Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Nyari Sinyal

"Lho? Kok cuma muter-muter doang kayak gasing?" gumam Reno kebingungan.

Indikator sinyal di pojok kanan atas layar ponselnya mendadak sekarat beneran. Dari yang tadinya logo 4G penuh berwibawa, tiba-tiba terjun bebas tanpa parasut menjadi huruf "E" yang menyedihkan.

"E? Apaan nih E? End of the world? Masa dunia mau kiamat di sini?!" Reno mulai panik. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya.

Demi mencari secercah harapan, Reno mulai mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara. Kedua kakinya berjinjit, badannya meliuk-liuk ke arah kanan dan kiri. Posisinya saat itu persis seperti seorang dukun yang sedang melakukan ritual pemanggilan hujan di tengah Gurun Sahara.

"Ayo dong... naik satu bar saja! Masa visual selevel Yeonjun begini nggak bisa update status? Bisa turun pamor dan harga diri gue di hadapan para netizen!" gerutunya kesal.

Reno mulai berputar 360 derajat sambil terus menjulurkan tangannya ke langit. Jika dilihat dari kejauhan, wujud Reno saat itu sudah mirip seperti antena berjalan yang sedang mengalami konsleting listrik skala besar.

Rika yang baru saja hendak mengetuk pintu rumah panggung itu seketika menoleh. Urat malu di lehernya mendadak ketarik melihat kelakuan anaknya. "Reno! Ngapain kamu di situ? Lagi latihan jadi Patung Liberty versi kearifan lokal?"

"Sinyal, Ma! Sinyalnya lagi mudik lebaran, nggak ada sama sekali di sini!" balas Reno berteriak tanpa menurunkan tangannya sedikit pun.

Cklek!

Pintu kayu tua yang berdecit itu terbuka. Dari balik pintu, muncullah Mimih (panggilan untuk nenek) yang mengenakan kebaya motif bunga-bunga jaman dulu.

Begitu melihat sosok pemuda jangkung di halaman rumahnya, mata Mimih langsung membelalak lebar karena terkejut. Karena posisi Reno sedang membelakanginya, Mimih tidak sadar kalau itu adalah cucunya sendiri. Yang Mimih lihat hanyalah seorang pemuda aneh yang sedang melakukan gerakan pemujaan matahari sambil jinjit-jinjit tidak jelas.

"Itu siapa, Rika? Kenapa jinjit-jinjit terus geol-geol pantat begitu kayak cacing kepanasan?" ucap Mimih dengan suara berbisik kepada Rika.

Mimih sampai harus menyipitkan matanya berkali-kali, mengira ada spesies unggas purba baru yang sedang melakukan tarian kawin di halaman rumahnya.

Reno sendiri sudah tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Ia terus saja berlari ke sana kemari mencari koordinat sinyal yang entah bersembunyi di mana. Imej keren ala "Idol K-Pop" yang selama ini ia bangun dengan susah payah menggunakan minyak rambut mahal, seketika runtuh rata dengan tanah.

"Ayo dong, nyangkut satu bar saja! Masa gue harus bertransformasi jadi antena parabola hidup di desa ini?!" gerutu Reno.

Ia kemudian melakukan gerakan parkour tipis-tipis, melompati jemuran kayu yang penuh dengan kerupuk rengginang yang sedang dijemur. Dari sana, ia berlari kencang ke arah pohon jengkol, lalu tiba-tiba berbalik arah menuju kandang kambing dengan gerakan kaki shuffle dance yang sangat tidak estetik dan merusak pemandangan. Tangannya masih setia mengacungkan HP ke langit, sesekali digoyang-goyangkan seperti sedang mengocok gelas arisan emak-emak PKK.

"Rika, itu si kasep beneran nggak lagi kemasukan setan penunggu pohon jengkol?" bisik Mimih ngeri. Tangan kanannya kini sudah siap siaga memegang sebuah sapu lidi berukuran besar, bersiap jika harus melakukan ritual pengusiran setan mandiri. "Lihat itu, jalannya sudah kayak kepiting yang habis disemprot disinfektan."

Rika cuma bisa memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa nyut-nyutan melihat kelakuan darah dagingnya sendiri. "Bukan kemasukan jin atau lelembut, Mih. Itu si Reno lagi sakau kuota internet. Biasa, anak kota kalau matanya tidak melihat sinyal 4G, GPS di dalam otaknya langsung otomatis recalculating dan error."

Tiba-tiba Reno menghentikan langkahnya tepat di samping sebuah tong air besar yang terletak di bawah pohon kelapa. Ia melihat indikator di layarnya berkedip.

Demi mendapatkan posisi yang lebih tinggi, Reno mulai memanjat pagar kayu pembatas. Kaki kanannya nangkring dengan tidak elit di atas pinggiran tong air. Badannya melengkung secara ekstrem ke belakang hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat, persis seperti adegan Neo menghindari peluru di film Matrix. HP-nya diarahkan lurus ke arah puncak gunung di kejauhan.

"DAPET! EH—ILANG LAGI! COPOT! COPOT! JANGAN HILANG DONG!" teriak Reno histeris saat melihat bar sinyal di HP-nya muncul-tenggelam seperti harapan palsu dari seorang mantan kekasih.

Namun nahas, saking asyiknya menggeol-geolkan pinggul demi mencari sudut kemiringan satelit yang pas, kaki kanan Reno yang basah karena keringat mendadak terpeleset dari pinggiran tong air yang licin.

"ALLAHUAKBAR—"

GUBRAKKK!

Reno mendarat dengan sangat sukses di atas tumpukan jerami kering di dekat kandang kambing. Posisinya sangat mengenaskan: kedua kaki berada di atas lurus ke langit, sedangkan kepalanya berada di bawah tertimbun jerami. Persis seperti sebuah atraksi sirkus yang gagal total.

Sialnya lagi, celana jogger mahal bermerek milik Reno robek dan nyangkut di ujung pagar kayu, memperlihatkan dengan jelas motif kolor polkadot merah mudanya yang sama sekali tidak ada gagah-gagahnya.

Mimih langsung beristighfar tiga kali sambil berlari cepat mendekat. "Euleuh-euleuh, Gusti! Cucu Mimih malah berubah jadi jemuran begini! Reno, kamu itu sebenarnya lagi nyari sinyal apa lagi nyari wangsit dari penunggu sumur?!"

Reno hanya bisa meratapi nasib buruknya sambil memegang ponsel yang sekarang layarnya dipenuhi debu jerami, persis kayak gorengan bakwan yang jatuh bebas ke atas pasir pantai.

"Mih... sinyal di sini pelitnya kebangetan beneran. Reno berasa lagi dideportasi pake mesin waktu ke zaman purba, zaman di mana api bahkan belum ditemukan sama manusia gua," keluhnya dengan suara merana yang mendayu-dayu.

Mimih Ratih menggeleng-gelengkan kepala, lalu membantu Reno berdiri dengan penuh kasih sayang—walaupun bibirnya berkedut menahan tawa yang hampir meledak.

Dengan telaten, tangan sepuh Mimih membersihkan sisa-sisa jerami kering yang menempel di wajah Reno. Kalau dilihat-lihat secara saksama, penampakan Reno saat itu sudah mirip orang yang baru saja kalah tawuran satu lawan satu melawan tumpukan rumput tetangga.

Namun, begitu wajah Reno sudah bersih mengkilap dari debu jerami, Mimih Ratih mendadak terpaku. Matanya berbinar-binar.

"Ya ampun... incu (cucu) Mimih makin kasep pisan! Ini mah bukan manusia biasa atuh, ini mah bidadara kahyangan yang nyasar jatuh dari awan!" seru Mimih Ratih dengan logat Sunda yang sangat kental, saking kentalnya sampai kalau dijadikan sirup, gulanya bisa tumpah-tumpah ke lantai.

Mimih hampir saja mengira ada artis Korea dari agensi besar yang salah beli tiket pesawat, lalu nyasar ke pelosok Sukabumi. Wajah Reno yang mirip Yeonjun TXT itu memang sebuah aset negara yang tak ternilai—tipe pemuda tampan yang kalau berjalan melewati bedeng proyek, debu semen di sekitarnya pun mendadak minder dan berubah wangi parfum Perancis mahal.

Dulu, visual kelas kakap yang "mahal" ini sukses membuat Reno jadi Playboy internasional saat zaman SMA. Tapi sayang seribu sayang, roda nasib sekarang berkata lain: kini dia hanyalah seorang pengangguran estetik yang status jomblonya sudah berkarat stadium akhir.

"Ayo masuk atuh ke dalam... kalian pasti capek, kan? Perjalanan Jakarta-Sukabumi mah jauhnya sudah kayak nunggu kepastian dari mantan yang ternyata sudah sebar undangan nikah duluan,"

1
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!