Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Insomnia Sang Komandan

Aku, Bram, tidak tidur malam itu.

Surat Ratna ada di meja. Jadwal jamuan ada di sebelahnya. Di luar jendela, lampu kamar Laras masih menyala lewat tengah malam.

Aku mencoba membaca laporan. Nama Sukandar muncul pada daftar pejabat yang akan menghadiri pertemuan dan jamuan. Setiap melihatnya, pikiranku kembali pada kalimat Laras: dia datang ke dapur tadi.

Lima tahun terakhir hidupku bisa dijalankan dengan daftar. Bangun sebelum subuh. Latihan. Rapat. Memeriksa Sena. Menandatangani dokumen. Tidur jika sempat. Aku menghindari undangan makan keluarga, pertanyaan kapan menikah lagi, dan perempuan yang diperkenalkan oleh kenalan.

Semua orang mengira aku masih berduka untuk Ratih.

Anggapan itu berguna. Tak ada yang tahu pernikahan kami hanya perlindungan administratif bagi sebuah tugas yang tak boleh disebut. Tak ada yang tahu kesedihan yang kupikul bukan milik suami kehilangan istri, melainkan kawan yang gagal membawa dua orang pulang.

Kemudian Laras datang dan mengacaukan daftar.

Aku mulai mengingat jam makannya. Mulai tahu kapan Sena tidur dari lagu yang terdengar di lorong. Mulai membeli benda kecil yang tidak pernah masuk rencana belanja: keset, sarung tangan, bibit, kurma.

Semua bisa kuberi alasan. Tak satu pun benar-benar menjelaskan mengapa malam terasa lebih panjang jika lampu kamarnya belum padam.

Aku mengenal lelaki seperti Sukandar. Mereka jarang memberi ancaman langsung. Mereka membuat seseorang merasa berutang, membuka pintu kecil, lalu menganggap seluruh rumah boleh dimasuki.

Laras bukan rumah yang boleh dimasuki siapa pun sesuka hati.

Pikiran itu membuatku berdiri.

Aku berjalan ke bloknya dengan alasan memeriksa Sena. Alasan yang semakin tipis setiap malam.

Di depan pintu, terdengar kain tersangkut dan kancing jatuh ke lantai.

Sena langsung menangis.

"Laras?"

Tidak ada jawaban, hanya suara napas panik. Pintu tidak terkunci rapat. Aku mendorongnya sedikit.

Laras duduk membelakangiku di tepi ranjang. Salah satu kancing dasternya lepas ketika Sena menarik kain. Selendang jatuh, dan ia sedang berusaha menutup tubuh sambil menenangkan bayi yang lapar. Lampu redup membuat bayangannya terlihat rapuh.

Aku segera berbalik.

Panas naik ke wajah meski yang kulihat hanya sepersekian detik. Bukan karena tubuh seorang perempuan asing, melainkan karena itu Laras. Perempuan yang menatapku tanpa takut di ruang rapat, yang mengingat garam sampai setengah sendok, yang menangis saat melihat foto anaknya lalu tetap masuk dapur keesokan pagi.

Melihat kerentanannya terasa seperti memasuki ruang yang tidak diberikan kepadaku.

"Maaf. Saya dengar dia menangis."

"Nggak apa-apa. Jangan menoleh dulu."

Aku menatap dinding lorong. Dari belakang terdengar ia mengatur kain, lalu suara tangis Sena mereda menjadi isapan kecil.

"Sudah," katanya, masih sangat pelan.

Aku tetap membelakangi. "Lampunya redup. Besok saya ganti."

"Bram."

Itu pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa gelar.

Punggungku menegang.

"Lampu bukan masalahnya," lanjutnya. "Saya ceroboh karena lelah."

"Kancingnya sudah longgar."

"Bapak sempat lihat kancing juga?"

Aku menutup mata. Jawaban apa pun akan membuat keadaan lebih buruk.

Laras tertawa kecil karena gugup. "Maaf. Saya nggak bermaksud menggoda."

"Saya tahu."

Justru karena ia tidak bermaksud, tubuhku bereaksi semakin bodoh.

Aku memaksa pikiran kembali pada hal praktis. "Besok Adi periksa selot, jendela, dan lampu. Saat menyusui, kunci pintu."

"Kalau Bapak mengetuk dulu, kuncinya nggak terlalu penting."

"Tetap kunci."

Sena bersuara puas. Laras menepuk punggungnya.

"Boleh menoleh sekarang," katanya.

Aku berbalik perlahan. Selendang sudah menutupi dada dan bahunya. Wajahnya masih merah, beberapa helai rambut menempel di pelipis. Ia tidak tampak menggoda. Ia tampak letih, malu, dan nyata.

Di samping kakinya tergeletak kancing kecil berwarna cokelat. Aku mengambilnya dan menaruh di meja tanpa menyentuh tangannya.

"Besok saya jahit," katanya.

"Pakai baju lain dulu."

"Saya cuma punya dua yang nyaman untuk menyusui. Yang satu belum kering."

Kalimat itu mengingatkanku betapa sedikit barang yang ia miliki. Aku ingin menawarkan membeli pakaian, tetapi tahu ia akan menghitungnya sebagai utang.

"Honor pelatihan sudah cair?"

"Sudah. Sebagian dikirim ke Nala."

"Sisakan untuk kebutuhanmu."

"Saya tahu."

Nada suaranya mengatakan ia belum tentu melakukannya.

Itu jauh lebih berbahaya.

"Kenapa Bapak belum tidur?" tanyanya.

"Pekerjaan."

"Atau memikirkan pertemuan besok?"

"Dua-duanya."

"Saya nggak akan sendirian. Tuti dan Sari ada. Pak Darman menunggu di dapur. Bapak juga hadir."

Ia menyebut semuanya seperti sedang menenangkan prajurit yang gugup sebelum operasi. Aku hampir mengatakan bahwa yang kutakutkan bukan kemampuannya menghadapi rapat, melainkan cara Sukandar melihatnya.

"Kalau situasi berubah, keluar dari ruangan," kataku.

"Baik."

"Jangan menerima tawaran bicara pribadi."

"Baik."

"Dan jangan pulang sendiri malam setelah jamuan."

Alisnya naik. "Masih ada perintah lain?"

Aku berhenti. "Makan sebelum pertemuan."

Ia tersenyum. "Siap, Komandan."

Senyum itu menghabisi sisa ketenanganku.

Aku pamit dan berjalan terlalu cepat menuju tempat cuci di belakang blok. Keran kubuka. Air dingin kuguyurkan ke kepala dan tengkuk.

Bekas luka lama terasa ngilu. Napasku berat bukan karena sakit.

Aku pernah bertahan dalam operasi panjang, menahan peluru di kaki, dan menyimpan rahasia yang mengubah seluruh hidup. Namun satu kamar sempit, satu kancing terlepas, dan seorang perempuan yang memanggil namaku berhasil merusak pertahanan dalam hitungan detik.

Dalam operasi, musuh jelas dan tujuan tertulis. Perasaan tidak bekerja begitu. Tidak ada peta yang menunjukkan jarak aman, tidak ada perintah kapan maju atau mundur.

Aku takut bukan hanya pada keinginanku sendiri. Aku takut Laras membalasnya karena merasa berutang. Takut kompleks akan menuduhnya menggunakan tubuh dan kedekatan demi pekerjaan. Takut suatu hari rahasia Sena terbuka dan ia menganggap seluruh rumah yang kubangun berdiri di atas kebohongan.

Untuk pertama kali, keberanian bukan soal maju. Keberanian mungkin justru menunggu sampai aku bisa memberinya kebenaran dan pilihan yang utuh.

Air terus mengalir.

"Bodoh," gumamku pada diri sendiri.

Aku tidak boleh menyentuh Laras dengan perasaan yang belum bisa kuberi masa depan. Status Sena, rahasia Ratih dan Wibisono, serta posisi Laras di kompleks membuat setiap langkah memiliki akibat.

Ia bukan pelarian dari sepi. Bukan hadiah atas pengorbananku. Ia perempuan yang sedang membangun hidupnya sendiri.

Jika aku mendekat, aku harus datang dengan kehormatan, bukan hasrat yang disembunyikan dalam kunjungan malam.

Air di lantai berputar menuju saluran.

Namun ketika aku menutup keran, namaku dalam suara Laras masih terdengar jelas.

Bram.

Malam itu aku kembali ke kantor dengan pakaian basah dan jantung yang sama sekali tidak lebih tenang.

Di meja, surat Ratna masih menunggu tanda disposisi. Aku mengambil pulpen, tetapi tangan ini menulis satu nama di kertas kosong sebelum sempat kusadari.

Laras, satu-satunya nama yang mengacaukan seluruh ketenanganku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!