Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah baru

"Akhirnya aku pulang juga."

Lyn memejamkan matanya, menghirup udara segar begitu sampai di depan rumahnya, lalu membuka mata kembali. Tanpa menunggu lagi, ia langsung melangkah masuk ke dalam.

Sementara itu, Elea, Vanesa dan Lucas hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah Lyn yang begitu antusias.

"Lea, gue balik dulu, ya," ucap Vanesa pada sahabatnya.

Elea mengangguk pelan, lalu merengkuh Vanesa dalam pelukan hangat. "Makasih ya, Nes. Kalau nggak ada lo, gue mungkin belum ketemu Lyn secepat ini."

"Auh!" Elea meringis saat Vanesa mencubit pinggangnya tanpa aba-aba.

"Apaan sih pakai bilang makasih segala," Vanesa berdecak, meski nada suaranya jelas menyimpan ketulusan. "Ingat ya, Lyn itu udah gue anggap putri sendiri. Lo nggak perlu ucapin terima kasih buat hal kayak gitu."

Elea terkekeh, melonggarkan pelukannya. "Iya, iya, Bu Guru."

Vanesa menoleh ke arah Lucas, memberi hormat sedikit main-main. "Om, Vanes pamit dulu, ya."

Lucas mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai menua. "Hati-hati di jalan, Nak."

"Siap, Bos!" Vanesa mengedipkan sebelah mata sebelum akhirnya melangkah menuju mobilnya, meninggalkan Elea dan Lucas di depan rumah.

Sepeninggalan Vanesa, Elea dan Lucas melangkah masuk. Di dalam, Lyn sudah merebahkan diri di sofa kesayangannya, menghela napas puas seolah sofa itu adalah tempat paling nyaman di dunia.

"Akhirnya bisa rebahan di sofa sendiri," gumam Lyn, matanya terpejam menikmati momen sederhana itu.

Elea tersenyum, duduk di sisi Lyn sambil mengusap rambutnya lembut. "Kangen rumah, ya?"

"Kangen banget, Bu," jawab Lyn, membuka mata dan tersenyum lebar.

Lucas ikut duduk di kursi seberang, menatap cucunya dengan pandangan penuh syukur. "Opa juga senang lihat kamu udah di rumah, Nak."

Mereka menghabiskan waktu beberapa saat dengan obrolan ringan, tawa kecil sesekali mengisi ruangan yang sudah lama terasa sepi tanpa kehadiran Lyn. Namun tak lama, ponsel Lucas berdering, membuatnya harus mengangkat panggilan penting.

Setelah menutup telepon, wajah Lucas berubah sedikit serius.

"Lyn, Opa harus balik ke kantor sekarang. Ada urusan mendesak yang harus Opa tangani."

Wajah Lyn langsung berubah kecewa. "Opa nggak nginap dulu aja?"

Lucas tersenyum lembut, mengusap kepalanya cucunya. "Opa juga mau gitu, Nak. Tapi perusahaan lagi butuh Opa banget sekarang."

"Tapi Opa baru aja ketemu aku lagi," Lyn merengek pelan, menggenggam tangan kakeknya erat.

Lucas terharu melihat kemanjaan cucunya, sesuatu yang jarang ia lihat selama ini. "Opa janji, minggu depan Opa akan luangkan waktu buat nginap di sini beberapa hari. Sekarang, Opa harus pastikan semuanya aman dulu."

Lyn menghela napas, meski masih kecewa, ia mengerti tanggung jawab besar yang dipikul kakeknya. "Janji ya, Opa?"

"Janji," Lucas mengangguk mantap, mengecup kening Lyn sebelum berdiri. "Jaga diri baik-baik, Nak. Dengarin Ibumu."

"Siap, Opa!" Lyn tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca melihat kakeknya harus pergi lagi.

Elea mengantar Lucas hingga ke depan pintu, sebelum akhirnya kembali masuk dan duduk di samping Lyn yang masih menatap pintu dengan tatapan sendu.

"Udah, jangan sedih," Elea merangkul bahu putrinya. "Opa pasti balik lagi kok."

Lyn mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. "Iya, Bu. Aku cuma... masih pengen banyak waktu sama kalian semua."

Elea mengecup pundak kepala Lyn, tersenyum hangat. "Kita punya banyak waktu ke depannya, Nak."

--

BUGH! BUGH!

Suara baku hantam bergema di dalam markas saat Lyn baru saja menginjakkan kaki di gerbang utama.

Lyn menatap kagum bangunan besar di hadapannya, matanya menyapu setiap sudut dengan penuh decak kagum. "Wah... nggak nyangka Opa punya tempat seperti ini."

Perjalanan berjam-jam dari rumah rasanya sama sekali tidak sia-sia.

Tak lama, Lucas dan Rio keluar dari pintu utama, menyambut kedatangan mereka.

"Cucu Opa udah dateng," ucap Lucas hangat, merentangkan tangan menyambut Lyn.

"Opa!" Lyn berlari kecil menghampiri kakeknya, memeluknya sejenak sebelum melepaskan diri.

Elea mendekat, menyerahkan tas besar berisi perlengkapan Lyn pada Lucas. "Pah, Lyn aku titip dulu ya. Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di sini biar latihannya lebih fokus."

Lucas mengangguk mantap. "Tenang aja, Nak. Biar Opa yang jaga dan pastikan dia baik-baik saja di sini."

Elea mengecup kening Lyn sekali lagi. "Semangat latihannya, ya, Sayang. Dengerin apa kata pelatihnya."

"Siap, Bu!" Lyn tersenyum lebar, melambaikan tangan saat Elea berbalik menuju mobilnya.

Begitu Elea pergi, Lucas membawa Lyn masuk ke dalam markas. Mata gadis itu langsung membulat takjub menyaksikan deretan alat canggih yang terpampang di sepanjang lorong—layar monitor besar, sistem keamanan berlapis, hingga ruang latihan yang tampak seperti arena pelatihan militer.

"Ini... keren banget," gumam Lyn, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Lucas tersenyum melihat reaksi cucunya, lalu menoleh ke arah Rio yang berdiri di sampingnya. "Rio akan jadi pelatih kamu mulai hari ini."

Rio membungkuk sopan. "Selamat datang, Nona Lyn."

"Panggil aku Lyn aja, Kak," Lyn tersenyum ramah, mengulurkan tangan.

Lucas meletakkan tangan di pundak cucunya, nadanya berubah lebih serius. "Lyn, dengar baik-baik. Di sini, Rio adalah gurumu. Hormati dia sepenuhnya selama latihan. Dan Rio," ia menoleh ke arah asistennya, "jangan pernah menganggapnya sebagai cucu atasanmu. Perlakukan dia seperti murid biasa. Kalau dia salah, tegur. Kalau dia lemah, dorong dia lebih keras."

Rio mengangguk tegas. "Dimengerti, Tuan."

Lyn menelan ludah, sedikit gugup mendengar instruksi kakeknya yang begitu tegas.

Latihan pun dimulai.

Bayangan Lyn soal latihan bela diri yang seru, penuh gerakan keren seperti di film-film aksi, ternyata jauh berbeda dari kenyataan. Rio melatihnya dengan disiplin tinggi, tanpa ampun, dan sama sekali tidak segan meski yang dihadapinya cucu atasannya sendiri.

"Lagi! Posisi kuda-kuda kamu masih salah!" bentak Rio, menendang pelan kaki Lyn untuk memperbaiki posisinya.

"Aduh!" Lyn meringis, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.

"Nggak ada waktu buat ngeluh. Ulangi!"

Lyn menghela napas, mengumpulkan sisa tenaganya, lalu kembali mengambil posisi. Ternyata, menjadi kuat tidak semudah yang ia bayangkan.

Hari demi hari berlalu. Tubuh Lyn yang awalnya kaku dan gemetar setiap kali latihan, perlahan mulai terbiasa dengan gerakan-gerakan dasar bela diri. Pukulan, tendangan, teknik bertahan—semua ia pelajari dengan tekad yang tak pernah surut, meski rasa lelah dan sakit selalu menyertai.

"Bagus, pertahankan posisimu," puji Rio suatu hari, melihat kemajuan pesat Lyn dalam menghindari serangan.

Lyn tersenyum bangga, napasnya masih terengah tapi matanya berbinar puas.

Selain bela diri, Rio juga mulai mengenalkan Lyn pada dasar-dasar penggunaan senjata api—cara memegang, membidik, hingga menjaga keselamatan saat menembak.

"Pelan-pelan aja, jangan buru-buru," arah Rio saat Lyn pertama kali memegang pistol latihan, tangannya sedikit gemetar. "Tarik napas, fokus, baru tarik pemicu."

DOR!

Peluru pertama meleset jauh dari sasaran, membuat Lyn mendecak kesal.

"Santai," Rio menepuk pundaknya. "Nggak ada yang langsung jago di percobaan pertama."

Di sela-sela latihan yang melelahkan itu, sesekali Elea datang berkunjung, membawa bekal makanan sambil menyemangati putrinya dari pinggir arena latihan. Vanesa pun tak ketinggalan, rutin datang untuk mengajarkan Lyn dasar-dasar dunia IT—mulai dari cara melacak sinyal, membaca data digital, hingga sedikit trik keamanan siber.

"Nah, coba kamu cari celah di sistem ini," ucap Vanesa suatu sore, menunjuk layar laptop di hadapan Lyn.

Lyn mengerutkan dahi, jarinya bergerak pelan di atas keyboard, mencoba menerapkan apa yang baru saja diajarkan.

"Dikit lagi... dikit lagi..." gumam Lyn fokus, hingga akhirnya sebuah notifikasi kecil muncul di layar.

"Nah, gitu!" Vanesa bertepuk tangan bangga. "Cepat banget kamu nangkepnya."

Lyn tersenyum lebar, kelelahan yang menumpuk seharian seakan terbayar oleh rasa pencapaian kecil itu.

Waktu terus berjalan, dan perlahan tapi pasti, gadis yang dulu hanya bisa lari dan bersembunyi ketakutan itu, kini mulai bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih kuat—baik secara fisik, mental, maupun keterampilan yang tak pernah ia bayangkan akan ia miliki sebelumnya.

••••

Di sebuah rumah sakit, seorang pria menatap ke luar jendela dengan tatapan datar, wajahnya masih dipenuhi memar dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Cakra Narendra, duduk di ranjang, matanya menerawang jauh, dipenuhi amarah yang terus membara sejak insiden di vila itu.

Tak lama, pintu ruangan terbuka pelan.

"Tuan."

Cakra menoleh, mendapati Bimo berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih menyimpan lebam bekas pertarungan.

"Bagaimana?" tanya Cakra dingin, tanpa basa-basi.

Bimo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya sebelum mendekat. "Tim sudah menyelidiki siapa Elea, Tuan. Tapi..." ia ragu sejenak, " hasilnya nihil. Dia cuma tercatat sebagai Ibu rumah tangga biasa. Nggak ada riwayat mencurigakan, nggak ada afiliasi organisasi apa pun."

Cakra mengerut dahi, rahangnya mengeras. "Biasa?" Ia mendengus sinis. "Kau pikir wanita 'biasa' bisa menghajar puluhan pengawalku sendirian? Membunuh tanpa ragu, menyusup ke vila yang dijaga ketat?"

"Saya juga bingung, Tuan," Bimo mengangguk cemas. "Semua data resminya bersih. Seolah-olah dia memang benar-benar hanya seorang Ibu biasa."

Cakra terdiam, menatap keluar jendela. Ada yang tidak beres, Elea tidak mungkin muncul dari kekosongan, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

"Gali lebih dalam," perintah Cakra tegas. "Saya tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Saya harus tahu siapa sebenarnya wanita itu, dan siapa yang berdiri di belakangnya."

"Baik, Tuan."

Cakra kemudian mengalihkan pandangannya, ekspresinya berubah lebih dingin dan penuh perhitungan. "Satu lagi. Hubungi kenalan kita di kepolisian. Kalau ada yang berani melapor soal kejadian Clarisa," Cakra menyeringai tipis, matanya menyala penuh ancaman, "pastikan laporan itu tidak pernah sampai ke meja penyelidik. Bungkam siapa pun yang berani mencoba bicara!"

Bimo mengangguk patuh. "Siap, Tuan. Akan saya urus."

"Dan satu hal lagi," lanjut Cakra, suaranya semakin dingin. "Saya tidak akan tinggal diam setelah apa yang mereka lakukan padaku. Mereka akan membayar mahal."

Bimo terdiam sejenak, ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya. "Tuan... lalu soal janji Tuan kemarin?"

Cakra tertawa pelan, senyum miring terukir di bibirnya yang masih memar.

"Bertanggung jawab?" Ia mendengus sinis. "Dia pikir dia siapa, bisa bikin saya tunduk begitu saja?"

Senyum itu semakin melebar, dingin dan penuh kelicikan. "Itu tidak akan pernah terjadi."

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!