tidak mudah bagi Ibu.

Bibi Wijaya tersenyum lebar, senyum yang terasa begitu lega seakan beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Benarkah? Kau setuju tanpa ada paksaan?"

"Iya, aku sudah memikirkannya matang-matang," jawab Ibu tenang.

"Baiklah! Baiklah kalau begitu!" seru Bibi Wijaya antusias. "Besok Samudra akan datang kemari bersama rombongannya untuk menyampaikan lamaran secara resmi sekaligus membicarakan hari pernikahan kalian."

Aku diam saja di tempat, menggenggam tangan Ibu yang perlahan terasa sedikit gemetar. Ia berusaha menyembunyikannya, namun aku merasakannya. Hatiku terasa perih. Ibu bukan mau karena ia menginginkannya, ia hanya berkorban. Demi aku. Demi kehidupan yang lebih layak untukku.

"Samudra adalah pria terpandang di kota ini," lanjut Bibi Wijaya tak henti-henti memuji-muji pria itu. "Kalian tidak akan kekurangan apa-apa lagi. Rumah, harta, kemewahan, semuanya akan didapatkan. El pun bisa berhenti bekerja, tinggal tenang saja di rumah menikmati hidup yang nyaman."

Aku menelan ludah mendengarnya. Kata-kata itu terdengar indah, namun entah mengapa membuat hatiku semakin gelisah. Mengapa kedengkian dan kecemasan justru tumbuh semakin besar setiap kali nama Samudra disebut?

"Terima kasih, Kak," ucap Ibu pelan memutus pembicaraan. "Kami tunggu kedatangannya besok."

Bibi Wijaya pun berdiri bersiap untuk pulang. "Baik, aku pamit dulu. Siapkan diri kalian ya, besok akan menjadi hari yang indah bagi kita semua."

Setelah pintu tertutup rapat, keheningan kembali menyelimuti ruangan kami. Ibu perlahan melepaskan genggamannya, menatap ke arah jendela dengan pandangan yang kosong.

"Bu," panggilku pelan sambil mengusap punggung tangan beliau. "Apakah Ibu benar-benar yakin? Kalau ragu, masih bisa diubah. Belum terlambat."

Ibu menoleh padaku, tersenyum tipis namun matanya berkaca-kaca. "Aku sudah memutuskan, El. Jangan khawatirkan ibu. Yang penting kita bersama, itu sudah cukup."

Aku memeluk lengan Ibu erat. "Apa pun yang terjadi, El akan selalu di sisi Ibu. Tidak akan membiarkan Ibu sendirian."

Ibu mengusap kepalaku lembut, lalu berdiri berjalan menuju dapur. "Sudah, jangan dipikirkan terus. Mari kita siapkan makan siang. Kita makan bersama seperti biasa."

Aku mengangguk dan ikut berdiri. Di dapur kami berdua sibuk bergerak menyiapkan bahan makanan, namun percakapan kami tidak sebanyak biasanya. Suasana terasa berbeda. Seakan ada sesuatu yang berat menggantung di udara, sesuatu yang belum terlihat namun sudah terasa kehadirannya.

Saat makan siang pun kami lebih banyak diam. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar memecah kesunyian. Aku memperhatikan wajah Ibu berkali-kali, berharap melihat keragu-raguan yang cukup besar untuk mengubah keputusannya. Namun Ibu makan dengan tenang, menatapku sesekali sambil tersenyum, meski senyum itu tak sampai sepenuhnya ke mata.

Setelah makan siang selesai, kami duduk di teras rumah menikmati udara siang yang hangat. Ibu menyanyikan pelan sebuah lagu lama yang sering ia nyanyikan saat aku kecil. Suaranya lembut namun sedikit bergetar. Aku menatap wajahnya, berjanji dalam hati akan menjaganya apa pun yang terjadi. Jika langkah ini memang harus diambil, aku akan memastikan tidak ada yang menyakiti Ibu. Tidak peduli seberapa berkuasa pria itu kelak.

Tiba-tiba Ibu memegang kepalanya erat, wajahnya tampak meringis kesakitan.

"El, kepala Ibu pusing sekali. Boleh tolong belikan Ibu obat di warung?"

"Eh, iya Bu! Baik, tunggu sebentar ya!" jawabku sigap.

Aku segera berlari mengambil dompet dan kunci motor, lalu melangkah keluar rumah secepat kilat. Hatiku sedikit cemas melihat wajah Ibu yang tiba-tiba terlihat tidak enak badan. Biasanya beliau tidak pernah mengeluh sakit, jadi kali ini pasti pusingnya cukup berat. Aku berharap obatnya segera tersedia agar Ibu cepat merasa lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!