Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lu kenapa!
Julian melangkah mundur dengan cepat saat jemari mungil Sabrina terulur ingin menyentuh lengannya.
Gerakan mengelak itu begitu spontan, seolah kulit Sabrina dialiri arus listrik yang membahayakan dirinya.
Tangan Sabrina menggantung layu di udara, gemetar hebat sebelum akhirnya jatuh terkulai di sisi tubuhnya. Matanya yang memerah bergerak gelisah, menghindari tatapan Sabrina yang membendung air mata.
Julian mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan, mengembuskan napas kasar berulang kali seolah-olah pasokan udara di dalam kamar hotel berpendingin itu tak cukup untuk meredakan kepalanya yang mau pecah.
"Aku butuh napas. Aku mau mendinginkan kepala dulu," lanjut Julian seraya melangkah mundur mendekati meja konsol.
Dia menyambar dompet dan kunci mobilnya dengan gerakan terburu-buru, sama sekali tak berani menatap langsung ke arah gadis di hadapannya.
Lutut Sabrina melorot, membuatnya hampir tersungkur di atas karpet tebal. Keberadaan Julian, meski pria itu baru saja melontarkan kata-kata kejam, adalah satu-satunya pegangan yang tersisa bagi Sabrina di tengah mimpi buruk ini.
Ditinggalkan sendirian di tempat asing dalam kondisi seperti ini adalah ketakutan terbesarnya.
Namun, Julian sudah dibutakan oleh rasa panik dan egois yang menguasai dadanya. Ketakutannya membuat Julian menolak untuk mendengarkan permohonan Sabrina.
Pintu kamar hotel terbuka lebar, memperlihatkan lorong luar yang hening, sebelum akhirnya terhempas menutup kembali dengan suara dentam pelan yang bergema menyakitkan.
Kunci otomatis terkunci dari luar.
Seketika, hening membungkus ruangan itu. Keheningan yang begitu pekat, dingin, dan menakutkan.
Sabrina berdiri mematung di tengah kamar hotel yang luas, menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat.
Kepergian Julian yang begitu mendadak meninggalkan kehampaan besar yang menusuk sampai ke tulang.
Rasa sakit menghantam dada Sabrina dengan begitu telak, melainkan rasa sakit di hatinya yang hancur berkeping-keping.
Pria yang selama ini ia puja, pria yang berjanji akan selalu melindunginya, justru menjadi orang pertama yang membuangnya saat badai yang mereka ciptakan bersama mulai menerjang.
"Kak Julian..." lirih Sabrina, suaranya tenggelam di dalam kamar yang sunyi.
Kedua lututnya akhirnya benar-benar kehilangan daya. Sabrina meluruh jatuh ke lantai karpet, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat.
Di dalam kamar hotel yang asing itu, air matanya tumpah tanpa kendali lagi, meratapi nasibnya yang kini terapung sendirian di tengah lautan keputusasaan.
Waktu bergerak terasa begitu lambat dan menyiksa. Cahaya matahari sore yang tadinya menyelinap di balik tirai kamar hotel perlahan surut, berganti dengan kegelapan malam yang dingin.
Namun, Julian tak kunjung hadir menembus pintu kayu itu. Sabrina duduk meringkuk di sudut ranjang yang luas, memeluk kedua lututnya erat-erat.
Suara detik jam dinding terasa bagai ketukan martil yang memukul kesadarannya berulang kali.
Dengan jemari yang gemetar dan mata yang bengkak akibat tak berhenti menangis, Sabrina kembali menekan nama Julian di layar. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, berharap keajaiban datang di panggilan yang kesepuluh, atau mungkin yang kelima puluh hari ini.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Suara operator wanita yang datar dan dingin itu kembali menyambutnya. Sama persis seperti puluhan panggilan sebelumnya.
"Tolong, Kak..." bisik Sabrina memilu, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipi.
Ia mencoba mengirim pesan singkat, mengirim pesan suara dengan nada memohon yang terputus-putus oleh isakan, namun semuanya hanya bermuara pada satu kenyataan pahit, pesan itu bahkan tidak pernah terkirim.
Centang satu. Julian benar-benar mematikan ponselnya. Pria itu sengaja memutuskan satu-satunya tali penghubung di antara mereka.
Sabrina melempar ponselnya ke atas kasur dengan keputusasaan yang meluap. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya di tengah kesunyian kamar hotel yang makin mencengkeram.
Julian tidak sekadar keluar untuk mendinginkan kepala. Pria itu telah melarikan diri. Julian meninggalkannya sendirian menghadapi kenyataan pahit ini, membiarkan Sabrina tenggelam dalam ketakutan dan kegelapan malam tanpa kepastian.
Di tempat lain, dentuman musik bass yang berat dan kilatan lampu neon warna-warni membakar suasana sebuah diskotik populer di pusat kota.
Bau alkohol yang tajam bercampur dengan asap tipis memenuhi udara, menciptakan riuh pikuk malam yang riuh.
Di sebuah bilik sofa VIP di sudut ruangan, tiga sahabat Julian, Adrian, Rian, dan Fano, sedang duduk santai sambil menikmati minuman mereka.
Tawa mereka yang tadinya pecah mendadak terhenti ketika sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul.
Julian melangkah terhuyung mendekati meja. Wajahnya pucat, matanya merah, dan garis rahangnya mengetat keras.
Penampilannya yang sangat berantakan dan napasnya yang memburu seketika menyedot perhatian ketiga temannya.
"Anjir, Lian! Akhirnya muncul juga lu!" panggil Adrian, memajukan tubuhnya. Namun, senyum di wajahnya memudar begitu melihat ekspresi Julian dari dekat.
"Kena angin apa lu? Kenapa muka lu kusut banget kayak baju belum disetrika gitu?"
"Iya, Lian. Lu kayak habis ketemu setan," timpal Rian seraya memicingkan mata heran.
"Ada masalah apaan, bro?"
Julian tidak menjawab sepatah kata pun. Sorot matanya kosong, dipenuhi kombinasi rasa takut, cemas, dan rasa bersalah yang teramat sangat yang tak sanggup ia pikul sendirian.
Pikiran tentang Sabrina di kamar hotel dan garis merah di testpack itu terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak.
Tanpa membalas pertanyaan teman-temannya, Julian mendadak membungkuk. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia menyambar gelas sloki berisi tequila yang baru saja hendak diangkat oleh Fano ke bibirnya.
"Eh! Minuman gue itu." Protes Fano kaget.
Belum sempat Fano menyelesaikan kalimatnya, Julian sudah menenggak habis cairan keras itu dalam satu tegukan.
Sensasi panas yang membakar tenggorokannya tak ia pedulikan. Julian menghentakkan gelas kosong itu ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan keras, lalu mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan, berharap alkohol bisa membekukan otaknya yang hampir gila.
Setelah meneguk tuntas minuman itu, Julian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di antara teman-temannya.
Ia menyandarkan kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapat seraya mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat.
Sensasi terbakar dari alkohol yang baru saja melewati tenggorokannya perlahan merambat, namun tak sedikit pun mampu mengusir bayangan wajah pias Sabrina dari benaknya.
Adrian, Rian, dan Fano saling melempar pandang dengan raut bingung sekaligus khawatir. Sikap Julian malam ini benar-benar jauh dari biasanya.
"Sumpah, lu kenapa sih?" tanya Fano seraya menarik gelas kosongnya yang baru saja dilalap Julian.
"Datang-datang langsung main sikat aja, muka kayak mau kiamat gitu."
Julian masih tak bergeming, membiarkan dadanya naik-turun memburu di bawah temaram lampu diskotik dan riuhnya dentuman musik.
Ia mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan, menyembunyikan wajahnya yang kini sarat akan kepanikan yang tak tertahan.
"Cerita lah, Bro. Lu ada masalah apaan? Soal kuliah? Atau bokap lu?" dorong Rian, menepuk bahu Julian pelan mencoba mengikis jarak.
Julian merapatkan giginya hingga rahangnya menegang keras. Rasanya ia ingin menjerit detik itu juga, melampiaskan ketakutan luar biasa yang sedang menggerogoti jiwanya.
Namun, lidahnya terasa kelu. Kenyataan bahwa ia baru saja melarikan diri dan meninggalkan Sabrina sendirian di kamar hotel terus menghantuinya bagai bayangan hitam yang tak mau pergi.