Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung di Bawah Guyuran Hujan

Dua pria tersisa yang berdiri di seberang Varro mendadak membeku kaku di bawah derasnya guyuran air hujan. Suara deru hujan yang menghantam aspal keras seolah tak mampu memadamkan kobaran amarah membara yang terpancar dari bola mata cokelat gelap milik sang ketua Starlit.

Aura dingin dan berbahaya khas penguasa jalanan menguar begitu pekat dari tubuh atletisnya, menekan atmosfer di area parkiran hingga terasa amat mencekam.

"Lo... lo jangan ikut campur, Varro!" bentak pria berbadan gempal seraya merogoh sesuatu dari balik saku jaket kulitnya, sebilah pisau lipat dengan mata pisau tajam yang membiaskan pendar cahaya lampu jalanan. "Bos kami cuma mau pinjam cewek ini sebentar buat urusan penting!"

Varro tidak membalas ancaman itu dengan deretan kata-kata. Pria berpostur 183 sentimeter itu justru menyunggingkan senyum dingin yang amat menyeramkan, sebuah tawa tanpa nada yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri seketika.

Dalam hitungan detik, sebelum pria gempal itu sempat mengayunkan pisaunya ke udara, Varro merangsek maju dengan kecepatan yang tak tertandingi. Cengkeraman jemari kekarnya menyambar dan memelintir pergelangan tangan musuhnya secara brutal hingga terdengar bunyi patahan keras yang mengerikan, disusul jeritan histeris kesakitan yang memecah dinginnya malam.

PRANG!

Pisau lipat itu terlepas dari genggaman dan jatuh terlempar ke dalam kubangan air keruh. Tanpa membiarkan lawannya mengambil napas, Varro melayangkan satu pukulan mentah tepat ke rahang pria itu, menyebabkannya tersungkur tak berdaya di atas lantai aspal yang basah.

Pria ketiga yang panik melihat kawannya terkapar berusaha menyerang Varro dari arah samping. Namun, refleks bertarung Varro terlalu tangguh. Ia menangkis pukulan itu dengan mudah, menarik kerah baju musuhnya, lalu membenturkan tubuh pria itu ke tiang listrik beton di dekat kami dengan kekuatan yang luar biasa.

BRUK!

Suasana di pelataran parkir mendadak hening seketika, hanya diisi oleh deru napas memburu milik Varro dan deburan hujan yang makin lebat mengguyur bumi.

Varro berdiri tegap di tengah tiga pria yang kini terkapar merintih kesakitan di tanah. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak tegang dengan urat-urat melintang di sekitar pelipisnya. Pria itu memutar badannya perlahan, menatap tepat ke arahku yang masih terduduk lemas di atas aspal dengan lutut berdarah.

Dalam sekejap mata, aura membunuh yang mengerikan di wajahnya sirna tanpa sisa. Kilat amarah yang membara mendadak berganti menjadi kecemasan mendalam yang amat nyata.

"Gisel..."

Varro langsung berlutut di depanku tanpa memedulikan celana kain mahalnya yang kini basah kuyup terkena lumpur dan kubangan air. Jemari tangannya yang gemetar terulur memegang kedua bahuku, memindai sekujur tubuhku dengan raut wajah panik yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Lo gak apa-apa?! Ada bagian tubuh lo yang sakit?! Mereka lukai lo di mana lagi?!" tanyanya bertubi-tubi dengan suara bariton yang terdengar pecah oleh rasa cemas yang tak tertahankan.

Aku menatap matanya yang memerah. Rasa takut yang tadi sempat menghimpit dada dan membuat napasku tersengal perlahan menguap, digantikan oleh desiran hangat nan ajaib saat menyaksikan betapa paniknya pria arogan ini hanya demi memastikan keselamatanku.

"G-gue gak apa-apa, Varro..." jawabku terbata-bata seraya menahan nyeri di bagian kaki. "Cuma... cuma lutut gue yang lecet gara-gara jatuh tersungkur tadi."

Varro menundukkan kepalanya, menatap celana jeansku yang robek di bagian lutut kanan, memperlihatkan luka gores memar yang mengucurkan darah segar bercampur air hujan. Jemari kekarnya mengepal amat kuat di samping tubuhnya sendiri, giginya gemeletuk menahan gelombang amarah yang kembali membumbung tinggi di dalam dada.

BRAK!

Deru mesin dua sepeda motor berkapasitas silinder besar meraung nyaring memasuki pelataran parkir, memecah ketegangan. Brandon dan Marcel melompat turun dari motor mereka bahkan sebelum standar kendaraan berdiri sempurna. Wajah kedua sahabat Varro itu tampak sangat tegang dan serius.

"Al!" teriak Marcel seraya berlari mendekat menembus hujan. "Anak-anak geng 'Viper' mulai kelihatan keluyuran di sekitar-"

Ucapan Marcel terhenti kaku saat matanya menangkap pemandangan tiga pria terkapar merintih di atas tanah, serta sosok ketua gengnya yang sedang berlutut mendekap tubuhku yang basah kuyup.

Brandon melangkah tenang, membetulkan posisi kacamatanya yang terkena cipratan air. Matanya menatap tiga musuh yang terkapar dengan sorot tajam yang dingin. "Jadi... kabar burung itu beneran. Kelompok Viper di bawah pimpinan Raka sengaja mengincar Gisel buat memancing lo keluar dari markas."

Varro sama sekali tidak menghiraukan perkataan Brandon. Tanpa membuang waktu, pria itu menyelipkan lengan kekarnya di bawah lipatan lutut dan punggungku, lalu mengangkat tubuh kurusku ke dalam bopongannya dalam satu gerakan yang amat mantap.

"Eh! Varro! Gue bisa jalan sendiri!" seruku kaget, refleks melingkarkan kedua tanganku di sekeliling lehernya agar tidak jatuh terhempas.

"Diam, Gisel," potong Varro tegas dengan nada suara bariton yang teramat dalam dan tak terbantahkan. "Lutut lo berdarah dan jalanan ini licin. Jangan banyak tingkah."

Varro menoleh menatap Marcel dan Brandon seraya memberikan perintah dingin. "Bereskan tiga sampah ini. Korek informasi sampai lo berdua tahu di mana markas utama Raka sekarang."

"Siap, Al. Serahkan urusan ini ke kita," jawab Marcel dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi amat serius dan berbahaya, jauh dari kesan humoris yang biasa dipamerkannya.

Varro membawaku berlari kecil menerobos derasnya hujan menuju mobil sport mewahnya yang terparkir tak jauh dari lokasi. Pria itu membukakan pintu penumpang depan, mendudukkanku di atas jok kulit dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, seolah-olah aku adalah sebuah porselen berharga mahal yang bisa hancur jika tersentuh secara kasar.

Ia mengambil sebuah handuk bersih dan kotak pertolongan pertama dari dalam bagasi belakang, lalu masuk ke kursi pengemudi dan mengunci seluruh pintu secara rapat.

Suasana di dalam kabin mobil sport berpendingin udara itu terasa begitu hening, hangat, dan intens. Aroma parfum mahal Varro yang khas bercampur dengan wangi hujan yang membasahi pakaian kami berdua.

Tanpa menguapkan sepatah kata pun, Varro merapatkan posisinya ke arahku. Jemari kekarnya merawat luka di lututku dengan tingkat ketelitian yang mengagumkan.

Pria yang biasanya memimpin puluhan anggota geng motor brutal di jalanan itu kini menyeka darah di kulitku menggunakan cairan antiseptik secara amat lembut, lalu meniup-niupnya pelan agar rasa perihku berkurang.

Aku memperhatikan setiap detail garis wajah tampannya dari jarak yang amat dekat. Rambut hitamnya yang basah kuyup menempel di dahi, dan bayangan penyesalan mendalam terukir begitu jelas di mata cokelat gelapnya.

"Kenapa lo gak cerita sama gue kalau dari kemarin ada orang-orang asing yang menguntit lo?" tanya Varro pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari lukaku.

"Gue... gue juga gak tahu mereka itu siapa, Varro," jawabku jujur, menatap jemarinya yang sedang membalutkan perban steril di leher kakiku. "Gue mikirnya mereka cuma preman biasa yang iseng mau menggoda di jalanan."

Varro merapikan perekat perban di kulitku, lalu perlahan menaikkan pandangannya. Mata cokelat gelapnya menatap tepat ke dalam kedua bola mataku dari jarak yang sangat dekat.

"Mereka itu anggota geng Viper... musuh bebuyutan geng Starlit," kata Varro dengan suara yang bergetar tipis oleh gejolak emosi. "Ketua mereka, Raka... punya dendam lama yang mendalam sama gue. Dan sekarang... gara-gara gue terlalu dekat dan secara terbuka menunjukkan ketertarikan gue sama lo... lo jadi sasaran empuk incaran mereka."

Varro memalingkan wajahnya ke samping, memukul roda kemudi dengan kepalan tangannya hingga menghasilkan bunyi thump yang keras. Buku-buku jarinya memutih kaku.

"Ini semua salah gue..." gumam Varro dengan nada suara yang dipenuhi oleh beban penyesalan yang amat teramat berat. "Gue yang terlalu egois. Gue memaksakan diri masuk ke dalam hidup lo yang tenang tanpa memikirkan bahaya nyata yang bakal mengintai lo. Harusnya... harusnya dari awal gue tahu diri dan gak usah dekat-dekat sama lo lagi."

Mendengar kalimat penyesalan yang terlontar dari mulutnya, dadaku serasa dihantam oleh beban berat yang amat menyakitkan. Ada rasa perih tak kasat mata yang menyeruak hebat saat mendengar tersirat niat dari pria ini untuk menarik diri dan meninggalkanku demi keamananku sendiri.

Tanpa ada ragu sedikit pun, aku mengulurkan tangan kananku, menggenggam erat pergelangan tangannya yang mengepal kaku di atas roda kemudi.

"Varro... tatap mata gue sekarang," perintahku dengan nada suara pelan namun sarat akan ketegasan.

Varro terdiam kaku di tempatnya, sebelum akhirnya ia memutar kepalanya secara lambat menatapku kembali.

"Gak ada satu pun hal yang perlu disalahkan dari kejadian hari ini," kataku menatap tepat ke dalam kedua bola matanya dengan ketulusan mutlak. "Lo gak salah. Pria-pria jahat itu yang bersalah. Dan lo... lo baru aja datang menjadi pahlawan yang menyelamatkan hidup gue. Jangan pernah berani ngomong lagi kalau kehadiran lo cuma membawa bencana dan bahaya buat gue!"

Varro terpaku membisu mendengarkan penegasanku. Genggaman tangannya yang tadi mengepal kaku perlahan melonggar, memutar telapak tangannya untuk membalas genggaman jemariku dengan amat hangat dan erat.

"Tapi gimanapun juga... keselamatan dan nyawa lo sekarang berada di dalam bahaya gara-gara nama gue, Gisel..." bisik Varro pelan, matanya memancarkan ketakutan akan rasa kehilangan yang amat nyata. "Gue gak bakal pernah bisa memaafkan diri gue sendiri kalau sampai ada satu helai rambut lo yang terluka gara-gara dendam masa lalu gue."

Aku menyunggingkan senyum tipis yang hangat, menggerakkan kepalaku menggeleng pelan. "Gue gak takut, Varro. Gue percaya penuh sama lo."

Varro menelan ludahnya yang terasa kaku. Kalimat sederhana yang terlontar dari bibirku seolah memberikan suntikan kekuatan yang luar biasa dahsyat di dalam dadanya. Pria arogan yang biasa dikenal keras kepala itu memajukan tubuhnya, menangkup kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya yang hangat, menatapku dari jarak yang amat dekat.

"Gisel... mulai detik ini, ke mana pun lo melangkah... gue atau anggota Starlit bakal selalu berdiri menjaga di sekitar lo," ucap Varro dengan suara bariton yang amat tegas dan sarat akan komando mutlak. "Gue gak peduli seberapa keras Raka dan anak buahnya berusaha menghancurkan hidup gue... tapi gue bersumpah demi napas gue sendiri, gak bakal ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau melukai lo lagi!"

Di dalam kabin mobil yang terasa begitu hangat di tengah kepungan derasnya hujan malam itu, aku menyadari satu kenyataan yang tak bisa kupungkiri lagi, tembok pertahanan yang kubangun rapat-rapat selama ini telah runtuh sepenuhnya. Pria badboy egois yang dulu sangat kubenci... kini telah bertransformasi menjadi pelindung terpenting di dalam hidupku.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!