Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Kelegaan

Ekaterina

Aku menutup pintu di belakang kami berdua perlahan.

Kamar itu langsung senyap.

Besar.

Indah.

Hangat.

Jauh berbeda dari yang biasa kami tinggali.

Lis memandangi semuanya dengan takjub, matanya berbinar saat berputar pelan mengamati setiap detail kamar.

Ranjang yang luar biasa besar.

Cahaya lampu yang lembut.

Tirai yang cerah.

Ia bahkan tampak melupakan sejenak ketakutan yang dialaminya beberapa jam sebelumnya.

Dan itu membuat dadaku sesak.

Karena adikku pantas mendapatkan hal-hal seperti ini.

Kenyamanan.

Keamanan.

Masa kecil.

Bukan ketakutan.

Kugenggam tangannya dan kubawa ke kamar mandi.

Kumandikan ia dengan tenang, mencuci rambut kecilnya perlahan sementara ia terus mengoceh tanpa henti.

Seperti yang selalu ia lakukan saat mencoba mencerna terlalu banyak emosi sekaligus.

Aku hafal setiap detail dirinya.

Setiap perubahan nada.

Setiap diamnya.

Setiap pertanyaan yang tersembunyi di balik pertanyaan lain.

Selesai mandi, kupakaikan ia sehelai kemeja besar yang kutemukan di lemari.

Ujungnya nyaris menyeret di lantai dan ia mulai terkikik menertawakan penampilannya sendiri.

Kumanfaatkan kesempatan itu untuk mencuci baju kecil yang tadi ia kenakan.

Kugosok kainnya pelan-pelan di wastafel sambil memikirkan betapa hidup kami berbalik total dalam waktu sesingkat ini.

Lis terus berbicara di belakangku.

Menanyakan hal-hal acak.

Berkomentar tentang kartun.

Tentang ranjang.

Tentang apartemen.

Sampai diamnya berubah.

Aku merasakannya bahkan sebelum ia bicara.

"Kathy..."

Aku memutar wajah sedikit.

"Hmm?"

Ia menatapku dengan kehati-hatian yang terlalu besar untuk anak sekecil itu.

Lalu berkata:

"Kakak juga menatap Om Viti dengan aneh."

Aku memejamkan mata sesaat.

Jantungku tersandung di dalam dada.

"Lisbela..."

Suaraku keluar lebih keras dari seharusnya.

"Sudah, hentikan."

Ia terus menatapku.

Menunggu.

"Aku tidak menatapnya dengan aneh."

Aku berbohong.

"Dan dia juga tidak menatapku dengan aneh."

Aku berbohong lagi.

Karena aku merasakan pandangannya menempel padaku sepanjang waktu.

Seolah ia menyentuhku tanpa menyentuh.

Seolah ia selalu berusaha masuk ke dalam kepalaku.

Ke dalam hatiku.

Dan itu membuatku takut.

Sangat.

Lalu cepat-cepat kutambahkan:

"Kita bukan sepasang kekasih, Lisbela. Hidup tak seperti di dongeng, tak ada pangeran."

Binar di wajah Lis lenyap seketika.

Dan aku langsung sadar aku terlalu keras.

Raut wajahnya menutup pelan-pelan.

Seperti bunga yang mengatupkan kelopaknya.

Ia tak menjawab.

Hanya keluar dari kamar mandi dalam diam.

Berjalan pelan menuju ranjang besar itu.

Dengan susah payah, ia naik lebih dulu dengan berlutut, lalu merangkak sampai ke bantal dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dadaku langsung terasa sakit.

Karena ia hanya ingin memercayai sesuatu yang indah.

Sesuatu yang aman.

Dan aku merusaknya.

Sekali lagi.

Aku mematikan lampu kamar mandi dan berjalan pelan ke ranjang.

Kubaringkan tubuhku di sampingnya tanpa berkata apa-apa.

Lis langsung memalingkan wajah kecilnya ke arah berlawanan.

Mungil.

Terluka.

Dan itu menghancurkanku.

Tapi aku tak memaksa.

Tak membuka percakapan.

Tak mencoba menjelaskan.

Aku hanya berbaring di sana.

Di sisinya.

Mendengarkan napas pelannya memenuhi kamar yang sunyi.

Sementara hatiku terasa berat di dalam dada.

Berat oleh ketakutan.

Oleh rasa bersalah.

Dan terutama oleh kebenaran yang kucoba sangkal sejak Viktor kembali muncul di ambang pintu itu.

Karena mungkin Lis benar.

Mungkin aku memang menatapnya dengan aneh.

Mungkin lebih buruk...

Mungkin aku mulai memandang Viktor seperti seorang wanita memandang lelaki yang bisa menghancurkannya... atau menyelamatkannya.

Tapi itu...

tak akan pernah kuakui.

Tak akan pernah.

Karena Viktor sudah pernah menghancurkanku sekali.

Bahkan tanpa ia sadari.

Bahkan tanpa menyentuhku dengan cara kejam seperti yang Alfredo lakukan hari ini.

Dialah yang meninggalkanku sendirian saat aku paling membutuhkan.

Dialah yang membuatku merasa kecil.

Tak berharga.

Seakan ucapanku tak bernilai sama sekali.

Dan aku tak akan membiarkannya melakukan itu padaku sekali lagi.

Tidak akan.

Aku memejamkan mata kuat-kuat, berusaha mendorong pikiran-pikiran itu menjauh.

Sedikit demi sedikit aku sadar Lis sudah tertidur.

Napasnya menjadi tenang.

Ringan.

Aku bergeser mendekatinya di ranjang.

Lebih dekat.

Karena sekarang... aku juga butuh kenyamanan.

Aku butuh merasa bahwa aku tak sendirian.

Kulingkarkan lengan ke pinggangnya dan kusembunyikan wajahku di rambut kecilnya yang masih beraroma sampo.

Tapi kantuk tak juga datang.

Sekeras apa pun aku mencoba.

Bayangan-bayangan itu kembali terlalu kuat.

Terlalu keji.

Tangan Alfredo menjambak rambutku.

Bau alkohol.

Rasa darah di mulut.

Lis yang panik menjerit-jerit namaku.

Seluruh tubuhku kembali gemetar hanya karena mengingatnya.

Dan yang paling buruk...

itu pertama kalinya ia memukulku.

Sebelumnya, Alfredo tak pernah menyentuhku dengan cara seperti itu.

Tak pernah.

Aku memejamkan mata, merasakan air mata kembali membakar.

Karena ayahku tak selalu jadi lelaki menyeramkan ini.

Di masa kecilku... ia baik.

Ia penuh kasih.

Aku ingat ia menggendongku di pundaknya saat aku masih kecil.

Ingat tawa-tawa itu.

Lagu-lagu lawas yang mengalun di radio.

Malam-malam saat ia membuatkan sup ketika aku sakit.

Ingat ia mencium kening ibuku.

Ingat ia memanggilku putri kecil.

Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan.

Melihat seseorang yang dulu kau cintai lenyap sedikit demi sedikit... tanpa benar-benar mati.

Kecanduan menghancurkan Alfredo.

Menghancurkan rumah kami.

Menghancurkan keluarga kami.

Dan hari ini...

nyaris menghancurkan aku juga.

Setetes air mata mengalir diam-diam di wajahku.

Lalu setetes lagi.

Kupeluk Lis lebih erat, berusaha meredam gemetar tubuhku.

Tapi di dalam, aku sudah hancur.

Lelah.

Ketakutan.

Dan benar-benar tersesat.

Lalu, dalam sunyi kamar yang gelap, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak.

Aku memikirkan Viktor.

Pelukannya.

Cara ia datang.

Cara ia memegang tanganku tanpa memaksaku.

Janji yang ia buat untuk Lis.

"Dia tak akan pernah lagi memukulnya."

Dadaku terasa perih.

Karena untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun...

ada seseorang yang datang untuk melindungiku.

Dan itu membuatku takut hampir sama besarnya dengan perasaanku yang kacau.

Kantuk datang sedikit demi sedikit.

Berat.

Menyakitkan.

Seolah tubuhku sekadar menyerah setelah semuanya.

Dan di suatu titik, aku pun larut dalam kelelahan.

Saat aku terbangun, kamar sudah gelap.

Sesaat, aku merasa hilang arah.

Tak tahu aku ada di mana.

Lalu ingatan-ingatan kembali sekaligus.

Apartemen ini.

Viktor.

Alfredo.

Ketakutan itu.

Jantungku langsung berpacu dan aku meraba-raba mencari Lis di ranjang.

Tapi yang kutemukan hanya seprai yang dingin.

Aku cepat-cepat bangun duduk.

"Lis?"

Tak ada sahutan.

Kepanikan naik begitu kuat sampai dadaku terasa nyeri.

Aku bangkit tergesa dan membuka pintu kamar, nyaris tersandung kakiku sendiri.

Lalu aku mendengar suara-suara.

Tawa.

Kuikuti bunyi itu sampai ke ruang tamu.

Aku berhenti di tengah lorong saat melihat pemandangan itu.

Lis ada di tengah ruangan, berputar riang.

Sehelai gaun baru di tangannya.

Baju lain terlipat di sofa.

Kantong-kantong belanja berserakan di mana-mana.

Ia tersenyum begitu melihatku.

Senyum yang begitu lebar sampai menerangi seluruh wajahnya.

"Kathy, lihat betapa cantiknya yang dibawakan kakak Om Viti untukku!"

Tenggorokanku langsung tercekat.

Karena sudah lama...

lama sekali...

aku tak melihat Lis sebahagia itu.

Lalu pandanganku menemukan Alina.

Ia langsung bangkit dari sofa dan menghampiriku.

Tak menanyakan apa pun.

Tak bertanya tentang kejadian menakutkan itu.

Tentang ketakutan itu.

Tentang bekas-bekas luka itu.

Ia hanya memelukku.

Erat.

Hangat.

Seperti seorang ibu memeluk seseorang yang terluka.

Dan itu meruntuhkan sesuatu di dalam diriku.

Karena aku sudah tak ingat lagi bagaimana rasanya dirangkul seperti itu.

Mataku langsung terasa panas.

Alina menjauh perlahan dan menyusurkan jarinya lembut di bekas luka pada leherku.

Pandangannya menggelap sesaat.

Penuh kepedihan.

Penuh amarah juga.

Tapi saat ia berbicara, suaranya tetap lembut:

"Aku membawakan pakaian untuk kalian berdua, sayang."

Ia mengusap lenganku pelan sebelum bertanya:

"Boleh kami menghabiskan hari ini di sini bersama kalian?"

Aku langsung menunduk, tak nyaman.

Karena ini masih terasa terlalu aneh.

Terlalu besar.

Terlalu baik.

"Anda bebas saja... ini rumah Anda."

Alina langsung menggeleng.

Tegas.

"Bukan, sayang."

Ia menggenggam kedua tanganku di antara tangannya.

"Sekarang rumah ini milikmu."

Jantungku tersandung di dalam dada.

Ia terus menatap lurus ke mataku saat berkata:

"Milikmu... cucuku... dan Lis."

Emosi naik begitu cepat sampai aku nyaris tak bisa bernapas.

Karena tak pernah ada yang berbicara seperti itu padaku.

Seolah aku menjadi bagian dari suatu tempat.

Seolah aku berhak atas keamanan.

Atas kasih sayang.

Atas masa depan.

Lalu ia menambahkan lembut:

"Tempat yang aman untuk kalian tinggali. Ini hadiah untuk cucuku."

Aku langsung menggeleng, menolak.

Karena itu terlalu berlebihan.

Terlalu banyak.

Tapi sebelum aku sempat menjawab, seorang wanita berkulit sawo matang, cantik dan sedang hamil, menghampiriku sambil tersenyum.

Ia memelukku erat tanpa basa-basi.

Dan berkata jenaka:

"Ini ganti rugi historis karena sudah bersabar menghadapi Viktor."

Aku terlepas tawa kaget di sela air mata.

Tawa tulus pertama sejak kemarin.

Alina langsung menatapnya sewot:

"Olga, berhenti menjelekkan kakakmu sendiri! Meski dia memang pantas."

Wanita itu langsung terbahak.

Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama...

suasana di sekelilingku terasa ringan.

Hangat.

Hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!