Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan Manis

Begitu mereka keluar dari restoran, Jingga langsung menarik tangan Levin menjauh dari pintu masuk. Tumit sepatunya bahkan sampai ketok-ketok kesal di lantai marmer.

“Levinnnn!!!” Jingga melotot sambil menyilangkan tangan di dada.

“Apa-apaan sih tadi di dalam? Seenaknya aja lo cium gue depan orang banyak, terus ngasih hotel buat pernikahan Vivi, terus panggil-panggil gue ‘sayang’ berasa udah nikah tiga tahun!”

Levin menahan tawa, tangannya masuk ke saku celana, gaya cool-nya makin bikin Jingga gregetan.

“Kenapa? Aku kan calon suami kamu, masa nggak boleh mesra?” jawabnya santai.

Jingga mendengus. “Mesra sih boleh… tapi nggak usah over! Lo lihat nggak tadi? Semua orang melotot ke kita, terutama si Aluna. Aku bisa mati gaya tahu nggak?!”

Levin mendekat, suaranya diturunkan, senyum liciknya muncul.

“Justru itu tujuanku. Biar dia tahu, kamu udah punya aku. Biar dia berhenti ngerasa bisa ngalahin kamu.”

Jingga makin sebal, pipinya memerah bukan karena malu, tapi… ya, mungkin sedikit tersipu juga.

“Dasar egois!” serunya sambil mendorong pelan dada Levin.

Levin dengan cepat menangkap tangan Jingga, menahannya. “Egois? Kalau untuk kamu, aku memang nggak pernah mau berbagi. Jingga itu… milik Levin Putra Artama. Titik.”

Deg.

Kalimat itu sukses bikin Jingga terdiam. Wajahnya memanas, bibirnya terbuka ingin membalas, tapi yang keluar cuma gumaman nggak jelas.

Levin terkekeh pelan, lalu mengusap kepala Jingga singkat.

“Udah ah, jangan ngambek. Pulang yuk, sebelum aku makin tergoda cium kamu di parkiran juga.”

Di dalam mobil, suasana sempat hening. Hanya suara mesin yang terdengar, sementara Jingga bersedekap dengan wajah manyun, menatap lurus ke depan. Levin melirik sekilas, lalu tersenyum tipis.

“Masih marah?” tanya Levin, suaranya tenang.

Jingga menghela napas, lalu menoleh dengan tatapan tajam.

“Levin, gue serius. Siapa yang kasih tahu lo kalau hari ini gue ada reuni sama mereka?”

Alis Levin terangkat, dia pura-pura polos.

“Maksud kamu?”

“Jangan pura-pura bego, Vin,” Jingga langsung menukas. “gue nggak pernah bilang soal reuni itu ke lo. Tiba-tiba lo nongol dengan timing sempurna, bahkan langsung akting mesra di depan mereka. Jadi, siapa yang kasih tahu?”

Levin terkekeh kecil, lalu mengubah posisi duduknya lebih santai.

“Kalau aku bilang aku punya mata-mata, kamu percaya nggak?”

Jingga menatapnya curiga. “Mata-mata? Serius, Vin? Lo nyuruh orang ngikutin gue?”

Levin meliriknya sekilas, ekspresinya sulit ditebak.

“Bukan gitu. Intinya aku akan selalu mastiin kalau kamu baik baik saja .”

Jingga terdiam. Seketika wajahnya berubah, antara kaget dan heran.

“Jangan jangan lo tau tentang Aluna?”

Levin menoleh sebentar, lalu kembali fokus menyetir.

“Tentu aja aku tahu. Aku juga tahu persis gimana masa lalu kalian. Dan aku nggak mau kamu sendirian hadapi orang kayak dia.”

Deg.

Kata-kata Levin sukses bikin hati Jingga berdebar. Dia mencoba menutupi dengan pura-pura mendengus.

“Terus… siapa sebenarnya yang kasih tahu Lo? Jangan-jangan… Roy?”

Levin hanya terkekeh, matanya berkilat penuh rahasia.

“Hmm… bisa jadi Roy, bisa jadi bukan. Anggap aja aku selalu punya cara buat jagain kamu tanpa kamu sadari.”

Jingga menoleh tajam. “Levin! Gue serius nanya.”

Levin tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit mendekat ke arahnya.

“Aku juga serius. Rahasia, sayang.”

Jingga meraih seatbelt dan menariknya kesal, seolah sedang melampiaskan rasa penasarannya.

“Rahasia-rahasiain aja terus.”

Levin meliriknya sekilas, lalu tersenyum miring. “Kepo banget sih. Emangnya kalau aku kasih tahu, kamu bisa tenang?”

“Ya jelas lebih tenang daripada sekarang. Jangan-jangan Lo sengaja nyuruh orang buat ngawasin gue 24 jam!” Jingga menatapnya serius.

Levin terkekeh. “Hmm… ide bagus juga, ya. Kayaknya perlu Roy bikin tim khusus bodyguard cantik buat jagain kamu.”

“Levinnn!” Jingga memukul lengan Levin, pipinya merona. “gue serius tau nggak!”

Levin menahan tawa, tapi nada suaranya melembut.

“Dengar, Jingga. Aku nggak akan biarin kamu sendirian di situasi yang bikin kamu nggak nyaman. Soal siapa yang kasih tahu aku… biar itu jadi rahasia. Yang penting kamu tahu, aku akan selalu datang kalau kamu butuh.”

Jingga terdiam. Ada rasa hangat yang mengalir, tapi gengsinya masih lebih tinggi.

“Hmph! Dasar sok pahlawan. Nggak usah sok-sokan, gue bisa kok hadapin mereka sendiri.”

Levin melirik sekilas, lalu mencondongkan tubuhnya mendekat.

“Bisa sih, tapi aku nggak rela.”

Kalimat itu sukses bikin Jingga kehilangan kata-kata. Dia buru-buru menoleh ke jendela, pura-pura sibuk memperhatikan lampu jalan.

Levin tersenyum puas melihatnya, lalu kembali fokus menyetir.

Sebenarnya, semua informasi tentang Jingga tidak datang begitu saja dari Levin. Roy-lah yang menjadi tangan kanan sekaligus otak di balik detail-detail kecil yang selalu membuat Levin tampak begitu memahami calon istrinya.

Sejak pertemuan keluarga itu, ketika keyakinan Levin pada Jingga semakin kuat, ia langsung memberi perintah tegas kepada Roy untuk mencari tahu segala hal tentang wanita itu, mulai dari kebiasaan sederhana, makanan kesukaan, hingga lingkaran terdekatnya.

Bahkan lebih jauh lagi, Levin menugaskan beberapa bodyguard untuk selalu mengikuti Jingga dari kejauhan. Bukan untuk mengganggu, melainkan memastikan ia selalu berada dalam pengawasan dan terlindungi. Tanpa disadari Jingga, setiap langkahnya selama ini tidak pernah benar-benar sendirian, karena diam-diam selalu ada mata Levin yang menjaganya.

Dan Roy melaksanakan perintah itu dengan sempurna. Ia mengumpulkan data, menyusun catatan, bahkan sampai mencari tahu siapa saja orang yang pernah mengisi masa lalu Jingga—termasuk mantan pacarnya. Setiap detail, sekecil apapun, Levin ingin mengetahuinya. Bukan karena curiga, tapi karena bagi Levin, memahami masa lalu Jingga adalah caranya memastikan tidak ada lagi celah bagi siapa pun untuk merebutnya.

Tak terasa, mereka pun sampai di rumah Jingga. Karena sudah larut malam, Levin memilih langsung pulang tanpa masuk menemui orang tua Jingga.

Sesampainya di Mansion miliknya, Levin membuka ponsel. Jemarinya mengetik pesan singkat, senyum licik terbit di wajahnya.

Levin:

“Jangan kira apa yang aku lakuin tadi gratis, Ji. Tentu saja kamu harus membayarnya.”

Beberapa detik kemudian, layar ponselnya bergetar. Balasan dari Jingga masuk dengan nada kesal.

Jingga:

“Gue nggak pernah minta lo ngelakuin semua itu, Vin. Jadi kenapa sekarang gue  yang harus punya utang sama lo ?”

Levin terkekeh kecil membaca balasan itu. Dengan santai ia mengetik lagi.

Levin:

“Itu namanya konsekuensi, Nona. Dan permintaan pertamaku sederhana… mulai sekarang stop ngomong pakai ‘lo-gue’. Kamu calon istriku, jadi bicaralah manis setiap kali ngobrol dengan calon suamimu ini.”

Jingga menatap layar ponselnya dengan pipi panas. Kesal—tapi hatinya berdebar.

Jingga:

“Halah, jangan ngatur deh. Gue...eh maksudnya… aku bebas mau ngomong apa aja. Lagian belum resmi juga.”

Levin membaca itu sambil mengulum senyum, tahu kalau Jingga sebenarnya sedang berusaha menutupi rasa malunya. Ia pun membalas singkat tapi penuh penekanan.

Levin:

“Tenang aja, sebentar lagi resmi. Jadi mulai biasakan, Sayang.”

Levin kembali mengetik dengan santai tapi penuh arti:

Levin:

“Oh iya, satu lagi… mulai sekarang kamu belajar jadi calon istri yang penurut ya, calon istriku.”

Jingga:

“Mimpi kali! Jangan ngarep aku nurut sama kamu, Vin!”

Levin:

“Kamu nggak perlu nurut sama aku sekarang… tapi nanti, aku bakal bikin kamu sendiri yang rela ngikutin semua maunya aku. Ingat kata-kataku ini, Jingga.”

Jingga:

“Dasar gila!” (diketik lalu dihapus, akhirnya hanya mengirim sticker marah )

Levin membaca itu dan tertawa kecil sambil bersandar di kursi kerjanya.

“Lucu banget kalau marah. Rasanya pengen langsung culik kamu sekarang juga.” gumamnya .

Malam itu, setelah percakapan singkat di ponsel, Jingga menatap layar yang sudah gelap dengan hati berkecamuk. Antara kesal, malu, tapi juga anehnya… ada rasa hangat yang sulit ia tolak.

Sementara di sisi lain kota, Levin menyandarkan tubuhnya di kursi, senyum puas tak lepas dari wajahnya.

“Tenang saja, Jingga… sebentar lagi kamu akan tahu rasanya jadi milik Levin Putra Artama seutuhnya.”

Keduanya sama-sama terdiam dalam dunia masing-masing. Tak ada yang sadar bahwa permainan takdir baru saja dimulai dan reuni kecil tadi hanyalah pintu pembuka dari drama yang lebih besar.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!