Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditengah Kebingungan
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kayu yang hanya tertutup kain tipis, menyinari ruangan kecilku dengan cahaya keemasan yang lembut namun cukup untuk membangunkanku dari tidur yang tak terlalu nyenyak. Semalam aku terbaring lama, pikiran berputar tanpa henti merencanakan segala kemungkinan di masa depan, hingga akhirnya lelah membawa kantuk menjemput di tengah malam. Aku bangkit perlahan, meregangkan tubuh sejenak lalu melangkah menuju cermin tua yang tergantung di dinding. Pantulan sosok gadis remaja dengan wajah masih terlihat lelah namun matanya mulai berusaha meneguhkan hati tampak di sana. Hari ini bukan hari libur, dan juga bukan hari untuk bermalas-malasan. Setelah lulus, aku bertekad tak akan membiarkan waktu berlalu sia-sia menunggu keajaiban datang sendiri.
Dengan gerakan cepat, aku membersihkan diri, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap yang nyaman untuk bergerak, lalu merapikan tempat tidur dengan rapi. Aroma masakan sederhana namun menggugah selera mulai tercium dari arah dapur, campuran bumbu dapur dan nasi hangat yang khas buatan Mama. Saat aku melangkah keluar kamar, kulihat Mama sedang sibuk di meja makan kecil, menata piring dan gelas dengan teliti. Punggungnya yang mulai terlihat bungkuk dan kulit tangannya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja di ladang selalu menyentuh hatiku setiap kali melihatnya. Inilah alasan terbesarku untuk berjuang demi wanita hebat yang tak pernah sekalipun mengeluh di hadapanku, meski beban hidup sering kali menindihnya sendirian.
“Pagi, Ma” sapaku pelan sambil menarik kursi untuk duduk di hadapannya.
Mama menoleh, senyum hangatnya seolah menyinari ruangan lebih terang daripada sinar matahari pagi. “Pagi, sayang... Sudah segar tubuhmu? Makanlah dulu sekarang, hari ini cuaca terlihat cerah, mungkin akan panas di luar”ujarnya.
Aku mengangguk sambil menyendok nasi ke piring. “Sudah, Ma..Sepertinya” sahutku.
Kami makan dalam keheningan yang tenang, namun terasa damai. Di sela-sela kunyahan, aku memberanikan diri membuka suara yang sudah kurencanakan semalam. “Ma, hari ini aku berniat pergi ke pasar desa. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi aku ingin menawarkan diri membantu Ibu-Ibu pedagang di sana mungkin membantu mengangkat barang, merapikan lapak, atau apa saja yang bisa kulakukan untuk mendapatkan sedikit upah. Selain itu, aku juga ingin bertanya tentang informasi beasiswa atau lowongan pekerjaan paruh waktu di kantor desa, siapa tahu ada peluang yang bisa kuambil”tuturku.
Gerakan tangan Mama yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Ia menatapku lekat, sorot matanya bercampur bangga dan iba. “Rania… mama tahu kamu anak yang rajin dan teguh pendirian. Tapi mama tidak ingin kamu memaksakan diri untuk berkerja yang berat, Nak. Kamu baru saja melepas seragam sekolah, seharusnya kamu punya waktu istirahat sejenak sebelum memikirkan untuk kerja keras”ujarnya memberi nasehat
Ngak ma...aku tidak terpemaksa, Ma” potongku lembut namun tegas. “Aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Aku ingin meringankan beban Mama, dan menabung sedikit demi sedikit untuk persiapan kuliah. Aku tidak bisa membiarkan Mama menanggung semuanya sendirian. Aku sudah besar, dan aku punya tenaga untuk bekerja”ujarku lagi.
Mama menghela napas panjang, lalu mengelus punggung tanganku di atas meja. “Baiklah, mama mengerti. Hati-hati di jalan ya, sayang. Ingat, jika ada apa-apa atau kamu merasa lelah, pulanglah segera. Jangan memaksakan kehendak melawan kemampuanmu sendiri" ucapnya penuh perhatian.
“Aku janji, Ma”.
Setelah selesai makan dan membereskan tempat duduk, aku berpamitan, melangkah keluar rumah dengan hati yang berdebar namun penuh tekad. Jalanan desa masih basah oleh embun pagi, debu-debu tanah mulai terbang perlahan tersentuh angin. Perjalanan menuju pasar desa memakan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Di sana, hiruk pikuk aktivitas warga sudah terlihat jelas. Pedagang sayur, buah-buahan, hingga kebutuhan pokok mulai menata dagangan mereka. Suara tawar-menawar sayup-sayup terdengar memenuhi udara yang mulai menghangat.
Aku berkeliling dengan perasaan canggung, menelan rasa malu yang menghantui. Menawarkan diri bekerja di tempat orang asing bukanlah hal mudah bagiku yang terbiasa hidup tertutup dan sederhana. Namun bayangan wajah Mama serta cita-citaku menjadi penyemangat terkuat. Akhirnya, seorang pedagang sayur tua bernama Ibu rahma bersedia menerimaku membantunya. Wanita itu ramah, meski suaranya lantang dan caranya bicara lugas khas warga desa. Aku bekerja sekuat tenaga, mengangkat keranjang berisi wortel dan bayam segar, menyusunnya agar terlihat menarik pembeli, membersihkan sisa daun yang layu, hingga melayani pembeli yang datang. Keringat mulai bercucuran membasahi pelipis dan punggungku, rasa lelah mulai terasa di persendian, namun aku tak berhenti sedikit pun. Justru ada rasa bangga yang mengalir di dada—rasa berguna dan mandiri.
Pagi berganti dengan siang, pasar mulai sepi. Ibu rahma memberiku upah yang cukup lumayan, meski tak besar, namun bagiku itu sangat berharga.
“Terima kasih ya, Rania. Kamu rajin dan teliti, lain kali kalau tidak sibuk boleh ke sini” ucapnya sambil tersenyum ramah.
Aku mengucapkan terima kasih yang tulus, lalu melanjutkan langkah ke kantor desa yang tak jauh dari sana. Di sana, aku bertemu perangkat desa yang memberitahu bahwa informasi beasiswa biasanya diumumkan saat mendekati pendaftaran perguruan tinggi, namun ia menyarankan agar aku rajin memantau papan pengumuman maupun bertanya langsung ke kecamatan. Sebagai tambahan, ia juga menawarkan pekerjaan membantu pendataan warga di sore hari—pekerjaan yang bisa kuambil nanti jika sudah pulih tenaganya.
Sepanjang jalan pulang, langkahku terasa lebih ringan meski tubuh lelah. Pikiranku mulai lebih teratur. Namun, di tengah perjalanan yang melewati jalan yang tidak cukup besar yang di kiri kananya persawahan itu, sebuah mobil sedan hitam mewah melintas pelan di dekatku, lalu berhenti tak jauh di depan. Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak saat pintu terbuka dan sosok yang tak asing bagiku turun—kakak perempuanku, Rina. Ia mengenakan pakaian bagus, riasan wajah rapi, dan tatapannya yang dulu pernah hangat kini terlihat agak dingin dan kaku saat menatapku.
“Ran?” panggilnya ragu, seolah tak percaya melihatku berjalan di jalan berdebu seperti itu.
Aku menghentikan langkah, menelan ludah dengan susah payah. “Ka… Kakak. Apa yang Kakak lakukan di sini?”tanya ku.
Ka Rina mendekat beberapa langkah, menatap penampilanku dari atas ke bawah. “Aku… sedang urusan tidak jauh dari sini dan kebetulan lewat sini. Dan kamu? Kamu ngapain keluyuran dengan penampilan begini”ucapnya heran melihat keadaan ku.
Aku mengangkat dagu, berusaha tegar. “Aku baru pulang bekerja di pasar...semua ini untuk masa depanku, Kak. Untuk membantu Mama”ucap ku.
Ka Rina terdiam, raut wajahnya berubah menjadi campur aduk—rasa bersalah, cemas, namun takut. “Kamu keras kepala sekali, Ran. Ayah selalu menghawatirkan keadaanmu. Dia… Dia ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang dibicarakan. Aku tidak tahu apa, tapi sepertinya menyangkut masa depanmu juga”ujar k rina memberitahu.
Darahku berdesir hebat. Pertemuan dengan Ayah, apalagi di bawah bayang-bayang Ibu Tiri, adalah hal terakhir yang kuinginkan. Namun mendengar kata "masa depan", aku ragu sejenak. Apakah ini jalan yang harus kuambil? Atau justru jebakan baru?
“Aku akan pertimbangkan, Kak" jawabku pendek.
“Sampaikan terima kasih karena sudah menghawatirkan dan perduli padaku, tapi aku tidak berjanji akan datang sekarang”ucapku.
Ka Rina hendak menyahut, namun ia menoleh ke arah mobil seolah ada yang menunggunya di sana—mungkin kekasihnya atau orang lain.
“Baiklah… Pikirkan baik-baik, Ran. Hati-hati... jada dirimu” Ia kembali masuk ke dalam mobil dan setelah itu mobil melaju perlahan menghilang di tikungan jalan.
Aku berdiri terpaku di sana lama sekali hingga angin sore menyadarkanku kembali. Langkah kakiku pulang membawa beban pertanyaan baru yang tak terduga,Apakah takdir benar-benar sedang menuntunku kembali ke masa lalu yang ingin kuhindari? Atau justru membuka pintu lain yang belum kutahu isinya?
Bersambung...