Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kata "bonus" tampaknya memiliki kekuatan magis universal yang dapat menembus perbedaan generasi, kelas sosial, dan kebingungan psikologis. Mata Bi Inah yang sebelumnya memancarkan ketakutan, kini berkedip cepat dengan kilatan ketertarikan.
"Bonus... kinerja, Non? Maksudnya bagaimana?" tanya Bi Inah ragu-ragu.
Sarah duduk bersandar di kursinya, menganalisis struktur kompensasi dalam kepalanya. Dari ingatan Bella, ia tahu bahwa jatah uang jajan bulanan (allowance) yang ditransfer langsung ke rekening Bella adalah Rp 10.000.000. Sebuah nominal fantastis dan tidak masuk akal untuk seorang anak SMA. Di kehidupan masa lalunya, nominal itu hampir setara dengan UMR dua bulan seorang buruh pabrik. Selama ini, 80% dari dana itu "dibakar" oleh Bella untuk membeli barang-barang punk, mentraktir gengnya merokok, dan bolos sekolah. Sekarang, karena Sarah akan menerapkan kebijakan penghematan anggaran radikal, tidak ada lagi biaya untuk geng, rokok, atau pakaian aneh, ia memiliki surplus dana kas (Free Cash Flow) yang sangat besar. Sebagian akan ia tabung untuk dana darurat, dan sebagian kecil akan ia gunakan untuk insentif operasional.
"Bi Inah," Sarah menjelaskan dengan intonasi jernih dan terukur. "Sebagai kompensasi atas hilangnya tekanan kerja akibat tingkah laku saya di masa lalu, dan sebagai motivasi untuk mempertahankan standar kebersihan dan nutrisi yang baru saja saya tetapkan, saya akan mengalokasikan 10% dari dana operasional pribadi saya yaitu sebesar satu juta rupiah setiap bulannya sebagai insentif tambahan di luar gaji pokok yang Tuan Anton berikan kepada Bibi."
Bi Inah menelan ludah. "Satu... satu juta, Non? Tiap bulan?"
"Betul. Dengan catatan tambahan syarat dan ketentuan berlaku (S&K). Bonus ini adalah KPI (Key Performance Indicator) based. Artinya, pencairan bonus ini bergantung pada evaluasi kinerja."
Sarah mengangkat tangannya, menghitung dengan jari.
"Indikator kesuksesannya adalah satu, kebersihan area publik rumah berada pada skor 9/10 setiap hari. Tidak ada debu tebal di ruang tamu, dan rotasi cucian harian berjalan lancar. Dua, ketersediaan makanan sehat tepat waktu tanpa toleransi keterlambatan lebih dari 15 menit dari jadwal yang sudah saya sebutkan tadi. Tiga, Bi Inah bertugas sebagai sistem peringatan dini (Early Warning System). Jika ada teman-teman geng saya yang datang bertamu tanpa jadwal, atau ada hal mencurigakan, Bibi wajib melapor kepada saya, bukan membukakan pintu untuk mereka secara sepihak."
Sarah menatap Bi Inah lekat-lekat. "Apakah poin-poin kontrak verbal ini dapat dipahami dan disepakati?"
Bi Inah terdiam sejenak. Ia mengamati mata Bella. Mata itu tidak lagi terlihat liar, kosong, dan marah. Mata itu kini memancarkan kejernihan, kecerdasan, dan wibawa mutlak. Entah keajaiban apa yang terjadi semalam, entah Non Bella kepalanya terbentur kloset atau didatangi malaikat Bi Inah tidak peduli. Yang ia tahu, tawaran ini menguntungkan, beban kerjanya berkurang, dan rumah ini akhirnya akan terasa damai. Ditambah bonus satu juta yang bisa ia gunakan untuk membayar uang sekolah cucunya di kampung.
Dengan senyum lebar yang tulus dan mata sedikit berkaca-kaca, Bi Inah mengangguk tegas. "Bibi paham, Non! Bibi setuju. Bibi akan jalankan semua aturan Non Bella sebaik mungkin. Nanti malam Bibi buatkan jadwal menu sehatnya, dan Bibi janji rumah ini akan selalu kinclong."
"Keputusan yang rasional," Sarah tersenyum tipis, sebuah senyuman korporat yang sopan. "Rapat kita tutup. Silakan kembali ke pos kerja Anda, Bi Inah. Saya pamit ke kamar untuk menyusun materi esok hari."
Sarah bangkit berdiri, merapikan kausnya seolah itu adalah blazer mahalnya, dan melangkah kembali ke kamarnya. Di belakangnya, Bi Inah menatap kepergian anak majikannya dengan kekaguman campur takjub. Rumah Tangga Anastasia baru saja diakuisisi oleh manajemen baru, dan semuanya berjalan dengan efisiensi yang menakutkan.
Minggu malam, pukul 20:00 WIB. Kamar Bella yang kini telah disterilisasi dari aura pemberontakan menjadi markas komando taktis bagi Sarah Paramitha. Besok adalah hari Senin, Hari pertama peluncuran "Bella 2.0" ke publik (SMA Garuda). Dalam bisnis, launching produk yang gagal atau tidak dipersiapkan dengan matang akan mengakibatkan anjloknya saham di hari pertama. Sarah tidak mentoleransi kegagalan peluncuran. Tugas pertama malam ini, eksekusi Grooming Akhir.
Sore tadi, menggunakan kas kecil (petty cash) dari sisa uang di dompet Bella, Sarah telah berjalan ke minimarket terdekat untuk membeli pewarna rambut hitam pekat berharga terjangkau dan beberapa peralatan tulis (stationery). Ia masuk ke kamar mandi, mengaplikasikan pewarna rambut tersebut dengan efisiensi waktu, menunggunya selama 45 menit sambil membaca ulang silabus kurikulum SMA yang ia temukan di laci, lalu membilasnya. Saat ia mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia menatap cermin. Sempurna. Warna hijau dan merah muda yang menjijikkan itu tertutup total oleh hitam legam. Dengan potongan bob lurus sebahu, wajah Bella yang tegas kini terlihat sangat elegan, mengintimidasi, sekaligus menjanjikan kecerdasan. Tidak ada lagi sisa-sisa remaja punk urakan. Ia tampak seperti seorang pewaris tunggal perusahaan konglomerat yang dididik di sekolah asrama Swiss.
Tugas kedua, Persiapan Atribut Kepatuhan (Seragam). Sarah mengambil seragam SMA Garuda yang sempat ia temukan terselip di bawah tumpukan baju. Rok abunya rupanya telah dimodifikasi oleh Bella sebelumnya, diperpendek secara ilegal hingga lima sentimeter di atas lutut. Sarah mendesah lelah. "Pelanggaran kode etik pakaian perusahaan."
Untungnya, ujung jahitan (hem) rok tersebut hanya dilipat dan dijahit kasar dari dalam. Sarah mengambil silet pembuka jahitan, mendedel lipatan rok itu, dan menurunkannya kembali ke panjang semula, yang kini tepat menutupi lututnya. Ia kemudian turun ke lantai satu, meminjam setrika dari Bi Inah, dan menyetrika kemeja putih berlengan pendek berserta rok abu-abu tersebut. Ia menyetrikanya dengan ketelitian seorang sosiopat; ia memastikan lipatan (crease) di tengah rok abu-abu itu begitu tajam hingga secara metaforis bisa digunakan untuk memotong kertas.
Tugas ketiga, Perencanaan Logistik Lapangan. Ia membuang ransel kanvas lusuh yang penuh dengan coretan tipe-X dan gantungan kunci tengkorak. Sebagai gantinya, ia menemukan sebuah tas jinjing (tote bag) hitam berbahan kulit sintetis polos di sudut lemari. Ia memasukkan alat tulis baru, dua buku catatan bersih (ia telah merobek semua halaman buku catatan lama yang penuh coretan), dan jadwal pelajaran yang telah ia salin dengan rapi. Pukul 21:30 WIB. Semua persiapan operasional lapangan telah 100% Ready for Deployment.
Sarah duduk di tepi kasur, ponselnya kembali bergetar. Notifikasi dari grup "Bone Breakerz" tidak berhenti sejak sore. Mereka sibuk mengoordinasikan titik kumpul untuk membolos pada jam pelajaran pertama besok, pelajaran Upacara Bendera dan Matematika, yang bagi mereka adalah neraka.
Dion (21:35): Woi Bos! Lo dari tadi di-read doang. Besok kita ngumpul di warteg Mang Asep jam 6.30 ya? Bolos upacara kan biasa?
Sarah membaca pesan itu dengan tatapan dingin. Jika ia tidak merespons, besok pagi mereka akan mencarinya. Jika mereka mencarinya dan tidak menemukannya, mereka akan membuat kekacauan di sekolah dan itu akan merusak citranya di hari pertama. Ia harus menghadapi mereka. Ia harus mengadakan Morning Briefing pertamanya. Sarah mengetuk keyboard layar ponsel dengan jari telunjuknya, membalas untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat jam terakhir.
Bos Bella (21:40): Semua anggota staf diwajibkan hadir di area parkir belakang sekolah pukul 06:15 WIB tepat. Tidak ada toleransi keterlambatan. Kita akan mengadakan pengarahan pagi. Absensi bersifat mandatori.
Setelah menekan tombol 'Send', ia segera mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja belajar. Ia tidak membuang waktu satu detik pun untuk menunggu balasan mereka yang pasti penuh dengan kebingungan ('Staf?', 'Pengarahan pagi?', 'Mandatori?'). Sarah menarik selimut lorengnya, mengatur alarm di jam internal otaknya pukul 05:00 WIB, dan menutup matanya. Napasnya teratur, detak jantungnya tenang. Bagi seorang Sarah Paramitha, besok bukanlah hari pertama kembali ke sekolah, besok adalah hari pertama akuisisi bermusuhan (hostile takeover) terhadap organisasi liar yang bermarkas di SMA Garuda.
"Tidur, Sarah," perintahnya pada dirinya sendiri. "Auditor utama telah tiba, dan besok, kepala-kepala yang tidak kompeten akan mulai berguguran."