Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Hari pernikahan Gavin akhirnya tiba. Sejak pagi rumah keluarga Rosita sudah ramai dipenuhi suara orang-orang.

Tenda besar berdiri di halaman depan rumah. Lampu-lampu gantung menyala cantik. Dekorasi bunga putih dan emas memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Musik organ tunggal terdengar sejak pagi. Beberapa ibu-ibu sibuk mondar-mandir membawa baki makanan. Anak-anak kecil berlari ke sana kemari sambil tertawa.

Acara pernikahan itu terlihat jauh lebih meriah dibanding pernikahan Kartika dulu. Jauh sekali.

Kartika berjalan di samping Deva dan Kalingga, sambil menggendong Kaivan. Hari itu ia memakai gaun warna kopi susu seragam keluarga pihak pengantin pria. Wajahnya tersenyum sopan setiap kali menyapa keluarga tuan rumah. Namun, diam-diam matanya memperhatikan semuanya. Dekorasi yang indah, pelaminan megah, dan banyak makanan berjejer panjang. Semuanya terlihat menghabiskan biaya tidak sedikit.

Sementara di atas pelaminan, Gavin dan Rosita terlihat sangat bahagia. Rosita tersenyum lebar dengan gaun putih penuh payet berkilau. Gavin pun terlihat bangga berdiri di samping istrinya.

Bu Hania tersenyum terus dengan wajah puas. Sesekali wanita itu membetulkan aksesoris riasan pada bajunya yang sebenarnya sudah sangat bagus.

“Ih cantik banget dekorasinya.”

“Wah, mewah ya acaranya!” Suara-suara tamu terdengar bersahutan.

Kartika hanya diam mendengarkan. Sampai tanpa sengaja ia mendengar beberapa kerabat Rosita sedang mengobrol di dekat meja makan.

“Katanya habis sampai tujuh puluh lima juta lebih loh.”

“Hah? Banyak banget?”

“Iya. Dan semuanya dari pihak laki-laki.”

Kartika yang sedang mengambil minum langsung terdiam.

“Tujuh puluh lima juta? Bukankah uang panai yang diberikan keluarga Gavin sekitar enam puluh juta? Lalu sisanya dari mana?” batin Kartika.

Belum selesai rasa herannya muncul, salah satu ibu kembali bicara pelan,

“Katanya mereka masih punya utang sama WO sekitar dua puluh juta. Nanti dibayar habis acara.”

Kartika langsung menoleh pelan. Dadanya mendadak terasa tidak nyaman.

“Utang? Kenapa sampai berutang sebesar itu demi pesta?”

Kaivan menarik bros di dada ibunya pelan.

“Mama ... mau es clim.”

Kartika tersadar, lalu tersenyum kecil. “Iya, Sayang. Tapi, jangan banyak-banyak.”

Sepanjang acara, ucapan para kerabat tadi terus terngiang di kepalanya. Ada firasat buruk yang mulai muncul. Dan entah kenapa ia merasa masalah ini belum selesai.

Sore rumah Kartika terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya. Setelah pesta besar pernikahan Gavin kemarin, suasana rumah justru seperti kehilangan energi.

Kalingga sedang menggambar sambil tengkurap, sementara Kaivan ngedot duduk di sofa, sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. 

Kartika sendiri sedang duduk di lantai sambil melipat pakaian bersih. Tangannya bergerak pelan merapikan baju-baju anak, tetapi pikirannya masih teringat obrolan beberapa kerabat Rosita kemarin tentang biaya pesta dan utang wedding organizer. Entah kenapa sejak pagi perasaannya sudah tidak tenang.

Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Kartika menoleh ke arah jendela. Deva ternyata pulang lebih cepat dari biasanya.

Belum sempat pria itu masuk penuh ke dalam rumah, terdengar suara Bu Hania memanggil dari depan pagar.

“Deva!” Nada suaranya terdengar keras dan terburu-buru.

Kartika langsung menghentikan aktivitasnya. Deva yang baru saja melepas sepatu segera berjalan keluar lagi menyambut ibunya.

“Masuk dulu, Bu,” ajak pria itu.

Namun, Bu Hania langsung menggeleng cepat. “Enggak usah. Kita ke belakang aja.”

Balas Bu Hania singkat, tetapi wajah wanita itu terlihat tegang. Tidak ada senyum sama sekali seperti kemarin saat sibuk menerima pujian dari tamu undangan.

Kartika mulai merasa tidak enak. Pelan-pelan ia bangkit lalu mengintip dari balik tirai ruang tengah.

Dilihatnya Bu Hania berjalan cepat menuju teras belakang, sementara Deva mengikuti dari belakang dengan wajah bingung.

Kening Kartika langsung berkerut. Instingnya mengatakan pembicaraan ini pasti soal uang lagi.

Perlahan Kartika berjalan mendekati pintu dapur yang terhubung ke teras belakang. Ia tidak benar-benar berniat menguping, tetapi suara Bu Hania terdengar cukup keras hingga samar-samar masuk ke dalam rumah.

“Ini semua gara-gara keluarga Rosita. Ibunya itu cerewet banget!” omel Bu Hania kesal.

Kartika langsung diam di balik pintu.

“Belum lagi pihak WO nya. Baru juga sehari acara selesai udah nagih terus!” lanjut wanita itu dengan nada tinggi.

Deva terlihat mengusap wajahnya lelah. Baru pulang kerja, sekarang langsung dihadapkan lagi dengan masalah.

“Memangnya masih kurang berapa, Bu?” tanyanya pelan.

“Dua puluh juta.”

Deva langsung mengangkat kepala cepat. “Dua puluh juta?!” suaranya spontan meninggi karena kaget.

“Iya!” jawab Bu Hania kesal seolah jumlah itu bukan masalah besar.

“Tapi bukannya kita kemarin kasih uang panai enam puluh juta. Masa kurang?” tanya Deva lagi, kali ini lebih pelan.

Bu Hania langsung mendecak tidak sabar. “Katanya uang itu banyak kepake buat ini itu!”

Tangannya bergerak-gerak sambil bicara. “Dekorasi nambah. Makanan nambah. Rosita maunya ini itu. Keluarganya juga banyak permintaan. Dan Gavin enggak bisa menolak permintaan mereka.”

Kartika yang mendengar dari balik pintu mulai mengepalkan tangannya pelan. Dadanya terasa panas. 

Lalu, kalimat berikutnya benar-benar membuat darah Kartika naik.

“Makanya sekarang kamu bantu bayarin sisa ke WO.”

Deva langsung diam. Wajah pria itu berubah tegang seketika. Rahangnya mengeras.

“Bu ....” Suaranya terdengar berat, “aku udah enggak punya uang lagi.”

“Loh?” Bu Hania malah terlihat heran. “Bukannya gajimu besar?”

Deva mengembuskan napas kasar sambil menunduk sebentar.

“Bu, uang gajiku kan sudah habis dibagi-bagi buat kalian. Jatahku dan Kartika hanya seperti dari gajiku. Dua pertiga gajiku buat kalian. Uang di tabunganku juga udah habis.”

Bu Hania langsung mengernyit. “Habis buat apa?”

Deva tertawa hambar. Tawa yang terdengar lelah dan frustrasi. “Memannya uang empat puluh lima juta uang panai Gavin, dari mana, Bu? Ya, dari tabungan itu!”

Seketika tubuh Kartika menegang di balik pintu. Matanya langsung membesar. Jantungnya berdetak keras sampai terasa sakit di dada.

“Apa?! Uang tabungan bersama habis?”

Napas Kartika tertahan. Beberapa detik dia bahkan tidak bergerak sama sekali. Pikirannya langsung kacau. Karena sebelumnya ia dan Deva sudah sepakat hanya membantu lima belas juta untuk pernikahan Gavin. Bukan empat puluh lima juta. Apalagi menghabiskan seluruh tabungan mereka.

Tubuh Kartika perlahan terasa dingin. Tangannya sampai gemetar kecil menahan emosi yang mulai naik ke kepala. Berarti selama ini Deva diam-diam mengambil seluruh tabungan mereka tanpa bilang apa-apa padanya.

Tabungan yang sengaja mereka kumpulkan, biar sewaktu-waktu butuh uang banyak atau ada kebutuhan mendesak, ada uangnya. Tabungan bersama itu juga untuk masa depan anak-anak mereka. Untuk kebutuhan keluarga mereka sendiri.

Lalu, sekarang semuanya habis begitu saja demi memenuhi permintaan keluarga Deva lagi.

1
Mei Saroha
lambemu kaiiiii
Mei Saroha
beruntung ya keluarga deva dapet mantu org have
Mei Saroha
bu hania keturunan monster NPD apa ya, koq ngamuk mulu
Sfarlett Alexana
💪
Mei Saroha
kata gw mah mendingan ganti nomer HP aja Dav
Night Watcher
secara keseluruhan bagus, ada hikmah/ pelajaran yg bisa diambil,.
sayangnya outhor byk kurang teliti, shg banyak ketidaksesuaian antara cerita sebelumnya dgn cerita berikutnya.
mudah2an kedepan karya2mu lebih bagus, bukan cuma dr memancing emosi, keseruan perseteruan, tetapi dari segi konsistenitasnya.
moga sukses, maaf atas komentar2 kasarku (yg pasti tujuannya bkn utk menghina, tp utk kebaikan/ meningkatkan ketelitian yg akan mendorong otor berkarya lebih bermutu). trimakasih atas hiburan yg otor sajikan.🙏
Mei Saroha
sookooorrrr
Night Watcher
ya iyalah.. anggun walaupun pake pakaian olah raga ya tetap anggun, masa jd terlihat mak lampir... 😂😂😂🤭
Marina Tarigan
sela.at berbahsgia semua dari aeal amburadul dan keserakahan dpt titik temi saling menghormsto saling menghargai dan mau merbah sifst yg kursng baik akhirnya damai dan sejahtrs salam semuanya
Marina Tarigan
bagus dong akhirnya kelakuan yg serakah daro orang tua dan ketulusan Anggun dan Gavin menata hidup kembali kearah lebih sempurna terjadi juga salam hangat dsri pembava setis
Marina Tarigan
semoga Anggun dam Gavin betnodoj karena dua2 nya gagal dlm permikahan satu fitinhgal mati suami satu bercetai karena kergoisan pasangan deh
Marina Tarigan
bisa sm kartika itu orang tua tapi jgn se. kali2 campuri urusan rmh tgha Deva itu saja
Marina Tarigan
memang kamu nenek lampir egois arogan keras kepala Kalau kamu tahu siapa Kartika mungkin kamu mati berdori pura2 kaya lihat nanti satu2 anakmu jauh dari rmhmu larena kesibukan mereka sadarlah
Marina Tarigan
lanjutksn ceritanya sampai selesai baikmy haji rosita bantu keluarganya dan seluruh pendapatan gavin hanya dipakai utk cicilan rumah dan keperluan rmh tgha mereka dan tdk mengeluarkan dana utk keluarga rosita karen A Gavin bukan presdir atau CEO perusahaan tdk punya gaji banyak
Marina Tarigan
Deva kan kuli keluaga mereka terus desak Deva spya stroke tak pernah tenang hidupnya oleh benalu itu semia
Marina Tarigan
hati2 deva jgn karyika tersakiti lagi oleh keluargamu Rsngga akan mengusirmu ingat itu keluargamu liri kanan beNALU singkirkan semua
Marina Tarigan
metyus kefua belah pihak kok dus2 niadap ini sm 2 meronhrong tmh thga. anak
Marina Tarigan
lakban mulut ibu kalian dgn kuat ibu kalian itu psikopat aliad gila yg menghancurkam rmj tgga anaknya sendiri
Marina Tarigan
wah inu firhaka gara2 ibu monyet ini rmh tgga iriama dan Devs hancur
Marina Tarigan
lanjut keluarga amburaful egois ti gkat tinggi mampus lo semua ibu. ansk dama2 biadap nenek yv satu keparst
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!