Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama
POV Ann
Penerbangan itu memakan waktu berjam-jam, tapi rasa takutku lenyap dalam pelukan Alan. Ia menciumku, dan kami larut dalam gairah sampai berjam-jam berlalu.
Kami akhirnya kelelahan. Alan mendekapku dalam pelukannya, dan meski masih dihantui kecemasan, aku terlelap. Aneh, seorang Bos Mafia justru memberiku rasa aman yang begitu besar.
Aku terbangun oleh suara dari kabin pesawat. Sepertinya kami sudah sampai. Buru-buru aku berpakaian. Alan duduk di kursi kamar, memeriksa beberapa dokumen. Ia sama sekali belum tidur. Apa pria itu tak pernah lelah? Aku sendiri sudah remuk, tubuhku terasa nyeri, dan di bahuku terlihat beberapa bekas ciuman kecil kemerahan.
Aku duduk di tepi ranjang, dan pandangan Alan langsung tertuju padaku. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Ia tampak begitu tampan hingga wajahku memanas.
"Kita sudah sampai," kata Alan. "Kau pasti suka. Jepang itu tempat yang indah. Aku beberapa kali ke sini untuk urusan bisnis, dan aku begitu menyukainya sampai membeli rumah di sini."
"Aku selalu ingin melihat Jepang," sahutku, "tapi aku cemas datang ke sini dengan cara seperti ini. Apa kau tidak takut?"
"Cantik, di dunia tempatku berkecimpung, tak ada ruang untuk rasa takut."
Aku tak berkata apa-apa lagi. Kami bangkit dan mulai turun dari jet. Udara terasa dingin, menyapu pipiku hingga hidungku memerah. Kuangkat pandangan, dan kami berada di sebuah landasan terbengkalai. Ada sebuah mobil hitam. Kami menghampirinya lalu masuk, dan sopir pun memulai perjalanan.
Kami menyusuri jalan di tengah hutan. Setiap menit berlalu, kami semakin masuk ke dalam belantara. Alan menggenggam tanganku, dan kegugupan yang tadi kurasakan pun sirna. Beberapa menit kemudian mobil berhenti.
Kami keluar, dan di hadapanku, di tengah hutan yang indah, berdiri sebuah rumah. Rumah itu memukau, dengan taman yang cantik dan banyak jendela kaca lebar. Seorang pengawal muncul di depan kami. Ia berpakaian berbeda dari yang lain; setelannya abu-abu, bukan hitam. Sepertinya ia kepala keamanan Alan.
"Bos, saya senang melihat Anda selamat," katanya.
"Berkat kau," jawab Alan. "Kau menyelamatkanku, meneleponku tepat pada waktunya. Berapa korban dan kerugian yang ada?"
"Tujuh orang tewas dan lima luka-luka. Rumah Anda hancur. Mata-mata kita masih menyelidiki siapa pria yang mengkhianati Anda."
"Bagus. Urus semuanya dan tinggalkan kami berdua."
"Bos, kami sudah mengawasi area ini. Anak buah menjaga jarak dari rumah, dan sensor aktif. Kalau Anda butuh sesuatu, cukup panggil saya."
"Baik, kau boleh pergi."
Ia menggenggam tanganku, dan kami masuk ke dalam rumah. Rumah itu indah, luas, dan memberiku ketenangan yang luar biasa. Aku hanya berharap perasaan itu tak pernah berakhir.
Alan mengajakku berkeliling. Rumah itu sungguh cantik, pantas untuk seorang bos sekuat dirinya. Aku merasa begitu bahagia; mengenal tempat baru selalu mendatangkan kegembiraan.
Kami masuk ke kamarnya. Kamar itu indah, dengan ranjang yang cantik. Berbeda dari ranjang di Meksiko, tapi menurutku sangat memikat.
"Hari ini berat bagi kita berdua," kata Alan. "Sebaiknya kita makan dulu, baru mandi."
"Ya, aku lapar sekali," sahutku.
"Baik, kita bisa memasak sesuatu. Aku tak punya pelayan di sini, dan demi keamanan aku tak memberitahu siapa pun bahwa aku akan datang."
"Kalau begitu, biar kubuatkan sesuatu. Aku bisa memasak. Tidak jago, tapi kau tak akan kubiarkan tidur tanpa makan malam."
"Baik, ayo."
Aku mengikutinya menuruni tangga ke arah dapur, berharap setidaknya ada bahan yang bisa dimasak.
Dapurnya indah, dan di atas meja ada beberapa kantong belanjaan. Kurasa kepala keamanan tadi yang membawanya.
Kuikat rambutku dengan karet gelang yang melingkar di tanganku, lalu mulai memeriksa isi kantong-kantong itu. Ada telur, sayuran, daging, minyak, saus, dan sedikit buah.
Alan membantuku menyalakan kompor. Di antara laci-laci kutemukan sebuah wajan. Kuambil beberapa butir telur, sebutir bawang bombai, dan tomat. Tak ada cabai, jadi terpaksa kumasak apa adanya. Kupotong bawang dan tomat, kutuang minyak, lalu kutumis. Kukocok telur dan kutambahkan ke dalamnya.
Sambil menunggu masakan matang, aku mulai membereskan barang-barang, menyusun daftar dalam kepalaku tentang bahan apa saja yang mungkin kubutuhkan untuk memasak. Aku hanya berharap Alan menyukai masakanku, dan kalau ya, aku akan memintanya membelikan yang kuperlukan.
Kutuang dua gelas jus, lalu kusajikan telurnya. Kami duduk di meja dapur. Kupandangi Alan. Saat ia menyuap gigitan pertama, tatapannya beralih ke arahku. Hatiku ciut. Mungkin ia tak suka. Cepat-cepat aku bangkit, hendak mengambil piringnya dan menggantinya dengan semangkuk sereal. Namun begitu tanganku menyentuh piringnya, ia bersuara.
"Kau mau apa? Aku lapar," kata Alan.
"Akan kuganti dengan semangkuk sereal. Aku tahu kau tak suka."
"Apa maksudmu? Wajahku terkejut bukan karena tak suka, tapi karena aku belum pernah mencicipi yang seperti ini. Ini enak sekali. Di mana kau belajar membuat telur seperti ini?"
"Sungguh? Di Meksiko kami selalu memakannya seperti ini," kataku sambil tersenyum.
"Ini lezat, aku sangat menyukainya. Kau harus membuatkanku hidangan-hidangan khas Meksikomu."
"Tentu saja. Hanya saja aku kekurangan beberapa bahan. Tapi kalau kau izinkan, akan kubuatkan daftarnya."
"Baik."
Aku duduk di hadapannya dan makan dengan lahap. Kata-kata sang bos memenuhi hatiku dengan kebahagiaan. Aku senang mengetahui ia menyukai masakanku. Sejak kapan pendapat pria ini begitu berarti bagiku? Beberapa hari lalu, sebelum bertemu dengannya, aku membencinya, dan sekarang aku ingin menyenangkannya.
Ia memandangku sambil tersenyum, dan sebelum aku sadar, ia sudah melahap habis semuanya. Ia minta tambah, dan dengan senang hati kulayani. Sesaat aku membayangkan diriku berada di Meksiko, berkencan dengan seorang pria tampan yang tak terlibat bisnis kotor, dan yang tak membeliku di sebuah lelang perempuan.
"Apakah Bos Mafia ini entah bagaimana telah menaklukkanku? Aku baru sedikit mengenalnya, tapi berada di sisinya membuatku merasa bahagia."